Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 41 Pesona Sang General Manager


__ADS_3

Vita Maharani tampil sangat cantik hari itu. Blouse hitam yang ia padukan dengan rok plisket mini dengan warna senada begitu sangat kontras dengan kulitnya yang putih mulus.


Rambutnya ia sanggul bak pramugari sebuah maskapai penerbangan. dengan sebuah syal merah hati dengan totol-totol hitam sebagai variasinya melilit cantik di lehernya yang jenjang.


Ia memamerkan senyumnya yang paling manis. Ada kepuasan tersendiri ketika ia sudah melakukan perintah sang bos.


Dengan hati riang ia menyerahkan beberapa berkas penting yang sudah ia kerjakan dengan sungguh-sungguh kepada Gala Putra Raditya sang General manager.


"Ini Pak, silahkan diperiksa ulang" Vita menaruh berkas-berkas itu di depan Gala yang tampak sibuk di depan layar laptopnya. Sepertinya ia tidak mendengarkan suara Vita.


"Pak..." ujar Vita sembari mengetuk ujung meja sang bos. Gala hanya melirik sebentar kemudian melanjutkan kesibukannya bermain Mobile Legend.


Bibir Vita mengerucut sebal. Usahanya memelototi berkas-berkas itu selama berjam-jam sepertinya tidak dihargai oleh sang bos. ia kecewa karena diabaikan.


Akhirnya ia kembali ke mejanya dengan menghentak-hentakkan high heelsnya.


"Sudah capek juga, bukannya bilang terimakasih eh malah..." ujarnya menggantung. menarik nafas berat ia kembali berujar.


"tampil cantik pula eh, dicuekin" gumamnya kesal.


Gala melirik dengan ekor matanya. Ia tidak tahan untuk tersenyum walaupun sangat samar. ia merasa Vita sangatlah lucu kalau lagi kesal. Setelah itu ia kembali berpura-pura sibuk.


Melihat Vita memakai syal pemberiannya tanpa sadar ia tersenyum lebar. Hatinya menghangat.


Perutnya terasa dipenuhi ribuan kupu-kupu karena senang.


Ingin sekali ia melompat untuk memeluk dan menciumi gadis yang sangat cantik itu tetapi ia berusaha menahan hasratnya. Ia tak mau Vita histeris dan malah menyemprotnya dengan makian.


🍁🍁🍁🍁🍁


Tiga hari ini, Vita Maharani merasa semua anggota tubuhnya berubah keriting. Bagaimana tidak ia betul-betul seperti tahanan rumah wajib lapor. Apa saja yang ia lakukan harus dilaporkan kepada Gala sang bos yang super menyebalkan itu.


Semua pekerjaan yang mau ia kerjakan juga harus lolos seleksi darinya. Makan siang yang biasa ia lakukan bersama Rama di Daycare atau bersama Hany di kantin kini tidak boleh lagi ia lakukan.


Belum lagi selama berada satu ruangan dengan sang bos, ia tak pernah melihat wajah Bosnya tersenyum. Ia selalu kelihatan bermuka datar sedatar tembok.


Pokoknya Vita Maharani hampir dibuat gila oleh kelakuan sang Bos. Keberadaannya sering diabaikan. Kalau Vita bicara kepada sang bos, ia seperti hanya berhadapan dengan tembok. Datar dan dingin.


Dan hari ini ia memutuskan untuk memasang bendera perang. Ia sudah tidak tahan akan perlakuan Pak General manager padanya.


Ia akan menerima konsekuensinya daripada ia gila.


"Ini Pak ada titipan pesan dari manager Divisi pemasaran" ujar Vita sembari menyerahkan selembar kertas dalam sebuah map berwarna merah.


"Ketemu dimana sama Edwin?" tanya Gala tanpa mau melihat map yang diserahkan oleh Vita. Ia tahu manager Edwin akhir-akhir ini suka sekali mencari perhatian sama Vita.

__ADS_1


"Ketemu di ruangan ini, pak"


"Tadinya beliau mau bertemu langsung dengan bapak, tapi karena bapak tidak ada..."


"Beliau menitip ini sama saya" jawab Vita dengan sangat jelas.


"Apa saja yang kalian bicarakan?" tanya Gala lagi.


"Tidak ada Pak" Vita tak mau mengatakan kalau manager itu mengajaknya makan siang. Untung ia tolak.


"Lain kali jangan mau menerima tamu laki-laki" ujar Gala datar.


"Kalau penting pak, masak ditolak"


"Sejak kamu jadi tahanan di sini. Aku tidak menerima tamu! faham kamu" Gala mengacungkan jari telunjuknya ke wajah Vita.


"Kalau Miska yang datang kenapa bapak terima" Vita tak mau kalah. ia sudah jengah dengan ulah sang bos.


"Dan para karyawan centil itu" ujarnya lagi dengan bibir mengerucut sebal.


"Hei, kamu cemburu?"


"Aku? No!"


