
"Bik, panggil kak Rama dan yang lainnya dong untuk sarapan!" Ujar Sovia kepada salah satu Art yang ada di dapur. Ia sudah menata banyak menu pagi ini di atas meja makan. Rumah yang cukup ramai oleh banyak tamu yang menginap membuatnya sibuk menyiapkan banyak pilihan makanan.
Tak lama kemudian mereka datang satu persatu masih dengan kostum olahraga yang melekat ditubuh mereka kecuali Rama yang sudah tampil rapi tanpa sisa keringat ditubuhnya.
Andika duduk bersisian dengan Sarah dan Sovia sedangkan Rara duduk disamping Adam. Rama sebagai kakak tertua dan disegani duduk di ujung meja, sendiri.
"Ayok silahkan dicicipi menu buatan chef Sovia Ge Pe Er." Ujar Sovia dengan wajah gembira.
"Enak, Sov!" Ujar Andika memuji. Bibir sang chef langsung merekah sempurna, suatu kehormatan besar jika putra dari om Reno itu mau memberi respon kepada apa yang dia lakukan. Soalnya pria muda itu 11 12 dengan kakaknya sama-sama lempeng dan datar.
"Enak kak, bentar siang masak lagi ya." Kali ini suara Sarah yang memuji. Ia berbicara sambil mengunyah.
"Zahra, gimana masakan chef kita, enak gak?" tanya Adam yang bersisian dengan Rara. Ia sengaja menaruh omlet di piring gadis itu agar bisa mencoba masakan andalan sang chef.
Rara segera mengunyah dengan ekspresi yang cukup lucu bibir dan matanya dibuat sedramatis mungkin agar nampak seperti bintang iklan sedang mencicipi makanan lezat. Rama yang sedari tadi memperhatikannya tanpa sadar tersenyum samar.
"Hmmmm, Mamamia lezatos, enak banget Sovi, sumpah. Kamu udah bisa buka resto nih." pujinya dengan dua jempol ia goyang-goyangkan di depan wajahnya.
"Makasih, Ra' akan kupertimbangkan." jawab Sovia gembira. Adam menambah lagi makanan ke piring Rara hingga gadis itu menatapnya tajam.
"Kenapa?" tanya Adam polos.
"Ih, gak gitu juga kali. Aku kan bisa nambah sendiri." Rara akhirnya mengembalikan makanan itu ke piring Adam.
"Nih ambil lagi, kita bagi dua, " lanjut Rara dengan tangan sibuk membagi makanan itu di dua piring, dipiringnya sendiri kemudian membaginya lagi ke piring pria muda itu. Rama dan Sarah yang memperhatikan keakraban keduanya tiba-tiba merasakan hal yang sama. Jengkel dan kesal.
"Kak Ram, gimana masakanku?" tanya Sovia yang mengalihkan keributan kecil antara Rara dan Adam yang mereka saksikan bersama itu itu ke arah lain.
"Urakan!" ujar Rama tak sadar. Sovia langsung melotot tak percaya karena kakak kesayangannya sendiri memberi penilaian buruk pada masakannya.
"Kakak!" ujar Sovia tak percaya. Tiba-tiba ia merasa seluruh badannya lemas. Orang yang ia harapkan memuji keahliannya malah bikin semangatnya pagi itu langsung meluncur bebas.
"Eh, Sovi maaf. Bukan itu maksud kakak. Kucing kriwil itu yang urakan bukan masakanmu." bujuk Rama kepada Sovia yang memilih masuk ke kamarnya di lantai dua. Ia meninggalkan acara sarapan bersama itu karena kesal dan malu sama semua orang di sana.
"Sovi, maafkan kakak ya, masakanmu enak kok. Suer, Aku sampai habiskan 2 piring lho." lanjut Rama lagi. Ia tak menyangka ucapannya yang tak sadar karena kesal pada kucing kriwil itu malah berakibat fatal pada perasaan adiknya.
__ADS_1
"Kamu gak percaya kalau kakak minta maaf?" tanya Rama lagi. Sovia menggeleng.
"Kalau gitu kita jalan habis ini. Mandilah." ujar Rama lega. Perasaan adiknya itu sudah kembali baik dan ia akan memenuhi permintaan adiknya itu untuk healing -healing versi gadis remaja. Hari ini ia akan ikuti kemana saja adiknya itu mau.
Keenam orang itu akhirnya bersiap jalan keliling-keliling kota. Tentang tempat tujuan nanti dipikirkan yang penting Rama sudah bersedia diajak jalan bersama.
Andika menyalakan mesin mobilnya dan Sovia langsung masuk ke sana tanpa permisi. "Lho?" Andika menatap Sovia bingung.
"Kok ikut kesini? bukannya cewek sesama cewek ya?" tanya Andika mengernyit.
