
Rama menghentikan sejenak gerakannya, kemudian menatap lembut wajah istrinya yang penuh peluh dan air mata.
"Maafkan aku Ra," bisiknya lembut dikuping istrinya itu. Perempuan muda itu melepaskan pegangannya di bahu suaminya kemudian mengangguk pelan sembari meringis menahan perih. Tangannya kembali ke atas menghapus bulir peluh di dahi suaminya. Ia sampai berpikir kenapa harus menyiksa diri seperti ini ya.
"Aku lanjut ya? bentar lagi enak kok?" ujar Rama kemudian mengecup lembut bibir istrinya itu agar bisa lebih nyaman dan mulai menikmati apa yang ia berikan. Menit berikutnya bukan lagi desisan perih yang kedengaran di dalam kamar mewah itu tetapi sebuah suara indah yang sangat syahdu dalam bentuk syair pujian penuh damba dan gairah.
Rara mulai menikmati permainan suaminya setelah sesi kedua. Ia baru bisa beradaptasi dengan benda yang baru, aneh, dan asing itu setelah suaminya mengajaknya berkenalan dengan sangat manis dan lembut. Dan ternyata sesuatu yang ia takuti itu justru bisa membawanya terbang ke nirwana berkali-kali meskipun tanpa sayap. Hingga ia mau lagi dan lagi sampai rasa lelah datang menghampiri mereka berdua.
Rama dan Rara tumbang dengan senyum puas menghiasi wajah mereka.
"Terima kasih Ra." ujar Rama sembari memandang wajah istrinya yang kemerahan karena malu.
"He eh." jawab Rara sembari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Rama meraih tangan istrinya itu kemudian mengecupnya lembut.
"I love you Ra' mahar klaim asuransi itu kamu bisa gunakan untuk menuntutku kalau aku menyakitimu." ujar Rama lembut kemudian meraih tubuh polos istrinya kedalam pelukannya.
"Kalau yang tadi itu, udah termasuk menyakiti gak?" tanya Rara dengan wajah imutnya. Ia membayangkan kembali keuntungan yang akan ia dapat kalau ia menuntut suaminya yang tampan dan kaya raya ini.
"Yang tadi yang mana?" tanya Rama bingung. Tangannya semakin merapatnya pelukannya pada istrinya itu.
"Kamu sampai bikin aku nangis gitu karena sakit dan perihnya minta ampun." ujar Rara dengan memanyunkan bibirnya.
"Astagfirullah, kukira udah gak sakit sayang, buktinya kamu sampai minta nambah Hem."
"Ish, gak peka banget." gerutu Rara lagi sembari mencubit pinggang suaminya.
"Ih, maksudnya tuh bukan yang seperti itu nyonya Rama, kalau aku menyakiti jiwa dan ragamu, aku siap kamu tuntut Sayang." Rama dengan sabar menjelaskan kemudian mengecup kening istrinya lembut.
"Jadi kamu berniat menyakitiku ya?" tanya Rara dengan berusaha melepaskan pelukan suaminya itu. Ia ingin bangun tetapi ditarik kembali oleh Rama agar tetap berbaring disampingnya di dalam pelukannya.
"Bukan begitu maksudnya sayangku. JIKA SEANDAINYA." jelas Rama dengan menekankan pada kata Jika seandainya itu agar istrinya paham.
"Oh gitu? trus kalau aku yang menyakitimu, kamu mau apa?"
__ADS_1
"Semoga tidak terjadi ya, dan semoga kita tidak pernah saling menyakiti sayang. Aku mencintaimu Ra' sangat. Cukup kamu balas cintaku. Aku sudah puas." Rara terdiam, ia sekarang memikirkan apakah ia sudah mencintai suaminya ini.
🍁
Di tempat lain di waktu yang sama.
"Ma, mama..." teriak Adam yang sedari tadi mengetuk pintu kamar orang tuanya tetapi tidak dibukakan juga. Dengan wajah kesal ia kembali ke kamarnya sendiri.
"Kak, Adam itu kenapa sih?" bisik Risma kepada Deka suaminya yang masih setia berbaring sambil berpelukan dipagi yang masih buta dan dingin itu. Mereka ternyata sengaja mengabaikan ketukan pintu dan teriakan putra mereka di luar sana.
