Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 177 I Love You So Much


__ADS_3

"Jadi kamu sendiri yang kelola restoran itu sayang?" tanya eyang saat mereka semua sedang duduk santai di ruang keluarga.


"Gak, eyang. Aku dibantuin mama sama Arya." jawab Sovia sembari meminum teh hangat rasa melati kesukaannya.


"Siapa tuh Arya?" tanya Ninick dengan pandangan menyelidik. Andhika yang menguping dengar pembicaraan mereka langsung memasang level siaga 4 pada pendengarannya. Ia pura-pura menurunkan volume suara tayangan televisi agar bisa mendengar lebih jelas pengakuan gadis itu.


"Arya itu assisten pribadi aku eyang, putranya om Pandu. Diminta mama untuk membantu dan menjaga aku gitu." jawab Sovia sambil tersenyum. Ninick membalas senyum gadis itu kemudian bertanya lagi, "Bukannya Andika yang selama ini menjaga kamu kenapa malah Arya yang diminta mamamu." ujar Ninick berusaha memancing informasi lebih jauh. Sedang Andika hanya bisa tersenyum kecut. Lagi-lagi Arya yang disebut Sovia.


"Yah, karena Dika kan udah punya kesibukan baru eyang, bisa berabe juga kalo aku dilabrak sama seseorang." ujar Sovia santai tetapi niatnya menyindir Andika yang sedang berpura-pura menonton televisi.


"Oh gitu ya, iya sih eyang perhatikan Andika tuh sok sibuk sekarang, tapi eyang dukung kok kalau kamu sama Arya." tambah Ninick memprovokasi. Ia tahu kuping Andika sekarang sudah merah. Dan ia sangat puas dengan itu


"Ah, eyang bisa aja hehehe." timpal Sovia merasa malu sendiri. Soalnya tak pernah ada di dalam pikirannya mengganti posisi Andika dengan orang lain di dalam hatinya. Cinta ah, definisinya sangat susah, ada benci tapi rindu. Ada rindu tapi tak ingin bertemu.


🍁


"Antar Sovia pulang, Dik!" ujar Ninick setelah acara makan malam itu selesai yang dilanjutkan dengan cerita tentang kegiatan Sovia di Restoran barunya.


"Aku bawa mobil sendiri kok eyang, biar aku pulang sendiri." jawab Sovia berusaha menolak meskipun hati kecilnya berharap Andika memaksa untuk mengantarnya pulang.


"Eh, malam-malam begini anak gadis gak boleh pulang sendiri, bahaya." ujar Ninick lagi karena Andika sepertinya tidak merespon. Ia bahkan mencubit pinggang cucunya itu agar punya rasa empati sedikit saja.


"Gak apa-apa eyang. Jalanan pulang aman kok. Lagian dekat juga." jawab Sovia kemudian berpamitan dan Melangkah keluar menuju mobilnya yang ia parkir tadi di garasi jadi Andika tidak sempat melihat mobil itu.


Tetapi ternyata garasinya terkunci. Ia jadi bingung sendiri kenapa bisa padahal kan semua pelayan tahu kalau ia sudah mau pulang dan juga minta sopir untuk mengeluarkan mobilnya terlebih dahulu.


"Maaf ya Sovi. Kuncinya tiba-tiba hilang jadi ya terpaksa kamu pulang pake mobil yang ada di luar." ujar Andika santai yang tiba-tiba saja berada dibelakangnya. Gadis itu hanya bisa mengernyit bingung kemudian menyimpan kembali kunci mobilnya ke dalam sling bagnya.

__ADS_1


Karena waktu sudah menunjukkan tengah malam akhirnya Sovia naik ke mobil Andika tanpa banyak tanya, meskipun ia curiga ada yang tak beres di sini.


"Aku tak akan antar kamu pulang kalau kamu gak nerima aku lagi Sov!" ujar Andika lurus, datar, dan tanpa spasi.


"Hah?" Sovia begitu kaget dan tak menyangka Andika menembaknya tanpa aba-aba terlebih dahulu.


"Iya, kamu gak percaya?" tanya Andika tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan di depannya. Suasana malam minggu membuat jalanan raya begitu ramai dan sangat padat. Hingga macet tak bisa lagi dihindarkan.