"Ngapain juga cemburu, bapak cuma bos dan bukan siapa-siapanya aku"


"Kita tunggu pak dilain kesempatan, aku akan mengalahkan mu dengan telak" bisiknya dalam hati.


🍁🍁🍁🍁🍁


Wajah Gala Putra Raditya berubah menjadi merah karena emosi yang ia tahan. Tangannya menggenggam erat smartphonenya hingga rasanya sebentar lagi akan pecah berkeping-keping.


Ia tak sengaja membuka ig_story dari sahabat baiknya Aril Buank. Di sana ia melihat gambar Vita Maharani sang pujaan hati yang sedang makan bersama pria yang pernah adu jotos dengannya.


Seketika darahnya mendidih melihat gambar lainnya ketika Pandu, ya nama pria itu adalah Pandu sedang menyentuh bibir Vita dengan ekspresi yang sangat menyebalkan bagi seorang Gala.


Dengan cepat ia menghubungi Aril Buank agar segera menghapus gambar-gambar itu. karena mata dan hatinya terasa sakit bila melihatnya.


"Halo" Aril Buank menjawab pada dering pertama. Ia tahu betul aturannya kalau Gala akan mencak-mencak emosi kalau panggilannya diabaikan.


"Hapus itu ig_storymu!" perintah Gala tanpa basa-basi terlebih dahulu.


"Hey, kenapa?" tanya Aril dengan bingung.


"Sudah aku bilang, hapus ya hapus! mataku sakit lihat gambar yang jelek seperti itu" jawab Gala lagi memaksa.

__ADS_1


"Tapi itu untuk promosi Cafe Gulu Guluku" jawab Aril masih bertahan.


"Hapus semua gambar atau video yang ada hubungannya dengan orang yang ada dalam gambar itu"


"Tapi..." Aril berusaha menyela.


"Atau Cafemu aku ratakan dengan tanah dan tinggal nama saja!"


Tut


Aril Buank menatap Handphonenya dengan dahi mengernyit bingung. Mimpi apa ia semalam hingga dapat ancaman menyeramkan seperti ini.


Sambungan telepon dimatikan sepihak oleh Gala karena emosi. Ia melangkah menuju ke arah Vita yang sedang mengutak-atik handphonenya.


Dengan kasar ia merebut handphone Vita agar perhatian gadis itu hanya berpusat padanya.


"Eh, Pak Gala" ujar Vita kaget. Ia menatap wajah Gala yang nampak aneh dengan seringaian di bibirnya.


"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Vita lagi karena pandangan mata Gala tak lepas darinya.


"Bisa kamu tunjukkan dibagian mana pria itu menyentuhmu?" tanya Gala sembari melangkah lebih dekat ke arah Vita.


Eh


Gala memberi kode pada Deka yang juga berada di ruangan yang sama agar segera keluar dari sana. Deka patuh. Ia keluar tanpa mau melihat apa yang akan dilakukan sang bos kepada Vita.


Vita bingung akan pertanyaan Pak General Manager itu. Ia berusaha berpikir tetapi otaknya buntu. Apalagi jarak yang begitu tipis ini membuatnya tidak bisa konsentrasi. Pesona Gala menghipnotisnya begitu dahsyat.


Gala terus mendesaknya ke dinding sampai ia sudah tidak bisa bergerak lagi. Wangi Parfum maskulin Gala memenuhi Indra penciumannya.


"Apa ia menyentuh ini?" Gala menyentuh tangan Vita kemudian mengecupnya. Ia ingin menghilangkan jejak tangan Pandu di sana.


"Apa ia juga menyentuh ini?" Ia menyentuh bibir Vita yang sedikit terbuka dengan ibu jarinya. Vita menahan nafas, entah kenapa ia tidak bisa berontak. Kedua matanya ia tutup tak berani menatap mata elang Gala yang berkabut.


"Buka matamu" bisik Gala pelan di kupingnya. Ia merinding. Gelenyar aneh merambati seluruh tubuhnya. Ilmu hipnotis Gala sedang bekerja, ia membuka matanya perlahan dan kembali mendapati bola mata Gala yang menghitam pekat seakan menginginkan sesuatu.


Ya ampun, mata Vita turun ke bibir Gala yang sangat menggoda imannya.


Entah bisikan darimana tetapi ia menginginkan hal yang sama. Tanpa Gala duga kali ini Vita yang berinisiatif menyapukan bibirnya ke bibir Gala. Rasa malu terasa menguap entah kemana.


Gala tidak tinggal diam. Ia merasa mendapat sinyal hijau. Tangannya menekan tengkuk Vita agar peraduan bibir itu semakin dalam. Ia dengan rakus menghisap, meluumate, dan mengeksplore daging kenyal tak bertulang itu sembari tangannya yang satu bergerilya di bawah sana hingga menimbulkan suara ******* dari bibir manis Vita.


🍁🍁🍁🍁🍁


Duh maaf nih othor potong dulu, mau kebelakang habisnya udah kebelet sih hehehe

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen. kasih bunga atau secangkir kopi bolehlah.


Happy reading 😍😍😍😍😍


__ADS_2