"Gak usah dipikirin. Anak itu memang suka bikin rusuh kalau gak punya teman." ujar Deka kemudian mengusap lembut perut istrinya yang sudah memasuki usia 6 bulan.
"Hem kak. Apa anak itu gak malu karena sudah besar begitu baru punya adik?" tanya Risma sembari mengusel-usel dada bidang suaminya. Sejak ia hamil anak kedua ini ia sangat manja dan tak mau melakukan apa-apa. Perasaannya baru membaik kalau ia mencium bau badan suaminya.
"Kenapa harus malu? harusnya bangga karena papanya masih bisa berproduksi." jawab Deka dengan gaya angkuh. Risma langsung mencubit pinggang suaminya itu.
"Kira-kira anak itu udah punya cewek belum ya, Kak?"
"Iya, ya.. Tapi anak itu normal kan kak?" tanya Risma lagi khawatir.
"Ya normal lah. Orang belum punya pacar belum tentu tidak normal. Sapa tahu belum ada yang menarik hatinya." jawab Deka dengan tangan masih terus mengelus lembut perut istrinya.
"Kamu gak ada keluhan kan Sayang?" tanya Deka sedikit khawatir. Ia paling sering mendengar cerita dari orang-orang termasuk dari bidan kalau kehamilan istrinya ini sedikit beresiko karena usia istrinya yang sudah menginjak kepala empat.
"Gak sih, selama ini bagus-bagus aja kok. Awwwww." Deka langsung bangun dari tidurnya karena panik.
"Ada sayang, ada yang sakit?" tanya Deka khawatir. Ia menyingkap baju longgar istrinya dan memeriksa perut istrinya yang membuncit itu.
"Gak, cuma dedeknya lagi bergerak." jawab Risma dengan tersenyum.
"Tuh lihat kak, ia bergerak lagi..." ujar Risma sambil mengarahkan tangan suaminya ke permukaan perutnya yang bergerak-gerak.
"Wahhh lucu sekali." ujar Deka takjub. Ia merasa geli ketika bayi di dalam perut istrinya bergerak-gerak dan membuat perut Risma kadang berubah bentuk.
__ADS_1
Perlahan Deka menciumi perut istrinya itu lembut. Mengajak bayinya mengobrol apa saja. Setelah itu tangannya dengan sadar sesadar-sadarnya mulai bergerilya mencari sesuatu yang tersembunyi tetapi sangat berharga.
"Sayang, aku udah ngobrol sama dedek." ujarnya dengan sebuah senyum aneh di bibirnya.
"Trus?" Risma pura-pura bertanya padahal ia tahu maksud suaminya itu.
"Katanya ia pengen ketemu langsung sama papanya." jawab Deka dengan pandangan mata tak lepas dari sesuatu yang ia cari dengan tangannya tadi.
"Hem..."
"Boleh gak nih?"
"Hem," jawab Risma sembari menutup matanya menikmati apa yang dilakukan suaminya d bawah sana. Deka tahu ia tak perlu bertanya lagi karena ekspresi istrinya sudah memberinya lampu hijau untuk melakukan apa yang ia mau.
Rupanya pagi ini adalah pagi yang cukup berkah bagi keluarga Raditya. Setelah pesta resepsi usai senior maupun tak mau kalah dengan apa yang dilakukan junior pagi itu. Mereka semua sedang menikmati masa cuti pernikahan Rama sang pewaris TGR Group.
🍁
Tetapi ternyata tidak bagi Sovia yang sedang uring-uringan sendiri di kamarnya. Ia mondar-mandir sendiri bagai setrikaan di dalam ruangan bernuansa merah muda itu.
Bayangan pesta resepsi pernikahan Rama dan Rara kembali berputar dalam ingatannya. Ia tidak mengerti kenapa Andika tiba-tiba kembali cuek lagi padanya dan malah pulang lebih awal padahal pesta belum usai.
Tetapi karena masih banyak tamu yang harus ia jamu bersama kedua orangtuanya. Makanya ia tidak mempedulikan Andika saat itu. Dan sampai sekarang pria itu bahkan tidak menghubunginya sama sekali.
"Uh, sebel. Awas lho aku putusin aja." ujar Sovia dengan wajah kesal.
---Bersambung--
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess.
Like dan komentar sebagai penyemangat bagi othor untuk terus update.
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍
__ADS_1