
"Kak Hito?" tanya Sarah memastikan pendengarannya.
"Iyya dek, ngakunya namanya Hito dan kayaknya aku pernah lihat deh orangnya tapi dimana ya?" Sovia mengerutkan alisnya nampak berpikir.
"Ya iyalah kak, wong pernah bikin persembahan waktu pesta pernikahan kakak dulu, " ujar Sarah mengingatkan,
"Itu tuh yang nari medley denganku ingat?"
"Ah ya, Hito ya namanya kirain kamu dulu bilang Hito KW kok jadi Hito Asli sih." protes Sovia dengan wajah cemberut.
"Kan mirip Hito artis padahal namanya memang Hito kak."
"Udah ah, cepat temui cowok itu. Eh kalau aku boleh kasih tahu ya dek, cowok itu keren lho dan sepertinya lebih tampan dari Adam." ujar Sovia memprovokasi Sarah, kemudian ia melanjutkan,
"Tapi kasih tahu aja, kalo dia udah sangat terlambat, hihihi." Sovia terkikik sambil berlalu dari hadapan Sarah yang hanya bisa menepuk jidatnya pelan.Gadis itu langsung memutar bola matanya dan segera menemui Hito di ruang tamu.
"Hai Kak Hito, maaf ya bikin kakak lama menunggu." ujar Sarah sembari duduk di depan Hito yang diantarai oleh sebuah meja kaca di depan mereka berdua.
Pria itu menatap gadis cantik dihadapannya dengan pandangan pangling, ia tak menyangka kalau Sarah sekarang sudah menggunakan hijab untuk menutupi tubuhnya yang ia ingat sangat proporsional dan menarik.
"Ah gak lama, aku juga baru duduk, nih tempat duduknya masih dingin hehehe." Hito mencoba berkelakar untuk menutupi kegugupannya yang ia baru rasakan tiba-tiba.
"Lama tak berjumpa ya kak, ujar Sarah memulai pembicaraan yang terasa dingin dan canggung diantara mereka.
__ADS_1
"Iya, Sar, aku sekarang membuka studio musik di daerah Sini. Dan kebetulan aku lewat rumah ini dan aku pikir, aku ingin menyapamu siapa tahu kamu masih ingat aku,"
"Ah kak Hito, kok bisa sih ngomong kayak gitu, mana mungkin sih aku lupa sama kakak, kita pernah lama bersama lho, aku banyak belajar dari kak Hito, makasih ya."
"Pokoknya kalau lewat rumah ini, singgah aja kak, atau bawa teman yang lain juga yang pernah ikut nyanggar sama-sama."
"Iya Sar, masih banyak sih anggota sanggar yang dulu sekarang ikut di studio ini. Mereka banyak yang jadi artis dan bermain di beberapa mini seri meskipun masih jadi figuran," jelas Hito tanpa mau mengalihkan pandangannya pada Sarah hingga gadis itu merasa risih.
Untungnya ada pelayan yang membawakan minuman dan cemilan hingga ia jadi punya alasan untuk mengalihkan pandangan tak biasa dari pria itu padanya.
"Mari kak, diminum dulu," ujar Sarah mempersilahkan.
"Ah iya terima kasih banyak Sar," ujar Hito kemudian meraih gelas yang berisi jus jeruk itu dan meminumnya. Setelah itu ia memandang berkeliling suasana rumah yang sangat luas itu yang juga sudah sangat ramai oleh para petugas dari Event organizer yang memberi hiasan pada sudut-sudut rumah sebagai tanda kalau akan ada pesta besar di Rumah itu.
"Ah iya kak, maaf aku lupa mengundang kak Hito, ini masih ada undangannya." ujar Sarah sembari mengambil beberapa undangan yang masih belum ada namanya di sebuah rak khusus tempat di dalam ruang tamu itu.
Hito perlahan membuka sampul undangan sederhana tetapi mewah itu dengan mata melotot tak percaya, jantungnya langsung berdetak lebih cepat dari biasanya. Niatnya kemari untuk menyatakan cinta kandas sudah.
Pria itu yang sudah lama suka pada Sarah belum mau mengungkapkan perasaannya karena merasa kecil dan juga kadang rendah diri dengan keadaan status ekonominya yang sangat berbeda jauh dengan gadis baik dan ramah ini.
"Datang ya Kak, maafkan aku gak ngantar undangannya ke tempat kak Hito, maklum sibuk banget." ujar Sarah merasa tidak nyaman karena Hito hanya menatapnya dengan pandangan kecewa.
"Ah ya, gak apa-apa kok, aku diundang lewat WhatsApp apa aja udah syukur, Insyaallah aku akan datang bersama teman-teman yang lain." Hito mengambil undangan itu lantas berdiri dari duduknya.
__ADS_1
"Lho kok buru-buru kak, itu minumnya belom habis lho," ujar Sarah sembari menunjuk minuman yang baru diseruput sedikit oleh tamunya itu.
"Gak apa-apa aku lagi buru-buru, selamat Ya Sarah kamu akan segera menikah, aku turut senang."
"Iya kak, makasih."
"Eh beruntung ya calon suamimu, andaikan aku lebih cepat datang, apa mungkin kamu menerima aku, Sar?" tanya Hito sembari melangkah keluar ke arah pintu utama yang diikuti oleh Sarah dibelakangnya.
"Eh, maksud kak Hito?" tanya Sarah tidak mengerti.
"Ah tidak, aku hanya berandai-andai. Lupakan saja apa yang aku katakan. Selamat tinggal Sarah, semoga kamu bahagia." Hito pun melambaikan tangannya dan melangkah cepat memasuki mobilnya yang tampak masih baru itu dan segera meninggalkan rumah kediaman Raditya itu dengan kecepatan tinggi.
"Hati-hati kak Hito." ujar Sarah yang merasa tidak nyaman dengan kata-kata terakhir dari Seorang Hito Kw teman yang juga instruktur menarinya sewaktu masih sering ikut sanggar seni.
---Bersambung--
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya, okey???
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍
Eits, yang belum mampir dikarya aku yang lain, yuks dikepoin, dijamin oke punya lho, asyik dan bikin geregetan.
Berkisah Tentang seorang gadis hebat yang sangat sempurna dan memiliki segalanya. Tak percaya akan laki-laki dan juga pernikahan karena suatu hal. Akankah nantinya ia mau menikah dan melabuhkan cintanya pada seseorang???
__ADS_1