Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 47 Pernyataan Cinta Gala


__ADS_3

Pintu toilet perempuan tertutup keras pas di depan hidung Gala. Ia meringis bukan karena daun pintu itu mengenai hidungnya yang mancung. Ia cuma malu karena semua mata memandangnya curiga. Ia berharap tidak ada yang mengenalinya sebagai GM "TGR"Global Company.


"Topeng ini sungguh berguna" gumamnya sembari menyentuh ujung topeng yang ia gunakan. Ia mundur dan menunggu.


"Pak GM?, ngapain nunggu di depan toilet perempuan?" tanya Ira Zerni sarkas.


"Hush! jangan ribut kamu" Gala menarik tangan Ira menjauh dari sana sambil berbisik pelan.


"Mau nembak cewek ko' di Toilet, gak modal banget pak" ujar Ira Zerni cekikikan. Ia sengaja menggoda Gala sahabat sekaligus Bosnya. Ia tahu Gala sedang menunggui Vita yang ia temui masih di dalam sana.


"Nembak apaan orang dianya lagi ngambek gitu" ujar Gala dengan senyum lucu. Ira semakin tertawa dibuatnya.


"Perempuan itu sukanya disayang-sayang dan dilembut-lembutin. Ia kan makhluk halus, ups🤭"


"Jangan datar aja kayak tembok" Ira tahu sifat Gala yang super dingin sama semua orang. Ia yakin Gala pasti bukan tipe cowok manis nan romantis.


"Dan jangan suka main kasar" Ira memutar bola matanya malas saat mengingat rekaman CCTV itu lagi.


"Tuh Vita dah selesai" tunjuk Ira dengan dagunya ke arah Vita yang baru keluar dari toilet. Ira melambaikan tangannya seraya memanggil nama Vita.


"Vit, bisa ke sini sebentar gak" Vita segera menghampiri mereka berdua yang lagi asyik ngobrol di ujung lorong.


"Bisa tolongin pak GM gak? Ia lagi sakit perut mungkin salah makan kali" Ira mulai berakting di depan mereka berdua. ia ingin tahu bagaimana reaksi Vita Maharani. Gala tersenyum dibalik topengnya. Ia tahu Ira ingin membantunya. Ia pun meringis berpura-pura sakit.


"Waduh, Kok bisa sih pak?" Ia yang tadinya menunjukkan wajah malas ketika melihat GM ada di sana berubah khawatir. Ira semakin melebarkan senyumnya.


"Maaf Bu, kita bawa ke rumah sakit atau ke kamar dulu" Vita mengusulkan sembari berpikir cepat. Ia tahu hotel yang mereka tempati sekarang adalah milik TGR group jadi sudah pasti kalau butuh kamar maka Pak GM pasti bisa langsung dapat.


"Kayaknya kita bawa ke kamar aja dulu Vit, gak enak acara belum selesai masak GM langsung masuk UGD" Ira semakin jago berakting. Gala memberinya jempol dari balik punggungnya.


"Oh iya Bu aku hubungi Pak Deka dulu yah" Vita meraih handphonenya untuk mencari Deka sang asisten yang entah dimana keberadaannya.


"Gak usah Vit, kamu antar deh ke kamar pribadi pak GM nanti aku yang hubungi Deka" ujar Ira lagi dengan senyum devil.


"Bapak bisa jalan sendiri kan?" tanya Vita dengan wajah yang semakin khawatir karena sedari tadi Gala cuma diam saja.


Eh


Gala mengangguk. Ia juga tidak mungkin dipapah oleh tangan Vita yang kecil begitu sedangkan badannya sangatlah besar.

__ADS_1


"Pelan-pelan ya pak, bapak kenapa sih makan sembarangan nah sakit perut kan jadinya" Vita terus mengoceh di samping Gala seperti emak-emak yang lagi gak kebagian sembako. Ia lupa kalau ia sedang terlibat perang dingin dengannya.


"Oh my God!" Vita menutup mulutnya. seketika ia teringat akan pembicaraan dua orang tadi yang ingin memberi Gala obat atau racun.


"Jangan-jangan?" berbagai pikiran buruk memenuhi otaknya yang kecil. Ia segera menatap mata elang Gala yang sedikit tampak dari balik topengnya.


"Buka pak" ujar Vita pada Gala yang melihatnya dalam keadaan panik. mereka sekarang sudah berada di kamar presiden suite kamar pribadi Gala ketika ia ingin menginap.


"Buka apa?" tanya Gala bingung. Ia semakin heran dengan tingkah Vita Maharani yang kelihatan panik padahal Ira Zerni dan ia hanya bercanda.


"Topeng bapak" ujar Vita cepat. Gala pun menurut ia membuka topengnya kemudian lanjut melepaskan tuxedo serta dasi kupu-kupunya hingga tersisa kemeja putihnya saja.


"Kenapa bapak buka semuanya?" tanya Vita kesal.


"Aku belum buka semuanya Vit, ini masih ada kemeja sama celana. Memangnya kamu mau aku buka semuanya?" ucap Gala pura-pura bodoh.


Vita mengabaikan gurauan Gala. Ia tidak ingin bercanda saat ini.


"Apa bapak makan sesuatu tadi?" Gala menggeleng. Ia memang belum makan sesuatupun sedari tadi karena sibuk ngurus ini dan itu.


"Minum? apa bapak minum sesuatu? Gala berpikir sejenak. lalu mengangguk.


"Susu" jawab Gala singkat.


