Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
# Part 171 Serangan Jantung Karena Reksadana


__ADS_3

Setelah mengantarkan Rara kembali utuh ke rumahnya. Rama melajukan mobilnya kembali ke kediaman Raditya tempatnya selama ini tinggal. Hatinya sudah sedikit lega karena sudah tahu persoalan sebenarnya yang menimpa Rara, gadis penakluk hatinya itu.


Meskipun Rara masih belum membalas perasaannya itu tetapi ia akan tetap berjuang membebaskan gadis itu dari tangan tuan Reksadana yang belakangan ia tahu, bahwa beliau adalah orang yang sangat berbahaya.


Dengan langkah cepat ia menuju kamar eyang putrinya.


Tok


Tok


Tok


"Assalamualaikum eyang, bisa Rama masuk?" ujar Rama sambil melongokkan kepalanya ke sela-sela pintu yang terbuka. Ia melihat eyangnya itu baru saja melaksanakan sholat duha karena mukena masih terpasang di tubuhnya.


"Waalaikumussalam, masuk sayang." jawab Nyonya Mawar tanpa mengubah posisinya yang masih duduk di atas sajadahnya.


Rama pun masuk dan mencium punggung tangan eyangnya.


"Dari mana Ram? kok baunya kayak dari pergi jauh." Nyonya Mawar mengendus kembali tubuh cucunya yang sangat ia hapal betul baunya. Rama tersenyum cengengesan, ia lupa kalau eyangnya ini sangat hafal betul dirinya. Dan pastinya hidung eyang putri sudah bisa mencium bau parfum lain di tubuhnya, yaitu parfum Rara yang sudah menempel karena ia telah memberikan pelukan yang cukup ekstrim tadi pada gadis itu.


"Tanganmu sudah kamu cuci kan?" ujar Nyonya Mawar yang mulai curiga kalau ia telah memegang yang bukan haknya.


"Tidak eyang, aku belum menyentuhnya sejauh itu." jawab Rama malu. Padahal tadi ia ingin sekali membuat Rara itu jadi miliknya seutuhnya dengan modus asuransi, agar gadis itu bisa percaya padanya.


"Ingat, jangan sembarangan menyentuh anak gadis orang nak, kalau sudah halal barulah kamu bisa melakukan apa saja, 25 jam." ujar Nyonya Mawar sampai membuat Rama tersenyum kemudian meralat kata-kata eyangnya,


"Bukan 25 eyangku sayang cukup 24 jam saja."


"Halah, nanti kalau kamu sudah rasakan rasanya pasti kamu ingin menambah jumlah jam sehari-semalam." jawab Nyonya Mawar sambil tertawa. Wajah Rama jadi menghangat karena malu.


"Eyang, aku mau tanya sesuatu, boleh?" tanya Rama sedikit ragu. Takutnya ini berhubungan dengan masa lalu yang tidak menyenagkan dari sang eyang putri.

__ADS_1


"Tanya saja yang ingin kamu tanyakan, eyang sudah tua, sudah lama dikasih kesempatan oleh Gusti Allah menikmati Fasilitas mewah hidup ini." ujar Eyang sendu. Rama segera memeluk tubuh perempuan tua itu yang semakin hari semakin kurus dan lemah karena penyakit yang dideritanya.


"Eyang kenal tuan Reksadana?" tanya Rama langsung ke inti permasalahan sehingga ia berada di sini mengganggu eyangnya yang sedang berzikir pagi. Lama Rama menunggu karena tak ada respon yang diberikan oleh perempuan tua yang sangat ia kasihi itu, perempuan yang masih berada dalam pelukannya. Perlahan ia melepaskan tubuh eyangnya yang terasa membeku dan nampak sesak nafas.


"Eyang putri!" teriak Rama panik kemudian mengangkat tubuh tua itu keluar kamar dan membawanya ke Rumah Sakit. Sepanjang perjalanan ke mobil ia berteriak-teriak memanggil semua orang yang ada di rumah itu. Dan meminta sopir untuk segera membawa mereka berdua ke Rumah Sakit.


Rama menjambak rambutnya kasar. Ia tak akan memaafkan dirinya sendiri kalau sesuatu yang buruk terjadi pada eyang putri kesayangannya. Serangan jantung ini pasti akibat dari pertanyaannya tentang tuan Reksadana itu.


Berkali-kali ia mengintip ruangan ICU dimana eyang putrinya ada di dalam sana belum sadarkan diri.


