Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 90 Bucinnya Seorang Ge Pe Er


__ADS_3

Bab ini mengandung Virus Bucin tingkat tinggi, Bacanya setelah berbuka puasa😘 atau sebelum sahur. Ketegangan tidak ditanggung othor 🤭


Vita menggeliat pelan dibawah pelukan suaminya hingga membuat Gala and the junior terbangun. Perlahan netra sang dominan terbuka kemudian ia bergegas untuk bangun setelah mengecup puncak kepala istrinya lembut.


"Vit, sayang...bangun, sholat dulu," Gala menyentuh pelan bahu istrinya. Vita menggeliat lagi. Merenggangkan otot-ototnya karena semalaman ia dalam pelukan Gala.


"Hem, mas..." jawab Vita sembari menguap. Ia masih sangat ngantuk karena tidurnya terasa sangat kurang akibat dari kunjungan perdana papa dari calon bayi mereka setelah ada lampu hijau dari dokter obgynnya. Yang katanya hanya ingin menanyakan kabar dan lewat sejenak tetapi ternyata bagi Gala rasa ibu hamil ternyata sangat berbeda, lezat dan menggigit hingga ia tak segan mengulangi kunjungannya berkali-kali. Sampai ia sendiri dan tuan rumah kelelahan dengan senyum puas.


"Mmmmaaass," pekik Vita karena merasa tubuhnya melayang. Gala sudah tidak sabar melihatnya hanya menggeliat kemudian memejamkan matanya lagi melanjutkan tidur. Waktu subuh sedikit lagi akan lewat. Ia akhirnya mengangkat tubuh istrinya itu ke kamar mandi setelah menyiapkan air hangat di Bathtub.


Setelah Sholat subuh mereka turun ke bawah. Berniat berjalan-jalan pagi menghirup udara segar dan alami di taman yang cukup asri dan indah di sebelah utara rumah luas dan mewah itu.


"Mas, jalan yuks," ajak Vita sembari bergelayut manja di lengan kokoh suaminya. Ia menyeret tubuh besar Gala ke arah taman.yang tak pernah sedikitpun suaminya itu injak sebelumnya.


"Kamu gak capai,?" tanya Gala sembari menatap wajah Vita yang sangat cantik pagi itu dengan rambut masih sedikit basah. Entahlah, bagi Gala istrinya semakin cantik dari hari ke hari.


"Emangnya habis ngapain sampe capai,?" tanya istrinya dengan senyum menggoda.


"Habis gelut sampai berteriak minta ampun, " jawab Gala dengan senyum samar.


"Ish, gelut apa coba?" terlihat wajah Vita memerah karena malu dengan ucapan suaminya. Ia segera menjauh dari tatapan Gala yang seolah ingin menelannya bulat-bulat.


"Hei, mau kemana?" Gala menarik pinggang Vita lembut hingga posisi mereka begitu rapat dan tak berjarak. Ia belum puas memandangi wajah istrinya itu yang nampak malu-malu. Terlalu menggemaskan dan rasanya ingin mengulang lagi kegiatan semalam. Perlahan ia mendekatkan wajahnya dan memberikan sapuan ringan di bibir istrinya yang ranum. Merekapun saling memagut di tengah suasana pagi yang masih gelap dan dingin itu. Di bawah rimbunnya bunga kembang sepatu.


"Ya ampun, mimpi apa saya semalam," bisik Deka dalam hati yang sempat menyaksikan adegan live tanpa sensor itu. Segera ia mengambil salah satu sepatunya yang ia pakai joging di taman tadi dan melemparkannya ke dalam rimbunan bunga itu agar pasangan bucin itu secepatnya menyudahi kegiatan mereka. Deka takut penjaga kebun ikut melihat mereka secara gratis.


wuuush (anggap bunyi sepatu Deka yang jatuh menimpa rimbunnya bunga itu)


"Apa segitunya ya kalau kita udah punya pasangan?" Deka sekali lagi menyesali nasibnya yang jomblo sampai akhir zaman,😬🤭. Ia kemudian berjongkok sembunyi saat melihat Gala melepaskan istrinya.


"Mas, apa itu tadi?" tanya Vita takut-takut. Ia merasa ada yang memperhatikan kegiatan mereka barusan. Gala tidak menjawab ia hanya mengusap bibir Vita yang masih basah dengan ibu jarinya. Ia tahu siapa yang melihat mereka tadi dari bau parfum Deka yang sangat ia kenali. Ia tak mau istrinya malu.


"Lanjutkan di dalam ya, di sini dingin," ujarnya sembari merengkuh bahu istrinya dan mengajaknya beranjak dari taman itu.


🍁🍁🍁🍁🍁


"Buka, jangan pakai itu..." ujar Gala saat melihatnya menggunakan gaun dengan potongan leher begitu rendah sehingga cukup mengekspos bahunya yang putih.


"Ini sudah gaun yang kesepuluh mas," ujar Vita merajuk. Ranjangnya sudah dipenuhi oleh bermacam-macam gaun yang tidak juga berhasil disetujui oleh suaminya itu. Vita kemudian mengambil dan mengenakan gaun yang sangat manis dan juga agak panjang dibawah lutut tetapi bagian dadanya sedikit terbuka. Sekali lagi Gala menggeleng. Ia tak suka tubuh istrinya yang semakin berisi dan menarik di tempat-tempat tertentu jadi santapan mata lapar orang lain.

__ADS_1


Vita sudah lelah dan kini ia berbaring telentang di atas ranjang karena Gala tidak juga memberinya pilihan yang bagus.


"Kalau gitu gak usah pakai baju sekalian," kesal Vita dengan memanyunkan bibirnya gemas.


