Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 26 Malu Tapi Mau


__ADS_3

Tring


Pintu lift terbuka pas di lantai tempat ruangan kerja Vita Maharani bekerja. Ia bergegas keluar dari sana, berharap Miska tak lagi mengganggunya.


Ia salah, Miska ternyata ikut keluar dan tetap mengikutinya. Vita merasa risih sendiri. Miska bagai ulet yang terus menempel pada daun.


"Hei, Giant!, urusan kita belum selesai" teriak Miska berusaha menghentikan langkah Vita.


"Urusan yang mana lagi?" Vita berusaha bersabar menghadapi Miska yang ngotot ingin mengganggunya.


"Jangan pernah mau bertemu sama Reno" tegas Miska sambil melipat tangan di dadanya.


"Okey, deal! jawab Vita ringan. Ia memang ingin menghindari Reno.


"Dan jangan menggangguku lagi, kamu bisa makan si Reno mu itu untuk kamu sendiri" Ujar Vita Mantap, tetapi sekelebat bayangan Hany sahabatnya yang begitu mengidolakan Reno membuatnya kekurangan power sekarang.


"Sombong kamu ya" Miska mencibir. Sepertinya ia tidak ingin menyudahi pembahasan tak bermanfaat ini.


"Aku yang dari lahir sudah cantik, tak pernah merasa sombong tuh" Ujar Miska santai. Vita rasanya ingin muntah. kemana kecerdasan yang dibanggakan oleh orang ini. Orang ngomong apa dia ngomong apa. Gak nyambung.


"Kalo aku sombong kenapa?" Vita mulai terprovokasi.


"Ada yang bisa aku sombong kan" tantang Vita lagi.


"Aku cantik" Vita meraba wajahnya dengan dramatis.


"Bibirku manis" menjilat bibirnya dengan pandangan mata sayu.


"Aku seksih" kembali meraba bagian-bagian tertentu di tubuhnya yang merupakan favorit lawan jenis. Ia berakting seperti layaknya gadis penggoda.


"Cih, bekal operasi plastik aja songongnya minta ampun" Miska mencibir. Ia tak mau percaya kalau kecantikan Vita sekarang adalah alami tanpa bantuan plastik.


"Ehem, maaf nona-nona cantik" Deka Roland men jeda perdebatan dua gadis cantik di depannya. mereka berdua serentak menoleh ke arah Deka. Rupanya sedari tadi ia mendengar kan pembicaran keduanya. Vita merasakan pipinya memanas. Malu tentu saja yang ia rasakan apalagi gerakan sensualnya tadi cukup ekstrim.


"Kalian berdua diharapkan menghadap ke ruangan Ibu Presdir" ujar Deka sambil memberikan sebuah kertas tebal berbentuk undangan kepada keduanya.


"Baik Pak terima kasih" Vita menjawab dengan. menundukkan kepalanya.


"Sekarang ya! jangan pakai nanti!" balas Deka mengingatkan kemudian meninggalkan dua gadis itu yang masih memasang aura perang.


Deka menekan tombol di handphone nya. mengirim video singkat tentang kedua gadis yang baru saja tertangkap kamera nya sedang melakukan kekerasan verbal.


Deka tersenyum samar. Untung mereka sedang tidak Jambak-jambakan.


Sementara itu di tempat lain.


Tring (anggap nada pesan yang masuk ya)


Smartphone Gala Putra Raditya berbunyi tanda ada pesan masuk.


"Video dari Deka?" bisik nya dalam hati sambil menekan pesan masuk yang berbentuk video itu.


Matanya berbinar terang layaknya dapat suntikan energi dari PLTU. Ada senyum samar terbit dari bibirnya.


Tring

__ADS_1


Deka berjingkrak senang, bunyi M Banking di HP nya menunjukkan ada transferan senilai satu buah mobil baru masuk dari sang bos sekaligus sepupunya.


good Job!


hapus video itu di handphone dan di ingatanmu!


Atau Bonus mu tidak akan bisa dicairkan!


Pesan beruntun dari Gala membuat kepalanya pening seketika.


"Menghapus Video mah gampang, tapi kalau dari ingatan?" Deka mendengus.


"Auto kepala harus di install ulang dong"


wkwkwkwk


🍁🍁🍁🍁🍁


Nyonya Mawar Raditya mempersilakan dua karyawan barunya untuk duduk. Ia memindai sosok keduanya dengan tatapan dingin. Dari balik kacamatanya Ia menatap Vita dengan dahi mengernyit.


"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Nyonya Mawar Raditya sambil melepas kacamatanya. pandangannya masih tertuju pada sosok Vita Maharani.


"Iya Bu. Kita pernah bertemu di Confrence room beberapa hari yang lalu" jawab Vita mantap.


"Maksud saya, di suatu tempat selain di Perusahaan ini"


"Tidak, Bu maaf, ini kali kedua kita bertemu"


"Oh iya, baiklah kalau begitu" Nyonya Mawar menghela nafas pelan.


