Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 126 Pijat Plus Plus Ala Deka


__ADS_3

Setelah mengantar Mr.Takeshi, Deka menyempatkan dirinya mampir di divisi HRD. Ia ingin melihat wajah Risma Yanti yang sedang mengandung anaknya itu untuk memberinya semangat baru. Lagi pula kalau ia kembali ke ruangan Pak GM sekarang, ia takut akan mendengar deritan ranjang di dalam sana.


"Bu Risma ada yang cariin tuh." ujar salah seorang karyawan di divisi itu. Risma segera menghentikan pekerjaan dan melihat kearah pintu yang terbuka. Nampak suaminya berdiri disana dengan senyum yang sangat menawan.


"Siang-siang lihat yang segar gitu gimana gak meleleh hati ini bang." bisik Asri dari samping kirinya yang membuatnya semakin berbunga-bunga. Ia segera menghampiri suaminya agar bisik-bisik tetangga segera mereda.


"Kak, ada apa? tumben mampir." tanya Risma setelah mereka berdua berada di tempat yang aman.


"Kenapa? gak suka ya?" tanya Deka masih dengan senyumnya ia suka melihat rona merah di wajah istrinya itu.


"Ih, bukan gak suka kak tapi mereka semua suka godain aku." jawab Risma manja.


"Biarin aja, itung-itung kasih mereka hiburan." Deka semakin tersenyum senang melihat kemanjaan istrinya itu.


"Ih, kakak."


"Keluar yuk." ujar Deka dengan pandangan tak biasa. Ia sudah tidak ada kerjaan hari ini. Semua urusan yang berhubungan dengan pak General Manager sudah ia bereskan semua, terakhir tadi adalah Mr.Takeshi dari Jepang.


"Eh, kamu ada hadiah lho dari Mr.Takeshi." ujar Deka ketika ia ingat tentang investor baru dari Jepang itu.


"Hadiah apa kak, Kok bisa sih?"


"Hadiah untuk ibu hamil katanya."


"Hah? beneran kak? wih Alhamdulillah banget."


"Iyya, Mr.Taheshi berharap istrinya juga bisa hamil kayak kamu."


"MasyaAllah, hadiah nya apa kak?" Risma tertawa bahagia. Rezeky ibu hamil memang gak bisa disangka-sangka.


"Mau tahu isi hadiahnya?"


"Iyya dong kan aku jadi penasaran."


"Tapi harus ikut aku keluar sekarang juga."

__ADS_1


"Eh, ini masih jam kerja kak. Mau ngajarin aku bolos ya?" Mata Risma membulat lucu.


"Iyya, sekali-kali gak papa kan?" Deka menahan senyumnya karena mengajar istrinya yang tidak-tidak.


"Astagfirullah kakak kan pimpinan kok bisa gitu sih."


"Nanti kamu juga bilang Alhamdulillah dan Allahu Akbar."


"Ih apaan sih."


"Ayo cepat udah gak tahan nih." Deka menarik tangan istrinya lembut. Ia tidak bisa membuat istrinya buru-buru karena keadaan perutnya yang sudah membesar itu menyulitkannya berjalan lebih cepat.


"Aku gendong ya sayang." ujar Deka tak sabar.


"Ih apaan sih kak."


Akhirnya mereka sampai juga di sebuah hotel bintang lima milik TGR.


"Kok kita kesini kak, kita kan udah makan siang." ujar Risma membayangkan mereka berdua akan makan siang pada jam seperti itu.


"Astaga kak, kan bisa bentar malam. Aku ada kerjaan di kantor mana belum selesai juga." gerutu Risma sembari turun dari mobil.


"Aku maunya sekarang sayang." Deka berusaha memberi alasan yang sudah pasti istrinya itu fahami.


"Ini siang kak." Risma masih bertahan dengan pendapatnya.


"Emang tidak boleh kalau siang?" tanya Deka sambil mengambil kunci kamar yang diberikan oleh resepsionis. Ternyata mereka masih membahas masalah itu sampai di loby hotel.


"Terima kasih." ujarnya kepada Resepsionis yang memberinya kunci.


"Sama-sama pak." jawab sang resepsionis itu sopan tak lupa juga dengan senyum manisnya.


