
Rama Putra Tama tiba di Bandara internasional Sultan Hasanuddin siang itu dengan senyum terkembang. Ada rasa bahagia menyeruak dari dalam hatinya ketika bisa menghirup kembali udara dari tempat kelahiran mamanya. Ia kembali ke kampung halaman sang mama bersama sang istri tercinta.
Terakhir ia kesini 3 tahun yang lalu sebelum ia menikah karena urusan bisnis yang ia rintis bersama sahabat-sahabatnya semasa kuliah dulu di Universitas.
Dalam kurun waktu 3 tahun ini ternyata sudah banyak perubahan yang terjadi. Jalanan yang dulu sementara dalam tahap perbaikan kini semuanya sudah selesai dan nampak lebih rapih dan cantik.
"Mas kita ini dimana?" tanya Rara masih bingung. Pasalnya ini adalah tempat yang baru ia kunjungi selama hidupnya.
"Di sini kampung halaman mama Ra'. Kita akan tinggal di sini." jawab Rama sembari mendorong troley yang berisikan barang-barang mereka berdua.
"Tinggal sementara aja kan?" tanya Rara sedikit khawatir. Ia belum berpikir bahwa kepergian mereka dari keluarga karena ketegangan kemarin akan menjadi selama-lamanya.
"Kamu keberatan ikut dengan suamimu sayang?" tanya Rama balik. ia memandang wajah cantik istrinya intens.
"Oh, tidak mas. Aku akan ikut kemana pun mas Rama membawaku, aku cuma gak enak hati karena kita pergi tanpa pamit kepada mama sama papa."
Rama terdiam. Ia membenarkan kata-kata istrinya itu, tetapi jika ingat apa yang terjadi kemarin di rumah kediaman Raditya, rasanya ia tak ingin kembali ke rumah itu lagi, ia masih menyimpan rasa kecewa yang sangat dalam di dalam hatinya.
"Sudahlah. Ayok keluar. Pasti Heru sudah menunggu kita." ujar Rama kemudian mengajak istrinya keluar dari bandara menemui seseorang yang sudah lama menunggu di terminal kedatangan untuk penumpang domestik.
Rama tidak ingin membahas lagi tentang kenapa mereka berdua berada di kota ini. Ia hanya ingin cepat- cepat sampai ke rumah dan beristirahat.
"Aku harap mas Rama dan istri bisa lebih lama tinggal di sini." ujar Heru cucu Ibu Intang teman masa kecilnya dulu.
"Insyaallah Her. Mungkin kami akan tinggal di sini selamanya." jawab Rama yang langsung mendapat tatapan dari Rara sang istri. Rama hanya meremas tangan istrinya lembut. Ia akan menjelaskannya nanti secara pelan sampai istrinya paham.
Setelah menempuh 1 jam perjalanan dari bandara internasional Sultan Hassanudin. Mereka akhirnya tiba dengan selamat di sebuah rumah sederhana namun sangat indah dengan banyak bunga di halamannya. Sebuah bangunan dengan desain minimalis milik almarhum kakek dan nenek Rama.
__ADS_1
"Assalamualaikum warahmatullah." ujar Rama sembari membuka pintu yang diikuti oleh Rara dan Heru. Tak ada orang di dalam sana tetapi rumah ini sangat bersih karena dirawat dengan sangat baik oleh Heru dan keluarganya.
Meskipun ibu Intang sahabat dari neneknya dulu sudah meninggal tetapi Heru sebagai cucu masih dengan setia merawat rumah ini.
"Mau makan dulu mas Ram?" tanya Heru dengan sangat sopan. Ia sudah menyiapkan makanan sebelum Rama menelpon kalau ia sudah sampai di Bandara.
"Waduh jadi merepotkan nih Her. Kita belum lapar lho." ujar Rama tak enak hati.
"Tidak repot kok mas Ram. Ini cuma masakan biasa di sini. Sisa dipanaskan kalau mau." jawab Heru sambil tersenyum. Rama bertanya pada istrinya lewat pandangan matanya.
