Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 160 Pernikahan Siri VS Pertunangan Batal


__ADS_3

Setelah sepakat dengan produk asuransi sakit hati itu. Rama dan Rara melanjutkan jalan-jalan mereka ke arah keramaian di pinggir pantai itu. Mereka berdua tidak sadar saling bergandengan tangan dengan hati bahagia.


Meskipun Rama harus menghabiskan banyak uang untuk modus asuransi sakit hatinya itu tetapi ia sangat senang karena setidaknya si gadis kriwil itu bersedia memberinya garansi kebahagiaan seumur hidup.


Rara tanpa sadar tersenyum dengan ide konyolnya, ia akan mendapatkan bayaran yang mahal hanya agar hati Rama Putra Tama tidak sakit hati lagi dan membuatnya selalu bahagia. Mereka berdua tidak menyangka karena ide konyol itu telah mengikat benang takdir diantara mereka berdua.


"Kamu mau ikut kesana?" tanya Rama sembari memandang wajah imut dan cantik gadis kriwilnya itu. Angin malam disertai ombak yang saling berkejaran membuat pakaian dan rambut sang gadis terbang tertiup angin.


"Boleh, tapi jangan lama-lama. Aku takut mama khawatir. Ini sudah lewat jam malam aku lho." ujar Rara dengan ekspresi merajuk, Rama jadi gemas dibuatnya hingga tak sadar tangannya menyentuh hidung Rara dan memencetnya gemas.


"Awwww, sakit." gerutu Rara dengan memanyunkan bibirnya. Rama hanya tersenyum dibuatnya lalu melangkahkan kakinya cepat ke arah keramaian itu.


"Bentar aja ya cuma mau nyamperin, kayaknya yang bikin acara itu teman aku."


"Okey, aku disini aja atau ikut kesana?" tanya Rara meminta pendapat.


"Ya ikut lah nanti kalau kamu sendiri di sini trus ada monster laut nyulik kamu kan aku yang rugi." Rama menarik tangan gadis kriwil itu dengan erat.


"Huh perhitungan! padahal belum di transfer juga biaya jasanya." gerutu Rara dengan bibir mencibir. Rama menghentikan langkahnya kemudian langsung mengambil handphonenya dan mentransfer sejumlah uang ke rekening Az-Zahra Aisyah sebagai CEO baru Asuransi sakit hati itu.


Tring


Rara memeriksa bunyi pesan yang masuk di handphonenya dan tanpa dinyana sebuah senyum lebar langsung menghiasi bibirnya saat melihat nominal yang masuk di rekeningnya. Jumlah yang tidak pernah ia lihat seumur hidupnya.


"Ini beneran? serius?" tanya Rara dengan mata berbinar senang.


"Kenapa? kurang?" tanya Rama dengan senyum di bibirnya.

__ADS_1


"Ini tuh banyak banget tahu gak." jawab Rara masih dengan wajah tak percaya.


"Kalau gitu produknya harus nambah dan cuma aku consumernya, ngerti?" ujar Rama dengan pandangan mengintimidasi. Tak boleh ada orang lain yang diberikan perlindungan seperti itu dari gadis kriwil pimpinan Asuransi abal-abal itu.


"Syiap bosku." ujar Rara dengan mengedipkan sebelah matanya. Ia pun melompat dan berlari dengan girang di bibir pantai itu dengan senyum bahagia tak lepas dari wajahnya. Tangannya ia kembangkan seolah-olah sedang terbang. Ia semakin menjauh dari posisi Rama berdiri yang memandangnya dengan rasa senang dan bahagia yang sama.


"Dasar Manager bodoh, memangnya ada yang mau membayar asuransi seperti kamu. Mahal begini lagi. Meskipun cuma satu consumer ini tuh bikin aku kaya dan bisa beli apa aja." ujar Rara diantara deru ombak yang semakin mengantarkan hawa dingin yang menusuk tulang-tulangnya. Tanpa sadar seseorang memakaikannya jaket agar ia sedikit merasa hangat.


"Tuan Rama, ini gak termasuk ya..." ujarnya pelan kemudian memeluk erat jaket itu.


"Rama?" tanya orang itu yang langsung membuat Rara memalingkan wajahnya. Pria yang ia sangka Rama ternyata adalah Alif cucu Reksadana.


"Hah? kamu? mana tuan Rama?" tanya Rara dengan wajah kaget dan takut. Matanya ia edarkan ke segala arah dimana hanya hamparan pasir hitam dan laut gelap di sana. Hanya ada beberapa titik cahaya dari kejauhan.


Alif menyeringai kepadanya, "Siapa yang kamu cari?" tanyanya dengan pandangan mata yang menakutkan.


"Aku mencari Rama Putra. Dimana dia. Kami tadi datang kemari bersama." jawab Rara dengan suara bergetar takut.


