Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 155 Asuransi Hati Dan Perasaan


__ADS_3

Rara masih betah dalam rengkuhan Rama sang pewaris TGR Group. Ia belum menyadari maksud lain dari pria muda ini. Yang ada dipikirannya hanyalah ia harus mendapatkan seorang customer berdompet tebal kemudian melaporkannya pada papanya kalau ia juga bisa bekerja.


Netranya menatap tajam sosok tampan di depannya. "Mata bapak punya tatapan setajam elang, ini paling bagus nih diasuransikan." ujar Rara tanpa berkedip memandang mata elang itu yang serasa menembus jantungnya. Seketika hatinya berdesir aneh tetapi ia berusaha mengabaikannya. "Dan ini hidung bapak juga, mancung dan bagus bak paruh burung beo." lanjutnya lagi.


Sekarang netranya turun ke bibir yang agak tebal berwarna kemerahan milik sang pria yang masih bertahan diposisi mereka saat ini. Ia yakin bos TGR ini tidak pernah menyentuh rokok, warnanya begitu alami. "Bibir bapak juga kayaknya bagus dan legit." ujar Rara yang tanpa sadar jari-jarinya menyentuh permukaan bibir itu. Bibir yang pernah mendarat cantik di bibirnya.


Rama seketika menegang. Sensor motoriknya menginstruksikan kalau mereka harus segera berjauhan atau sesuatu yang sangat dahsyat akan terjadi. Sentuhan dari jari-jari si kucing kriwilnya membuat sesuatu dari dalam dirinya memberontak ingin mencari lawan, apalagi tangannya sekarang sedang berada di pinggang ramping sang gadis. Tanpa sadar ia meremas kuat pinggang Rara, karena berusaha menahan agar ia tidak menggigit jari-jemari Rara yang sedang bermain lembut di bibirnya.


"Aaawww." Dan ternyata ia kalah. Rara meringis menahan sakit di bokongnya karena tangan pria itu tiba-tiba ia lepaskan hingga si kriwil langsung jatuh terduduk di lantai.


"Ih bapak kasar banget sih." gerutu Rara kesal. Ia mengelus lembut bokongnya karena sakit dan untungnya ia mendarat di atas karpet bulu tebal di dalam ruangan VVIP itu.


"Maaf aku sengaja." jawab Rama berusaha santai meskipun dirinya sangat resah karena ingin menerkam gadis kriwil yang sangat galak dan manis itu.


"Ih, gak sopan." salak Rara dengan wajah kesal. Kemudian ia berdiri cepat. "Udah ah, aku mau pulang sekarang."


"Hey, kamu belum jawab pertanyaanku, kucing kriwil!" ujar Rama berusaha menahan gejolak hatinya. Dengan wajah dipenuhi amarah Rara menegakkan tubuhnya dan mendekati Rama kemudian menggigit tangan Pria itu.


"Awwww, kamu menggigitku!" ujar Rama dengan mata melotot tak menyangka si kucing benar-benar menunjukkan taringnya.


"Asuransikan tangan anda saja pak, yang suka sembarangan menyentuh dan menjatuhkan orang sembarangan." Rara berlalu dari sana dengan menghentakkan kakinya. Rama segera memburu gadis itu dengan langkah cepat.


"Hey, kamu gak sopan sama costumer!" teriak Rama dibelakangnya.


"Bodo amat!" jawab Rara semakin jengkel karena baru sadar sedang dikerjain oleh petinggi TGR itu.


"Aku tuntut ya!"


"Silahkan, aku tidak takut." tubuh Rara semakin menjauh dan Rama memberi kode cepat kepada seorang security yang ada di depan pintu untuk menahan gadis itu sampai ia mengambil mobilnya di valet.

__ADS_1


"Memangnya segampang itu kamu bisa pergi lagi, hah!" ujar Rama dalam hati.


🍁


"Ram!" sapa seseorang dari arah barat tempat parkir itu. Rama segera berbalik dan menutup kembali pintu mobilnya.


"Alif! kamu di sini?" tanya Rama dengan perasaan senang. Setelah sekian tahun ia baru bertemu dengan teman lamanya ini. Seseorang yang ia kenal sejak SMA ketika mereka sama-sama menjadi peserta lomba Olimpiade Sains Nasional mewakili kabupaten/kota asal mereka berdua.


