
"Makanmu banyak juga ya." ujar Rama sambil memandangi Rara yang sedang makan lahap padahal tadi siang ia sudah banyak makan di resto D'Sov. Sekarang ini mereka sedang makan malam di sebuah Cafe. Rama membawa gadis kriwil itu ke pinggir pantai hanya untuk mengucapkan maaf karena peristiwa beberapa hari yang lalu.
Rara mendelikkan mata bulatnya kesal. "Aku tuh ada peternakan cacing di sini. Jadi wajar aku makan banyak." timpal Rara sembari menunjuk perutnya yang rata padahal sudah makan banyak.
"Dasar urakan, kamu tidak bisa jaga image sedikit?" tanya Rama yang melihat gadis itu makan tanpa rasa malu sedikitpun.
"Hei kenapa? kalau gak suka ya jangan lihat aku lagi." jawab Rara semakin kesal. Ia menyesal sudah mau saja dipaksa mengikuti pria ini hanya karena diiming-imingi oleh urusan bisnis, pria ini akan menjadi consumernya yang penting ia mau ikut malam ini bersamanya.
"Marah?" tanya Rama karena melihat Rara diam saja setelah makanan yang ada di depannya sudah habis tak bersisa.
"Gak, biasa aja." jawab Rara singkat. Rama semakin gregetan di buatnya. Gadis kriwil ini gak ada pekanya sama sekali. Udah gitu bar-bar pula lagi.
"Aku minta maaf deh, " ujar Rama akhirnya.
"Untuk apa?"
"Yah karena aku biasa buat kamu kesal."
"Duh perhatian banget bang...Jangan sampai hatiku meleleh ye." ujar Rara mencibir.
"Ayok pulang, ini udah malam." ajak Rama sambil menarik tangan gadis itu untuk berdiri.
"Lho? udah selesai? cepat banget. Kita kan baru makan dan juga Aku kan mau lihat ombak dulu."
"Ya udah kita kesana." ujar Rama kemudian menunjuk pinggiran pantai yang terdapat banyak lampu-lampunya. Sepertinya ada acara di sana, karena terdengar bunyi musik dan suara-suara yang lainnya.
Mereka berdua pun melangkah bersisian. Rama sibuk dengan pikirannya bagaimana cara menembak gadis ini agar mau jadi pendampingnya sedangkan Rara memikirkan berapa keuntungan yang akan ia dapat jika pria ini betul-betul menjadi consumernya. Dalam diam ia tersenyum sendiri.
"Ngapain kamu cengengesan sendiri kayak gitu?" tegur Rama khawatir. Takut gadis kriwil ini kesambet.
__ADS_1
"Gak, cuma mikirin kamu aja." jawab Rara ngeles. Rama langsung tersenyum senang.
"Gak mikirin yang macam-macam kan?" tanyanya dengan senyum menggoda.
"Ih, mikirin kayak gimana coba?" tanya Rara dengan wajah polosnya. Rama langsung meraih tangan gadis itu agar mendekat padanya.
"Gak mau mikirin ini?" tanya Rama sembari mendaratkan satu kecuupan singkat di pipi gadis itu.
"Aaaaaa, dasar suka ambil kesempatan." teriak Rara kaget dan langsung memukul bahu Rama keras. Rama lantas tertawa terbahak-bahak.
"Masih mau? supaya bentar sebelum tidur kamu mikirin aku terus." ujar Rama setelah berhenti tertawa.
"Gak, jangan modus ya." jawab Rara dengan menggoyangkan jari telunjuknya di depan Rama. "Aku ikut kamu ke sini karena kamu janji mau daftar asuransi di Perusahaan aku. Dan ingat ini bukan layanan plus-plus. Jadi jangan berharap yang lebih tuan Rama Putra." ujar Rara tegas. Ia tak mau dapat predikat karyawan plus-plus seperti rekan kerjanya yang lain. Ia murni bekerja karena sikap profesional ynag tinggi dan juga bonus besar tentunya. Rama tersenyum miring. Ia tidak menyangka masih ada gadis seperti ini di sini yang tidak tertarik padanya padahal semua keluarga dan temannya memuji ketampanannya.
"Kamu tidak tertarik padaku kucing kriwil?" tanya Rama sambil menatap mata Rara yang kebetulan sedang menatapnya. Mereka butuh beberapa detik baru saling melempar pandangan ke arah lain karena sama-sama tidak tahan dengan debaran jantung masing-masing.
"Tidak! aku hanya tertarik sama uangmu saja." jawab Rara sedikit gugup.
