
Hari itu Keluarga Raditya bercengkrama dengan sangat bahagia. Mereka melepas rindu dengan saling bercerita hal-hal yang lucu dan menarik selama mereka berjauhan. Tak ada lagi yang ingin mengulang cerita sedih di dalam keluarga mereka.
Rama berniat tidak jadi ke luar rumah untuk mengikuti meeting perkumpulan pengusaha muda di kota ini. Rasanya ia belum puas memeluk dan mencium mamanya yang selama ini ia sakiti perasaannya dengan cara pergi dari rumah hanya karena masalah sepele.
Rama masih ingin ikut serta dalam keriuhan acara kumpul keluarga di rumah sederhana itu. Sesuatu yang sederhana tetapi akan sangat menyenangkan dan membahagiakan dilakukan karena cinta, apalagi ia masih sangat rindu dengan mama dan Papanya. Tetapi semua orang tidak setuju. Mereka semua memaksa Rama untuk menghadiri meeting tersebut.
"Bersyukurlah karena kamu sudah diperhitungkan sebagai pengusaha muda sukses di kota ini. Mereka mengundangmu karena ingin kamu berbagi ilmu dan pengalaman selama menjadi bagian dari TGR Global Company." ujar Gala karena melihat Rama tidak bersemangat lagi untuk berangkat.
"Mereka tidak mengenalku sebagai bagian dari TGR Pa." jawab Rama sembari memakai kembali jasnya yang sudah ia gantung di dalam lemari pakaiannya.
"Jadi mereka mengundangmu sebagai orang baru di kota ini?" tanya Gala ingin tahu.
"Rahasia Pa." jawab Rama dengan senyum samar di bibirnya.
"Kalau gitu Rama pamit Pa, Ma," lanjutnya lagi kemudian mencium punggung tangan kedua orangtuanya. Terakhir ia mencium puncak kepala istrinya dengan lembut.
"Titip istriku ya, jangan sampai kalian membawanya ke Jakarta." ujar Rama sebelum sampai di depan pintu. Alhasil sebuah kotak tissue dari kain flanel langsung menimpuk kepalanya.
"Huuuuu." teriak semuanya yang ada di dalam ruangan itu kompak. Rama langsung menggaruk kepalanya yang tak gatal kemudian segera melangkah cepat ke arah mobilnya.
"Mas, Rama bener-bener 11 12 sama kamu." ujar Vita sembari tersenyum.
"Ya jelaslah. Kamu lupa ya sayang, kalau aku ini papanya." timpal Gala dengan dada ditepuk jumawa.
"Uhuuuk uhuk." Ia terbatuk karena terlalu keras menepuk dadanya.
"Papa, mulai deh lebai." tegur Sarah dengan gaya lucu. Gala hanya bisa tersenyum kecut kemudian memandang istrinya lembut.
"Aku mau istirahat sayang. Kamar kita masih utuh kan?" ujar Gala sembari memandang berkeliling keadaan rumah minimalis dan sederhana itu.
"Iya Pa. Kamar Mama sama Papa masih kosong kok dan juga bersih. Kami berdua menempati kamar mas Rama sendiri." timpal Rara cepat. Ia tahu kalau kedua mertuanya pasti sedang lelah karena baru sampai dari Ibu kota.
"Mama juga perlu istirahat. Mari Rara antar." ujar Rara kemudian membawa Gala dan Vita ke kamar utama di rumah itu. Kamar yang paling luas milik mereka berdua setiap mereka pulang kampung.
__ADS_1
Vita memperhatikan foto pengantinnya bersama sang suami yang terpajang di dinding ruangan itu. Hatinya menghangat. Ia tersenyum penuh syukur. Sekarang ini ia sudah hampir memiliki dua orang cucu. Sungguh waktu yang tak singkat ia dan Gala mengarungi mahligai rumah tangga ini.
"Kamu lihat aku ya?" tanya Gala karena melihat istrinya tidak beranjak sedikitpun dari bingkai foto yang berisikan gambar mereka berdua sedang memakai pakaian adat Makassar yaitu baju bodo.
"Dari dulu aku memang sangat tampan." ujar Gala sambil merengkuh pinggang istrinya. Ia juga menatap foto itu sambil tersenyum. Ada debaran aneh menghinggapi hatinya. Ia merasa menjadi Gala Putra Raditya 30 tahun yang lalu. Yang tergila-gila pada seorang gadis sederhana bernama Vita Maharani.
"Ekhem." Rara berdehem kemudian meninggalkan kedua mertuanya yang sepertinya sedang memasuki lorong waktu ke masa lalu. Kembali ke masa-masa mereka saat sedang dimabuk cinta.
"Lho kak, apa mama dan papa udah istirahat?" tanya Sarah sembari menikmati minuman dingin yang ia baru ambil dari lemari pendingin.
"Belum, mereka sedang bernostalgia hihihi." jawab Rara Cekikikan. Ia baru melihat ada pasangan yang begitu bucin satu sama lain pada kedua mertuanya ini. Bahkan mama Dyah dan Papa Ilhamsyah pun tak pernah ia lihat se mesra ini di usia yang sudah matang.
