Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 218 Sebuah Surat Penting


__ADS_3

Wajah-wajah sedih masih tampak di rumah kediaman Raditya. Meskipun sudah sebulan berlalu meninggalnya sang nyonya besar tetapi kenangan akan kebaikannya masih selalu mengudara di setiap pembicaraan-pembicaraan semua anggota keluarga.


Rama sebagai cucu pertama yang paling dekat dengan eyang putrinya tak pernah alfa mengunjungi kamar sang kekasih hati sampai kadang tertidur di sana.


Rekaman masa-masa kecilnya bersama sang eyang membuatnya semakin rindu dan betah berlama-lama di kamar sang eyang.


Malam ini ia mengajak Rara untuk tidur di kamar almarhumah Mawar Raditya.


Istrinya itu selalu protes kalau ia lebih banyak menghabiskan waktu di kamar sang eyang daripada bersamanya.


"Mas, ini apa ya?" tanya Rara saat mereka berdua sudah berada di dalam kamar besar dan luas milik mantan presiden direktur TGR Global Company itu.


"Ra' aku membawamu kesini bukan berarti kamu bebas mengacak-acak milik eyang putri." jawab Rama sedikit ketus. Ia saja tak pernah mengganggu letak barang-barang sang eyang.


"Mas, maafkan aku. Tapi ini sebuah surat untuk kamu mas." jawab Rara kemudian menyerahkan sebuah amplop kepadanya. Rama pun mengambil benda yang memang nampak seperti sebuah surat itu.


"Untuk Rama Putra Tama Raditya." baca Rara dengan suara agak keras. "Ini benar buat mas Rama. Mungkin eyang menulisnya khusus buat kamu." Rara terus berpendapat meskipun Rama hanya diam menatap surat itu.


"Mau dibuka?" tanya Rara lagi. Rama menatap istrinya kemungkinan mengangguk. Cucu pertama Raditya itu pun perlahan merobek amplop atau sampul putih itu dengan hati-hati.


Ia membentangkan kertas itu kemudian membacanya dalam hati.


Bismillahirrahmanirrahim


Assalamualaikum Rama cucunya eyang.


Saat kamu membaca surat ini, mungkin eyang sudah tidak berada lagi ditengah-tengah kalian. Sebelumnya eyang minta maaf padamu. Ingin sekali eyang sampaiikan ini secara langsung tetapi terkadang situasi dan kondisi selalu menghalangi eyang untuk mengatakannya.


Kamu tahu? eyang menulis ini saat kamu berada di Tokyo karena kupikir aku harus mengatakannya sebelum terlambat.


Eyang tidak tahu apakah ini penting kamu ketahui atau tidak. Tetapi eyang merasa kamu harus tahu dari eyang sendiri sebelum mendengarnya dari orang lain. Kamu sebenarnya bukan putra kandung Gala Putra Raditya dan Vita Maharani. Kamu adalah cucu pertama eyang dari keturunan pertama Raditya, yaitu Tama Putra Raditya.


Ini yang sudah lama eyang ingin sampaikan padamu nak. Sungguh tidak ada yang berubah di sini. Kamu tetaplah cucu pertama kesayangan eyang.


Maafkan eyangmu ini.

__ADS_1


Wassalamu'alaikum.


Rama menutup lembaran surat itu dengan wajah tak terbaca. Ia tidak tahu harus berkomentar apa. Teka-teki kenapa namanya berbeda dengan saudaranya yang lain terjawab sudah. Tetapi kenapa hal ini harus disembunyikan darinya. Apa ada suatu hal penting yang memang tidak boleh ia ketahui?.


"Mas?" panggil Rara karena suaminya tak bereaksi.


"Aku mau menemui papa sama mama." ujar Rama kemudian melangkah keluar dari kamar itu dan meninggalkan Rara yang diam terbengong. Akhirnya perempuan kriwil itu mengikutinya juga. Ia mengekor di belakang suaminya menuju kamar mertuanya.


Lama Rama mengetuk pintu itu kemudian sosok Vita muncul sambil tersenyum lembut.


"Ada apa Ram? apa ada sesuatu yang kamu butuhkan?" tanya Vita dengan pandangan menyelidik.


"Rama mau bicara sama papa dan mama."


"Baik, dimana?"


"Di sini saja Ma." Vita pun mempersilahkan putra dan menantunya itu untuk masuk ke kamarnya. Ia meminta kedua orang itu untuk duduk menunggu Gala yang sedang berbicara di telepon.


"Ada apa Ram? tumben malam-malam begini." tanya Gala kemudian duduk di depan 3 orang yang sedang menunggunya.


"Surat yang ditulis mama ini memang benar nak. Kamu memang bukan putra kandung kami. Kamu adalah putra kandung almarhum bang Tama dengan kak Gita Prameswari." ada rasa terkejut kembali di hati Rama akan berita yang ia dengar ini. Ingatannya kembali ke batu nisan bertuliskan kedua orang itu di tempat pemakaman keluarga Raditya.


