Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 151 Gara-gara Rambut Kriwil


__ADS_3

Setelah berusaha kabur berkali-kali dan akhirnya ditangkap juga, akhirnya Rara pasrah demi cita-cita sang granny mendapatkan menantu dari keluarga bangsawan kaya tujuh turunan dan dari keturunan raja-raja entah yang keberapa.


Bujukan, rayuan hingga tangisan Rara tidak juga membuat sang granny menyurutkan niatnya yang sudah mendarah daging dalam hatinya.


"Baiklah granny kalau dengan cara ini granny bisa panjang umur dan bahagia aku akan menerima perjodohan ini." ungkapnya bermonolog sendiri sambil mematut dirinya di cermin.


"Ra' udah siap belum sayang?" panggil mamanya dari arah pintu. Hari ini adalah pertemuannya yang pertama kalinya dengan sang calon suami yang katanya sangat tampan dan kharismatik itu. Jadi ia dipaksa ke salon untuk mempercantik diri demi sebuah acara pertunangan yang akan dilaksanakan di sebuah hotel mewah.


"Siap ma." jawab Rara berusaha ceria meskipun hatinya sangat sakit.


"Astaga Rara!" ujar mamanya dengan mulut terbuka karena kaget dengan penampilan putri semata wayangnya.


"Kenapa ma? ada yang salah?" tanya Rara bingung, ia memperhatikan keseluruhan penampilannya.


"Ada yang salah ma?" tanya Rara lagi karena mamanya kelihatan megap-megap dengan mata melotot.


"Ma, jangan bikin aku takut dong." teriak Rara panik.


"Rambutmu kamu apakan sayang?" tanya Dyah masih dengan wajah kagetnya. Tangannya ia arahkan ke kepala putrinya yang nampak berbeda malam itu.


"Aku sengaja rebonding ma, bosan dengan rambut kayak gini." ujar Rara santai. Sekarang rambutnya sudah lurus dan membuatnya kelihatan berbeda.


"Ayok buruan, keluarga calon besan sudah lama menunggu kita di sana." ujar granny mengajak dua perempuan yang masih berdiri di depan kamar itu.


🍁🍁🍁🍁🍁


"Kakek yakin mau menjodohkan kami?" tanya Alif dengan wajah malas. Ia orang modern dan merasa bukan lagi zamannya menjodoh-jodohkan seseorang.


"Kakek yakin sekali kalau gadis ini akan jadi jodoh terbaik mu nak." jawab Reksadana dengan wajah yakin.


"Alasan kakek apa?" tanya Alif dengan aura angkuh tetapi ia tetap menjaga suaranya agar tetap sopan pada orang tua.


"Kakek pernah memimpikannya nak, gadis itu akan masuk ke keluarga besar kita dan membawa kebahagiaan."


"Hem," Alif tampak berpikir dengan keras. Ia sebenarnya sudah mempunyai seseorang dihatinya. Seorang gadis manis yang masih bocah tapi begitu menarik perhatiannya.


"Kita lihat nanti kakek. Tapi aku tidak bisa menjamin akan menerima perjodohan ini." ujarnya lagi dengan tenang.


"Hey, jangan berkata seperti itu. Gadis itu harus jadi menantuku apa pun alasannya. Dia akan membuat harta kekayaan Reksadana bertambah semakin banyak." jawab Reksadana dengan pandangan tajam. Ia tak suka dengan jawaban cucunya itu.

__ADS_1


"Kakek, memang gadis itu bisa apa? punya keahlian apa? selama ini kekayaan kita bertambah banyak karena kita sendiri yang bekerja." timpal Alif mulai menaikkan nada suaranya.


"Rambutnya nak. Menurut orang pintar rambut kriwilnya itu bisa menjadi jimat yang sangat ampuh untuk kejayaan keluarga kita."


Puft


Alif tak bisa menahan tawanya. Ia hampir saja tersedak dengan air yang sedang diminumnya.


"Astaga kakek, ini sangat tidak masuk diakal. Hari gini kakek masih percaya yang seperti itu."


"Selamat malam tuan, apakah pesanan anda sudah mau disajikan?" ujar seorang pramusaji yang tiba-tiba menjeda percakapan mereka berdua.


"Silahkan. Kebetulan tamu kami sudah datang." ucap Reksadana saat melihat rombongan Nyonya Wardah menghampiri tempat duduk mereka.


"Baik tuan"


"Yah. Hidangkan cepat. Kami sudah lapar." ujar Reksadana sembari mengibaskan tangannya.


"Silahkan duduk calon besan." Ia mempersilakan duduk para tamunya dengan wajah ramah dan bahagia.


