
Vita mematut dirinya di cermin dan melihat tampilan dirinya yang sangat menyedihkan. Sisa air mata masih menggenang di pipinya yang mulus. Ia segera memperbaiki riasannya setelah mencuci wajahnya agar terlihat lebih segar.
Sedari tadi Rama terus memanggil kalau ada tamu.
Dengan cepat ia melangkahkan kakinya keluar dari kamar dan mendapati seorang pria asing sedang berdiri di sana dengan menenteng sesuatu ditangannya.
"Permisi, ini dengan Ibu Vita Maharani?" sapa orang itu sembari membaca benda yang ia pegang.
"Oh iya betul, pak"
"Ini ada paket untuk ibu" ujar orang itu lagi. "Oh ternyata kurir toh" bisik hati Vita membatin.
"Tanda tanda di sini yah" ujar kurir itu sembari menyerahkan sebuah kertas. Vita pun mengikuti instruksi sang kurir dan mengucapkan terima kasih.
"Apa itu ma.." tanya Rama penasaran.
"Gak tahu sayang, mama kayaknya gak pernah pesan onlen deh" Vita menjawab sembari membuka paket itu. Rama dan temannya kelihatan tidak sabar mengetahui isi paket itu. Mereka berdua mengerumuni tubuh Vita yang sedang sibuk membuka bingkisan itu.
"Oh My God!" Vita menutup mulutnya karena kaget. Ditangannya sekarang adalah sebuah kado yang pernah ia berniat berikan kepada ibu Presdir sewaktu makan malam di rumah mewah itu.
Apa mungkin ibu Presdir menemukan kado ini di Kamar mas Tama waktu itu?
Dan ia berniat mengembalikannya karena kado ini tidak level dan tidak cocok dengannya?
Oh No!
Nyonya Rumah itu memperlakukan aku seperti kak Gita yang ditolak mentah-mentah jadi menantu keluarga kaya
"Kenapa ma?" tanya Rama penasaran melihat mamanya hanya diam memandangi kado itu. Vita hanya menggeleng lemah. Kemudian berdiri meninggalkan Rama dan temannya yang terbengong-bengong. Mereka biasanya senang sekali jika membuka sebuah paket. Berharap ada mainan di dalamnya.
"Ma ada ini jatoh apa ini?" tanya Rama sembari memburu tubuh mamanya ke dalam. Vita meraih sebuah kertas kecil yang sepertinya terjatuh dari dalam paket tadi.
"Makasih sayang" ujar Vita sembari mengelus kepala Rama lembut.
Berilah Kado dengan benar
🍀GPR
"Hey apa-apaan ini!" ujar hati Vita marah. Ia ngedumel sendiri dalam hati. setelah membaca note singkat itu. Ia tak mau Rama melihatnya marah-marah tidak jelas.
"Kalo gak suka kan tidak perlu dikembalikan juga kali"
__ADS_1
"Ternyata benar kata Hany orang kaya memang gak level sama kado macam ginian" ia menggeram kesal. Tapi tunggu? Kenapa ia tahu alamat rumah ini?
Vita mencak-mencak sendiri dalam kamarnya. Berbagai macam rasa bercampur aduk di benaknya. Kesal, gelisah dan entahlah.
🍁🍁🍁🍁🍁
Nyonya Mawar Raditya tidak mau makan dan bicara ia hanya bisa menangis dan menangis. Merutuki dan menyalahkan dirinya sendiri yang telah mengutuk putranya dengan sangat kejam sampai mengakibatkan hal mengerikan seperti ini terjadi.
Sejak pernikahan Reno dan Miska digelar ia terus bertanya dengan cerewet kemana perginya sang ipar si Robby Todler papanya Miska. Kenapa ia tidak bisa meluangkan waktunya untuk menghadiri pernikahan putrinya sendiri.
Gala yang sudah tidak tahan akan kecerewetan mamanya pada saat itu akhirnya membongkar kebusukan Robby Todler yang telah melenyapkan nyawa Abang dan kakak iparnya hingga membuat mamanya histeris dan sempat tak sadarkan diri yang kemudian di rawat di ruang ICU selama beberapa hari.
Dan sekarang disinilah ia menatap mamanya dengan mata sendu. Begitu banyak pikiran dalam benaknya. Ia ingin memberikan hiburan pada mamanya dengan memperlihatkan album foto kecil yang ia dapat dari kamar kostnya Vita beberapa hari yang lalu.
"Ma...ikhlaskan Abang pergi dan maafkan segala kesalahannya pada mama" ujar Gala sembari mengelus tangan mamanya yang nampak kurus dan lemah. Nyonya Mawar tidak menjawab melainkan air matanya saja yang terus mengalir. Pandangan matanya lurus ke depan seakan tidak mendengarkan perkataan Gala putra keduanya.
