
Pagi yang indah bagi pasangan Miska dan Reno. Mereka masih enggan untuk bangun padahal matahari sudah bersinar terang saat itu. Cahayanya mampu menembus sela-sela tirai jendela dalam kamar mereka.
Miska menggeliat pelan dalam pelukan tangan kokoh suaminya. Ia masih betah berlama-lama di sana menghidu rasa maskulin dari pria yang sudah betul-betul sah menjadi suaminya sejak semalam. Mereka saling memberi dalam sebuah rasa yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata.
Rasa yang begitu indah hingga tak cukup jika hanya diteguk sekali bahkan berkali-kali karena menimbulkan efek candu yang sangat dahsyat.
Reno membuka matanya pelan dan mendapati rambut halus Miska tepat berada di bawah dagunya. Memori kejadian semalam berputar bagai rekaman indah di matanya. Ia tak menyangka kalau tembok yang ia bangun telah runtuh dan menyisakan kebahagiaan tersendiri dalam dirinya.
"Mis,..." bisiknya pelan sembari menciumi rambut halus itu. Ia ingin membersihkan diri tetapi ia tidak ingin mengganggu tidur istrinya yang mungkin sangat kecapaian atas kegiatan mereka semalam. Miska kembali menggeliat dan merapatkan pelukannya lebih dalam lagi.
"Aku mau ke kamar mandi, sayang," ulangnya lagi dan berhasil membuat Miska merenggangkan pelukannya hingga Reno bisa bangun dari sana.
"Tidur lagi saja kalau masih ngantuk," ujar Reno sebelum masuk ke kamar mandi. Miska hanya mengangguk sembari menarik kembali selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos. Beberapa menit kemudian Reno yang sudah berpakaian rapih menghampirinya di ranjang.
"Mis, kamu gak usah masuk kerja dulu. Istirahat saja ya," Reno berujar seraya memasang dasinya sendiri. Miska yang sudah terbangun dari tidak menjawab kata-kata suaminya. Ia dengan cepat beranjak dari ranjang dan segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri juga.
Mereka berdua bertemu di meja makan dimana Kapsari Prayanti sudah sibuk menyiapkan ini dan itu untuk anak dan menantunya.
"Biar saya ma, yang melayani kak Reno," bisik Miska kepada mamanya yang sedang ingin menyerahkan piring ke tempat menantunya duduk. Kapsari menatap Miska yang sedang tertunduk malu. Ia menduga ada sesuatu yang baik diantara mereka berdua.
"Baiklah, layani suamimu dengan baik," ujar Mamanya pelan takut kedengaran Reno yang sedang mengutak atik handphonenya. Miska mengganguk masih tak mau menatap mata mamanya yang menatapnya curiga. Pasalnya selama ini Miska setiap pagi tidak pernah punya waktu untuk Reno, yang ia tampakkan hanya wajah kesal saja sama suaminya itu.
"Kak, sarapan dulu," ujar Miska sembari memberikan sebuah piring kepada Reno.
"Makasih," jawab Reno dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya. Ia memandang istrinya lama dengan tatatap yang sulit diartikan, wajah Miska sampai memerah karena malu.
"Jangan tatap-tatapan aja nak, nanti telat lho kerjanya," ujar Kapsari yang merasa risih dengan tingkah anak dan menantunya, seperti orang yang sedang jatuh cinta menatap dengan malu-malu.
"Mama..." ujar Miska manja. Ia malah berlari ke kamarnya karena malu dan sekaligus ingin meredakan debaran jantungnya yang kian menggila. Reno hanya tersenyum samar kemudian memulai sarapan paginya. Sedangkan mama mertuanya menarik nafas lega. Ada rasa syukur yang menghampiri hatinya, atas hubungan keduanya yang mulai ada peningkatan.
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁🍁
Vita Maharani bernafas lega. Ia melangkahkan kakinya ringan ke dalam sebuah Pusat Perbelanjaan ternama di kota itu. Ia ingin Me time nya kali ini dihabiskan dengan berkeliling Mall cuci mata dan berbelanja. Lama ia mengidamkan semua ini.
Sewaktu masih gadis ia ingin sekali seperti ini tetapi kondisi ekonominya saat itu sangat tidak memungkinkannya melakukan itu semua. Setelah punya penghasilan sendiri ia pun tak punya banyak waktu karena harus bekerja dari pagi hingga petang dan ketika akhir pekan tiba ia hanya akan menemani Rama seharian mengganti hari-harinya selama beberapa hari berada di luar rumah.
"Aku punya uang sendiri, sekarang," gumamnya dalam hati.
"Bukan dari uang suami, jadi aku ingin berbelanja dengan puas hari ini, Hem," senyumnya semakin merekah saat menyusuri etalase-etalase toko di hadapannya. Sekali-skali ia berhenti memilih barang apa yang cocok untuk para pelayan di rumah kediaman Raditya.