"Tapi kenapa papa dan mama menyembunyikan hal besar ini pada Rama Pa?" tanya Rama dengan wajah kecewa.


"Karena kami pikir itu tidak penting untukmu nak." jawab Gala dengan pandangan lurus ke arah Rama.


"Tentu saja itu penting karena mereka adalah orang tua kandung Rama. Aku juga mau tahu asal-usul aku Pa." jawab Rama dengan suara agak meninggi. Vita menatapnya tak percaya. Baru kali ini Rama berbicara di hadapan mereka berdua dengan suara tinggi seperti itu.


"Selama ini kasih sayang kami padamu tidak berbeda dengan yang lain, sayang. Kamu tetaplah berdarah Raditya dan itu tidak bisa disangkal." kali ini Vita yang menjawab sembari mengarahkan wajah putranya itu kepadanya.


"Kamu tetap putra mama nak, sampai kapanpun. Mama yang merawatmu sejak kamu berusia 6 bulan. Sejak mas Tama dan kak Gita meninggalkanmu." ujar Vita dengan suara lembut dan tenang.


"Pasti Papa dan Mama punya alasan kan? kenapa Menyembunyikan ini dari Rama sampai bertahun-tahun seperti ini."


"Tentu saja." jawab Gala tegas. Kemudian ia melanjutkan.

__ADS_1


"Karena Papa mau kamu tidak merasa berbeda dengan orang lain yang memiliki orang tua lengkap dan juga Papa tidak ingin kamu bersedih karena mereka berdua telah tiada dengan cara tak wajar."


"Tidak wajar bagaimana maksudnya Pa?" tanya Rama dengan wajah penasaran. Gala menatap wajah istrinya untuk meminta izin menceritakan semuanya. Vita mengangguk. Sudah saatnya Rama tahu bagaimana orangtuanya meninggalkan dunia ini.


Gala pun menceritakan semuanya mulai dari Tama yang meninggalkan rumah dan menikah dengan perempuan yang tidak disetujui oleh sang mama sampai kematiannya yang disebabkan oleh Robby Todler.


"Jadi si tua bangka itu yang menyebabkan nyawa papa dan mama tiada dan tak ditemukan jasadnya?"


"Iyya sayang. Kamu yang sabar ya." jawab Vita sembari mengelus lembut tangan putranya.


"Tapi kenapa kuburan mereka ada di sana bersama eyang putri dan mbah kung?" tanya Rama penasaran karena setahunya hanya yang mempunyai jazadlah yang bisa dikuburkan sedangkan ini jazad kedua orangtuanya tidak ditemukan sama sekali.


"Sewaktu mendengar kabar bahwa bang Tama dan istrinya sudah meninggal, mama langsung mengundang pemuka agama untuk melakukan sholat ghoib untuk almarhum dan almarhumah di rumah ini dan menanyakan hal seperti itu juga." Gala berhenti sejenak kemudian menarik nafas.


"Menurut para pemuka agama, tidak ada tuntunan dalam agama kita membuat kuburan atau makam yang tidak ada jazadnya."


"Bahkan kalau seandainya mayat itu mati dalam keadaan tenggelam maka harus ada potongan tubuhnya yang bisa dikuburkan tetapi kasus ini berbeda. Kita sama sekali tidak menemukan jazad atau bahkan potongannya jadi tidak ada yang bisa dikuburkan. Cukup kewajiban kita adalah mendoakannya, begitu kata pemuka agama itu."


"Tetapi waktu itu mama berkeras agar dibuatkan penanda saja semacam batu nisan yang bertuliskan nama mereka berdua agar setiap ia menziarahi makam Papa Raditya, ia juga serasa menziarahi putra dan menantunya." jelas Gala pada Rama agar putranya itu paham.


"Mama selalu menyesali perbuatannya dulu pada papa dan mamamu yang tidak memberikan restunya pada mereka. Untuk itu ia membuat seperti itu agar ia bisa selalu mengenangnya." lanjut Gala lagi dengan wajah teduhnya.


"Maafkan Rama Pa, Ma. Karena sempat berpikir kalau kalian menyembunyikan ini dari aku karena harta dan warisan." ujar Rama menunduk karena malu dengan pikiran buruknya.


"Astagfirullah, kamu sampai berpikir seperti itu Ram?" tanya Gala dengan suara kaget dan tidak percaya.


"TGR adalah milik papamu dari dulu. Itu sudah diatur oleh Almarhum Papa Raditya. Dan sekarang kalau kamu mau, kamu bisa menggantikan papa sebagai presiden direktur." ujar Gala dengan rasa sedikit kecewa karena tersentil atas kata-kata Rama.


"Maafkan Rama Pa, aku tidak bermaksud seperti itu." ujar Rama sambil bersujud di bawah kaki Gala.


"Kembalilah ke kamarmu. Dan ingat tidak ada yang berubah di sini." tegas Gala dan tidak mau dibantah.


---Bersambung--


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya.

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍


__ADS_2