Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 67 Pahala Malam Jumat


__ADS_3

Gala Putra Raditya tidak berhenti menatap istrinya yang sangat cantik dalam balutan baju bodo pakaian pengantin khas suku Bugis Makassar itu.Senyum tak pernah lepas dari bibirnya. Vita Maharani sampai malu karena ditatap terus seperti itu. Ia menundukkan wajahnya tak sanggup. Seolah-olah mata elang suaminya akan menelannya bulat-bulat.



Setelah acara resepsi selesai. Mereka berdua sekarang sedang duduk di ranjang dalam kamar pengantin untuk beristirahat. Tamu yang cukup banyak tadi begitu menguras tenaga. Perlahan Gala menggeser duduknya agar lebih dekat ke perempuan yang sangat dicintainya itu.


Ia mengangkat dagu Vita agar mau menatapnya. Tetapi Vita malah menolehkan wajahnya. Wajahnya semakin menghangat karena malu. Ada perasaan yang entah apa namanya dirasakan oleh keduanya saat hubungan mereka sudah halal dan sah. Keinginan untuk saling mendekat dan melepaskan rasa begitu kuat menariknya bagai magnet.


Gala perlahan mendekatkan wajahnya hingga jarak yang begitu dekat itu membuat Vita serasa kehabisan oksigen. Ia menahan nafasnya di dada tak sanggup menghirup udara yang dipenuhi wangi maskulin suaminya. Ia gemetar padahal ini bukan yang pertama baginya diperlakukan seperti ini oleh Gala.


Ujung bibirnya disentuh lembut oleh bibir sang dominan. Ia merasa tersengat arus listrik padahal hanya sapuan ringan tanpa tuntutan. Kelopak matanya ia tutup perlahan merasai arus itu yang mulai mengantarkan gelenyar aneh pada tubuhnya. Perutnya serasa mengembang oleh banyaknya kupu-kupu yang berterbangan di sana.


"Ma...mama..."


"Ma...mama...buka pintunya..."Pintu kamar digedor keras disertai teriakan Rama dari luar. Vita membuka kelopak matanya dan menatap mata Gala yang sudah berkabut hasrat. Gala segera melepaskannya dan melangkah menuju pintu dan membukanya dengan malas.


Tampak mamanya berdiri di depan pintu bersama Rama di sampingnya. Anak itu langsung menerobos masuk ke kamar dan meninggalkan Nyonya Mawar yang merasa serba salah karena ikut serta mengganggu kegiatan pengantin baru itu.


Rama langsung menubruk mamanya yang masih duduk di ranjang dengan ekspresi gugup dan malu. Ia masih sibuk menata debaran jantungnya yang seakan siap meledak karena kegiatan menyenangkan barusan yang diberikan pria tampan itu yang sudah halal menyentuhnya.


Apalagi sekarang mereka hampir saja kedapatan oleh anak dan ibu mertuanya. Ia semakin gugup dan malu. Ia tak mau mengangkat wajahnya.


"Mama...Ama mau bobok, capek mainnya" Rama mengusel-nguselkan kepalanya di paha Vita. Nyonya Mawar Raditya yang ternyata bersama Rama tadi ikut masuk ke kamar pengantin.


"Bobok Ama eyang ya sayang?" bujuk Nyonya Mawar kepada Rama yang masih bertahan di paha Vita.


"Ndak mau...Ama ndak bica bobok kalo cama eyang" ujar Rama sembari menggeleng keras-keras. Nyonya Mawar menatap Gala khawatir. Ia tahu putranya itu kelihatan terganggu akan kehadiran Rama di sini.


"Ayo sayang, ikut eyang kita bobok sama-sama. Eyang ada dongeng untuk Rama" bujuknya lagi sembari menyentuh kepala Rama lembut tetapi anak semakin menenggelamkan kepalanya diantara kedua paha Vita.


"Tidak apa-apa Bu, biar Rama tidur sama saya di sini" Vita segera menimpali melihat ketidaknyamanan kedua orang itu.


"Kami belum pernah pisah tidur Bu. Rama belum terbiasa" ujar Vita sembari memperbaiki posisi Rama yang betul-betul sudah lelah dan mengantuk.

__ADS_1


"Tapi kamu tidak nyaman nak, Pakaianmu saja belum diganti" ujar Nyonya Mawar lagi.


"Sebentar lagi tim wadrobenya pasti ke sini Bu" jawab Vita sembari menepuk-nepuk pantat Rama. Kebiasaannya sebelum tidur.


"Mereka akan membantu melepaskan pakaian ini" lanjut Vita lagi.


"Baiklah, mama keluar dulu, kalau butuh bantuan mama ada di depan"


"Makasih bu"


"Eh, jangan panggil ibu dong panggil mama aja nanti dikirain kita lagi ada di Perusahaan, hehehe" Nyonya Mawar mencoba mengakrabkan diri kepada menantu barunya.


"Iyya ma, terima kasih" Vita menjawab dengan sopan.


"Dan kamu sayang, tidak ganti baju dulu?" Nyonya Mawar balik bertanya kepada Gala sembari memandangnya dari atas sampai ke bawah penampilan putranya yang juga masih menggunakan pakaian adat yang sama dengan Vita. Gala yang sedari tadi diam menatap kegiatan istrinya yang menidurkan Rama dengan masih menggunakan pakaian pengantin yang cukup ribet.


