Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 49 Niat Baik Ditolak


__ADS_3

Reno Sebastian bersama mamanya mengantar Miska Todler pulang ke rumahnya. Mereka berniat meminta maaf kepada orangtuanya dan akan mempertanggungjawabkan kesalahan yang dibuat Reno yang telah mengambil keperawanan Miska dengan paksa. walaupun bukan unsur kesengajaan tetapi ia tetap harus menebus kesalahannya.


Miska dipapah oleh Ninick karena masih sangat lemah dan jalannya saja masih kurang stabil. Kapsari Prayanti begitu senang luar biasa melihat putrinya kembali dalam keadaan selamat. Walaupun begitu ia merasa aneh dengan cara jalan Miska yang seperti menahan sesuatu. Terkadang ia melihat Miska meringis.


Ia kemudian membawa Miska ke kamarnya untuk beristirahat dan kembali ke ruang tamu.


"Perkenalkan, Saya Ninick Sebastian mamanya Reno"


"Mohon maaf, jeung. Karena kami baru mengantar Miska setelah pesta perusahaan semalam" ujar Ninick agak canggung. Ia tidak tahu bagaimana memulai pembicaraan ini. Ia melirik Reno yang diam menunduk.


Kapsari Prayanti masih mempelajari suasana. Ia belum memberikan respon.


"Kami datang dengan maksud yang baik" ujar Ninick dengan berdehem untuk melonggarkan tenggorokannya yang terasa kering.


"Kami ingin melamar Miska sebagai istri Reno putra kami mewakili suami saya, jeung"


"Tidak akan!" Ujar sebuah suara dari dalam yang tak lain adalah Robby Todler papanya Miska.


"Saya tidak akan pernah setuju jika anak ini menjadi menantuku!" ujarnya lagi dengan nada angkuh.


"Punya apa dia?"


Seketika kuping Ninick memanas mendengar jawaban pria angkuh itu. yang ia pastikan adalah papanya Miska.


"Calon menantuku haruslah minimal seperti Gala Putra Raditya seorang pengusaha sukses, dan menjamin kebahagiaan putriku"


Ninick langsung berdiri dengan wajah menantang.


"Anda pikir aku mau putrimu jadi menantuku, hah?"


"Kami kemari karena ingin bertanggung jawab atas perbuatan putra kami kepada Miska putri anda"


Bugh


"Jadi kamu laki-laki itu hah?" tangan Robby seketika meninju perut Reno dengan keras tetapi karena tubuhnya besar dan tinggi. tinju itu hanya terpental.


"Kurang ajar! bukan kamu yang saya inginkan jadi suami Miska" geram Robby emosi. Ia berusaha menarik kerah kemeja Reno. Ninick sengaja tidak membela Reno. Biarlah Reno mendapatkan pukulan itu. Ia memang pantas dihajar karena perbuatannya.


"Baiklah kalau anda tidak setuju, dengan senang hati, kami permisi" Ninick menarik tangan putranya menuju mobil dan langsung pulang dengan emosi yang sudah di ubun-ubun.


Miska yang ternyata mendengarkan kebisingan itu hanya bisa menghapus air mata yang membanjiri pipinya. Hatinya serasa dihujam belati, sakit dan perih. Nasibnya sungguh malang. keangkuhannya selama ini luluh lantak tak tersisa.


Sedangkan Kapsari Prayanti hanya bisa diam. Ia terlalu terkejut dengan apa yang ia lihat. Perlahan ia meninggalkan suaminya di ruang tamu. ia ingin melihat keadaan Miska yang pastinya sedang tidak baik-baik saja. Ia ingin mendengar cerita dan penjelasan gadis itu.


🍁🍁🍁🍁🍁


Seperti hari-hari sebelumnya Vita Maharani tetap memasang wajah dingin tak tersentuh. Ia selalu menghindari Gala. Jika Deka tidak ada di ruangan ia akan memilih kembali ke Divisinya yang dulu dengan membawa setumpuk pekerjaan. Setelah pekerjaannya selesai ia baru kembali ke ruangan General Manager.


