Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 25 Usaha Reno Sebastian


__ADS_3

Reno bersiul senang, tampak sekali aura bahagia di wajahnya. Ia merasa perjuangan nya akan segera mendapatkan hasil maksimal.


Ia yang rela menjadi seorang asisten seorang Nyonya arogan demi cintanya yang belum berbalas kini sudah menampakkan hilal walaupun masih 0, 001 derajat.


Meninggalkan kemewahan dan jabatan yang tinggi di perusahaan milik orang tuanya, ia mendaftar sebagai karyawan sebulan lalu.


Setelah melihat siluet seseorang yang sudah merampas perhatiannya selama bertahun-tahun ternyata bekerja di tempat ini. Vita Maharani adalah orang yang begitu berarti dalam hidupnya.


Segala macam cara Ia tempuh agar bisa diterima di perusahaan ini dengan tujuan agar bisa lebih dekat dengan sang gadis idaman.


Ia sangat mengenali Vita Maharani walaupun penampilan nya sekarang sangat jauh berbeda. Pancaran mata dan senyumnya yang sangat istimewa adalah tanda yang tak bisa ia lupakan.


Dulu, ketika semua orang menganggap Vita jelek dan besar layaknya raksasa ia tak pernah sependapat. Baginya Vita Maharani adalah gadis tercantik apa pun keadaaannya.


Ia tak pernah membela ketika Vita Maharani mendapatkan cacian dan bullian, karena memang ia terlalu menjaga imeg nya sebagai kapten basket serta ketua kelas yang butuh dukungan dari banyak pihak. Satu hati dihancurkan tak apalah demi kemaslahatan ummat, menurutnya.


Tetapi itu dulu, ketika harga dirinya lebih besar daripada memikirkan nasib hatinya sendiri. Dan sekarang, ia harus berdiri paling depan untuk melindungi gadis nya ini.


"Ngapain kamu senyum-senyum sendiri seperti itu?" Tanya mamanya sambil menata makanan di atas meja.


"Reno senang banget ma" jawab Reno dengan senyum terkembang, ia betul-betul tak bisa menutupi perasaannya kini.


"Dapat undian apa kamu?" Mamanya masih penasaran dengan tingkah putra semata wayangnya ini.


"Rahasia dong" Reno mengerling ke arah mamanya hingga membuat sang mama gregetan sendiri.


"Ayok, cepat sarapan!" Tegur Papa yang baru sampai dan langsung duduk di samping mamanya.


"Satu bulan ini kamu membuat Papa stress nak" Ujar Papa sambil menyendok sarapannya.


Reno hanya diam dan memulai juga melakukan ritual makan paginya.


"Aku dengar kamu sudah bebas sekarang" Masih suara papa yang terdengar diantara dentingan perpaduan suara sendok dan piring yang menghiasi ruangan makan pagi itu.


"Kalian ini membicarakan apa sih?" Mama yang sedari tadi bingung dengan pembicaraan antara suami dan anaknya ikut bertanya. Yang ia tahu Reno setiap pagi dengan penampilan rapi pastinya akan pergi bekerja di perusahaan bersama ayahnya. Ia belum pernah mendengar kalau putranya punya waktu bebas.


"Iyya Pa, Reno akan rajin lagi ke Perusahaan"


"Nah, itu bagus. Kamu sudah bosan bekerja sama orang lain kan?" Papa tersenyum senang. Putranya yang sulit diatur kini menunjukkan sifat penurutnya.


"Reno sekarang ingin menikah Pa"


Uhukkk...Mama yang sedang minum langsung tersedak.


"Apa?" Ujar mama setelah berhasil mengurai keterkejutannya.

__ADS_1


"Baguslah" ujar papa singkat sambil membersihkan sisa makanan di bibirnya dengan menggunakan tissu.


"Itu akan membuatmu lebih dewasa dan bertanggung jawab" Papa berdiri dari duduknya tanpa menghiraukan tatapan penasaran mama.


" Ceritakan pada mama, siapa calon mu?" Tanya mama kepo.


"Jangan katakan kalau gadis centil itu calon istrimu" bola mata mama berputar lucu.


"Mama gak rela jadi mertuanya" Ujar mama tanpa jeda. Ada aura bahagia dan kesal bersamaan.


"Tenang mamaku tersayang, calon menantu mama ini is the best pokoknya" Ujar Gala sambil mengayunkan kedua jempolnya.


"Mama tidak akan kecewa" Reno berdiri dari duduknya, kemudian mengecup puncak kepala mamanya lembut.


"Reno berangkat ma"


Ia pun berlalu dengan terburu-buru sambil sesekali melihat jam tangan mahal yang menempel di pergelangan tangannya.


🍁🍁🍁🍁🍁


Vita Maharani sibuk memandang layar handphone dengan gelisah. Ojek onlen yang dipesannya belum sampai juga. Melirik kembali jam tangan manis pemberian Gala Putra Raditya waktu itu, dengusan nafasnya kembali terdengar.


