
Vita Maharani keluar dari ruangan manager dengan langkah gontai, kekhawatiran begitu jelas di wajahnya. Ia ingin tahu lebih banyak tentang kondisi Gala saat ini. Tetapi perasaan malu terasa menumpuk dalam hatinya.
Akhirnya ia meraih handphone dan mulai membuka aplikasi chat. Ia akan bertanya lewat WhatsApp saja, setidaknya wajahnya tidak akan kelihatan jika bertanya secara langsung.
Dicarinya nomor Gala yang ia save dengan nama GM Penagih Utang. Tanpa sadar ia tersenyum sendiri dengan nama yang ia berikan. Ada sejarah tersendiri dengan nama itu.
*Apa kabar pak, Bapak sehat* ?
Bapak lagi dimana?
Saya dengar bapak kecelakaan ya?
Bapak lagi dirawat ya?
Kecelakaannya karena apa Pak?
Ketik hapus ketik hapus ketik hapus itu yang ia lakukan terus karena rasa malu dan juga segan yang mendominasi. ia juga tidak tahu bagaimana caranya agar ia bisa mendapatkan informasi tentang Pak GM, Gala Putra Raditya.
Bugh
Terlalu serius memandang layar handphone nya sembari berpikir keras membuatnya tidak sadar sudah menabrak seseorang hingga membuat handphonenya terjatuh ke lantai. Untung tidak pecah pikirnya dalam hati.
"Hey, suka banget sih nabrak orang! " tegur seseorang yang tak lain adalah Miska. suaranya yang sedikit cempreng melengking keras. Berkas-berkas ditangannya berceceran di lantai.
"Sorry, gak sengaja" jawab Vita sambil membungkuk mengambil handphonenya di dekat sepatu pentofel milik Miska.
"Kamu ternyata tak punya kuping ya" ujar Miska dengan judes.
"Berapa kali aku bilang, jangan pernah mau ketemuan sama Reno!"
"Apa yang kamu lakukan malam itu bersama Reno, hah!" cecar Miska tanpa jeda. Miska ingat waktu itu sebelum kejadian berdansa yang cukup romantis malam itu bukankah ada Vita juga di sana.
"Oh itu, Aku makan malam sama keluarga Reno" jawab Vita Santai, ia tak peduli akan mata Miska yang melotot marah.
"Dan, kamu?" lagi ngapain di sana?" tanya Vita balik. ia juga penasaran apa yang dilakukan Miska di sana bersama Gala Pak GM.
"Aku, tentu saja makan malam dengan tunanganku" jawab Miska mencibir. Ia seolah berada di atas angin. Ia ingin pamer kalau big Bos di Perusahaan besar ini adalah tunangan nya. setidaknya ia selangkah lebih maju daripada Vita Maharani.
Seketika Vita Maharani langsung merasa kejatuhan duri. Sakit dan kecewa secara bersamaan ia rasakan. Dadanya terasa sesak.
Ia pernah menguping dengar kalau Miska bertunangan dengan Gala, tapi kalau mendengarkannya sendiri lewat mulut pedasnya Miska rasanya sakit tak terkira.
"Kalau kamu sudah bertunangan dengan GM ngapain masih mengharapkan Reno?" tanya Vita sedikit bingung.
"Apa mungkin Miska mau dua-duanya?" pikirnya dalam hati. Miska hanya diam dan tidak ingin memberi konfirmasi.
"Kalau begitu Reno biar sama aku aja" Jawab Vita sambil berlalu. Hatinya masih sakit akan pengakuan Miska.
__ADS_1
"Hei, berhenti kamu!" Miska meradang, ia sampai menarik blazer yang dipakai oleh Vita. hingga Vita terjengkang ke belakang.
"Sudah aku bilang jangan berani mendekati Reno!" tangannya siap menjambak rambut Vita yang tersanggul cantik tetapi Vita cepat menahan tangannya.
"Reno milikku! dan selamanya akan jadi milikku!"
"Berani kamu menyentuhku, aku pastikan tanganmu akan patah!" ujar Vita dengan marah. Ia memutar tangan Miska sampai menimbulkan suara krek.
"Awwwwww" teriak Miska histeris. Tangannya terasa sangat sakit. Ada bagian yang retak mungkin di sana.
"Itu baru peringatan awal!" Ujar Vita mendelik kesal. Ia bagaikan harimau lapar. Kalau ada yang berani mencoleknya sekarang, maka ia tak segan-segan untuk memakannya.
"Aku akan laporkan kamu, camkan itu, dasar Giant bar-bar!" teriak Miska yang merasa diabaikan oleh Vita.
"Bodo amat!" Vita balas berteriak. lorong yang sepi membuat suara mereka serasa memenuhi seluruh udara di lorong itu. Ia segera meninggalkan Miska yang sibuk meratapi tangannya yang sakit.
Untungnya sepi. semua karyawan sedang sibuk mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing.
Sesampainya ia di ruangannya. Ia melempar handphone nya ke atas tumpukan berkas di atas mejanya. Hatinya dongkol, ia tak akan mau mempermalukan dirinya dengan mengirim pesan WhatsApp kepada GM penagih utang itu.