"Iyya, aku matre makanya mau ikut kamu kesini. Ayo cepat daftar asuransi itu baru kita pulang. Mama pasti udah lama menungguku." balas Rara cepat. Ia tak mau ketahuan kalau sedang gugup dan tak bisa menahan debaran jantungnya yang kian menggila.
"Okey, daftar aku asuransi sakit hati." jawab Rama sambil melepaskan tangan gadis kriwil itu. Ia merasa sedikit kecewa akan jawaban Rara. Padahal ia sangat berharap gadis itu mau memberinya kata-kata yang menyenangkan hati. Rara dengan cepat menarik kembali tangan Rama dan membuat pria muda itu tersenyum senang.
Rupanya perlu ngambek sedikit, pasti gadis ini akan luluh.
"Mana KTP dan identitas lainnya. Biar aku daftar sekarang." ujar Rara dengan menengadahkan tangannya yang bebas ke arah wajah Rama yang seketika langsung kehilangan senyum manisnya.
"Kamu ya!" ujar Rama kesal.
"Lho, aku gak mau rugi dong udah dibawa jauh-jauh kesini malah batal dapat customer, hmm." timpal Rara dengan senyum smirknya. Rama segera merogoh dompetnya dan memberikannya pada gadis itu dengan ekspresi tak terbaca. Sungguh hatinya sangat dongkol hari ini diperlakukan seperti ini oleh gadis pujaannya.
__ADS_1
Rara segera membuka dompet itu dengan wajah senang. Tak menyangka customernya begitu royal bahkan langsung memberi semua isi dompetnya. Dengan bola mata berbinar cerah disertai gambar rupiah di dalamnya. Ia membuka dompet itu dengan semangat.
"Wow, ini kartu sakti semua?" tanyanya dengan wajah melongo. Melihat barisan black card di dalam dompet sang pewaris TGR group.
"Hmmm." jawab Rama malas. Ia cukup sakit hati pada gadis yang ia anggap istimewa ternyata sama dengan gadis lainnya di muka bumi ini. Matre.
"Dan ini apa namanya?" tanya Rara sambil mengeluarkan sebuah kartu yang lain dari yang lain. Rama mendengus, " Katanya mau KTP kok sampai nyasar di kartu itu." ujar Rama kemudian merebut kartu yang sedang dipegang oleh Rara.
"Maaf, maaf tuan Rama Putra Tama yang terhormat. Aku khilaf hehehehe." jawab Rara cengengesan. Rama hanya tersenyum kecut dibuatnya.
"Aku daftar asuransi sakit hati ya, ingat itu!" ujar Rama sembari membuka layar handphonenya. Ia terlalu lelah menghadapi si kucing kriwil ini yang begitu menguras tenaga dan pikirannya.
"Heh, jangan ngeles ya, mana ada asuransi Sakit hati. Mau ngerjain aku ya?" salak Rara dan langsung merebut handphone pria itu agar perhatian pria itu tetap tertuju padanya.
"Harus ada! aku akan bayar mahal." jawab Rama kesal. Rasanya ia ingin memberikan satu pelajaran penting pada gadis kriwil tak peka ini.
"Semahal apa?" tanya Rara berubah manis. Tiba-tiba ada lampu neon menyala di atas kepalanya. Sebuah ide jahil muncul begitu saja.
"Semau mu. Ngerti!" jawab Rama masih kesal. Ia menatap wajah Rara yang tersenyum-senyum sendiri itu dengan pandangan jengah. Ia heran pada dirinya sendiri. Kenapa ia bisa suka gadis urakan seperti ini. Kutukan apa yang sedang terjadi padanya.
"Baik, asuransi sakit hati siap tuan Rama. Anda tak perlu mengisi formulir karena ini bukan layanan atau produk dari Double Insurance. Ini asli produk aku sendiri." ujar Rara dengan gaya profesional yang sangat lucu.
"Lalu caranya gimana kalau aku tidak pakai formulir. Ini bukan produk abal-abal kan?" tanya Rama pura-pura serius dan berusaha mengikuti ide konyol gadis itu.
"Cukup kartu-kartu sakti ini jadi jaminan. Dan aku akan buat hati anda yang sakit langsung sembuh garansi seumur hidup. Gimana?" tanya Rara dengan senyum licik di wajahnya. Rama langsung tersenyum senang. Hatinya tiba-tiba bersorak bahagia.
"Okey, let's play the game!" ujar mereka kompak dalam hati. Kemudian saling mengirimkan senyum penuh arti. Dan hanya Tuhan yang tahu apa yang ada dalam pikiran mereka berdua saat itu.
---Bersambung---
__ADS_1
Mana nih dukungannya untuk karya ini. Like dan komentar ya gaess.
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