"Ya Allah, apakah keinginanku justru akan membuatku kehilangan eyang putri? oh tidak. Eyang sadarlah." Rama tak berhenti merapatkan doa agar eyangnya bisa melalui masa-masa Kritisnya itu.


"Ram!" panggil Gala yang baru tiba bersama Vita istrinya.


"Papa," Rama memeluk tubuh tegap papanya dengan rasa penuh penyesalan.


"Hey, ada apa Ram?" tanya Vita ikut menimpali. Ia juga penasaran apa sebenarnya yang terjadi pada ibu mertuanya.


"Ceritakan ada apa Ram, jangan bikin Mama penasaran kayak gini." timpal Vita dan menarik tubuh Rama yang masih memeluk papanya.


"Eyang putri terkena serangan jantung setelah aku tanyakan informasi tentang.tuan Reksadana, ma."


"Oh ya ampun, Mas kenapa bisa begini, sih?" tanya Vita panik. Gala menarik nafas panjang.


"Ini yang papa khawatirkan sebenarnya, tetapi kamu sudah mengambil jalan cepat menanyakan hal ini pada eyang."


"Padahal papa sudah mencari informasi lebih banyak tentang bukti-bukti kejahatan Reksadana agar kita bisa menyerangnya lewat itu, tapi kamu terlalu tidak sabaran." ujar Gala dengan pandangan tak terbaca pada putranya. Ada rasa kesal diwajahnya akan tindakan Rama melangkahi wewenangnya.


"Maafkan aku Pa, aku kira Papa tidak bersedia membantu aku." Rama bersujud di depan Gala meminta ampun.


"Sudahlah, doakan saja eyang putri masih bisa melihat mu menikahi gadis itu." ujar Gala kemudian melangkahkan ke ruangan ICU yang mulai terbuka. Dokter Sam ada di sana tersenyum ramah.

__ADS_1


"Mari Pak Gala kita bicara di dalam." ujar dokter spesialis jantung itu dengan ramah. Gala mengikuti langkah sang dokter dengan harap-harap cemas.


"Bagaimana kondisi mama saya dokter?" Dokter Sam sejak lagi tersenyum kemudian menjawab.


"Alhamdulillah Nyonya Raditya sudah melalui masa kritis setelah kami beri kejut jantung."


"Alhamdulillah ya Allah. Tapi ngomong-ngomong Apa sebenarnya yang terjadi dokter?" tanya Gala dengan rasa syukur dan penasaran secara bersamaan.


"Jantung nyonya Raditya sempat berhenti beberapa menit tadi tetapi untungnya putra anda segera membawanya kemari."


"Usahakan tidak lagi memberinya berita buruk atau semacamnya karena sewaktu-waktu jantungnya bisa saja berhenti berdetak secara permanen." jelas dokter Sam dengan pandangan mata serius.


"Lalu apa gunanya pemasangan ring yang sudah dipasang di jantung mamanya saya dokter?"


"Dalam beberapa kasus, pasang ring jantung juga dapat menjadi solusi alternatif terhadap operasi bypass koroner, sebab pasang ring jantung jauh lebih tidak invasif dibandingkan operasi bypass. Selain itu, waktu pemulihan dengan pasang ring jantung juga jauh lebih cepat, dibandingkan dengan operasi bypass." jawab dokter Sam, kemudian melanjutkan,


"Kendati demikian, pasang ring jantung juga memiliki sejumlah risiko, seperti penggumpalan darah, serangan jantung, alergi obat, infeksi pembuluh darah, dan pembuluh darah yang menyempit kembali." kemungkinan tersebut bisa saja menyerang Nyonya kembali pak Gala."


"Tim dokter sudah berusaha keras begitu pula dengan keluarga anda, tinggal kita serahkan pada yang maha Kuasa. Terus terang kami lihat Nyonya Mawar sungguh punya tekad yang kuat untuk sembuh. Saat tersadar tadi, ia sempat memanggil nama Rama." dokter Sam menatap Gala serius.


"Terima kasih banyak dokter. Apa saya sudah bisa melihat mama?" tanya Gala dengan penuh harap.


"Bisa, tetapi hanya anda sendiri. Dan jangan mengungkit pembicaraan anda yang terakhir agar kondisi kesehatannya bisa cepat stabil."


"Baik dokter," jawab Gala kemudian melangkah mengunjungi mamanya yang masih terbaring lemah dengan begitu banyak kabel-kabel penunjang kehidupan pada tubuh tua itu.


---Bersambung---


Like dan Komen dong, udah gitu aja🤭


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2