"Ini ceritanya kamu nembak aku ya?" tanya Sovia sambil menahan senyumnya. Ia sungguh merasa lucu dengan pria aneh dan dingin ini yang sayangnya ia suka.


"Menurutmu?" tanya Andika lagi.


"Ih gak banget ya, masalah sama Elsa saja belum beres sekarang mau nambah masalah baru, hem." ujar Sovia sembari melempar pandangan ke luar ke arah trotoar yang begitu ramai dengan muda mudi yang sedang merayakan malam minggu dengan pasangannya masing-masing.


Andika tidak menjawab ia ingin ada tempat khusus untuk menjelaskan duduk persoalannya dengan Elsa agar Sovia tak lagi membencinya.


"Hey, itu Elsa kan?" tunjuk gadis itu pada seorang gadis seksih yang sedang direngkuh oleh dua orang cowok Badung. Andika segera memelankan laju mobilnya dan mengikuti arah pandangan Sovia. Ia langsung tersenyum. Ia bersyukur tak perlu menjelaskan banyak hal pada Sovia. Jati diri Elsa sudah ia tampakkan sendiri.


"Dika!" teriak Sovia kesal. Apalagi jalur yang dipilih pria itu malah ke arah lain bukan ke arah rumahnya.


Andika tidak mendengarkan. Ia baru menghentikan mobil saat sampai di depan sebuah Cafe yang kurang ramai.


"Kok ke sini sih. Inikan udah malam. Nanti mama sama papa khawatir." ujar Sovia dengan wajah kesal.


"Kamu gak jawab permintaanku tadi Sovia putri GePeEr!" Andika menatapnya tajam.


"Pertanyaan yang mana?" tanya Sovia pura-pura tidak mengerti.

__ADS_1


"Terima aku Sovi, atau aku tak akan mengantarmu pulang. Aku akan menculikmu saja." Andika mengucapkan itu begitu datar tetapi membuat hatinya berdebar keras.


"Lalu Elsa kamu mau kemanain? kamu mau belajar poligami? gak sudi aku, cih." timpal Sovia tak mau kalah.


"Aku kira kondisi Elsa tadi sudah sangat jelas. Jadi gak perlu lagi aku jelaskan. paham kamu?" Andika menatapnya tajam.


"Ih, kamu kok gak ada romantis-romantisnya, sebel." ujar Sovia merajuk. Ia memanyunkan bibirnya kesal. Andika langsung tersenyum. Gaya manja Sovia ini yang sangat ia rindukan.


"Jadi, aku diterima nih?" tanya Andika lagi. Ia menatap mata Sovia dalam.


"Terima jadi apa?" tanya Sovia balik. Ia tahu maksud Andika tapi ingin pria itu sendiri yang mengucapkannya langsung. Hatinya berdebar tak karuan berharap Andika mengucapkan sedikit saja kata-kata romantis.


"Jadi bodyguard mu menggantikan si Arya itu. Aku tak suka kamu bergantung padanya." dengus Andika kemudian membuka sabuk pengaman dan turun dari mobilnya meninggalkan Sovia yang terbengong-bengong di dalam sana sendiri.


"Ish!" gerutu Sovia kesal.


"Dasar es batu. Gak bisa apa bikin aku seneng sebentar saja." ujarnya lagi menggerutu. Ia bertahan tidak akan turun. Ia akan bikin batu es itu mencair di dalam Cafe itu sendiri.


Setelah beberapa lama menunggu, Andika kembali ke mobil karena Sovia tidak juga muncul padahal ia sudah menyiapkan kejutan istimewa di dalam Cafe. Ia ingin menembak gadis itu dengan caranya sendiri.


Ia membuka pintu mobil dan mendapati gadis itu malah tidur dengan santainya. Andika menarik nafas panjang. Ia tak mau membangunkan Sovia karena yakin gadis itu pasti sangat lelah dari restoran kemudian ke rumah eyangnya sendiri memenuhi undangan perempuan tua kesayangan Andika itu. Perlahan ia mengecup lembut dahi Sovia sambil berbisik,


"I Love You so much."


---Bersambung--


Mana nih dukungannya untuk karya receh ini, Like dan komentar dong biar aku semangat lagi...

__ADS_1


Adakah Vote? atau Hadiah bunga????


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍


__ADS_2