Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 247 Tape Keberuntungan


__ADS_3

"Paketnya nyonya atas nama Pak Rama Putra Tama." ujar seorang pengantar paket kepada Rara yang kebetulan sedang bersantai di halaman depan rumah kediaman Raditya. Ia sedang berbaring santai di sebuah kursi malas dengan bermacam-macam camilan di sampingnya.


"Ah iya, saya istrinya dek."


"Tanda tangan di sini nyonya."


"Terimakasih."


Setelah pengantar paket itu berlalu, Rara menatap paket itu dengan teliti.


"Oh rupanya dari Heru. Aku buka sendiri atau aku tunggu mas Rama gak ya?" tanyanya pada dirinya sendiri.


"Ahaa, aku bawakan aja ke Perusahaan sekalian jalan-jalan." lanjutnya lagi kemudian berdiri dengan pelan. Perutnya yang semakin besar dan


sudah pada akhir bulan menunggu hari lahiran sesuai estimasi dokter benar-benar membuatnya kesulitan berdiri.


"Qiya bantu mama sayang," panggilnya pada putri pertamanya yang sedang asyik bermain masak-masak ala MeyMey di serial Upin dan Ipin.


"Bantu apa Ma?"


"Tarik tangan mama sayang, udah gak bisa bangun ini." ujarnya dengan sedikit meringis, ada rasa sakit melilit di perutnya seperti ingin buang air besar. Vita Maharani sang mertua yang kebetulan berada di lokasi kejadian langsung membantu Rara berdiri.


"Terimakasih Ma," ujarnya kemudian melangkahkan kakinya ke dalam karena merasa perlu bertemu dengan toilet sekarang juga. Vita hanya tersenyum kemudian mengambil paket yang akan Rara bawa ke Perusahaan untuk suaminya.


"Qiya, bereskan mainannya sayang, ikut eyang uti ke dalam."


"Iya, eyang uti." Qiya Menurut, gadis kecil berusia 3 tahun dan berambut kriwil itu membereskan mainannya ke dalam sebuah troley besar. Mereka berdua mendorong troley itu ke dalam rumah besar kediaman mereka semua.


"Ma, lihat paket untuk mas Rama gak?" tanya Rara dengan wajah bingung. Seingatnya paket itu ia letakkan di luar tadi.


"Ini Ra, mama ambil di tempat dudukmu tadi."


"Paket apa sih itu?" tanya Vita yang ikut penasaran.


"Sepertinya sih makanan Ma, Ini ada tulisannya. Boleh aku bawakan ke tempatnya Mas Rama?"


"Boleh. Dari Heru ya?"


"Iya Ma."


"Rara berangkat ya Ma, Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam." Vita pun melambaikan tangannya kepada Rara yang sudah menaiki mobil untuk menuju ke Perusahaan TGR diantar oleh sopir pribadi keluarga mereka.


🍁


Rama begitu kaget dan juga bahagia saat mengetahui kalau istrinya yang sangat ia cintai ada di ruangannya sedang menunggunya.


"Wah mimpi apa aku semalam sampai ratu hatiku bisa ada di sini." ujarnya sembari tersenyum menatap sang istri yang sedang duduk di sofa di dalam ruangannya.


"Ih gombal." jawab Rara dengan ikut tersenyum. Rama semakin gemas dengan perempuan yang sedang mengandung anak keduanya itu.

__ADS_1


"Ra' apa aku tampak ngegombal ya?" Rama mendekati istrinya itu dengan rasa yang tak bisa ia lukiskan. Ia selalu merasa jatuh cinta lagi dan lagi pada seorang Az-Zahra Aisyah.


"Ra' semalam kamu gak ngasih aku lho, padahal aku lagi pengen banget." gerutu Rama memprotes.


"Semalam itu entah kenapa perutku suka itu mas kontraksi dan sedikit menegang gitu, apa mungkin aku akan segera melahirkan ya?" ujar Rara sembari menyentuh perutnya yang besar.


"Emangnya perkiraannya udah sampai ya sayang?"


"Hampir sih sekitar 3 atau 4 hari gitu."


"Oh gitu ya, harus siap-siap dong akunya." ujar Rama sembari menyentuh perut istrinya lembut. Ia bahkan mulai membuka kancing bagian depan istrinya agar tangannya bisa langsung bersentuhan dengan kulit lembut sang istri.


"Siap jadi Papa siaga, pastinya." jawab Rara kemungkinan memperlihatkan paket yang dikirim oleh Heru.


"Aku buka ya mas." ujar Rara tanpa mengabaikan tangan suaminya yang semakin intens meraba perutnya dan juga bagian tubuhnya yang lain dari dalan pakaiannya.


"Gak usah buka yang itu buka yang ini aja." ujar Rama yang mulai merasakan gelenyar aneh di dalam tubuhnya hanya dengan memberikan sentuhan-sentuhan pada kulit istrinya.


"Ih mas Rama, ini di tempat kerjamu mas, bukan di kamar kita. Di sini gak ada tempat tidur." ujar Rara yang sudah mulai merasakan hal yang sama. Ia sudah mulai terbakar juga karena suaminya sudah berhasil membuka pakaiannya yang bagian atas.


"Mas," rintih Rara saat sang suami membawa dua buah miliknya kedalam kekuasaan Rama, yakni tangan dan mulutnya.


"Aku menginginkanmu sayang, sekarang. Boleh ya?"


"Tapi di sini mas, nanti di rumah aja okey?" desis Rara disela-sela cumbuan sang suami padanya.


"Gak apa sayang, " jawab Rama yang sudah berada di atas ketinggian. Ia sudah tidak ingin turun kecuali keinginannya terpenuhi.