"Aku akan memblokir nomormu!" ujarnya sambil menunjuk-nunjuk handphone nya sendiri dengan jengkel.
"Hey, ada apa?" Hany yang sedari tadi memperhatikannya sejak ia masuk ke ruangan, merasa penasaran. wajah cantik Vita kelihatan merah menahan amarah.
"Aku rasanya ingin makan seseorang!" jawab Vita sembari meremas udara. Ia menarik nafas dan membuangnya perlahan.
"Si GM yang menjengkelkan itu" jawab Vita langsung tanpa berpikir.
"GM? pak Gala maksudmu?" Hany semakin heran. ada hubungan apa Vita dengan pak GM. otaknya belum bisa mencerna apa yang sedang terjadi.
"Bercanda Han, jangan dipikirkan" Vita melambaikan tangannya sebagai kode agar Hany tidak memikirkan perkataannya. Ia cuma asal ngomong.
Hany hanya tersenyum tipis tapi yang namanya perempuan yang punya tingkat kekepoan yang tinggi, ia tidak puas dengan jawaban Vita.
Dan ia berniat mencari tahu sampai ke akar-akarnya.
🍁🍁🍁🍁🍁
Miska berlari ke arah lift dan menekan angka yang akan membawanya ke ruangan General Manager. Ia bertekad akan melaporkan perbuatan kasar Vita padanya.
Dengan muka pucat dan menahan nyeri di tangannya. Ia langsung masuk ke ruangan Gala Putra Raditya tanpa mengetuk terlebih dahulu.
"Ada apa Miska?" tanya Ibu Presdir yang kebetulan masih berada di sana bersama beberapa orang lainnya.
"Tangan saya di patahkan oleh Vita Maharani Bu" Lapor Miska dengan wajah sedih menahan sakit. Semua orang mendekat untuk melihat tangan Miska kecuali Gala yang tampak acuh tak acuh. Ia tetap duduk di kursi kebesarannya.
"Kenapa bisa?" tanya Ibu presdir lagi dengan nada khawatir.
__ADS_1
"Mari mba saya periksa dulu" Ujar Dokter Sukma sembari meraih bahu Miska untuk duduk di sofa.
Setelah memeriksa dengan teliti, Dokter Sukma mulai berbicara,
"Ini tidak apa-apa mba, cuma keseleo sedikit. diberi salep anti nyeri saja InsyaAllah pasti akan baik-baik saja"
"Tapi ini sakit sekali, aku tidak mau jadi cacat gara-gara perempuan itu" keluh Miska sengit.
"Tenang Miska, dengar kata dokter Sukma sebentar lagi pasti sembuh" Ujar Nyonya Mawar menimpali.
"Saya kasih resepnya ya, biar segera ditebus obatnya" Dokter Sukma mencatat resep obat di sebuah kertas kecil dan menyerahkannya pada Miska.
Miska meraih kertas itu dengan bibir mengerucut sebal.
"Saya tidak terima kalau Vita Maharani tidak mendapatkan hukuman, ini akan saya visum sebagai bukti kekerasan yang sudah ia lakukan"
"Hey, diam kamu!" Bentak Gala dengan suara beratnya. Akhirnya ia ikut berbicara. Telinganya begitu panas mendengar kicauan Miska yang begitu keras kepala.
"Saya yang akan mengatur hukuman apa yang tepat untuk Vita Maharani, jadi kamu tenang saja" Ujarnya lagi dengan senyum samar. Hanya Tuhan dan dia yang tahu apa yang ada dalam rencananya.
"Baiklah, Bu, saya kira Pak Gala sudah baik-baik saja. Luka di wajahnya juga akan segera sembuh dan pastinya akan kembali lebih tampan" Ujar Dokter Sukma diselingi candaan. Semua yang mendengar ikut tersenyum. dan mengucapkan terima kasih.
"Saya permisi dulu" Dokter Sukma berdiri dan berpamitan dengan sopan. Ia keluar dan diantar oleh Deka Roland.
🍁🍁🍁🍁🍁
Di sebuah CV. yang bergerak di bidang Real Estate.
Pandu Gemilang tidak bisa berkonsentrasi akan pekerjaannya. Ingatannya akan video itu takkan bisa dihapus dengan mudah.
Ia merasa aneh dengan perasaannya sendiri. Ia sendiri tidak tahu perasaan macam apa yang ia rasakan kepada Vita Maharani sahabatnya.
Pengakuannya di depan Gala secara impulsif waktu itu justru membuatnya mempertanyakan sendiri hatinya. Ia marah dan cemburu ketika melihat adegan vulgar itu.
Segera ia membuka aplikasi WhatsApp nya, mengirimkan pesan ingin bertemu kepada Vita Maharani.
🍁🍁🍁🍁🍁
Hai readers tersayang nya othor receh ini.
Hargai karya ini dengan memberi like dan komentar. Gitu aja sih🤭
Weits jangan lupa, kasih bunga atau kopi InsyaAllah othor pasti senang...iklan kan sama teman, tetangga, warga se Kecamatan dan se Kabupaten. Biar karya ini dikenal dan menang lomba.
udah, ah...
Happy reading aja😍😍😍
__ADS_1