"Oh, jadi kamu kenal Rama juga? hebat ya...sengaja mencari orang-orang kaya dan mapan untuk dijadikan Korban baru." timpal Alif dengan rahang mengetat marah. Rara hanya diam dan merasa tak perlu menjawab. Toh tuduhan itu tidak benar.


Ia hanya sibuk mengedarkan pandangannya mencari sosok pria yang bersamanya tadi. Ia merogoh cepat saku celananya mencari handphonenya berniat menelpon seseorang. Tapi kemudian kupingnya menangkap suara yang datang tiba-tiba bagai orang yang sedang berlari.


"Ra' aku mencarimu dari tadi, kok bisa jauh begini?" ujar Rama ngos-ngosan. Matanya tertumbuk pada sosok yang ia kenal sedang berdiri bersama Rara gadis kriwilnya.


"Alif, kalian sudah saling kenal?" tanya Rama masih dengan nafas memburu, ia sempat takut karena kehilangan sosok gadis itu.


"Hai Ram!, tentu saja aku kenal. dia kan tunangan aku." jawab Alif santai yang membuat wajah Rama dan Rara langsung pias. Rara menatap Rama yang sedang menatapnya dengan mengirim jawaban penolakan atas pernyataan pria itu. Ia menggelengkan kepalanya pelan. Cucu pertama Raditya itu paham akan ekspresi gadis kriwilnya. Ia segera melangkah mendekat kearah Rara dan memeluk pinggang gadis itu erat. Rara yang diperlakukan seperti itu langsung melotot tak percaya. Ia bahkan menahan nafas ketika Rama dengan beraninya mengecup pelipisnya lembut.

__ADS_1


"Tunangan ya? kok aku baru denger?" ujar Rama sambil tersenyum. " Dan ya, aku tidak pernah melihat gadisku ini memakai cincin tunangan. Artinya ia masih bebas kan?" lanjut Rama dengan tatapan tajam ke arah Alif teman lamanya. Ia tak suka apa yang jadi miliknya diakui oleh orang lain meskipun itu sahabatnya sendiri.


"Kalau gitu tanya dia. Kami sudah pernah bertunangan tetapi ia berani menipu kakek. Bahkan seluruh keluarganya juga tahu dan setuju." jawab Alif tak mau kalah.


"Oh yang itu? jadi orang tua itu kakekmu?" Rama semakin mengeratkan pelukannya pada si kriwil karena geram. Ia ingat peristiwa 3 tahun yang lalu di bioskop. Ketika mereka mengambil paksa Rara dari tangannya dan sekarang ia bertekad tidak akan lagi mengalah.


"Aku adalah suaminya. Dan kurasa itu lebih kuat dari hanya sekedar pertunangan yang sudah batal. Iyya kan sayang?" Rama menatap dalam wajah Rara yang semakin pias karena takut akan kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Perlahan gadis itu mengangguk pelan. Ia tak punya cara lain selain mengaku agar pria tak tahu malu itu bisa segera pergi dari hadapannya.


"Ah, sayangnya aku tak percaya Ram. Jangan karena aku mengenalmu sebagai orang penting di kota ini kamu bebas melakukan sesuatu semaumu."


"Aku tahu keluarga Az-Zahra Aisyah. Keluarga kami cukup dekat. Dan aku tahu dia masih gadis. Dia belum pernah menikah." Rama menarik nafas dalam. Ia berusaha mencari alasan lain yang lebih kuat agar Alif percaya.


"Pernikahan kami belum di publikasikan. Sisa menunggu waktu yang tepat. Biaya pernikahan pun sudah aku serahkan kepada istriku ini." tiba-tiba ia ingat telah mentransfer sejumlah uang yang sangat besar pada Gadis ini. Ia tak punya bukti lain yang berbentuk materi untuk menguatkan pernyataannya. Dengan cepat Rara mengeluarkan kembali handphonenya dan memperlihatkan bukti transfer uang dari Rama sebagai bukti.


"Wow, Fantastis!" ujar Alif sambil bertepuk tangan melihat jumlah nominal 2 Milyar rupiah yang tertera di layar handphone gadis itu. Lalu melanjutkan dengan seringaian.


"Harga yang sangat mahal untuk sebuah barang bekas." Rama tidak menyadari dirinya melompat dan mencengkeram kerah kemeja yang sedang dipakai pria itu. Tangannya dengan ringan memberikan Bogeman mentah di bibir yang sangat kotor dan tidak sopan itu.


"Sekali lagi kamu berkata seperti itu, aku bisa melempar mu ke laut dalam!" geram Rama dengan marah yang sudah sampai di Ubun-ubun. Ia dengan segera meninggalkan pria itu di sana dan membawa pulang Rara yang masih bengong tak percaya akan apa yang sedang terjadi.


"Awas kamu Ram!" teriak Alif sambil meludah mengeluarkan cairan asin dari bibirnya yang pecah.


---Bersambung---


🍁🍁🍁🍁🍁


Hai, Gaskeun dukungannya dong untuk karya receh ini. Jangan lupa Like dan komentar ya gaess.

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍


__ADS_2