"Mohon maaf karena membuat anda lama menunggu." ujar Nyonya Wardah merasa tidak enak hati.


"Mana Az-Zahra Aisyah?" tanyanya dengan mata mendelik sudah siap marah. Ia tiba-tiba mencurigai kalau keluarga besar Wardah sedang mempermainkannya.


"Aku di sini tuan." jawab Rara dengan senyum manisnya. Alif yang sedari tadi sibuk dengan handphonenya langsung menatap gadis itu dengan pandangan mata tak percaya.


"Kamu siapa?" tanya Reksadana dengan mata memicing. Ia segera meraih kacamatanya dan memakai cepat di matanya.


"Aku Az-Zahra Aisyah calon menantu kakek." jawab Rara dengan senyum tak lepas dari wajahnya.


"Kamu bukan gadis itu. Dimana rambut kriwilmu hah?" tanya Reksadana dengan emosi. Seketika kejayaan keluarganya tiba-tiba runtuh di depan matanya. Ucapan orang pintar yang ia temui di gunung Sindoro terbang bagai debu.


"Pertunangan ini batal!" teriaknya sambil meninggalkan tempat itu dengan emosi yang memuncak.


"Tuan Reksadana tunggu!" teriak Nyonya Wardah dengan wajah memucat. Ia tiba-tiba merasa sesak karena keinginannya mendapatkan menantu dari keturunan bangsawan kerajaan pupus sudah.


"Granny!" ujar Rara panik. Ia segera membantu perempuan tua itu untuk duduk dan memberinya air minum.


Alif menarik senyumnya semakin lebar. Ia hanya memperhatikan gadis manis yang ternyata sudah lama ia cari selama ini. Meskipun rambutnya sekarang berubah tetapi ia tahu betul gadis inilah yang selama ini mengganggu pikirannya.

__ADS_1


"Granny, sadarlah. ini belum kiamat. Aku masih bisa dapat suami kaya seperti maumu granny, huaaaa." Rara menangis sambil menggoyangkan tubuh perempuan tua itu.


"Ibu sadar Bu!" ujar papa Rara sembari memercikkan air ke wajah ibunya.


"Jangan bikin kami malu Bu." timpal Dyah dengan wajah merah menahan malu. Ia tak menyangka perubahan penampilan Rara malam ini justru membuat kekacauan yang sangat parah.


"Tidak apa Bu. Kakek saya memang seperti itu. Dia sedikit aneh. " ujar Alif yang selama ini diam saja memperhatikan drama pertunangan yang gagal itu.


Semua pandangan orang-orang itu langsung mengarah ke pria muda yang sangat tampan itu.


"Anda siapa?" tanya Rara dengan mata memicing. Berusaha mengingat dimana pernah bertemu dengan orang ini.


"Akulah cucu dari kakek Reksadana." jawab Alif tenang dengan senyum samar di bibirnya.


"Aku bisa melanjutkan pertunangan ini kalau anda mau." ujarnya lagi dengan nada angkuh.


"Tidak!" jawab Rara dan langsung berdiri di depan pria muda cucu Reksadana itu.


Aku sudah lama merencanakan ini sialan dengan harus merebonding rambut kesayanganku


cih!


"Aku tidak mau!" teriak Rara kemudian menghentakkan kakinya keras lalu pergi dari restoran itu dengan bibir tersungging senang. Ia sekarang merasa bebas.


"Maafkan putri kami nak." ujar Nyonya Wardah yang baru bisa bernafas dengan baik. Rasa sesak tiba-tiba hilang ketika ia mendengar ada aura yang cukup menjanjikan dari arah pria muda itu.


"Tidak apa-apa nek. Aku bisa mengerti. Kalau anda mau aku bisa menjadikan cucu anda menjadi istriku secepatnya." tawar Alif dengan senyum miring.


Ketiga orang itu langsung saling bertatapan dengan pikiran masing-masing. Dyah menatap suaminya dengan pandangan resah. Ia berharap suaminya bisa mendukungnya untuk menolak ide pria muda itu.


"Mohon maaf, nak. Kami menyerahkan keputusan ini pada putri kami. Kami permisi." ujar Ilham suami dari Dyah itu sambil mengajak anggota keluarganya untuk pulang. Istrinya bernafas lega. Bagaimanapun kebahagiaan putrinya adalah hal yang utama.


---Bersambung--


🍁🍁🍁🍁🍁


Hai readers tersayangnya othor, masih setia kan di sini???


Like dan komentarnya dong agar othor makin semangat.

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍


__ADS_2