Gala tidak bisa berbuat apa-apa. Ia tahu sepertinya Vita Maharani memang sangat membencinya. Ia ingin memakai cara kasar tetapi rasa takut akan kebencian Vita yang akan semakin menjadi-jadi menghantuinya.


Baiklah, ia ingin berdamai dengan keadaan. Ia akan melihatnya dari jauh saja. Itu sudah cukup membuatnya senang.

__ADS_1


"Ibu Vita, Pak GM mengajak ibu makan siang di luar" Deka seperti biasa menjadi orang ketiga diantara mereka berdua. Sebagai penyambung lidah.


"Maaf, Pak Deka. Saya makan di Kantin saja" jawab Vita halus. Ia tahu ini pasti rencananya Gala.


Dari belakang mejanya, Gala hanya bisa menarik nafas panjang. Ia kembali ditolak secara halus.


Tring...


Tring...


Setelah melihat siapa yang memanggil. Gala langsung menjawab panggilan itu.


"Waalaikumussalam Tante" jawab Gala menjawab salam dari suara diseberang yang ternyata adalah Kapsari Prayanti mamanya Miska.


"Miska?"


"Kenapa?"


"Oh iya, saya akan segera kesana Tante. Yang sabar ya, Assalamualaikum" Gala menutup panggilan itu. Ia segera mengajak Deka keluar ruangan.


"Kita ke rumah Miska" ujar Gala sembari memakai jasnya dan berlalu keluar tanpa melihat Vita yang sedang meremas kertas dokumen penting yang ada di depannya. Ada sinyal tak kasat mata memasuki hatinya. Ia merasa cemburu tetapi ia tidak punya hak untuk marah.


Dokumen penting itu ia tinggalkan begitu saja dan segera melangkah ke lantai 3 dimana Daycare berada. Setiap hatinya merasa gelisah ia akan menemui Rama dan bermain dengannya.


Rama menyambutnya antusias. "Mama..." ia langsung memeluk leher Vita dan menciumi seluruh permukaan wajahnya sampai air liurnya menempel di sana. Vita tertawa kegelian.


"Rama tadi main apa saja?" tanya Vita setelah Rama melepaskannya.


"Ama main cama Ayang uttili" jawab Rama dengan bahasanya yang lucu.


"Ayang Uttili bawa anyak mainan" ujar Rama sembari mengangkat kedua tangannya membentuk lingkaran besar menandakan kata banyak.


"Ada Nemo, saulus, Bing-bing, cawat-cawat" Vita jadi tertawa lucu dibuatnya. Ia sangat terhibur dengan ucapan Rama yang masih kurang jelas.


"Ama cayang ma Ayang Uttili ma" Vita memandang bunda Tika sang pengasuh meminta penjelasan apa itu Ayang Uttili versi Rama.


"Ayang Uttili itu Eyang Putri Bu Vit" ujar Tika memberi penjelasan.


"Eyang putri siapa bunda?" Vita semakin penasaran dibuatnya. Ia tak mengenal orang yang biasa dipanggil dengan eyang putri.


"Ibu Presdir Bu Vit" jawabTika singkat sembari tersenyum. Vita melongo tidak percaya akan pendengarannya.


"Apa beliau mengenal Rama?" tanya Vita lagi. Ia sengaja mengambil tempat duduk yang nyaman untuk menggali informasi tentang cerita Rama. Anak itu kembali berkumpul bersama teman-teman seusianya untuk bermain.Tika tersenyum melihat Vita yang begitu penasaran.


"Ibu Presdir hampir tiap hari ke sini untuk bermain bersama Rama Bu. Mereka sangat dekat. Dan sepertinya ia sangat menyayangi Rama"


"Hah? apa iyya Bu Presdir punya banyak waktu sampai kesini setiap hari?"


