Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 233 Tak Pernah Lelah Bersamamu


__ADS_3

Adam mengikuti Sarah ke dalam rumah. Ruang keluarga tampak sepi, rupanya dua pasangan suami istri senior dan junior sudah memasuki kamar masing-masing.


"Sarah, berhenti di situ!" titah Adam dengan suaranya yang agak keras hingga gadis yang disuruh berhenti itu benar-benar tidak bergerak di depan pintu kamarnya.


"Ada apa?" tanya Sarah tanpa membalikkan badannya dari arah depan, ia tetap membelakangi Adam. Ia masih kesal dengan ketidak sopanan Adam pada Heru.


"Aku tidak suka kamu dekat-dekat sama Heru." ujar Adam dengan nada datar.


"Peduli amat. Kak Heru itu orangnya baik dan rajin. Semua bisa ia kerjakan. Dari A sampai Z. Aku suka cowok dewasa seperti itu gak kekanak-kanakan." jawab Sarah kemudian melanjutkan langkahnya ke dalam kamar. Ia bahkan membanting pintu di depan wajah Adam.


Rahang Adam mengetat disertai tangan yang mengepal marah. Ia beranjak dari depan kamar Sarah dengan rasa kesal di hatinya.


Adam memasuki kamarnya setelah mengunci pintu depan dan belakang. Ia meraih handphonenya dan ingin memulai memainkan game favoritnya. Tetapi ternyata emosinya belum juga reda, rasa kesal masih memenuhi hatinya. Akhirnya ia menyimpan lagi handphonenya dan mulai memikirkan perkataan Sarah barusan.


Perempuan cantik itu menyukai Heru, ujarnya membatin


Adam memukul bantalnya dengan keras. Ia marah pada dirinya sendiri karena sudah melepaskan Sarah. Gadis itu sudah berani terang-terangan menyatakan kalau ia menyukai cowok seperti Heru.


Kurang ajar, enak saja


Adam sampai dini hari hanya bisa membolak-balikkan badannya tidak bisa tidur. Ia harus melakukan sesuatu agar perhatian Sarah kembali lagi padanya.


🍁


Di kamar utama, Gala dan Vita juga belum terlelap meskipun mereka sudah cukup lelah karena seharian ini berada di Pantai dan bahkan berenang di tempat itu.


Untuk pertama kalinya Vita mulai berlaku manis pada suaminya sejak ketegangan Rama dan keluarganya terjadi.


"Mas, ternyata Rama itu sudah dewasa banget ya." ujar Vita sambil menaruh kepalanya ke atas dada bidang sang suami. Mereka sekarang sedang dalam posisi berbaring di atas ranjang.


"Hem." jawab Gala singkat. Ia sedang menikmati gerakan jari-jari sang istri yang sedang menggambar Pola abstrak di atas permukaan dadanya yang terbuka tanpa penghalang kain. Rupanya Vita sudah berhasil membuka kancing- kancing piyamanya tanpa ia sadari.

__ADS_1


"Ia sudah bisa menata masa depannya bersama istrinya, dengan membuka tempat wisata seperti tadi." lanjut Vita dengan gerakan jari-jari yang sudah beruban lebih ekstrim.


Ia memelintir dan memutar pucuk dada Gala dengan sangat lembut. Gala berusaha menahan hasrat yang sudah mulai terbakar. Ia ingin tahu apa yang akan dilakukan istrinya itu setelah sekian lama memperlakukannya dengan hambar, tanpa rasa.


"Rama itu pemilik TGR group. Aku tidak akan mengizinkan ia terlalu menghabiskan waktunya di sini. Ada banyak tanggung jawab yang harus ia pikul di sana." ujar Gala sembari menutup matanya merasakan kalau istrinya sedang menguji pertahanannya.


"Mas, jangan membebani Rama dengan terlalu banyak tanggung jawab." Vita mulai bergerak ke bawah dan membuat Gala tak bisa lagi menahan sesuatu yang ditahannya selama ini. Ia langsung menangkap tangan istrinya kemudian tersenyum.


"Kamu mau apa sayang, Hem?" tanya Gala dengan suara serak.


"Gak mau apa-apa cuma mau periksa itu aja, apa kalau sudah berenang tadi ada perubahan atau tidak, hihihi." jawab Vita dengan berusaha menahan tawanya.


"Berani kamu ya. Akan aku tunjukkan sesuatu yang sangat luar biasa setelah berendam air laut." ujar Gala dan langsung memberikan sebuah pelajaran yang cukup berharga pada istrinya malam itu. Perempuan pertama dan terakhir yang sangat dicintainya.


Malam panjang yang mereka lalui dengan erangan dan dessahan di setiap sentuhan yang mereka saling berikan.