"Ini gara-gara Reno Sebastian, si Ketua kelas Jaim itu" Ujar Vita kesal. Bagaimana tidak jengkel motor yang seharusnya ia pakai berangkat ke Perusahaan pagi ini tidak berada tempat sedangkan ia ingin sekali memakainya.


Sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan Vita Maharani. Reno keluar dengan penampilan yang cukup necis. Setelan jas mewah terpasang elegan di tubuhnya yang atletis.


" Ayok" Ajak Reno sambil menarik tangan Vita menuju mobilnya. Vita merasa Dejavu. Kembali Reno memaksanya tanpa meminta persetujuannya terlebih dahulu.


"Makasih" Ujar Vita pelan. Akhirnya sekali lagi ia pasrah karena memang ia sangat membutuhkan tumpangan, beberapa menit yang lalu pesanan ojek onlinenya dibatalkan oleh si driver.


"Ehem" Reno ber dehem untuk menarik perhatian Vita disampingnya yang seperti biasa selalu diam jika berada dekat dengan nya.


"Kamu tidak suka kalau aku menjemputmu?" tanya Reno tanpa mengalihkan pandangannya dari kemudi. Ia tahu Vita tak pernah meresponnya dengan baik.


"Kalau kamu tahu, kenapa nanya?" jawab Vita kesal. Reno hanya tersenyum tipis. Bukan salah Vita bereaksi seperti ini.


" Apa aku tidak ada harapan untuk dekat denganmu?" tanya Reno lagi. Ia melirik dengan ekor matanya, Tetapi Vita tidak memberikan respon seperti yang ia mau.


"Kita sudah sampai" ujar Vita saat melihat tampilan gedung pencakar langit milik TGR tempatnya bekerja tampak di depan matanya.


"Kamu tidak bisa turun kalau tidak menjawab pertanyaan ku" tegas Reno tanpa berpaling.


"Pertanyaan yang mana?" tanya Vita jengah. mereka sudah sampai pas di depan pintu masuk sedangkan Reno mengulur waktu nya untuk turun. Ia paling tidak suka datang terlambat.


"Kamu tidak suka kalau aku samperin?" Reno mengulang kembali pertanyaan nya.

__ADS_1


"Saya tidak suka titik!" Vita berhasil turun karena pintu mobil ternyata tidak terkunci. Reno tetap tersenyum. Ia mengabaikan rasa kecewa yang sedang menyeruak dari dalam hatinya.


"Oke, Jangan salahkan aku kalau memakai cara keras" gumam Reno sembari memandang punggung Vita yang sudah menjauh.


Dari dalam gedung yang hanya berdinding kaca itu tampak seseorang mengepalkan tangan nya kesal.


"Hei, Giant!" Langkah Vita yang begitu terburu buru setelah memindai id card dan jarinya di mesin finger print terhenti mendadak.


Panggilan itu mengingatkannya pada kenangan buruk masa lalunya. Ia tak bergeming. langkahnya tetap maju menuju kotak besi yang akan mengantarkan nya sampai ke ruangannya dengan cepat.


"Hei, Giant kamu tuli ya?" Teriak Miska jengkel karena diabaikan. Vita tetap tak ingin meladeni. Ia tahu sifat Miska.


Vita menekan tombol lantai dimana ruangannya berada. ternyata Miska tetap ada di belakangnya mengekorinya.


"Apa mau mu?" tanya Vita saat pintu lift sudah tertutup.


"Aku yang harusnya bertanya, Apa mau mu, Heh?" Miska mencibir.


Vita semakin bingung. Ia betul-betul merasa aneh dengan tingkah Miska. Pagi ini moodnya sedikit terganggu karena hampir terlambat. dan kini Miska malah memancing emosinya.


"Hei, jangan mancing emosi saya yah?" Vita sudah tidak tahan.


"Kalau kamu tidak ada kerjaan, pulang sana tidur dan ngorok!" Vita mulai terpancing. sudah ia tanamkan dalam hatinya kalau Miska hanya kerikil kecil yang harus segera di halau.


"Sombong kamu ya" Miska menatapnya dari kepala sampai kaki.


"Ngapain kamu diantar sama Reno?"


"Reno dari dulu adalah milikku, jangan pernah berani menggodanya!" Ancam Miska dengan ekspresi menyebalkan.


"Kamu pikir saya yang menggoda Reno mu itu?"


Tring


Pintu lift terbuka. Vita terpaksa tidak melanjutkan omongannya bersama Miska karena ada karyawan lain yang juga masuk ke kotak besi itu. Ia tak ingin orang lain tahu permasalahan nya dengan Miska.


Miska masih menatapnya dari pantulan kaca dalam lift. Pandangannya seolah mengunci pergerakan Vita. Tetapi ia tak mau kalah. mereka saling menatap menghantarkan gelombang panas yang tak terlihat diantara mereka.


🍁🍁🍁🍁🍁


Hai hai hai, othor receh muncul lagi nih spesial untuk readers tersayang.


jangan lupa like, komen supaya karya othor receh ini merasa disayang hehehehe


Kalau ada bunga n secangkir kopi bolehlah dikirim.

__ADS_1


__ADS_2