Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 221 Kejutan Membawa Luka


__ADS_3

Weekend yang cukup buruk bagi Vita Maharani pagi itu, setelah ia melakukan olahraga ringan dengan sang suami.


Ia tak sengaja menjumpai seorang tamu yang tak diundang dan memaksa masuk untuk menemuinya di ruang keluarga.


"Hei, ngapain kamu ke rumah ini?" tanya Vita pada seorang perempuan seksih yang ia temui di ruangan Rama waktu itu. Penampilan tamu itu begitu merusak kesehatan matanya. Dari atas sampai bawah mempertontonkan bagian-bagian yang tak layak dikonsumsi oleh para pria.


"Maafkan aku mama, Kak Rama yang meminta aku kesini untuk meminta restu." ujar perempuan itu dengan wajah centilnya.


"Restu apa hah? kamu pikir aku mau merestui hubungan kalian? jangan mimpi." suara Vita yang biasanya tenang kini berubah meninggi. Wajahnya yang biasanya kelihatan sabar berubah menjadi bengis. Ia tak rela putra kesayangannya mendua. Apalagi ia sangat menyayangi menantu Kriwilnya itu.


Perempuan seksih itu tercekat tidak menyangka akan ditolak sedemikian kejam oleh calon mama mertuanya.


"Tapi kan Kak Rama sendiri yang meminta aku ke sini mama." ujar perempuan itu lagi dengan membawa-bawa nama Rama. Vita semakin mendidih hatinya.


"Dan andaikan mama tidak mengizinkan pun kami akan tetap berhubungan." lanjut perempuan itu lagi dengan wajah dibuat setenang mungkin. Meskipun begitu wajah centilnya tetaplah nampak.


Perempuan berkostum pakaian renang itu berusaha meraih tangan Vita tetapi ditepisnya dengan kasar oleh perempuan cantik kesayangan Gala Putra Raditya itu.


Vita lantas memanggil pelayan agar mengantar tamu yang tidak diundang itu keluar dari rumahnya. Ia tak sudi berhadapan dengan pelakor yang dengan percaya dirinya meminta restu padanya. Dari arah depan Rara muncul bersama dengan Rama dengan wajah terkejut.


"Mama, ini nih perempuan yang berani mendekati mas Rama." teriak Rara yang baru tiba dengan suara kerasnya. Dengan wajah emosi Rara menghampiri pelakor itu. Ia ingin memberikan pelajaran yang cukup berharga untuk sang pelakor tetapi tangannya ditahan oleh suaminya.


"Rara? kamu sudah tahu sayang?" tanya Vita hati-hati.


"Iyaa Ma. Mereka berhubungan secara diam-diam." jawab Rara masih dengan emosi di wajahnya. Ia menunjuk perempuan itu kemudian menunjuk wajah Rama dengan ekspresi tak terbaca. Ada emosi dan kesedihan di sana.


"Astagfirullah, Rama! kenapa kamu lakukan ini pada mama dan istrimu?!" ujar Vita sedikit histeris. Ia sampai menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Keluar kamu dari rumah ini!" seru Vita pada perempuan seksih itu sambil menunjuk arah pintu keluar.


"Saya tidak akan keluar mama, karena saya membawa ini dari kak Rama." ujarnya dengan suara yang sangat tenang.

__ADS_1


Dengan penuh percaya diri ia menyerahkan amplop putih ke tangan Vita Maharani sang nyonya besar. Vita menghempaskan amplop putih itu ke lantai. Prasangka buruknya mulai mengganggu pikirannya. Hingga Gala yang baru masuk ke ruangan itu mengambil amplop putih yang jatuh pas di kakinya.


"Apa ini?" tanyanya penasaran.


"Jangan dibuka mas, serahkan kembali kepada kuntilanak ini. Biar ia cepat keluar dari rumah kita." jawab Vita dengan suara bergetar emosi. Gala menatap semua orang yang ada di ruangan itu satu persatu kemudian membuka amplop itu tanpa menghiraukan ucapan istrinya.


Semua yang ada di ruangan itu menahan nafas, menunggu isi dari kertas itu yang dibentangkan oleh Gala di depan wajahnya.


"Mas, jangan percaya itu." Ujar Vita kemudian menghampiri Gala dengan langkah cepat kemudian merebut kertas itu dan meremasnya kuat. Ia sungguh tak mau mendengar kabar buruk dari dalam kertas itu.


"Kenapa di buang sayang?" tanya Gala dengan ekspresi tak terbaca.


"Rama, ambil kertas itu dan berikan pada mamamu!" dengan patuh Rama mengambil kertas yang sudah kusut itu kemudian menyerahkannya pada sang mama.