"Wah, suatu kehormatan bisa bertemu dengan pengusaha muda seperti kamu." ujar pria muda yang bernama Alif itu.


"Ah, biasa aja kali bro." ujar Rama sambil membalas jabatan tangan teman lamanya itu.


"Udah lama tinggal di sini?" tanya Rama setelah mereka sedikit berbasa-basi.


"Yup, sejak lulus kuliah. Aku ikut membantu kakek mengurusi perusahaannya di sini." jawab Alif sembari memutar-mutar kunci mobilnya. Seketika Rama tersadar kalau ia sedang menahan si kucing kriwil di depan sana.


"Okey, akan aku hubungi secepatnya." ujar Alif kemudian mereka berdua berpisah. Rama segera naik ke mobilnya dan menjemput gadis yang akan ia tahan berlama-lama itu.


"Makasih pak." ujar Rama sambil menyerahkan beberapa lembar rupiah berwarna merah kepada security yang berhasil menahan Rara agar tidak kemana-mana.


"Kamu menyebalkan!" gerutu Rara yang mau tidak mau ikut naik lagi ke mobil Rama meskipun hatinya sangat kesal. Tapi sebelumnya ia sempat memberikan tendangan di tulang kering security itu. Sampai terdengar sang Security mengadu kesakitan tetapi ia tak mampu berbuat banyak. Ia takut karena tuan muda Raditya ini adalah pemilik gadis itu sekarang.


"Kamu bar-bar juga ya!" ujar Rama sambil menahan senyumnya.


"Siapa suruh dia nahan aku di sana, pake tuduhan aku mencuri lagi. Kejam banget tahu gak."


"Hah? mencuri?"


"Iya, orang itu mengancam kalau aku pergi aku akan diteriaki pencuri. Huh sebel. Biarpun aku miskin ya, aku gak akan mau mencuri iiih naudzu Billah, menyebalkan banget." geram Rara semakin kesal.

__ADS_1


"Kamu memang pencuri kok." jawab Rama santai sembari menaikkan kecepatan mobilnya.


"Aaaaaaah." Rara menjambak rambut kriwilnya frustasi.


"Ya ampun, mimpi aku sih semalam, sampe hari ini bertemu sama kamu yang super menyebalkan ini." Rara memukul jidatnya sendiri karena gemas.


"Untung aku tadi sudah makan, coba tidak? aku yakin akan memakan kamu!"


"Nyesel aku sudah traktir kamu." ujar Rama lagi yang semakin mengaduk-aduk perasaan gadis itu. "Kan kalau kamu lapar kamu bisa makan aku." ujar Rama dengan senyum anehnya.


Tak terasa mereka berdua sampai juga di depan gedung pencakar langit milik TGR global Company. Dengan wajah kuyu Rara turun dari mobil itu dan menuju tempat parkir dimana motornya berada. Ia sudah lelah berdebat dengan pria aneh dan menyebalkan itu.


Bahunya menurun karena sedih, segala persiapannya hari ini tak ada yang mendapatkan hasil, malah membuat hatinya semakin kesal dan jengkel. Ia membuka rok yang sedang dipakainya dan menggantinya dengan celana jeans belel yang ia selalu simpan dalam sadel motornya. Kemudian perlahan ia menghidupkan motor ninjanya tanpa lupa memakai helm untuk melindungi kepalanya. Ia sudah tak bersemangat lagi dan rasanya ingin menuju pantai untuk melihat hamparan air biru agar suasana hatinya kembali baik.


Tanpa ia sadari Rama merekam semua yang ia lakukan saat itu. Ia bahkan membuntuti kemana gadis itu pergi. Ia agak khawatir karena Rara tak lagi mau berdebat dengannya dan membalas semua ucapannya.


"Pasti si kriwil sedang kecewa sama aku." ujar Rama dalam hati.


"Aku kan hanya ingin lebih dekat dengannya." lanjut Rama lagi tanpa melepas pandangannya ke depan dimana gadis itu sedang mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi.


"Gadis aneh, kamu tidak paham kalau aku ingin asuransikan hatiku untukmu." gumam Rama dalam hati.


---Bersambung---


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya ini.


Like dan Komen dong, ada bunga Alhamdulillah...ada kopi juga Alhamdulillah, apalagi ada vote...wuih semakin senang...


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2