"Ide yang bagus sayang, Hem." Gala mengecupnya pelan tapi sedikit menuntut.


"Mas, kita bisa.telat ini, " ujar Vita ketika Gala memberinya waktu untuk mengambil pasokan oksigen. Tangan suaminya sudah.tidak bisa dikondisikan padahal mereka akan menghadiri undangan Reno Sebastian pada acara syukuran tujuh bulanan kandungan Miska.


"Gak papa, bentar aja okey? kamu cantik sekali sayang," jawab Gala yang mulai merayu dengan kata dan cumbuan.


"Mas, kita ditunggu sama mama lho, Rama juga pasti udah rewel karena kita kelamaan," rengek Vita berusaha melepaskan dirinya dari dominasi suaminya.


"Okey, baiklah kamu menang, tapi janji habis acara kita langsung pulang," Gala berdiri dan memakai pakaiannya. Tetapi ia tetap mengawasi pergerakan istrinya yang mematut diri di cermin setelah pilihan gaunnya tak lagi di protes.


"Rambutnya jangan di model begitu," Gala kembali dalam mode kepo tingkat tinggi ia tak rela leher Vita akan jadi konsumsi publik.


Vita menghentakkan kakinya kesal tatanan rambutnya diurai saja pada akhirnya.


Akhirnya dengan perdebatan yang cukup alot mereka sampai di kediaman Sebastian tempat acara syukuran dilaksanakan.


Tante Ninick menyambut mereka di depan pintu dengan wajah riang.


"Ini pasti aura ibu hamil ya...?" Vita hanya menjawab dengan senyum manis yang ia punya.


Mereka kemudian dipersilakan masuk ke dalam bergabung dengan para tamu dan keluarga lainnya. Gala sangat risih dengan pandangan takjub teman-teman kantor Reno kepada istrinya yang mayoritas pria muda. Dalam hati ia menyesal membawa Vita datang ke acara ini.


Ditengah kegelisahan dan keposesifannya yang berlebihan pada istrinya sayup terdengar dari pembicaraan seorang pemuka agama yang sedang duduk tak jauh darinya.


"Makanya itu perempuan dianjurkan untuk menutup auratnya ketika ia keluar rumah, soalnya fitnahnya sangat besar."


"Semua yang dimilikinya menarik untuk dilihat dan dinikmati, " lanjutnya lagi. Gala merasa seolah-olah kata-kata itu ditujukan padanya. Ia segera mencari sosok Vita dengan pandangan matanya. Di sana Vita sedang bersenda gurau dengan anggota keluarga lainnya. Ia tertawa dengan bebas yang justru membuat hatinya semakin ketar-ketir.


"Sedangkan tawanya saja membuatku ingin menelannya bulat-bulat apalagi dengan yang tersembunyi di balik pakaiannya," gumamnya dalam hati. "Bagaimana dengan laki-laki lain yang melihat istriku seperti itu," lanjutnya lagi bermonolog dengan dirinya sendiri. Oh No. Gala mengusap wajahnya kasar.


"Jagalah dirimu dan Keluargamu dari siksa api neraka," seketika ia tersentak dari lamunannya karena ucapan pemuka agama itu. Ia berharap acara ini cepat berlalu dan segera membawa istrinya pulang.


Dalam perjalanan pulang, Vita heran dengan suaminya yang tiba-tiba jadi pendiam.


" Mas..." ujar Vita sembari menyentuh paha suaminya lembut.

__ADS_1


"Hem,..."


"Kenapa sih. Kok diam aja,"


"Kamu mau gak pakai hijab?" tanya Gala tiba-tiba setelah lama terdiam. Ia menepikan mobilnya ke pinggir jalan. Sedari tadi ini yang ia pikirkan. Ia cukup tersentil dari ucapan pemuka agama tadi. Ia takut akan banyak hal.


"Aku mencintaimu sayang, sangat, aku tak mau ada orang lain yang menatapmu seperti tadi," ujar Gala sembari menangkup wajah istrinya dengan kedua tangannya. Ia bahkan mengecup keseluruhan wajah itu yang membuatnya gila karena terlalu cinta.


"Mas...ada apa sih?" Vita bingung dengan kelakuan Gala.


"Maukan?, supaya kamu dan aku tenang ketika keluar rumah." Vita mengangguk lalu membalas memberi kecupan singkat pada suaminya. Seperti biasa Gala tidak pernah mau yang singkat, ia menahan tengkuk Vita agar kecupan bisa ia perdalam. Tangan yang satunya mulai berjalan kemana sembari berbisik kalau semua itu hanya miliknya.


"Mas, dilihat para readersnya kakak Bhebz, malu..." ujar Vita manja.


"Biar saja," jawab Gala tanpa menghentikan kegiatannya.


"Ini di mobil mas, "


"Gak papa sekali-kali di mobil kan asyik."


"Awwww" teriak Gala nyaring. Ia memegang kepalanya yang terasa sakit.


Readers: "Maaf, pak GM kita timpuk berjamaah nih kalau kamu tidak berhenti, ini bulan puasa pak,"


Gala: "Lah ini halal Kok,"


Satu lagi timpukan mendarat mulus di kepalanya.


🙄😬😅


🍁🍁🍁🍁🍁


Hai readers tersayangnya othor, Jangan lupa dukung terus karya ini dengan cara klik like, kirim komentar, dan kirim hadiahnya supaya aku tetap semangat.


Nikmati alurnya and happy reading 😍😍😍😍😍


Ada nih karya teman aku, silahkan mampir dijamin puass.


__ADS_1


__ADS_2