"Ram, apapun isi kertas ini. mama tetap tidak merestui hubungan kalian, mengerti?" ujar Vita dengan mata mendelik marah.


"Iya ma, jangan percaya pada kuntilanak jadi-jadian ini." ujar Rara mendukung. Ia sampai mendorong perempuan itu sampai terjengkang ke belakang. Untung ia mendarat pas di atas sofa yang empuk.


"Buka saja Ma, apapun keputusanmu Rama terima." ujar Rama memandang wajah mamanya dengan pandangan teduh.


"Aaaaaaaa kalian ya!" teriak Vita histeris. Ia menutup wajahnya dengan telapak tangannya kemudian menangis sejadi-jadinya.


Sarah dan Adam datang membawa kue tart sambil menyanyikan lagu selamat ulang tahun.


Gala segera memeluk tubuh istrinya yang masih berjongkok dan menangis histeris.


"Selamat ulang tahun sayang." ujar Rama sembari mengecup kening istrinya lembut.


"Selamat ulang tahun mama..." ujar Sarah, Rara, dan Rama. Mereka bertiga memeluk dua sosok penting dalam kehidupan mereka.


"Terima kasih. Mama sayang kalian semua." jawab Vita sembari tersenyum bahagia. Ia menghapus air matanya dengan punggung tangannya kemudian berujar,

__ADS_1


"Kalian tega bikin Mama sport jantung." semua yang ada di sana tertawa terbahak-bahak kecuali si pelakor gadungan.


"Untung kak Rara tidak sampai menjambak rambutku tante, Ini kan baru dari salon." ujar si pelakor gadungan dengan bibir mengerucut. Sekali lagi mereka semua tertawa.


"Siapa sih yang punya ide buruk kayak gini?" tanya Gala dengan menatap semua orang yang ada di sana.


Rara dan Sarah saling menunjuk. Sedangkan Adam hanya cengengesan.


"Jangan lagi bermain-main seperti ini. Tidak lucu. Kamu bisa bikin Mama sakit. Mama tidak akan pernah rela ada pelakor masuk ke rumah kita." ujar Vita dengan tatapan membunuh pada si pelakor gadungan yang ternyata adalah teman Sarah di sanggar tari tempatnya sering latihan.


Perempuan itu mau ikut berakting asalkan bisa lebih dekat dengan Adam. Ia sangat suka sama Adam sejak ia menjadi pagar ayu di pernikahan Andika dan Sovia. Tetapi tentu saja ia tak mau memberi tahu alasan itu pada Sarah.


"Selamat ulang tahun!" seru beberapa orang yang baru datang dari arah ruang tamu. Ada Sovia, Andika dan juga Miska serta Reno Sebastian. Vita menutup mulutnya terharu. Ternyata semuanya sudah membuat janji untuk merayakan ulang tahunnya di sini bersama semua keluarga. Tak lama kemudian Risma dan Deka juga datang bersama baby Balqis. Mereka datang dengan membawa banyak kado dan makanan.


"Baby Balqis, cantik banget nih tante Ris." ujar Rara sembari menciumi wajah Balqis yang berpipi tembem. Balita berusia hampir 2 tahun itu ternyata minta untuk turun dan berjalan sendiri.


"Wahh, Balqis udah bisa lari." ujar Rara sembari mengikuti langkah cepat balita itu berkeliling-keliling ruangan. Semua orang memandangnya dengan pandangan bahagia tetapi ada juga yang memandangnya kasihan.


"Awwwww... tolong!" teriakan Sovia yang terjatuh di lantai akibat tertabrak Rara yang sedang memburu baby Balqis membuat semua orang mendatangi tempat kejadian.


"Dasar kamu ya! kalau sampai terjadi apa-apa sama kandungan Sovia, tante tidak akan memaafkanmu!" teriak Miska histeris karena melihat ada darah yang mengalir dari pangkal paha Sovia sang menantu.


"Maafkan Rara tante. Rara gak sengaja sungguh." ujar Rara merasa bersalah. Ia sampai membantu Sovia untuk berdiri tetapi ditepis oleh Andika yang ikut emosi melihat istrinya kecelakaan.


"Andika! jaga tanganmu itu, atau aku bisa mematahkan nya." ujar Rama dengan rahang mengetat marah. Ia tidak rela istrinya di perlakukan sangat kasar di depan semua orang.


"Rama!" suara Gala menggelar di dalam ruangan yang dipenuhi kepanikan itu.


---Bersambung--


Mana nih dukungannya untuk karya receh ini. Like dan komentarnya dong...

__ADS_1


Ada Vote atau bunga mungkin.


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍 😍😍😍


__ADS_2