Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 21 Berusaha Berdamai


__ADS_3

Di ruang tamu yang sudah di sulap menjadi istana cantik ala film animasi Frozen, soundtrack lagu "let it go" mengalun dengan indah.


Zahwa sang putri yang sedang berulang tahun yang ke tiga sedang memakai kostum Elsa begitu menikmati acaranya.


Sementara Rama bergelayut manja setelah menangis cukup kencang dan akhirnya ia kembali ceria ketika permainan lempar balon diadakan di depan istana Frozen.


Rangkaian acara ulang tahun tetap berjalan sesuai arahan EO dadakan yaitu Pandu Gemilang walaupun terkadang susunan acara terjeda oleh kemanjaan sang bintang yaitu Zahwa


Semua tamu tampak sangat menikmati acara, kecuali seorang gadis yang sedang duduk di pojok ruangan. Vita Maharani merutuki kebodohannya mengikuti perintah Deka asisten Gala Pak General Manager.


Mengusap bibirnya kasar berkali-kali rasanya tak akan merubah yang sudah terjadi.


Bibirnya terasa kebas akibat serangan mendadak dan cukup lama dari seorang Gala Putra Raditya.


Rasa marah begitu menumpuk dalam hatinya, pelecehan dan penghinaan Gala padanya cukup menyentil harga dirinya. Bibir yang masih perawan direnggut paksa tanpa persetujuan nya.


"Mama..." Rama menubruk Vita. Entah kenapa Rama juga sedang tidak bersemangat. seperti ada kontak batin antara mereka berdua.


"Mama..." sekali lagi Rama menyebutnya dengan mata berkaca-kaca.


"Kenapa sayang?"


"Dah capai mainnya?"


"Huaaaa ma mama mama" Rama kembali menangis dengan suara melengking.


Ira Zerni semakin bingung dengan perubahan suhu yang terjadi. tadinya semua tampak baik-baik saja Vita Maharani memeluk Rama yang masih rewel. Mereka akhirnya dievakuasi oleh Pandu ke kamar tamu.


Ira Zerni bersama Pandu saling berpandangan seolah-olah bertanya ada apa?


Sejak beberapa jam yang lalu. Vita Maharani tampak sangat sedih, air mata tak berhenti keluar dari pelupuk matanya.


"Kak, aku antar Vita Pulang yah" izin Pandu kepada Kakaknya yang tak lain adalah tuan rumah.


"Iya, hati-hati"


" Jangan lupa ini, " sambil menyerahkan hampers untuk Rama sebagai cendramata dari Zahwa sang putri.


"Oke Kak, kami berangkat yah" Pandu menuju mobilnya yang sudah siap di halaman. Rama ada dalam gendongannya, rupanya dia sudah tertidur dari tadi.


Setelah memastikan posisi Rama sudah nyaman di jok belakang. Pandu mulai melajukan mobilnya.


Matanya sekali-sekali melirik ke arah Vita Maharani yang tiba-tiba jadi gadis pemurung.


"Kamu mau cerita sesuatu?" Tanya Pandu memecahkan keheningan.


Tak ada jawaban. Vita melempar pandangan ke luar jendela mobil.


"Aku siap ko' jadi pendengar"


Bahu Vita bergetar, ada isakan kecil di sana.


Ia tahu pasti terjadi sesuatu pada gadis ini. awal bertemu semuanya baik-baik saja.


"Apa mungkin terjadi sesuatu di rumah kakaknya tadi?"


pikirnya dalam hati.


Hening, hanya ada bunyi ingus yang ditarik.


Pandu berusaha memberi ruang untuk Vita Maharani sahabat terbaiknya yang lama tidak bersua.


Komunikasi mereka terputus sejak terakhir mereka bertemu pada prom night malam itu.


Pandu melanjutkan pendidikannya di kota lain, yang masih terdaftar sebagai Universitas yang sudah ada MOU dengan Yayasan "TGR".

__ADS_1


Ia mengikuti ayahnya yang ditugaskan di kota itu. Kurang lebih lima tahun dia kembali dengan penampilan yang tak lagi cupu dan gentong kayak dulu.


Tampan dan maskulin dengan rambut lurus sedikit panjang.


"Aku turun di depan "


"Lho, bukannya kamu tidak tinggal di sini?"


"Aku ngekost di sini sekarang"


"Makasih yah"


Vita membuka pintu tapi ternyata terkunci. Ia berbalik menatap Pandu.


"Aku di sini Vit, masih sama" Ujar Pandu pelan.


"Jangan ragu kalau kamu mau cerita"


Pandu menatapnya dalam. Vita mengangguk faham. Pandu memang selalu ada untuknya.


🍁🍁🍁🍁🍁


"Kamu istirahat aja Vit kalau gak sehat" jawab ibu Ira Zerni atasan Vita di kantor. ketika ia menghubungi via telpon atas ketidakhadiran nya hari ini beberapa menit yang lalu.


"Baik Bu makasih banyak" Vita pun menutup panggilan telpon nya.


Vita menarik nafas berat. Hati dan pikirannya yang sedang tidak sehat sekarang. semalaman ia sibuk mengutuk Gala Putra Raditya.