"Yah, begitulah Bu kenyataannya. Beliau di sini sampai berjam-jam hampir tiap hari. makanya Rama sangat dekat dengannya"


"Katanya sih ia sudah mau sekali mempunyai seorang cucu"

__ADS_1


"Tetapi putranya belum juga mau menikah" Tika tersenyum samar. Ia tahu putra yang dimaksud adalah pak GM yang super tampan dan menarik itu. Idola semua karyawan perempuan di sini.


"Oh begitu yah?" jawab Vita sembari memikirkan sesuatu. Pak GM sekarang ke rumah tunangannya.


"Mungkin putranya itu akan segera menikah" gumamnya pelan. Ada getaran rasa sedih dalam suaranya.


"Maksud ibu pak GM sudah punya calon gitu?" tanya Tika cepat.


"Wah, aku bisa patah hati Bu kalau begitu" Tika menampakkan wajah sedih yang justru kelihatan lucu.


"Kita akan patah hati berjamaah" jawab Vita tak menyadari ucapannya.


Eh


"Ibu suka pak GM juga yah?"


"Ia , sangat, ups" Vita segera menutup mulutnya sadar telah membuka rahasia terbesarnya.


"Hahahaha" Tika tertawa terpingkal-pingkal karena melihat ekspresi Vita yang kedapatan mengakui perasaannya.


"Hush jangan ketawa, aku cuma bercanda" Vita berusaha menghindari tatapan curiga Tika.


Sementara itu di Kediaman Robby Todler.


Gala mengepalkan tangannya kuat karena emosi. Ia ingin sekali menghajar seseorang. Setelah mendengar cerita Tante Kapsari Prayanti tentang kejadian naas yang menimpa Miska pada malam itu.


"Tante tidak tahu nak mau berbagi cerita ini sama siapa" Kapsari menyusut air matanya sedih. Suaminya saja tidak mau mendengarkan keluh kesahnya.


"Siapa laki-laki itu Tante?"


"Ia harus bertanggung jawab" Gala sangat terpukul melihat keadaan Miska sepupunya. Gadis ceria yang angkuh itu tidak seperti seperti dulu lagi. Yang ada ia tampak bagai mayat hidup. Menurut cerita Kapsari mamanya. sejak kejadian ia pulang ke rumah. Gadis itu bahkan belum makan sesuap nasipun. Hanya cairan infus yang membantunya melewati hari-hari kelamnya.


"Aku akan memaksa laki-laki bejat itu untuk bertanggung jawab Tante" Gala meraih Kapsari ke dalam pelukannya ia ingin memberi sedikit dukungan.


"Pria itu datang kemari ingin bertanggung-jawab tetapi pamanmu tidak setuju" tangisnya pecah. Ia tak tahan akan nasib buruk yang menimpa putri semata wayangnya.


Gala melepaskan pelukannya dan menatap wajah tantenya inten.


"Berarti Tante tahu siapa orangnya?" Kapsari mengangguk.


"Siapa?" Kapsari menggeleng. Miska mengancamnya akan bunuh diri kalau ada orang yang tahu kalau Reno pelakunya. Papanya tidak akan pernah setuju begitupun keluarga Reno.


"Miska melarang tante nak. Karena ia tahu papanya tetap tidak akan setuju pria itu bertanggung jawab"


"Ya ampun" Gala mengusap wajahnya kasar. Ia akan menemui Robby Todler secara pribadi. Apa maunya si tua Bangka itu.


"Tante yang sabar ya... aku akan cari jalan keluarnya" Gala dan Deka pamit setelah memaksa Miska untuk minum walaupun hanya sesendok air putih.


🍁🍁🍁🍁🍁


Hai readers tersayangnya othor. Tetap nikmati alurnya dan jangan lupa like, komen dan tap Love bagi yang belum kasih.

__ADS_1


Bunga, secangkir kopi bolehlah sebagai penyemangat.


Happy reading 😍😍😍😍😍


__ADS_2