"Eh, iya..aku akan ganti baju di kamar sebelah aja ma" ujar Gala sembari melangkah meninggalkan kamar itu. Ia juga ingin menyegarkan badannya yang cukup lengket setelah menjadi tokoh utama dalam acara pernikahan ini.


Aktivitas di luar kamar sudah sedikit berkurang. Semua tamu sudah meninggalkan tempat acara yaitu kediaman Vita Maharani. Tamu-tamu dari TGR Global Company juga sudah kembali ke hotel tempat mereka menginap, yang tertinggal adalah aktivitas tim Event Organizer yang membereskan sisa-sisa acara.


"Gala, kamu udah lama ya ngincar Vita?" tanya Nyonya Mawar ketika sampai di kamar itu dan membantu Gala membuka baju pengantinnya.


"Kok gak bilang sama mama sih, "Gala hanya tersenyum sembari membuka kancing-kancing bajunya.


"Vita cinta pertama Gala ma, sejak aku menghadiri acara prom night di sekolahnya waktu itu, aku sudah suka tapi belum ada kesempatan," ujar Gala tanpa melepaskan senyum bahagianya.


"Oh, jadi itu alasan kamu menolak Miska?"


"Iya ma, lagipula Miska kan hanya aku anggap adik saja. Dan Vita... ia lah yang harus menjadi ibu dari anak-anakku dan aku tidak mau yang lain, hahahha" sebuah timpukan langsung mengenai bahunya.


"Apa ada aura pemaksaan di sini?" tanya mamanya lagi dengan alis bertaut. Gala hanya menyeringai, dan kembali timpukan mendarat lagi di bahunya.


"Kamu ya...tega sama menantuku." ujar mamanya lagi.

__ADS_1


"Gadis itu keras kepala ma, kalau aku tidak pakai pemaksaan ia pasti belum jadi istriku sekarang dan cucu mama tidak akan kita temukan." Ujar Gala dan membuat Nyonya Mawar langsung terdiam. Ia membenarkan kata-kata putranya.


"Sana kamu mandi dulu..." perintah mamanya setelah semua pakaian itu sudah tidak berada di tubuh putranya. Gala mengangguk dan langsung menuju kamar mandi. Setelah mandi Gala ternyata masih menemukan mamanya masih berada di dalam kamar itu.


"Sana kamu nginap di hotel aja dan bikin cucu lain untuk mama. Biar Rama tidur sama mama aja" ujar Mamanya setelah lama berpikir bagaimana pengantin baru itu bisa berdua kalau Rama masih terus menempel pada mamanya. Tubuh Gala langsung didorongnya keluar dari kamar untuk menemui Vita, di kamarnya.


Gala tentu saja tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia membuka pintu kamar Vita yang sangat indah oleh dekorasi khas kamar pengantin. Tadinya ia tidak memperhatikan hiasan kamar itu. Yang ada dimatanya hanya Sosok Vita seorang.


Perlahan ia mendekat ke arah ranjang dimana Vita sudah berganti pakaian dengan gaun


tidur yang cukup menggoda. Dan sepertinya juga sudah membersihkan diri. Wajahnya tampak polos tanpa sapuan makeup.


Ia menyentuh lengan istrinya itu lembut dan membuatnya melenguh dan bergerak perlahan kemudian merubah posisinya menjadi memeluk Rama seakan memeluk guling.


"Oooh, sudah tertidur rupanya," gumam Gala pelan melihat Vita sama sekali tidak terganggu akan kedatangannya. Ia maklum pasti Vita sudah sangat lelah dan butuh istirahat.


Gala hanya bisa duduk di tepi ranjang sembari memandangi wajah istrinya ngenes. Jari-jarinya menyusuri wajah cantik itu dari matanya, pipinya, hingga berhenti pada bibir merah merekah yang sedikit terbuka itu.


"Ini malam pertama kita Vit, masak ditinggal tidur sih," ujarnya pelan tanpa melepaskan jari-jarinya yang terus memberikan sentuhan ke bibir yang bagaikan candu buatnya. Sekali lagi Vita melenguh mungkin merasa terganggu akan apa yang ia lakukan.


Sudah hampir sejam Gala hanya duduk di sana dan merutuki nasibnya yang malang. Netranya hanya bisa melihat tubuh istrinya yang tertidur pulas dengan balutan gaun tidur yang sudah tersingkap ke atas dan membuat sesuatu dari dirinya berkedut.


Ia sudah tidak tahan. Tangannya sudah tidak bisa dikondisikan dan merayap ke mana-mana dari atas ke bawah terus ke atas lagi memutar, menyapu, dan membelai dengan penuh rasa hingga bibirnya pun tidak tinggal diam. Ia berbisik pelan ke kuping istrinya,


"Vit, ini malam Jumat sayang..." Ia meniup kuping Vita lembut hingga yang punya langsung membuka matanya, Vita merasa sedang berada di alam mimpi dibuai oleh sentuhan-sentuhan yang menggairahkan.


"Kamu tidak mau dapat pahala Vit?" bisik Gala lagi dikupingnya memohon dengan suara serak menahan hasrat.


🍁🍁🍁🍁🍁


Hai, readers tersayang nya othor...


Sekedar mengingatkan kalau malam Jumat tuh bagusnya cari pahala yang banyak kayak babang Gala tuh...

__ADS_1


Like, Komen, and Hadiahnya ya...supaya othor rajin update hehehe maksa


Happy reading 😍😍😍😍😍


__ADS_2