
Vita Maharani dan Risma Yanti menahan dirinya untuk tidak memuntahkan semua makanan yang telah masuk di mulutnya. Gara-gara aksi ngidam aneh karena sindrom kehamilan simpatik yang dialami oleh duo suami kompak itu, mereka jadi korban yang harus pasrah diperlukan tak berperikengidaman. Bayangkan saja, Gala dan Deka sama-sama menginginkan mie ramen supaya nanti bayi mereka lahir rada-rada mirip dengan artis-artis Korea yang imut dan manis-manis itu. Dan ketika mie ramen pesanan mereka tiba, Gala dan Deka jadi sangat tidak berselera dan mulai merasa mual lagi tetapi para istrilah yang harus menghabiskannya saat itu juga dengan alasan bayinya bisa langsung makan dari perut mamanya.
"Aku tak pernah suka dengan makanan kayak gini Ris," bisik Vita kepada Risma yang juga ternyata tidak menyukai mie ramen.
"Tapi kita harus makan Bu, kalau tidak mereka tidak akan pernah berhenti mual dan pusing." jawab Risma bergidik.
"Ini ngidam atau apa sih, kayak ada bau tidak sedap di sini." ujar Vita merasa dikerjai oleh suaminya sendiri.
"Mereka tidak berhenti mual, tapi mungkin aku yang akan muntah di sini.
"Waduh jangan deh Bu," jawab Risma berusaha tetap waras dibawah tatapan menghina dari para suami yang berwajah pucat karena pusing dan mual sepanjang hari.
"Ris, sekali lagi kamu panggil aku Ibu, kupastikan kamu yang akan makan ini semua." geram Vita kesal karena setiap Risma bicara kata ibu itu selalu menempel. Ia jadi merasa lagi mengobrol dengan anaknya.
"Ayok cepat dimakan!" perintah Gala yang sudah lama menunggu tetapi dua orang dihadapannya ini sibuk mengobrol saja padahal ia sudah membayangkan bagaimana indahnya gaya istrinya yang sedang makan mie ramen dengan menggunakan sumpit seperti orang Asia di luar sana.
"Eh iya mas, tapi aku pakai garpu ya, aku gak bisa pakai sumpit."
"Tidak boleh, harus pakai sumpit." jawab Gala dengan tegas. Vita jadi merasa dikerjai oleh suaminya ini tetapi ia tetap tersenyum dan berniat suatu saat akan membalas suaminya ini. Akhirnya Vita dan Risma memakan mie ramen itu dengan menggunakan waktu yang cukup lama yaitu, lama berdebat dan lama menyumpit.
Esok harinya para suami kompak itu meminta para istri untuk mengikutinya ke pompa bensin terdekat karena mereka tiba-tiba ingin mencium bau bensin langsung dari tempatnya tetapi Vita dan Risma harus ikut melihat mereka berdua menghirup bau bensin itu dengan gaya elegan.
"Ya ampun mas, ini ngidam beneran gak sih, tidak masuk akal banget." gerutu Vita suatu waktu karena sudah sangat lelah dengan permintaan-permintaan aneh suaminya.
"Lho sayang, aku juga tidak tahu tapi kadang tiba-tiba saja keinginan itu muncul." jawab Gala santai. Ia sedang makan rujak buah bersama Deka di Taman samping rumah.
"Kayaknya aku lebih nyaman deh kalau aku yang ngidam daripada mas Gala." gumam Vita pelan. Soalnya permintaan duo ngidam akut ini suka rada-rada aneh dan terkesan dipaksakan.
"Eh jangan, rasa mual dan pusing itu tidak enak banget sayang, semua makanan jadi sangat tidak enak, kamu nikmati saja bawa dedek di dalam sini, yah." ujar Gala dengan menyentuh perut istrinya lembut. Ia mengelusnya lama sembari menatap istrinya dalam, mereka berdua lupa kalau ada sepasang suami istri yang juga lagi ngidam di dekat mereka.
__ADS_1
"Kak," ujar Risma berbisik pelan. Kita ke kamar yuk, aku juga mau kayak mereka." lanjutnya dengan pandangan tak biasa. Tiba-tiba saja libidonya meningkat hanya karena melihat adegan unyu-unyu di hadapannya. Deka tersenyum faham akan maksud istrinya, dengan gerakan tanpa suara mereka berdua pergi dari tempat itu mencari tempat aman untuk berduaan.
