Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 122 Seorang Hama Yang Menyedihkan


__ADS_3

Gadis yang bernama Brenda itu tak melepaskan tatapannya ke arah Gala Putra Raditya. Ia sampai menggigit ujung bibirnya dengan sensual sambil mereemas jari-jarinya. Dadanya berdegup lebih kencang dari biasanya. Entah hipnotis seperti apa yang sang General Manager itu berikan padanya hingga ia begitu menginginkan pria mapan dan tampan itu.


"Mau kemana Brenda?" tanya salah seorang peserta meeting ketika melihat gadis itu berdiri dari duduknya dan tanpa memberi kode minta izin, ia keluar dari ruangan itu dengan segudang rencana didalam benaknya.


"Gadis aneh, jauh-jauh datang dari negaranya untuk menghadiri meeting penting ini hanya untuk menghayal?" ujar gadis itu pada dirinya sendiri.


"Padahal ini adalah kerja sama besar yang bernilai jutaan dollar lho." seorang peserta lainnya menimpali perkataannya.


"Well, Mr. Raditya itu memang hebat ya, aku penasaran sama perempuan dibalik kesuksesannya."


"Dan aku pernah dengar, ia selalu bilang kalau kesuksesannya adalah doa' dari ibunya."


"Hem, dan pasti ada perempuan lain selain ibunya." "Rasanya sayang ya, kalau belum ada penghuni hatinya itu. Ia terlalu gurih sih, hahahha." mereka semua akhirnya malah sibuk menggibahkan Gala Putra Raditya yang masih berdiri di atas sana mempresentasikan program kerja sama yang akan mereka semua sepakati.


Sementara itu di luar sana, Brenda sedang merasa sangat tegang dengan jantung berdegup lebih kencang. Ia ingin sekali bertemu secara langsung dengan Mr. Gala Putra Raditya. Beberapa menit yang lalu ia sudah membicarakan hal ini dengan panitia acara bahwa setelah presentasi dan demonstrasi produk dan program dari perusahaan TGR Global Company yang dipimpin oleh Mr.Raditya, ia diminta untuk menemuinya secara pribadi di sebuah kamar khusus di hotel itu.


Brenda berjalan mondar-mandir didalam yang cukup dingin itu. Sudah beberapa menit berlalu tetapi orang yang diharapkan datang tak muncul-muncul juga. Ia sampai mengepalkan tangannya marah.


"Kenapa ia belum datang juga hah?" tanya Brenda marah. Ia sudah lupa akan tata krama seorang wanita berkelas seperti dirinya.


"Mohon Maaf Nona, tuan Gala tak pernah mau menemui kolega di kamar hotel. Ia baru mau kalau anda keluar dan bertemu di tempat yang terbuka saja."


"Brengsek!" Brenda melempar handphonenya ke atas ranjang. Ia frustasi dan menjambak rambutnya, ia harus menemukan seseorang untuk melepaskan hasratnya itu yang sudah memuncak sekarang juga.


Brenda berteriak dalam diam. Ia seorang pengusaha sukses dan sangat cantik dari negara tetangga, seseorang yang entah apa maksudnya, pernah mencekokinya dengan semacam obat pe rang sang dengan dosis rendah tetapi rutin yang mengakibatkan sel-sel ditubuhnya sudah membentuk sesuatu yang sangat berbahaya. Ia gampang te rang sang hanya karena melihat seseorang yang sangat ia kagumi dan itu haruslah ia lepaskan, kalau tidak ia bisa melukai dirinya sendiri.


🍁🍁🍁🍁🍁


Pandu Gemilang memaksa Hany untuk menemaninya makan siang di sebuah restoran yang agak jauh dari Perusahaan. Ia sudah meminta izin pada manager gadis itu yang tak lain adalah kakaknya sendiri. Mereka bisa saja terlambat pulang karena ada urusan lain yang ingin Pandu kerjakan.


"Kamu ngapain sih ngajak aku jalan jauh begini." tanya Hany sedikit kesal. Ia mengikuti Pandu karena ia sudah mendapat ultimatum dari ibu manager kalo ia harus menerima Pandu sebagai kekasihnya meskipun ia belum ada rasa sama adik dari bosnya ini.


"Hey, jangan kesal gitu dong, kayak gak ikhlas banget deh." ujar Pandu tanpa mengalihkan pandangannya dari kemudi.

__ADS_1


"Emang, aku gak ikhlas." jawab Hany sedikit judes. Pandu hanya tersenyum. Ia tahu ini pasti ulah kakaknya dan ia yakin kakaknya itu pasti punya alasan yang kuat atas keputusannya itu.