Setelah beberapa jam berkeliling dengan tangan penuh tas belanjaan. Ia mencari tempat makan dalam area Mall itu, rasanya kakinya sangat pegal dan juga perutnya sudah sangat lapar.
Ia baru teringat tentang Ibu Dewi, pemilik rumah kost tempatnya dulu tinggal. Ia belum pernah memberi kabar kalau ia sudah menikah dan bahkan sudah kembali ke kota besar ini lagi.
"Hmm, aku perlu mencari sesuatu untuk Ibu Dewi," gumamnya pelan setelah menghabiskan satu porsi makanan ditambah segelas jus mangga kesukaannya. Tenaganya sudah pulih kini. Ia kembali mencari beberapa barang untuk ibu Dewi dan para penghuni kost di tempat itu. Ia ingin memberi semacam kompensasi atas keteledorannya tidak mengundang orang-orang ini pada pernikahannya beberapa bulan yang lalu.
Sudah hampir 2X 24 jam mereka bekerja tanpa lelah memulihkan jaringan pada server utama perusahaan multi raksasa itu.
"Pak, Makan dulu," tegur Deka yang melihat Gala masih di depan layar laptop dengan pakaian yang sama yang ia kenakan sehari sebelumnya. Ia bahkan belum sempat makan dengan baik apalagi mandi dan berganti pakaian.
Gala mengibaskan tangannya pelan. Wajahnya yang kusut tanpa senyum masih dalam mode sangat serius. Ia bertekad tidak akan keluar dari ruangan ini kalau tidak berhasil melumpuhkan dan menyerang para hacker sialan itu.
Deka akhirnya keluar dari ruangan itu dan mencari makan untuk dirinya sendiri. Ia takut penyakit magnya kambuh karena ia juga hanya minum kopi dan cemilan seadanya yang disiapkan oleh beberapa staf di ruangan itu. Keadaan darurat ini tidak memberi waktu untuk mereka bersantai apalagi makan dengan nikmat.
Deka melangkah menuju kantin sendiri tak seperti biasanya. Penampilannya tak kalah kusut dari semua staf server IT yang masih lembur dan belum kembali ke rumah masing-masing.
"Aku pesan ini yah," ujarnya sembari menunjuk nasi plus ayam goreng di etalase kantin itu. Ia berniat akan membungkuskannya untuk Gala setelah ia makan.
"Baik pak, minumnya ada?" tanya seorang pelayan yang berdiri di depannya.
__ADS_1
"Es teh aja," jawab Deka kemudian melangkah ke arah sebuaheja kosong di sudut kantin.
Tak lama pesanannya sampai. Ia pun mulai melahap makanan itu seolah-olah tak pernah menemukan makanan selama berhari-hari.
"Minum ini pak, " ujar seseorang yang ia sangat hafal betul suaranya. Deka mendongak dan melihat Risma Yanti berdiri di sana dengan senyum paling manis yang pernah ia lihat. Ia menyodorkan sebuah minuman suplemen ke arahnya.
"Ehem, ..." Risma berdehem karena malu ditatap seperti itu oleh Deka.
"Saya...saya kebetulan ada disini pak," Risma berusaha mencari alasan yang tepat agar pria di depannya ini tidak berada di atas angin. Apalagi senyum Deka yang kelihatan aneh itu membuatnya bergidik.
"Bisa saya minta yang lain?" tanya Deka tanpa melepaskan pandangannya. Risma langsung merasa tidak nyaman ia menduga minuman yang diberikannya tidak disukai oleh Deka sang aspri sekaligus sekpri pak GM.
"Eh, bisa pak, saya ambilkan minuman yang lain," jawab Risma tiba-tiba merasa gugup. Deka menggelengkan kepalanya pelan.
"Bukan itu maksud saya, "
"Kamu bisa kan duduk saja di sini menemani saya makan?" ujar Deka dengan sorot mata memohon. Risma tanpa menjawab langsung duduk di hadapan Deka. Ia tidak tahu harus melakukan apa jadinya ia duduk diam saja.
Deka tersenyum senang, hari ini letihnya selama hampir dua hari berkutat dengan masalah Perusahaan terbayar dengan kehadiran sang pujaan hati di hadapannya. Walaupun mereka tidak melakukan apa-apa dan diam saja di sini itu sudah cukup memberinya penawar lelah.
🍁🍁🍁🍁🍁
Karya ini othor daftar dalam lomba ya gaeess. Jadi mohon dukungan like, komentar, n Kirim hadiahnya ya readers tersayang nya Bhebz.
Dukung terus dengan cara iklankan ke teman-teman, tetangga, dan keluarga.
Nikmati alurnya.
Happy reading 😍😍😍😍😍
__ADS_1