Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 38 Ambisi Robby Todler


__ADS_3

Robby Todler melempar semua dokumen penting itu ke wajah salah seorang asistennya. Ia tidak puas dengan hasil laporan pria jangkung berusia empat puluh tahun itu.


"Maafkan kami Bos, tapi hasil penjualan produk-produk kita memang mengalami penurunan yang cukup signifikan" Ujar pria yang bernama Reza itu.


"Saya tidak mau tahu!" teriak Robby Todler sembari memukul meja kerjanya dengan menggunakan buku setebal 10 cm. hingga membuat pria di depannya berjingkat kaget.


"Kamu harus mencari investor baru agar proses produksi bisa terus berjalan!"


"Kami sudah berusaha Bos, tapi sepertinya mereka sudah kehilangan kepercayaan lagi kepada perusahaan kita" jawab Reza lugas. Ia sudah banyak mendatangi banyak investor tetapi ketika mereka menyebut seorang bernama Roby Todler, mereka semua akan mundur teratur.


"Lama-lama kita akan bangkrut kalau seperti ini terus!" Desahnya pelan.


"Aku tidak mau jadi gelandangan" ia bergidik ngeri membayangkan seluruh keluarganya terlunta-lunta di jalan dan berakhir jadi gelandangan.


Hidup mewah yang selama ini dia jalani tak lain dan tak bukan adalah semuanya bersumber dari bantuan keluarga Raditya.


Ia sebenarnya tidak mempunyai bakat dalam bisnis. Sudah begitu banyak usaha yang ia rintis tapi tak pernah membuahkan hasil maksimal. Bisanya hanya menghabiskan modal dengan hidup berfoya-foya.


Dan sekarang investor sudah menagih pembagian hasil usaha yang telah mereka tanamkan pada perusahaan nya. Itulah yang membuatnya sangat pusing.


"Keluarlah!" Perintahnya kepada Reza. Ia ingin berpikir sejenak apa yang harus ia lakukan ke depannya.


"Miska" bisiknya pelan sembari tersenyum senang. Tiba-tiba ia mempunyai semangat baru. Bergegas ia pulang ke rumah. Ia begitu ingin bertemu dengan putri semata wayangnya itu.


🍁🍁🍁🍁🍁


"Ma, apa Miska sudah pulang?" tanya Robby Todler kepada Kapsari Prayanti istrinya sesaat setelah menginjakkan kakinya di kediaman nya sendiri.


"Iyya Pa, mau mama panggilkan?" tanya Kapsari Prayanti sembari membantu suaminya melepas jas yang sedang dikenakannya.


"Boleh juga" jawab Roby masih menampakkan aura senang. Istrinya berlalu menuju kamar Miska di lantai dua.


"Miska" panggil Kapsari dari luar. tetapi tidak ada jawaban dari dalam. ia mendorong pintu kamar itu dan segera masuk. ia mendapati putrinya sedang tertidur.


"Miska..." ujar Kapsari lembut sambil menepuk-nepuk pipi putrinya. Miska menggeliat kemudian membuka matanya perlahan.


"Mama..." Ia menutup mulutnya karena menguap. terlihat Kapsari tersenyum padanya.


"Papa ada dibawah, ia ingin membicarakan sesuatu denganmu, ayo cepat cuci muka" Ujar mamanya sembari membantu Miska untuk bangun. Tetapi tangannya tak sengaja menyentuh tangan Miska yang masih sakit.


"Awww, sakit ma" teriak Miska karena kesakitan. tangannya sudah membengkak.


"Astaga, sayang ini kenapa bisa begini?" Kapsari panik. Kulit di sekitar tangan yang membengkak itu sudah berwarna biru keunguan.


"Miska tadi jatuh ma di kantor" jawab Miska berbohong. Ia tak ingin menceritakan kejadian yang sebenarnya, Ia mendapat ancaman dari General Manager kalau ia tidak perlu memperpanjang masalah ini. Biar Perusahaan yang akan memanggil Vita Maharani secara khusus.


"Harusnya kamu hati-hati sayang, Sini mama kasih salep..." Kapsari mengambil bungkusan obat yang ada di atas nakas samping ranjang Miska. Ia kemudian mengoleskannya hati-hati.

__ADS_1


"Ini pasti cepat sembuh, asal rutin di kasih salepnya" ujarnya lembut sambil terus mengoles.


"Papa mau membicarakan apa ma?" tanya Miska akhirnya. Ia merasa lebih baikan sekarang. Salep yang dioleskan mamanya mengantarkan rasa dingin pada kulitnya.


"Nah, sudah" Kapsari tidak menjawab pertanyaan Miska karena ia juga tidak tahu suaminya mau membicarakan apa. Tangannya menutup tube salep itu. Ia kemudian berdiri dari duduknya.


"Kamu segera bersiap yah, mama dan papa menuggu di bawah" Miska hanya mengangguk.


"Hai, papa..." sapa Miska ketika ia sudah sampai di ruang keluarga dan mendapati Robby Todler sedang duduk sambil menonton TV.


"Duduk sini nak" ujar Robby sambil menepuk sisi yang kosong di sebelahnya.


"Kamu betah kerja di "TGR" global company?" tanya Robby setelah Miska sudah duduk manis di sampingnya.


"Tentu saja Pa " jawab Miska sumringah. Ia senang bekerja di perusahaan itu karena karirnya sebentar lagi akan melejit berkat produk yang ia temukan untuk Perusahaan.


"Bagaimana hubunganmu dengan Gala Putra Raditya?" tanya Robby lagi sembari menatap lekat putrinya berharap ada kemajuan yang berarti pada hubungan pertunangan Miska dan Gala.