"Susu apa?"


"Susu manis lah dan suplemen. Emangnya kenapa sih nanya terus?" tanya Gala sedikit jengah dengan pertanyaan gadis ini. Vita langsung diam. Sepertinya kekhawatirannya berlebihan.


"Bagaimana rasanya sekarang?" tanya Vita sembari menyentuh perut kotak-kotak Gala yang masih terhalang kemejanya. Ia menekan nekan daging alot itu. Tingkahnya seperti seorang dokter yang sedang memeriksa pasiennya. Ia bahkan menyuruh Gala berbaring telentang agar ia bebas memeriksa sana sini.


Mata Gala terus memandangi wajah Vita yang serius memijat perutnya. Ia sampai geli sekaligus memikirkan hal-hal yang tidak-tidak.


"Kenapa pak? Kok diam saja?" tanya Vita lagi setelah memastikan semuanya baik-baik saja. Gala menarik bibirnya tersenyum dan itu menambah tingkat ketampanannya. Vita sampai menelan salivanya kasar.


"Kenapa kamu mengkhawatirkanku Hem?" Gala seperti Dejavu ia sepertinya pernah mengalami ini sebelumnya.


"Aa tidak" Vita langsung gugup. Ia ingin berdiri tetapi tangannya ditahan oleh Gala. Ia semakin panik takut Gala bisa merasakan kegelisahannya. Gala bangun dan duduk di samping Vita tanpa melepaskan genggaman tangannya.


"Vit, pandang mataku" ujar Gala lembut, Ia akan belajar bersikap manis sesuai pesan Ira. Vita yakin pipinya kini semakin merah. Ia malu luar biasa. Hatinya berdebar bertalu-talu. Berada sedekat ini dengan Gala bisa merusak kerja jantungnya. Tangan Gala meraih dagunya agar mereka bisa saling menatap dan mendalami perasaan masing-masing.

__ADS_1


"Vit, aku sudah lama mencintaimu" ujar Gala dengan tatapan sendunya.


"Bertahun-tahun aku menunggu saat-saat seperti ini" Ujarnya lagi dengan helaan nafas panjang. Vita membuka mulutnya seakan ingin menyela tetapi dengan cepat Gala menaruh telunjuknya di bibir gadis itu.


"Ssst!, biarkan aku saja yang bicara setelah itu kamu bisa memutuskan" Vita hanya mengangguk pelan.


"Kamu ingat acara promnight malam itu? sejak itu aku memikirkanmu, merindukanmu, mengharapkanmu ada di sini selalu bersamaku" Gala mengalihkan pandangannya ke arah lain. Pikirannya menerawang jauh ke belakang ketika ia hampir gila karena gadis ini. gadis yang bahkan tidak ia tahu identitasnya tetapi waktu itu ia tak mau berusaha mencarinya karena ia yakin gadis ini pasti akan datang sendiri.


Vita bergeming dengan segala pikiran dan rasa yang berkecamuk dalam dadanya. Ia juga menginginkan hal yang sama tetapi ada hal yang masih mengganjal di hatinya. Pertunangan pria di depannya ini dengan Miska gadis yang ia tahu sangat membencinya membuatnya ragu. Apalagi perlakuan dan kata-kata kasar yang pernah Gala ucapkan padanya sungguh masih membekas dan belum kering.


Vita melepaskan tangannya dari genggaman Gala. Ia berdiri dan merapikan gaunnya yang agak kusut.


"Kalau ada yang memberikan minum atau makanan, jangan diambil ya Pak" ujar Vita tanpa mau menatap mata Gala. Ia bersyukur Gala baik-baik saja dan sepertinya orang itu belum berhasil melaksanakan rencananya.


"Vit..." ujar Gala dengan suara memohon. Vita hanya menarik senyum tipis.


"Kita hanya rekan kerja Pak. Bapak bosnya dan aku bawahan, jangan sampai lebih dari itu" ujar Vita sarkas dan itu cukup menohok jantung Gala sampai perih tak terkira.


Gala segera mengejar langkah Vita setelah memakai kembali tuxedonya walaupun tanpa dasi kupu-kupu serta topengnya.


"Tak bisakah kamu memberiku sedikit saja tempat di hatimu?" Ujar Gala memohon. Ia rela melakukan apapun agar Vita mau menerimanya.


Vita Maharani berlalu sembari menyusut airmata yang sudah menganak sungai di pipinya. Ia juga sakit tetapi ia bertekad tak mau menambah luka.


"Siapa gadis itu?" ujar seseorang dari ujung lorong kamar. "Sepertinya aku pernah melihatnya tetapi dimana?" dahinya mengernyit. Untung ia sempat mengambil gambar gadis itu saat baru masuk ke kamar bersama GM.


"Ada hubungan apa diantara mereka?" berbagai pertanyaan muncul dalam benaknya.


"Bukankah seharusnya GM sedang merasakan efek obat perangsang itu?"


"Atau jangan-jangan gadis itu yang membantu GM melepaskan efek obat itu?"


"Hhhhhhh bisa-bisa kita dibunuh oleh bos kalau kita salah sasaran" Ujarnya frustasi dengan wajah takut. Segera ia hubungi seseorang yang melakukan tugas ini.


🍁🍁🍁🍁🍁


Hai readers tersayang...tetap nikmati alurnya yah...


jangan lupa like, komen and kirim hadiah supaya othor tetap semangat

__ADS_1


Happy reading 😍😍😍😍😍


__ADS_2