Rara tersenyum. Ia memang sangat lapar sekarang. Sejak Rama mengajaknya pergi dari rumah dan berakhir di Bandara ia tidak ada lagi nafsu makan karena merasa sedih meninggalkan orang-orang terkasih di Ibu Kota.
Dan juga pada mama dan papanya sendiri ia belum pamit karena dilarang sama suaminya. Rama benar-benar ingin menghilang dari keluarga besar Raditya dan juga Ilhamsyah.
"Mas," panggil Rara saat suaminya sedang sibuk dengan gadgetnya. Ia sendiri sedang memasukkan pakaiannya ke dalam sebuah lemari sederhana di kamar itu.
"Ini rumah siapa sih?" tanya Rara penasaran. Meskipun ia sempat melihat foto pernikahan Gala dan Foto dalam bingkai yang cukup besar terpajang di dinding ruang keluarga tadi. Masih banyak tanda tanya dalam hatinya tentang pemilik asli rumah yang sangat terawat ini.
"Ini rumah peninggalan almarhum kakek dan nenekku. Setiap kami pulang kampung ya kami di sini ini." jawab Rama kemudian menyimpan gadget itu di atas meja di samping tempat tidur.
"Bagus ya mas. Bersih dan terawat banget." ujar Rara dengan tangan masih sibuk dengan pakaian-pakaian dari dalam 3 koper besar yang mereka bawa dari ibukota.
"Ya iyalah, semua kami percayakan pada keluarga Heru di sini." Rama menghampiri istrinya yang sedang sibuk itu.
"Ra' kamu gak menyesalkan meninggalkan segala kemewahan di rumah Raditya?" tanya Rama sembari meraih tangan istrinya.
"Disini gak ada pelayan. Kamu yang akan mengerjakan semuanya sendiri." lanjut Rama dengan tatapan intens pada istrinya. Rara tersenyum kemudian menatap suaminya dalam.
__ADS_1
"Sudah kubilang mas, aku akan ikut kemanapun mas Rama membawa aku. Kalau cuma mencuci kan kita bisa pakai mesin cuci atau jasa laundry. Dan kalau cuma masak kan kita bisa makan di luar hahhaha." jawab Rara sembari tertawa tak bisa menahan kelucuan dari jawabnya sendiri.
Rama yang sudah ikut larut dalam mode kesetiaan sang istri langsung merasa dikacangin. Ia langsung mengangkat tubuh istrinya itu ke atas ranjang dan menggelitikinya sampai sang istri berteriak minta ampun.
"Mas, stop! geli tauk. Aaaakh hahahhaha." ujar Rara dengan teriakannya yang semakin keras.
"Ra' disini bukan di kamar kita yang lama sayang, di sini tidak kedap suara. Para tetangga nanti dengar." ujar Rama dengan suara pelan. Rara langsung menutup mulutnya dengan telapak tangannya kemudian membukanya lagi dengan tatapan lucu.
"Maaf." ucapnya tanpa suara dengan hanya gerakan bibir saja.
"Gini nih bikin kamu tidak ribut." bisik Rama sembari meraih tangan istrinya yang masih berada di wajahnya yang cantik. Ia mulai membungkam mulut istrinya dengan bibirnya dan memberikan sentuhan lembut dan berakhir menuntut semakin dalam.
"Aaakkh." dessahan Rara akhirnya keluar dari mulutnya juga setelah berusaha ia tahan agar tidak ribut dan menimbulkan traveling pada otak reader dan tetangga. Karena bukan cuma bibirnya yang disentuh oleh sang suami tetapi seluruh anggota tubuh yang lainnnya pun tak luput dari sentuhan Rama yang sedang dalam puncak gairah.
"Mas..."
"Ssst! Jangan ribut."
"Mass..."
"Ada ujian, Hem "
---Bersambung--
Mana nih dukungannya untuk karya receh ini. Like dan komentar dong agar othor semangat update nya lagi dan lagi.
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍
__ADS_1