
Ira Zerni mondar mandir di kamarnya dengan wajah yang tampak sangat khawatir. Setelah Gala menghubunginya beberapa jam yang lalu meminta nomor handphone Pandu adiknya, firasatnya sudah menangkap ada kejadian buruk yang akan terjadi.
Ia sempat menanyakan kepada Gala kenapa ia membutuhkan nomor handphone itu tetapi dengan emosi Gala malah langsung menutup panggilan itu.
"Ya ampun," ujarnya dengan sangat cemas apalagi Pandu sampai detik ini belum juga kembali.
"Minum dulu," ujar suaminya sembari memberikan segelas air putih ke tangannya. Ia saja ikut dibuat pusing akan tingkah istrinya itu yang mondar mandir bagai setrikaan.
Ira Zerni meminum air itu hingga tandas, kemudian duduk di samping suaminya yang sedang berbaring di atas ranjang.
"Aku takut, kak. Gala dan Pandu kalau bertemu pastinya akan berantem," ujar Ira masih dalam keadaan galau dan khawatir.
"Urusan laki-laki. Biarkan sajalah, kalau tidak pakai kekerasan yah tidak akan seru, hehehe," ujar suaminya dengan terkekeh pelan.
"Astaga, Kak, bukannya memberi solusi malah bikin tambah runyam, " Ira memukul pelan lengan suaminya dengan kesal. Tangannya tiba-tiba ditangkap dengan lembut oleh papa dari putrinya itu.
"Sambil nunggu kabar dari Pandu kita traveling dulu yuk," ujar suaminya dengan senyum menggoda. Ira tersenyum malu mendapati suaminya menatapnya intens. Keresahannya menguap pelan seiring perlakuan manis yang diberikan oleh pria yang telah menemaninya mengarungi bahtera rumah tangga sekitar 3 tahun itu.
Tok
Tok
Tok
Kegiatan indah yang membuat mereka semakin resah jika tidak diselesaikan itu terjeda oleh ketukan beruntun dari arah pintu. Ira Zerni segera melepaskan diri dari kungkungan suaminya. Ia tahu ada yang tidak rela jika ia membuka pintu itu tetapi ia harus ke sana atau Zahwa malah akan terbangun dan menimbulkan keresahan lainnya.
"Ada apa Bik?" tanya Ira saat melihat Bik Iyem berdiri di depan pintu dengan wajah panik.
"Den Pandu sudah pulang nyonya," Ira Zerni ingat telah memberi pesan pada ART nya ini kalau sewaktu-waktu Pandu pulang maka ia harus segera diberitahu.
"Sekarang di mana Bik?" tanya Ira sembari mengikuti langkah ART nya itu.
"Sudah ada di kamarnya Nyonya,..." mereka berdua menuju lantai atas dan menemukan Pandu dengan tampilan yang sangat kacau dan mengenaskan.
"Ya Allah, kenapa bisa begini?" ujarnya dengan suara melengking panik. Ia segera menghampiri adiknya itu dan menelisik wajah Pandu yang tampak lebam dengan bibir yang berdarah.
"Bik, tolong ambilkan kotak obatnya!" Bik Iyem dengan langkah cepat mencari kotak itu dan segera menyerahkannya kepada Nyonya Ira.
"Apa pak GM yang melakukannya?" tanya Ira sembari mengoleskan cairan Betadine di wajah Pandu yang nyaris membuatnya berteriak karena pedih dan nyeri.
"Awww, pelan-pelan Kak."
__ADS_1
"Kakak tanya Ndu, apa ini ulah pak GM?"
"Kalau kakak tahu kenapa bertanya," gerutu Pandu kesal.
"Kenapa bisa Ndu?, kamu tahu kalau Vita sudah menikah...trus kenapa kamu masih berani mendekatinya,"
"Ya ampun kak. Aku tidak serendah itu ya, mengganggu keluarga orang lain. Aku cuma kasihan karena Vita kelihatan tidak bahagia bersama suaminya itu,"
" Vita menangis kak dan itu aku tahu pasti penyebabnya karena bos kakak itu yang selalu menyakitinya."
"Dan tadi..., aku harap Vita baik-baik saja di sana." ujar Pandu panjang lebar. Ia terbayang keadaan akan keadaan Vita yang tidak sadarkan diri.
"Maksud kamu apa?" Ira semakin bingung dengan perkataan Pandu.
"Vita berusaha menahan suaminya untuk tidak menyerangku dan berakhir ia yang kena pukulan suaminya itu dan...Vita berdarah kak sampai di bawa ke rumah sakit." ujar Pandu dengan geram.
"Ya, Allah," Ira Zerni sampai menutup mulutnya karena kaget dan tidak percaya.
"Kamu istirahatlah, kakak akan mencari kabar melalui Deka asistennya itu, semoga Vita baik-baik saja," Ira pun melangkah ke kamarnya meninggalkan Pandu yang masih meringis menahan sakit di seluruh tubuhnya.