Miska menatap mamanya meminta bantuan. Ia berharap masalahnya segera teratasi.


"Hubungan mereka baik mas, bukankah karyawan dan bos memang harus menjalin hubungan yang baik" Kapsari Prayanti mengambil alih pembicaraan.


"Apalagi mereka bersepupu" Kapsari Prayanti tahu maksud suaminya. Tapi ia sengaja untuk tidak membahas pertunangan satu arah itu.


"Maksud Papa pertunanganmu dengannya" bola mata Miska berputar gelisah.


"Tapi, Pa..." Miska berusaha membantah. Tapi mamanya memberi kode dengan tatapan tajam.


"Kamu tidak usah memikirkan ini. Biar Papa yang menghubungi Kak Mawar" Ujar Roby lagi sembari meraih handphonenya dan bersiap menghubungi Mawar Raditya, saudara iparnya.


"Biar saya saja mas yang hubungi Kak Mawar" tegur Kapsari sembari meraih handphone suaminya. ia berusaha menunda pembicaraan ini.


"Kamu bisa kembali ke kamarmu sayang" Kapsari menoleh ke arah Miska memberi kode halus kalau ia yang akan membujuk papanya.


"Miska ke kamar, ma pa" Miska mencium pipi mama dan papanya kemudian beranjak ke kamarnya untuk melanjutkan istirahatnya yang sempat terjeda.


Kapsari Prayanti menatap punggung Miska yang semakin menjauh. Ia mengalihkan pandangannya ke arah suaminya yang sepertinya juga sedang menunggu.


"Mas, kita batalkan saja pertunangan ini" ujar Kapsari ke inti pembicaraan. Robby Todler langsung menegang. Telinganya seperti kemasukan binatang kecil dan mengakibatkan suara berdenging. Bukan ini yang ia mau dengar.


"Tidak bisa!" Ujar Robby Todler meradang. Rencana yang sudah disusunnya harus terlaksana secepatnya atau mereka sekeluarga akan menjadi gelandangan.


"Gala harus jadi suami Miska, apapun yang terjadi" Roby berujar dengan wajah menegang marah.


"Mas, Miska dan Gala tidak saling mencintai, mereka tidak ada yang setuju akan hubungan yang mas ciptakan" Kapsari berusaha membujuk.


"Saya tidak peduli, cinta akan hadir setelah mereka menikah" Roby menggelengkan kepalanya pertanda tidak ingin mendengarkan ucapan istrinya.

__ADS_1


"Tapi mas, kebahagiaan putri kitalah yang penting" ujar Kapsari lagi dengan raut wajah sedih.


"Miska pasti akan bahagia memiliki suami kaya yang punya segalanya"


"Persetan dengan yang namanya cinta, cih!" Roby mencibir. "Status dan kekayaan yang dimiliki Gala bisa membuatnya bahagia sampai tujuh turunan"


Kapsari Prayanti tidak menyangka suaminya mengucapakan hal semacam itu. hatinya kecewa. Dengan suara bergetar ia berujar,


"Mas, tega...Miska putri kita satu-satunya. Kenapa mas mau melakukan ini hah!"


"Hanya dia yang bisa menyelamatkan perusahaan yang sudah diambang kehancuran" jawab Robby membuang pandangan


nya ke arah lain.


"Apa?" Suara Kapsari tercekat di tenggorokan.


"Mas ingin menjual putri sendiri?"


"Cuma ini caranya agar kita bisa menaikkan status kita di Masyarakat dan mereka pasti akan membantu perusahaan yang sudah diambang kehancuran" jawab Robby Todler datar tanpa perasaan.


"Pasti ada cara lain mas, saya akan bicara sama Kak Mawar. Mereka pasti akan membantu walaupun pertunangan ini tidak berlanjut" Kapsari masih kekeuh mempertahan pendapatnya.


"Tidak! bantuan mereka tidak akan seberapa kalau hubungan kita hanya sebatas itu, saya mau yang lebih banyak bahkan seluruh aset Raditya harus jadi milik Miska" Tegas Roby dengan mata berkilat.


Kapsari menggelengkan kepalanya tidak percaya akan rencana keji suaminya. Ia bergidik ngeri.


"Jangan pernah menghalangi usahaku yang sudah berada di tengah jalan!" geram Roby dengan rahang mengetat sempurna.


Kapsari mencoba meraih tangan suaminya, berharap rencana suaminya masih bisa dipertimbangkan. Ia sungguh tak rela putrinya akan menderita jika hal ini betul-betul terjadi.


Robby Todler menepis tangan istrinya dan segera berlalu ke kamar pribadinya dan membanting pintunya dengan keras.


"Mas..." Kapsari Prayanti menyusut cairan bening yang mulai menganak sungai di pipinya.


Sedangkan di dalam kamar. Roby Todler melemparkan semua barang yang ada di atas meja kerjanya. Ia sangat marah karena rencananya tidak mendapat dukungan dari istrinya sendiri.


"Saya sudah terlalu jauh dan tidak akan mundur" bisiknya dalam hati. Ia meremas sandaran kursi kayu yang ia duduki.


"Saya bahkan sudah melenyapkan salah satu pewaris TGR Group desisnya diantara gigi-giginya.


"Kekayaan mereka harus jatuh ke tanganku!" Robby menyeringai kejam.


🍁🍁🍁🍁🍁


Hai hai readers tersayang nya othor, jangan lupa like, and komen ya gaess


aku masih nunggu hadiah bunga dan kopinya

__ADS_1


happy reading 😍😍😍😍😍


__ADS_2