"Ma...lihat Gala ma" ujar Gala dengan hati trenyuh melihat mamanya selalu menghindari tatapannya. Sudah tidak nampak kearoganan dari wajah mamanya seperti biasa yang ada hanya wajah lemah tak berdaya dan sangat terpukul.
"Kita masih punya kenangan dari bang Tama ma..." Gala terus membujuk agar mamanya bisa bereaksi selain menangis.
"Abang ternyata mempunyai seorang putra yang mirip sekali dengannya" Nyonya Mawar langsung memandang wajah Gala. Ada perubahan pada air mukanya. Ia perlahan menghapus cairan bening yang masih meleleh di pipinya.
"Pertemuan mama dengannya Gal..."
"Tapi mama janji harus sehat dan kuat supaya bisa menimangnya" ujar Gala tersenyum.
"Badannya gembul ma, takutnya kalau mama tidak kuat menggendongnya" Nyonya Mawar semakin berbinar.
"Apa kamu pernah bertemu dengannya?"
"Mama juga sering bertemu dengannya..." jawab Gala sembari menyerahkan album kecil yang sedari tadi dipegang oleh tangan kirinya. Nyonya Mawar meraih album itu dan membukanya. Mulutnya menganga karena kaget dan bahagia bersamaan.
"Ini beneran putranya Abang mu?" ia meraba wajah almarhum Tama dengan jari-jarinya. Kemudian menyusuri wajah lain yaitu wajah sang bayi mungil dalam gendongan Tama.
"Pasti sekarang ia sudah tumbuh besar" gumamnya tanpa mengalihkan pandangannya pada foto itu. Perlahan ia mengangkatnya ke pipinya dan menciuminya seakan kedua orang yang ia cintai dan rindukan ada di depan matanya.
"Kenapa Vita juga ada dalam foto ini Gal?" tanya mamanya yang baru tersadar akan sosok lain di dalam album itu.
"Dan dimana mereka sekarang?"
"Apa mungkin Rama? Oh Tuhan, Rama adalah cucuku? putanya Tama?" Nyonya Mawar bertanya terus dan menjawab sendiri pertanyaannya. Gala menganggukkan kepalanya berkali-kali dan memeluk tubuh mamanya karena rasa bahagia dalam hatinya.
__ADS_1
"Bawakan Rama padaku nak"
"Jemput anak itu dan bawa kemari segera" Nyonya Mawar menggoyangkan lengan Gala dengan keras. Gala mengangguk.
"Bukan hanya cucu mama yang akan aku bawa untukmu ma..."
"Tetapi seseorang yang telah membawanya jauh dari kita" lanjutnya dalam hati.
"Mana makannya, mama mau makan supaya cepat sembuh dan bertemu cucuku" Nyonya Mawar tiba-tiba mempunyai semangat baru ia tersenyum cerah.
"Dan kamu juga...gak sadar sudah tua?'
"Gak mau nikah kamu?"
"Kasihan tuh keturunan Raditya gak nambah nambah kalau kamu bertahan tidak mau nikah"
"Entah perempuan tipe kayak bagaimana yang kamu inginkan, hem"
"Eh, mama kok jadi tiba-tiba cerewet sih" ujar Gala bercanda. Ia bahagia melihat mamanya kembali ke sifat aslinya suka marah dan maksa.
🍁🍁🍁🍁🍁
"Jaga Mama yah, pastikan ia minum obatnya teratur" Pesan Gala saat sampai di Bandara Internasional SH. Deka mengangguk.
"Ingat! Kerjaan di Perusahaan aku serahkan padamu"
"Jangan banyak mikirin Risma yang tidak membalas perasaaamu!" Deka memutar bola matanya malas. Setiap saat ia mendapat nasehat semacam ini dari Gala sang GM dan juga sepupunya hampir tiga kali sehari
"Ingat jaga Mama!"
"Iyya bawel!" ujar Deka akhirnya.
"Kamu seperti orang yang mau pergi berperang aja, petuahnya banyak sekali" Deka mencibir.
"Hei, ini lebih dari berperang. Vita lebih kuat daripada seribu tentara yang ada. Susah menaklukkannya" ujar Gala membela diri. Deka tertawa terbahak-bahak sembari mendorong tubuh Gala agar segera masuk untuk Check in.
🍁🍁🍁🍁🍁
Just stay there Vita sayang, Babang Gala akan segera meluncur ke sana eyakkk
Jangan lupa like, komen, and hadiahnya juga ya gaess...
__ADS_1
yang belum favorit yuks segera tap love n yang masih ada jatah Votenya bagi dooong
Happy reading 😍😍😍😍😍