Sarah tidak merespon perkataan Rara sang kakak ipar, ia sudah kenyang dengan kebucinan papa dan mamanya selama ini jadi ia sudah tidak heran.
"Kak Rara ngidamnya apa sih selama hamil ini?"
"Gak ngidam macam-macam kok.Ya paling mau makan buah atau kue-kue gitu. Tapi itu bukan ngidam sih menurutku. Itu cuma permintaan biasa saat aku merasa lapar setelah mual dan muntah gitu." Sarah manggut-manggut. Ia ingin bercerita tentang ngidamnya Sovia tapi tak enak hati nanti malah mengingatkan kejadian buruk itu lagi. Jadi ia hanya melanjutkan menghabiskan minuman dinginnya.
"Dam, dari tadi kok diam aja sih?" tanya Sarah sambil menyenggol tangan Adam yang sibuk dengan game Mobile Legendnya.
"Dam!" teriak Sarah pas ditelinga pria yang berstatus sepupunya itu.
"Apaan sih?" ujar Adam sedikit kesal.
"Ih kamu ya, jauh-jauh kesini malah main game aja. Pulang sana." gerutu Sarah balas kesal. Ia paling tak suka kalau Adam lebih perhatian pada handphonenya daripada dirinya.
"Entar aku pulang, lagi asyik nih." ujar Adam lagi santai dengan jari-jari semakin lincah bergerak di atas layar handphonenya.
"Ih sebel." kesal Sarah sembari menghentakkan kakinya. Rara yang melihatnya hanya bisa tersenyum. Ia maklum kalau Sarah kesal karena ia juga paling jengkel kalau diabaikan oleh Rama hanya karena sibuk main game.
"Sar kita bikin rujak buah yuk. Lagi pengen nih " ajak Rara karena tiba-tiba air liurnya ingin menetes membayangkan mangga muda dan juga jambu muda yang ada di samping rumah itu beradu dengan bumbu kacang dan juga cabe rawit hijau.
"Ayok, kak." jawab Sarah bersemangat. Ia langsung berdiri dari duduknya dan meninggalkan Adam yang sedang sibuk sendiri.
__ADS_1
"Buahnya ada gak Kak?" tanya Sarah sembari memeriksa keadaan dapur minimalis yang ada di rumah itu.
"Aku telpon Heru dulu ya." ujar Rara sambil memencet nomor telepon Heru, pria muda yang selalu siap sedia membantu apa pun yang ia inginkan.
Tak lama kemudian Heru muncul dengan beberapa buah mangga muda dan juga buah yang lainnya yang ia bawa dalam sebuah keranjang kecil.
"Ini mbak Rara buahnya." ujarnya sembari menyerahkan sekeranjang buah ke tangan Rara.
"Wah ada tamu toh." lanjut Heru sembari memandang Sarah yang sedang memandangnya juga.
"Ini Sarah adiknya Mas Rama. Emangnya belum pernah ketemu ya?" ujar Rara kemudian menyimpan keranjang buah itu di atas meja.
"Pernah, tapi sudah lama sekali." kali ini Sarah yang menjawab.
"Iya, waktu itu Sarah masih usia SMA ya." timpal Heru dengan senyum di wajahnya, rupanya ia mengingat betul pertemuannya dengan gadis cantik itu.
"Baguslah kalau kalian saling kenal jadi gak canggung kan, sekarang kita mau makan rujak nih Her. Bantuin ngulek bumbunya yah, plis." ujar Rara memutuskan saling pandang antara Sarah dan Heru.
Pria itu tersenyum setuju. Ia langsung mencari bahan-bahan dan mulai mengulek bumbunya sedangkan mereka berdua mengupas buahnya.
"Hmm, ini enak sekali Her, sumpah. Segar, manis, asam, dan, asin." ujar Rara dengan ekspresi yang sangat lucu.
"Kayak nano-nano dong, ramai rasanya." jawab Heru sambil tertawa. Sarah langsung teringat Adam di luar sana. Ia langsung mengajak kedua orang itu sambil membawa rujaknya agar Adam juga mencobanya.
"Dam cobain ini deh." ujar Sarah sembari menyodorkan rujak buah berbumbu kacang ke depan wajah Adam yang masih sibuk bermain game. Pria muda itu langsung mencomot tanpa melihat makanan apa yang ditawarkan oleh Sarah.
"Aaaaaakkkh Ihhhh uhhh." Adam berteriak histeris karena yang tergigit adalah cabe rawit merah yang sangat pedis dimulutnya.
Ketiga orang itu langsung tertawa terpingkal-pingkal melihat wajah Adam memerah karena kepedisan.
Othor ikut tertawa ah, Kacian loh Dan 😆😆😆😆😆
---Bersambung--
__ADS_1
Mana nih dukungannya untuk karya receh ini. Like dan komentar dong agar aku semangat updatenya.
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