Siang itu di ruangannya yang tidak begitu luas mereka berdua saling berbagi rasa nikmat yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Rama membuat sang istri merasakan kembali keindahan surga dunia.


Bibirnya terus bergerak menyimpan tanda kepemilikan di bagian atas dan depan isterinya yang semakin menarik dan menantangnya.


Ia bahkan tersentak kaget karena ia merasakan ada sesuatu yang keluar ketika ia menghisapnya.


"Ra'? udah lama ya seperti ini?" tanya Rama saat merasakan mulutnya terisi.


"Baru saja mungkin mas, kan mas yang selalu itu." jawab Rara malu-malu. Setelah penyatuan yang dipenuhi peluh itu, Rama masih sempat singgah untuk meminum dari sumber telaga kehidupan bagi calon bayinya kelak.


"Kira mandi bareng ya?" ujar Rama sembari membantu istrinya itu untuk bangun. Rara mengangguk setuju.


Setelah beberapa menit mandi, Rama memakaikan kembali pakaian istrinya.


"Makasih ya sayang, itu tadi indah sekali." ujar Rama kemudian mengecup lembut bibir istrinya. Rara hanya tersenyum kemudian membuka paketan dari Heru yang jadi tujuan utamanya datang ke kantor suaminya, tapi malah dinomorduakan.


"Wah Heru, ngirim tape ketan hitam, mas." ujar Rara saat melihat apa isi paket dari Heru di kampung.


"Tahu aja nih Heru kalo aku paling doyan ini." Rama mulai mencicipi rasa tape yang sangat enak itu.


"Coba ini kita makan sayang sebelum anu tadi pasti tenaga aku tambah kuat dan panas." Rama tersenyum samar pada istrinya itu.


"Ih, tidak makan tape aja mas Rama sampai bikin aku minta ampun tadi, lama banget." ujar Rara kemudian ikut mencicipi tape itu.

__ADS_1


"Enak betul mas," ujar Rara sambil memakan sampai 2 buah dalam bentuk bundar-bundar kecil.


"Ternyata ada pesannya mas," ia mulai membuka satu lembar kertas yang berisikan tulisan tangan Heru.


"Selamat menikmati tape buatan Tante Surya, mamanya Reisya, Mereka menunggu kedatangan pak Rama dan nyonya di kampung karena putri mereka segera akan menikah."


"Alhamdulillah. Jodoh Reisya datang juga." lanjut Rara dan menambah mengunyah tape itu terus lagi dan lagi.


"Sayang jangan terlalu banyak makannya. Ini panas lho." tegur Rama kemudian menghentikan gerakan tangan istrinya yang akan memasukkan lagi potongan tape ketan itu.


"Iyya mas, ngerti. Sekarang aku mau minum." Rama berdiri ke arah lemari pendingin dan mengambilkan air mineral kepada istrinya yang tiba-tiba nampak meringis dan memegang bagian bawah perutnya.


"Mas, aku pengen ke Toilet." ujarnya kemudian benar-benar mengeluarkan isi perutnya. Tetapi kemudian ia merasakan nyeri kembali yang tak tertahankan padahal ia sudah bolak balik ke kamar mandi.


"Mas, sakit." Rara mulai mengeluh sakit yang teramat sangat dibagian bawah perutnya.


"Aku telpon Sarah agar segera kesini ya sayang? tahan ya."


Tak lama kemudian Sarah datang dari ruangan Presiden Direktur di lantai tertinggi di gedung pencakar langit itu.


"Ada apa kak? kenapa dengan kak Rara?"


"Perutnya sakit Ra' kita harus bawa segera ke rumah sakit. Mungkin udah mau melahirkan." jawab Rama panik. Ia ingin membawa istrinya segera keluar dari ruangannya dengan bantuan Sarah adiknya.


"Ayo kak, masih kuat jalan gak?" tanya Sarah khawatir. Rara hanya bisa mengangguk dengan wajah meringis menahan sakit. Di depan pintu ruangan Rama ternyata seorang pria muda karyawan baru sedang berdiri dengan berkas ditangannya.


"Adi, kamu siapkan mobil aku ya, antar kami ke rumah sakit." titah Rama pada karyawan baru yang bernama Adi Nugroho itu.


"Siap Pak!" jawab Adi kemudian berjalan lebih dulu menuju valet untuk mengambil mobil sang manager agar bisa langsung siap.


Atas izin Tuhan mereka pun berangkat ke Rumah Sakit terdekat, karena Rara sudah tidak tahan.


"Selamat ya, persalinan istri anda lancar dan sangat cepat ya Pak."


"Terimakasih banyak ya dok. Apa mungkin karena istri saya habis makan tape ya." ujar Rama nampak berpikir.


"Bisa jadi sih pak." jawab dokter itu tersenyum. Ia baru menemukan dalam kasusnya membantu persalinan ibu hamil, yang begitu cepat dan lancar lahir seperti ini. Andai mungkin agak terlambat di jalan, kemungkinannya nyonya Rama ini akan melahirkan di mobil.


"Alhamdulillah ya Allah, aku akan memberikan bonus pada Heru dan Tante Suriya kalo begini." ujar Rama kemudian mengunjungi istrinya bersama putranya yang baru lahir.


---Bersambung--


Selamat ya pak Rama Putra Tama, udah punya sepasang Putra dan putri, itu sisa tapenya bisa kasih othor gak???


Mau ya???


Othor juga suka lho pak Ram?


Tapi lebih suka lagi kalau readers kasih like dan komentar yang positif. Hadiah jg boleh hehehehe


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2