"Selamat pagi semuanya" Sapa General Manager yang tak lain adalah Gala Putra Raditya. Ia melangkah masuk dengan senyum bahagia tak seperti biasanya.


Duduk dengan tenang di samping ibu Presdir. Ia mengambil alih pembicaraan.


" Kami mengundang Ibu Vita Maharani dan ibu Miska Todler ke sini untuk membicarakan kontrak produk yang anda berdua sudah temukan dan kembangkan untuk kemajuan perusahaan" Ujar Gala panjang lebar.


"Dan juga penandatanganan hak paten atas produk tersebut agar tidak mudah diakui oleh para pesaing kita di luar sana"


Semua diam menyimak penjelasan Pak General Manager.


"Apa ada pertanyaan terkait kontrak, hak paten, dan pendapatan atau keuntungan yang akan anda dapatkan setelah menandatangani kontrak ini?" Ujar Gala setelah menyerahkan beberapa salinan surat perjanjian ke hadapan Vita Maharani dan Miska Todler.


Suasana hening dalam beberapa detik. yang terdengar hanya bunyi kertas yang dibolak-balik. Vita dan Miska sibuk membaca kontrak perjanjian itu dengan teliti.


"Maaf, Pak" Akhirnya keluar juga suara Miska setelah lama mempelajari situasi.


"Sepertinya nominal Pendapatan ini masih sangat kurang untuk sebuah produk amazing yang saya temukan" Miska menunjuk kan jumlah nominal yang terdapat dalam lembaran ke tujuh pada surat perjanjian tersebut.


"Mengenai hal itu, kami memang menuliskannya seperti itu" jawab Gala ramah.


"Pendapatan ibu Miska bisa naik bergantung hasil dari pasar"


"Begitu pun untuk Ibu Vita Maharani"


"Jika level penjualan meningkat atau dengan kata lain produk ini mendapat respon yang luar biasa di pasaran, maka tentunya akan mempengaruhi pendapatan ibu berdua"

__ADS_1


"Syarat dan Ketentuan berlaku ya" tandas Gala sambil mengerling ke arah Vita.


"ish" Vita mencebikkan bibirnya kesal. berharap tidak ada yang melihat aksi pak GM ini.


"Okey, saya pikir anda berdua sudah faham dan setuju"


"Silahkan tanda tangan di sini" Gala menunjuk beberapa tempat agar Vita dan Miska lebih mudah menemukan tempatnya bertanda tangan.


Mata Gala tak sengaja melihat jam tangan mungil pemberiannya bertengger manis di pergelangan tangan Vita saat membubuhkan tanda tangan nya.


Ribuan kupu-kupu serasa terbang di perutnya. Nasib baik sepertinya berpihak padanya hari ini.


"Ia memakai pemberian ku" gumamnya sambil Tersenyum samar.


"Kalau tidak ada lagi yang bisa kami kerjakan di sini, kami mohon undur diri" Vita berdiri dari duduknya kemudian menunduk hormat kepada ibu Presdir yang sedari tadi mengamatinya.


"Bukan kami" ujar Miska tiba-tiba.


"Saya masih ada urusan di sini. kalau ibu Vita Maharani sudah mau keluar, ya Silahkan" lanjut Miska sambil mengarahkan tangannya ke arah pintu keluar.


"Baiklah, saya permisi Bu, Pak GM" Vita berbalik berniat melangkah keluar.


"Tunggu!" ujar Gala menginterupsi


"Eh"


"Saya juga undur diri Bu Presdir. saya ada urusan sedikit dengan ibu Vita Maharani" Gala segera berdiri dan mendahului langkah Vita keluar ruangan.


Nyonya Mawar Raditya berpandangan dengan Miska, mereka berdua mengedikkan bahu bersama.


Belum sampai diluar Ia meraup tangan Vita dan menyeretnya ke sudut ruangan yang cukup tersembunyi oleh pandangan.


"Kamu suka?" tanya Gala memandang takjub pada jam tangan mungil pemberian nya.


"Tentu saja Pak terima kasih banyak" Ujar Vita malu. Ia mereemmas tangan nya canggung. Ada rasa malu karena kedapatan memakai jam tangan itu. Gala semakin mengembangkan senyumnya.


"Saya tidak terima ucapan seperti itu" Ujar Gala santai. ide jahil kembali muncul diotaknya.


Eh


"Temani saya malam ini, ke acara launching produk baru di X"


"Mohon maaf, Pak" Vita menunduk.


" Saya tidak bisa, malam adalah waktu saya berdua dengan seseorang"


duarrr


Gala terhempas ke dunia nyata. Ia kecewa. Ia sempat lupa kalau Vita sudah bersuami dan mempunyai seorang anak.


Ia melangkah keluar meninggalkan Vita tanpa sepatah kata pun. Vita hanya bisa mengernyit bingung.


"Eh, Pak GM kenapa?"


"Padahal kalau dipaksa kan aku bisa saja mau" gerutu Vita pelan.

__ADS_1


__ADS_2