Mereka saling memberi dan menerima dengan hati yang lapang. Dimana tidak ada unsur keterpaksaan untuk saling melayani hingga mereka sampai ke tepian dengan penuh rasa nikmat dan cinta.


Hanya kalimat pujian dan juga permohonan yang mengudara di tengah malam itu.


"Terima kasih Ra' kamu mau mengikutiku sampai sejauh ini." ujar Rama setelah bulir-bulir peluh memenuhi dahi sang istri menjadi saksi begitu panas dan melelahkannya kegiatan mereka barusan.


"Jangan bilang seperti itu mas, aku istrimu, aku milikmu, kemenapun kamu pergi aku akan ikut." jawab Rara sembari menutup matanya merasakan sentuhan lain dari suaminya di daerah sensitifnya.


"Az-Zahra Aisyah, aku mencintaimu." ujar Rama kemudian melabuhkan wajahnya ke bagian tubuh istrinya yang sangat ia sukai, terasa empuk dan juga menantang.


"Mas."


"Hem." Rama sungguh tak bisa menjawab karena mulutnya sedang penuh.


"Mas,"

__ADS_1


"Ra' boleh aku minta lagi?" ujar Rama setelah mengangkat wajahnya dari pelabuhan yang cukup membuatnya betah berlama-lama disana. Rara mengangguk. Ia juga sudah mulai terbakar lagi oleh sentuhan-sentuhan yang serasa membakar tubuhnya dan membuatnya menginginkan lebih, lagi dan lagi.


Malam yang indah bagi kedua pasangan senior dan junior. Ternyata terapi air laut yang mereka lakukan tadi benar-benar membuat keduanya tak pernah lelah mengayuh menuju puncak kenikmatan duniawi. Semakin tinggi mereka menanjak semakin jauh juga mereka terbang.


Tak ada kata puas yang mereka rasakan hingga kodrat alamlah yang menghentikan mereka. Ketika sebuah pelepasan sudah dilakukan maka usailah sudah kegiatan menyenangkan yang mereka lakukan. Mereka saling menatap dengan penuh perasaan kemudian beranjak melalui malam berselimutkan rasa bahagia.


🍁


Matahari pagi itu bersinar sangat cerah. Hingga cahayanya mampu menembus tirai jendela yang masih tertutup rapat itu. Heru sudah berdiri di teras rumah dengan banyak makanan di tangannya. Ia mengintip ke dalam jendela kaca tapi tidak ia temukan sebuah aktivitas pagi umumnya di setiap rumah di kota ini.


"Rupanya mereka masih tidur, mungkin kelelahan sehabis dari pantai kemarin." ujarnya dengan suara pelan.


"Aku akan kembali nanti saja." lanjutnya lagi kemudian menyimpan semua makanan yang ia bawa di atas meja di teras itu. Ia pun pergi dari sana yang ternyata tidak luput dari perhatian Adam yang sedang berdiri tak jauh dari tempat itu.


Adam menarik nafas, kemudian masuk ke rumah setelah memastikan Heru sudah keluar dari halaman rumah itu.


Pagi-pagi sekali ia berjoging keliling komplek. Ia ingin menghirup udara segar di pagi hari di kota itu sebelum ia kembali ke ibukota. Matanya menatap ruangan di dalam rumah itu yang masih sepi.


"Ternyata cuma aku yang rajin pagi ini." ujarnya sembari membuka lemari pendingin untuk mengambil air mineral dingin.


"Huh, baru juga bangun pagi sekali, sudah merasa paling rajin." sindir Sarah dengan wajah juteknya.


"Ya iyalah, buktinya kamu baru bangun kan? sudah sholat belum?" Adam langsung duduk kemudian meminum minumannya.


"Ya sudah dong, tapi sudah sholat aku langsung tidur lagi." jawab Sarah Kemudian duduk di depan Adam. Ia memperhatikan sepupunya itu minum dengan mata tak lepas dari jakun Adam yang begitu menggodanya.


"Gak sehat tidur setelah sholat subuh. Bikin kamu jadi malas dan tidak cantik lagi." ujar Adam tanpa mau melihat Sarah yang sedang menatapnya. Ia takut tergoda pada gadis manis itu, sedangkan ia berjanji akan bersikap dewasa sesuai keinginan putri bungsu dari Gala Putra Raditya itu.


"Hem, malas ah ngomong sama kamu, aku mau nunggu kak Heru aja di depan. Biasanya pagi-pagi ia akan bawa makanan." ujar Sarah dan langsung meninggalkan Adam yang sedang berusaha menahan perasaannya.


---Bersambung--

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍


__ADS_2