Pagi ini Ia berusaha membujuk hatinya untuk berdamai. Bukan berdamai dengan pria itu, tetapi berdamai dengan kondisinya saat ini.


toh ia sudah berhasil menampar sang Bos.


Walaupun belakangan, Vita meringis cemas takut dia dipecat dengan tidak terhormat karena sudah berani melawan Pak GM.


"Kalo aku dipecat, aku akan menghadap ibu Presdir supaya dia juga dipecat!"


"Enak aja, mau enaknya sendiri" Vita bermonolog sendiri.


Ia tak boleh jadi gadis lemah. Insiden ciuman paksa itu harus segera di hapus dari memorinya. Anggap itu kecelakaan yang manis, eh. UPS🤭


Impiannya jadi perempuan sukses, harus diraihnya. dan untuk sementara di perusahaannya Gala akan ia dapatkan.


" Vit, ada tamu nyariin kamu"


Suara Bu Dewi dari belakang pintu membuyarkan lamunan Vita.


" Iya Buk, bentar"


Vita merapikan pakaiannya kemudian melangkah ke arah pintu.


"Siapa Bu?"


"Katanya sih namanya Pandu"


"Teman baru yah?" tanya ibu Dewi sedikit kepo.


Vita hanya menjawab dengan senyum. lalu bergegas ke arah ruang tamu kos-kosannya.


"Hai, Ndu?" Sapa Vita ketika sampai di ruang tamu.


Pandu menoleh melihat Vita yang masih bermuka bantal, bibirnya menyunggingkan senyum.


"Aku kesini karena kak Ira bilang kamu sakit and gak ngantor"


"Oh, iya lagi gak enak body nih" Vita merenggangkan otot-otot nya sampai berbunyi.

__ADS_1


"Belum mandi nih pastinya" Pandu tersenyum melihat tingkah Vita.


"Kita jalan yuk" ujar Pandu lagi.


"Lho katanya jengukin yang lagi sakit, kenapa malah diajak jalan?"


"Entar malah aku jadi tidak sembuh-sembuh" Vita pura-pura cemberut. Pandu tertawa memperlihatkan giginya yang rapih.


"Aku tahu kamu tuh sakit apa, window shopping bisa buat kamu fresh kembali"


"Ayok siap-siap" Pandu berdiri kemudian mendorong tubuh Vita ke arah kamarnya.


Akhirnya mereka bertiga keliling-keliling kota tanpa tujuan yang jelas. Rama sudah juga diajak.


Tetapi ketika perut sudah mulai keroncongan tempat makanlah yang mereka cari.


" Mau pesan apa?" Tanya Pandu ketika pelayan sudah siap mencatat pesanan mereka.


"Apa aja yang penting halal" jawab Vita mengerling lucu. Ia tahu Pandu masih ingat makanan favorit nya .


Pandu akhirnya menyebutkan semua makanan kesukaan Vita.


"Stop, jangan semua. Gak kuat nanti habisinnya"


Setelah makan mereka pulang tapi di pintu restoran malah bertemu dengan orang yang ingin dia hindari.


Gala Putra Raditya bersama Deka Roland sedang melangkah masuk.


Rama yang sejak tadi ribut berceloteh dan berlarian membuatnya tidak fokus dan menabrak tubuh tegap Gala. Layaknya adegan slow motion dimana Vita yang hampir terjerembab jatuh kemudian Gala segera merengkuhnya. sungguh manis dari luar.


Tatapan mereka bertemu dalam sepersekian detik. Gala melepaskan rengkuhannya. semua kata di bumi ini rasanya hilang entah kemana.


Gala menatapnya datar tanpa ekspresi.


Vita hanya bisa tertunduk dan melanjutkan langkahnya menuju tempat parkir dimana mobil Pandu berada.


Sedangkan Gala,


Tangannya mengepal kuat di samping badannya. Rasa kesal dan malu kembali menyerang nya. Ia tak menyangka kejadian semalam yang membuatnya cukup depresi berbanding terbalik dengan Vita,


"Mereka bahkan pasangan yang bahagia sekali"


"Ya Ampun aku di sini bertindak seolah-olah pebinor yang mau merusak rumah tangga orang lain"


Mengusap wajahnya kasar, berbagai Spekulasi muncul dalam pikirannya.


"Makan apa pak?" Deka menjeda pikirannya yang sangat kacau.


"Kenapa kamu milih makan di sini!" Gala tidak menjawab malah balik bertanya.


"Kita kan biasa makan di sini Pak"


Deka berusaha membela diri. Sejak kapan bos nya ini jadi hilang ingatan.


" Cari tempat yang tidak ada gadis itu!"


"Lho? Mana saya tahu kalo Vita juga makan di sini."


"Jangan sebut namanya!" ujar Gala tegas dengan aura membunuh.


Deka mengernyit bingung. Sensi banget nih pak Bos.


🍁🍁🍁🍁🍁


Hai, hai readers tersayang, othor receh datang lagi nih minta like, favorit, komen, and secangkir kopinya hehehehe.

__ADS_1


__ADS_2