"Aku malas nyetir. Mau jadi penumpang aja." jawabnya santai sambil memasang headset di kupingnya.
Sedangkan Sarah yang punya perhatian lebih pada Adam langsung masuk juga ke mobil sepupunya itu dengan santai.
"Eh, aturannya kan gak gini." ujar Adam protes. Ia mau mengendarai sendiri karena ingin langsung pulang ke rumahnya sendiri.
"Aku mau ikut kamu. Titik." ujar Sarah maksa. Adam langsung menarik nafas berat.
"Zahra sama siapa?" tanya Adam lagi. Sarah langsung bermuka masam. "Dia ikut sama kakak. Ayo cepat jalan." perintah Sarah agar segera melajukan mobil itu. Ia tak mau Rara ikut numpang di situ.
Dua mobil itu pun berangkat dan menyisakan Rara berdiri di depan pintu dengan wajah bingung, mencari semua orang. Ia tadi hanya kembali ke kamar karena lupa membawa handphonenya dan sekarang semua orang meninggalkannya. Akhirnya ia putuskan kembali ke lantai atas untuk melanjutkan tidurnya yang tak nyenyak semalam.
"Eh?"
Pintu mobil dibukakan oleh Rama dan ia merasakan tubuhnya dipaksa masuk oleh pria dingin dan datar ini.
Bugh!
Pintu ditutup lagi sementara dirinya belum sadar apa yang sedang terjadi. Mobil melaju membelah jalanan yang cukup ramai itu dengan kecepatan sedang.
Sepi, tak ada suara di dalam kotak beroda empat itu kecuali musik yang mengalun lembut dari radio mobil.
"Siapa kamu?" Rama akhirnya membuka suara karena merasa penasaran dengan gadis yang tiba-tiba ada di rumahnya.
"A-aku temannya Sovia." jawab Rara singkat.
__ADS_1
"Kenal dimana?"
"Sudah lama, kenal di pesta."
"Kamu sama Adam?" tanya Rama langsung ke poin utamanya. Ia penasaran dengan keakraban gadis itu dengan adik sepupunya.
"Aku sahabatan dengan Adam di LN sewaktu dia ikut pertukaran pelajar."
"Oh? gak lebih kan?" tanya Rama lagi tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan di depannya.
"Maksudnya? ini bukan wawancara kerja kan?" Rama langsung tersenyum dengan pertanyaan gadis kriwil itu.
"Kalau iyya kenapa?"
"Eh, aku belum berniat kerja. Aku mau senang-senang dulu." jawab Rara ketus. Ia masih menaruh dendam pada cowok datar di sampingnya ini. Karena gara-gara Rama ia sampai ditahan di bandara dikira gembel.
Tak terasa mobil yang mereka tumpangi sampai di sebuah Mall terbesar di kota itu. Sovia dan yang lainnya sedang menunggunya di dalam. Mereka ternyata sudah membeli tiket untuk nonton di bioskop.
"Aku gak mau ikut. Aku disini saja." ujar Rara saat Rama sudah mematikan mesin mobil dan mulai membuka sabuk pengamannya.
"Kamu harus ikut, semua menunggu di dalam."
"Gak!" Rara tidak mau turun karena takut masuk ke tempat keramaian. Ia khawatir akan bertemu dengan pengawal tuan Reksadana atau suruhan dari orangtuanya. Ia sudah merasa aman berada di keluarga Raditya.
"Harus! Ayok," Rama menarik tangan gadis itu meskipun ia menolak. Rara terus menarik rambut kriwilnya untuk menutupi wajahnya sampai ia menarik nafas lega karena sudah sampai di depan bioskop tanpa ada yang mengenalinya.
Mereka pun masuk dan memilih duduk berjejer sesuai pasangan masing-masing. Ruang Bioskop tiba-tiba gelap dan menampilkan layar besar di depan sana sudah mulai memutar film yang akan mereka tonton.
Tubuh Rara menegang, seseeorang yang ia kenal sedang melangkah kearahnya. Tuan Reksadana beserta bodyguardnya sepertinya sedang mencari sesuatu. Jarak mereka semakin dekat, hingga dengan impulsif ia menarik Rama yang ada disampingnya dengan terburu-buru. Tubuhnya yang mungil ia sembunyikan kedalam pelukan pria tinggi bertubuh atletis itu agar tubuhnya bisa membelakangi posisi Reksadana yang sudah berdiri tepat di belakang punggungnya. Rama sampai kaget diperlakukan seperti itu oleh Rara gadis asing yang baru ia kenal.
---Bersambung---
🍁🍁🍁🍁🍁
Waduh ketahuan gak ya???
__ADS_1
Dukung terus karya ini ya gaess dengan kasih like dan komentar positif.
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