Mereka pun melangkah menuju kamar sesuai nomor kunci yang diberikan oleh gadis itu. Risma mengikuti langkah suaminya memasuki kamar itu malas-malasan. Ia mau menolak tapi takut suaminya akan marah, meskipun ia tak pernah melihat Deka marah sejauh ini.


"Kenapa sih kayak gak ikhlas gitu." ujar Deka sembari membuka setelan jas yang sedang ia pakai. Meletakkannya di atas sofa ia menghampiri istrinya yang masih berdiri di depan pintu. Risma segera tersenyum dan menyambut suaminya.

__ADS_1


"Kak, aku lelah. Tadi pekerjaan banyak sekali dan sampai sekarang masih ada. takutnya kalau pulang nanti capek dan gak bisa lanjutin kerjaannya. " rajuk Risma manja. Ia ingin memberi alasan agar suaminya tidak memaksanya sekarang. Keadaan hamil yang sudah menua ini membuatnya cepat lelah. Deka hanya tersenyum mendengar keluhan istrinya yang semakin menggemaskan itu.


"Aku bawa kamu ke sini emang mau kasih servis kamu sayang." jawab Deka dan langsung mengangkat tubuh istrinya yang berbadan dua itu.


"Aaaaa Kak, aku berat." Risma berteriak histeris karena kaget.


"Apaan berat, ringan begini kok." Deka membawa istrinya ke atas ranjang empuk berwarna putih bersih itu. Meletakkannya pelan ia menatap istrinya dalam kemudian mendaratkan sebuah ke cu pan singkat dibibir istrinya. "Santai sayang, lupakan pekerjaan." bisik Deka dikuping istrinya lembut. kemudian ia melipat kemejanya sampai siku. Ia siap memberi pelayanan terbaik untuk Risma Yanti istrinya.


Risma hanya memperhatikan apa yang akan dilakukan suaminya itu. Ia menunggu sampai Deka naik ke atas ranjang dan mulai menyingkap pakaiannya.


"Eh, kakak mau apa?" tanya Risma panik. Ia belum siap melayani suaminya. Ia lelah sangat.


"Lelahnya dibagian mana sayang?" tanya Deka bagai seorang dokter. Ia memperhatikan keseluruhan tubuh istrinya yang sangat seksih dengan perut yang semakin besar. Tangannya mulai memeriksa sana sini.


"Aku akan memijat kakimu sayang." ujar Deka lagi karena melihat Risma hanya diam. Tangannya mulai menyentuh telapak kaki istrinya lembut kemudian memberikan pijatan-pijatan yang membuat Risma rilex.


"Kak, yang itu enak sekali hemm." ujar Risma menikmati pijatan tangan suaminya.


"Lagi, kak...aku suka yang di situ hem...nyaman." Deka tersenyum senang karena ia bisa memanjakan istrinya itu yang sudah ikhlas membawa beban berat di perutnya dalam kesusahan. Tangannya mulai merambat naik ke betis, berhenti di paha mengelusnya pelan, hingga ke tempat yang cukup tersembunyi dan membuat istrinya menatapnya sendu. Ia tahu istrinya itu menginginkannya sekarang.


"Sayang, aku buka ya?" tanya Deka berupa bisikan. Risma mengangguk pelan dengan nafas mulai memburu. Ia mulai melepaskan kancing-kancing pakaian istrinya diantara belaian dan sentuhannya. Rupanya pijat plus-plus ini hanyalah modus Deka untuk merengguk kenikmatan dan kelezatan ibu hamil ini.


"Kak, lampunya dimatikan dong, malu." ujar Risma diantara nafasnya yang semakin pendek-pendek.


"Malu sama siapa, aku udah hafal semuanya." jawab Deka dengan bisikan di kupingnya yang semakin membuatnya meremang, mengantarkan gelenyar aneh yang semakin berkejaran di dalam urat-urat sarafnya.


"Bentuk aku kak, kayak Kura-kura lagi berjemur."


"Gak papa yang penting kura-kuranya seksih kayak kamu." Deka membungkam mulut istrinya dengan bibirnya agar tidak menggangu konsentrasinya menembus pertahanan yang cukup ketat itu. Hingga kamar itu hanya terdengar de sa han dan lenguhan kenikmatan di siang hari itu.


---Bersambung---


🍁🍁🍁🍁🍁


Duh, fanas nih gaess. Dukung terus ya dengan cara like dan komen, kirim hadiah yang banyak dong supaya aku semakin semangat.

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍


__ADS_2