"Gak baik lho melakukan sesuatu kalo gak ikhlas, percuma tahu gak?" ujar Pandu santai tapi senyum samar masih saja menghiasi bibirnya. Ia melihat wajah Hany yang ditekuk dari kaca kecil di atas kepalanya. Kemudian ia melanjutkan,


"Udah capek gak berkah pula. Jadi lebih baik kamu ikhlas deh, mau tidak mau kan kamu sudah ada di sini menemaniku." Hany menghembuskan nafasnya kasar hingga Pandu bisa merasakannya.


"Ayo dong senyum."


"Gak!"


"Kalo kamu gak senyum, kita putar balik aja." ujar Pandu sambil menghentikan laju mobilnya. Hany langsung menatap Pandu dan jam tangannya bergantian. Perjalanan sudah lebih dari setengah jalan, rasanya percuma kalau mereka balik lagi.


"Hiiih," Hany menarik ujung bibir kiri dan kanannya dan membentuk senyum memperlihatkan deretan giginya yang putih rapih. Pandu langsung tertawa dibuatnya.


"Hahaha kamu lucu tau gak?" ujar Pandu disela-sela tawanya. Ia mengacak rambut Hany gemas.


"Udah ah, berantakan jadinya kan." Hany manyun lagi karena rambutnya jadi kacau dan berantakan.


Kurang lebih tiga puluh menit kemudian mereka sampai di sebuah restoran sebagai fasilitas dari sebuah hotel bintang lima di kota itu.


"Ada acara apa sih kita kesini?" tanya Hany penasaran. Restoran itu begitu ramai dengan muda mudi seumuran mereka.


"Acara reuni teman kampus aku dulu." jawab Pandu sambil merapikan jas yang sedang dikenakannya.


"Trus, aku sebagai apa dong di sini?" tanya Hany lagi sembari memperhatikan pakaian yang sedang ia kenakan. Rasanya sangat tak sepadan dengan penampilan Pandu yang cukup paripurna saat ini.


"Kamu aku ajak, karena kamu adalah pasanganku, mereka mempersyaratkan itu." jawab Pandu santai sembari menarik tangan Hany untuk memasuki Restoran itu.


"Oh, ternyata gitu toh. Ini kan berarti aku harus berakting sebagai kekasih Pandu, Hem." ujar Hany dalam hati.


"Aku dibayar gak nih." bisiknya kepada Pandu yang sedang mencari panitia acara.


"Bayar apa?" tanya Pandu tidak mengerti. Hany tersenyum manis lalu menjawab.

__ADS_1


"Untuk menjadi pasangan boonganmu."


"Hah? bohongan?" tanya Pandu tidak percaya dengan jalan pikiran Hany. Ia tak pernah berpikir dengan mendekati Hany untuk menjadikannya pacar bohongan tetapi murni karena ia memang suka sama gadis ini. Sejenak ia terdiam, berpikir.


"Baiklah kalau itu mau mu Han." ujarnya dalam hati. Kalau dengan cara itu Hany jadi mau jalan dengannya, baiklah ia akan berpura-pura sebagai pasangan bohongan.


"Aku akan bayar berapa pun yang kamu mau." jawab Pandu balas berbisik juga di telinga gadis itu. Tubuh Hany langsung membeku merasakan gelenyar aneh saat nafas Pandu menerpa tengkuknya. Ia tak pernah berada sedekat ini dengan lawan jenis.


"Ba- Baiklah, aku akan tulis nominalnya sebentar lagi." ujar Hany gugup. Pandu menyeringai.


"Hai Pandu, selamat datang." sapa seorang gadis manis bernama Fania, ia adalah ketua panitia acara reuni ini.


"Hai, kenalkan nih Pasangan aku." Pandu menarik pinggang Hany agar lebih dekat dengannya. Tubuh Hany bergerak bagai robot yang sangat kaku. Ia tak menyangka candaannya tadi malah berakibat seperti ini. "Oh Tuhan, aku takut." jerit Hany dalam hati.


"Hai, kalian cocok banget, baru jadian ya?" tanya Fania dengan senyum menggoda.


"Kok tahu sih?" Pandu balas tersenyum samar.


"Kalian kaku banget, hahahha." Fania sampai menutup mulutnya karena merasa lucu dengan ekspresi keduanya.


"Udah, ah tunjukkan dimana tempatnya." Pandu segera menghentikan tawa Fania, ia tak mau Hany merasa tidak nyaman.


"Kamu lurus aja ke sana. Banyak kok teman kita di sana." Pandu dan Hany segera melangkah meninggalkan Fania menuju arah yang ditunjukkan nya tadi.


"Santai saja ya, mereka semua teman yang menyenangkan kok." ujar Pandu menenangkan karena melihat Hany sedari tadi diam saja dan kelihatan tegang.


---Bersambung---


🍁🍁🍁🍁🍁


Jangan bosan dengan cuap-cuap ku ini ya gaess, Dukung terus karya receh ini dengan cara like, komen, dan Vote , hadiah yang banyak juga boleh agar aku semangat update nya.


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2