🍁🍁🍁🍁🍁
Gala Putra Raditya menggendong tubuh lemas Vita ke ruang UGD dengan sangat panik. Ia berteriak minta tolong kepada siapa saja agar segera memberikan pertolongan pertama untuk istrinya.
"Vit, bangun sayang..." bisik Gala dengan suara bergetar melihat istrinya masih dalam keadaan tidak sadarkan diri.
"Vita... bangun!" teriak Gala kemudian menciumi seluruh permukaan wajah istrinya.
"Dokter! cepat selamatkan istriku..." Ia segera menjemput kedatangan seorang dokter perempuan bersama Deka dengan langkah cepat. Ia sudah seperti orang gila meraung dan menjambak rambutnya sendiri menyaksikan keadaan istrinya yang sampai sekarang belum memberi respon.
"Bapak yang tenang ya, kami akan melakukan yang terbaik," ujar dokter itu menenangkan. Ia pun meninggalkan Gala dan Deka dan segera memasuki ruangan tindakan kemudian menutup pintunya.
"Astagfirullah," ujar Gala mengusap wajahnya kasar. Ia meninju tembok di ruangan UGD itu berkali-kali hingga membuat buku jarinya berdarah. Deka yang melihat itu segera memanggil perawat agar membalut tangan Gala yang terluka.
"Sabar, kamu harus tenang, banyak berdoa semoga Vita baik-baik saja," ujar Deka sembari menyentuh bahu Gala yang hanya diam dengan pandangan menerawang jauh.
"Aku tak bisa memaafkan diriku kalau sampai Vita kenapa-kenapa," Gala menunduk lesu. Ia membenci dirinya sendiri yang sudah membuat istrinya seperti itu.
"Tangan ini yang sudah mendorong Vita, Dek" Gala berucap dengan hati yang sangat hancur sembari memukulkan kembali tangan yang sudah diperban itu ketembok. Deka dengan sigap menahannya, ia belum pernah melihat sepupunya yang sangat arogan itu terluka seperti ini.
"Sudah, jangan menyiksa dirimu seperti itu," ujar Deka yang ikut merasakan kesedihan Gala.
__ADS_1
"Keluarga pasien," sebut seorang perawat dari arah pintu ruangan tindakan. Gala dan Deka serentak berdiri dan menghampiri sumber suara.
"Saya suaminya," ujar Gala cepat dengan harap-harap cemas.
"Bapak silakan masuk, dokter perlu bicara pada anda," sang perawat mempersilahkan Gala untuk masuk ke ruangan dokter.
Di dalam seorang dokter perempuan yang pertama ia temui tadi sudah menunggu di depan mejanya. Gala langsung duduk setelah dipersilahkan.
"Bapak, suami pasien?" tanya dokter itu sembari menatap wajah Gala yang mengangguk pelan. Ia memperbaiki letak kacamatanya lalu melanjutkan.
"Istri anda mengalami pendarahan, dan itu cukup membahayakan kandungannya," ujar dokter itu yang langsung membuat Gala memicingkan matanya.
"Kandungan?"
"Hamil?" tanya Gala pelan bagaikan gumaman. Dokter perempuan itu mengangguk.
"Ia, pak. Nyonya Vita Maharani sedang mengandung dan sepertinya sudah jalan sekitar 12 Minggu.
Jedarrr
Gala bagaikan terkena sengatan ribuan lebah, antara senang dan sakit menghantam perasaannya. Rekaman kejadian beberapa jam yang lalu mengganggunya, darah yang ia dapati mengalir dari pangkal paha Vita membuatnya bergidik nyeri.
"Bagaimana keadaan istri saya dok?" tanyanya kemudian setelah lama terdiam.
"Ia sudah sadar tadi tetapi kami memberinya anestesi agar ia tak begitu merasakan sakit saat kami melakukan tindakan padanya,"
"Kandungannya dokter, bagaimana?" tanya Gala takut-takut. Ia tak mau mendengar kabar buruk atau ia tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri.
"Alhamdulillah, Tuhan menjaganya walaupun ini masih sangat riskan," jawab dokter itu dengan senyum memenangkan. Gala menarik nafas lega. Rasa syukur ia ucapkan dalam hati.
"Apa bisa saya melihatnya, dokter?" tanya Gala dengan senyum yang mulai terbit di bibirnya.
"Oh iya pak, setelah kami memindahkannya ke kamar perawatan."
🍁🍁🍁🍁🍁
Hai hai readers tersayangnya Bhebz, dukung terus karya receh aku ini yah, dengan cara klik like, ketik komentar, and kirim hadiah berupa bunga atau secangkir kopi.
Nikmati alurnya yah sayang...
Happy reading 😍😍😍😍😍
__ADS_1
Eh, sembari menunggu update berikutnya kuy samperin karya teman akoh, dijamin oke.