🍁🍁🍁🍁🍁
"Vit, peluk aku sayang," ujar Gala dengan suara kelewat manja hingga Vita merasa ini pasti efek ngidam akut yang dialami suaminya itu. Sejak tahu bahwa Vita Maharani, istrinya hamil lagi Gala semakin merasa di atas angin, ia bebas meminta ini dan itu kepada istrinya dengan alasan permintaan bayi dalam kandungan istrinya yang mempunyai kontak batin yang sangat kuat dengan papanya.
"Mas," ujar Vita dengan suara selembut mungkin. Tangannya mulai ia kalungkan di leher sang suami tercinta. Tubuhnya pun semakin dirapatkan sesuai permintaan Gala.
"Hem, " jawab Gala ditengah sesapannya di ceruk leher istrinya.
"Aku mau aaakh, maaas," suara Vita tertahan karena Gala sepertinya terlalu gemas sampai menggigit lehernya.
"Aaaakh, sakit..." Vita pura-pura kesal dengan mengerucutkan bibirnya. Gala melepaskan dirinya kemudian memandang Vita khawatir. "Apa yang sakit sayang, aku cuma pelan-pelan kok." ia memindai leher jenjang istrinya yang nampak kemerahan dan mungkin sebentar lagi akan berubah ungu.
"Gak jadi, mas kasar." Vita menghentakkan kakinya pura-pura kesal padahal ia sendiri sangat menikmati perlakuan suaminya itu.
"Gak!" tolak Vita keras. Ia ingin membalas suaminya sedikit saja seperti ketika ia hamil dulu, saat ia sangat menginginkan suaminya tetapi malah ditolak dengan halus olehnya.
"Vita plis," mohon Gala dengan pandangan mata sayu. Ia sangat ingin beradu kekuatan dengan istrinya itu setelah ia merasa pulih dari rasa mual dan pusing yang selama ini menderanya. Ia ingin refreshing dengan mengunjungi bukit dan rawa yang cukup terjal dengan rasa yang sangat menantang dan memacu adrenalin tetapi sepertinya Vita sedang ingin menguji kesabaranya.
"Kamu tidak takut dikutuk malaikat sayang, kalau kamu menolak, hem." ujar Gala dengan menggunakan jurus terakhir yaitu membawa nama malaikat. Vita seketika membeku, pertahanannya langsung rubuh apalagi detik berikutnya tangan Gala sudah menguasai tubuhnya memberikan sentuhan yang sangat memabukkan sampai ia yang tidak tahu malu merengek meminta lebih dari sebuah sentuhan.
"Mas, "
"Hem,"
"Don't stop please..."
"Never baby, as you wish." bisik Gala lembut sembari mengerahkan semua tenaganya untuk membuat sang istri menyebut namanya dengan begitu indah dan penuh pemujaan.
__ADS_1
Seakan tak ada rasa puas diantara keduanya, mereka terus melaju dan menghentak demi sebuah pemenuhan hasrat yang sudah lama ingin meledak. Kata-kata pujian terus mengudara dari mulut sang dominan menguar di antara udara yang semakin panas diantara mereka hingga mereka berdua tumbang dengan peluh dan senyum puas diantara bibir mereka.
Yah mereka baru saja tiba dari sebuah perjalanan yang sangat indah yang tak bisa dilukiskan oleh kata-kata.
"Terima kasih sayang," ujar Gala lembut sembari mengecup bibir istrinya lama.
'Mmmm mas,"
"Hem,"
"Kamu hebat mas," ujar Vita malu-malu.
"Kok baru nyadar sih." Gala mengambil ujung selimut dan mengelap keringat di dahi dan leher istrinya. Vita senang karena suaminya selalu memanjakannya setiap mereka selesai melakukan sesuatu yang menyenangkan.
"Mau lagi?" tanya Gala dengan pandangan tak biasa.
"Udah, capek." jawab Vita masih dengan senyum di bibirnya.
"Mas, aku mau mudik." ujar Vita pelan, tetapi yang ia dengar bukan jawaban tetapi dengkuran halus menandakan suaminya sudah jatuh tertidur.
"Baiklah, bangun nanti aku akan bilang lagi." gumamnya pelan. Ia pun mematikan lampu dan menyisakan lampu tidur saja yang menerangi kamar itu.
---Bersambung---
🍁🍁🍁🍁🍁
Hai readers tersayangnya othor, gas kan dukungannya yah, Like dan komen jangan lupa.
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍
__ADS_1