Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 196 Bertemu Kembali Dengan Mantan


__ADS_3

Penentuan hari pernikahan Sovia dan Andika diputuskan dua bulan dari hari ini. Karena Gala masih banyak proyek yang harus ia handle di seluruh Indonesia. Begitupun dengan Andika, ia juga sedang giat-giatnya melakukan sebuah reset tentang pengembangan kompetensi para karyawan di kantor Papanya.


Yang terpenting adalah Andika dan Sovia sudah mulai dewasa dan mereka berdua sudah lebih bisa menyelami perasaan masing-masing. mereka berdua berjanji tak akan bertingkah kekanak-kanakan lagi.


Aktivitas kembali berjalan seperti sedia kala. Dan yang paling menggembirakan di tengah sibuknya para tokoh utama di keluarga Raditya dan Sebastian adalah Risma Yanti melahirkan seorang putri yang sangat cantik melalui operasi Caesar. Usianya yang sudah memasuki 43 tahun begitu beresiko jika ia melahirkan secara normal.


Semua orang bergembira dengan lahirnya bayi kecil mungil dan cantik itu. Termasuk Adam yang merasa mempunyai mainan baru yang sangat lucu. Ia sampai meminta izin tidak masuk kuliah dengan alasan ingin menjaga mama dan adik kecilnya.


"Ma, dedek kecil kok lucu sekali sih," ujar Adam sambil mengelus lembut pipi bayi mungil itu. Risma hanya tersenyum melihat putranya yang sangat gembira punya adik baru, padahal biasanya seorang kakak yang bertaut usia sangat jauh merasa malu punya adik lagi tetapi tidak bagi Adam. Ia bahkan tidak mau lagi ke kampus karena ingin menjaga dan merawat adik kecilnya.


"Adam, udah dua hari lho kamu tidak ke kampus, awas lho tidak lulus." tegur Deka karena melihat putranya itu menempel terus pada mama dan adiknya.


"Tidak apa-apa Pa, aku udah kirim semua tugas yang diminta dan juga aku minta izin sama dosennya."


"Kamu izin alasannya apa?" tanya Deka penasaran.


"Aku izin kalau ada putri kecil baru lahir dan kerjanya cuma tidur dan aku harus menjaganya, Pa." jawab Adam dengan wajah polosnya. Deka langsung tertawa merasa lucu dengan alasan seperti itu.


"Itukan alasan anak SD, Dam. Ya ampun mana ada anak kuliahan bisa punya alasan kekanak-kanakan kayak gitu."


"Bayinya lucu Pa, Adam gak mau ninggalin. Rasanya Adam juga pengen punya bayi. Pasti seru karena gak usah direcoki sama Papa kalau aku mau dekat-dekat kayak gini." ujar Adam sembari terus mengelus lembut pipi adiknya yang betah tidur dari pagi sampai sekarang.


Deg


Deka dan Risma saling berpandangan. Mereka saling mengirimkan pesan lewat tatapan mereka berdua.

__ADS_1


"Apa mungkin Adam juga pengen nikah setelah melihat semua sepupunya pada menikah?" pertanyaan itu seolah-olah muncul di kepala sang orang tua. Deka menarik nafas berat. Adam masih kuliah tetapi sekarang sudah memikirkan hal yang sangat serius.


🍁


Meskipun Rama dengan berat hati mengizinkan sang istri tercinta untuk kembali bekerja sebagai petugas asuransi tetapi akhirnya ia izinkan juga karena sang istri ingin mewujudkan mimpinya menjadi seorang wanita karir dari hasil kerja kerasnya sendiri.


Rara memasuki lokasi perkantoran perusahaan Double Insurance dengan wajah ceria. Ia kembali bersemangat setelah sempat sakit karena teror itu. Hampir 3 bulan ini ia bersama Vita mama mertuanya dan juga keluarganya berjuang terus melawan ketakutan yang sering datang ketika melihat atau membicarakan darah.


Masa-masa itu pun dilaluinya dengan baik. Tak ada lagi hal yang mencurigakan dan menakutkan karena rumah di jaga dengan baik oleh banyak pengamanan. Tak boleh ada paket atau kunjungan dari orang yang tidak dikenal. Begitu pun di rumah kedua orangtuanya. Gala sang mertua mengirimkan banyak penjaga di sana agar teror dan peneror tidak datang lagi melanjutkan aksinya.


"Pa, aku masih berkantor di tempatku dulu kan?" tanya Rara setelah sampai di Perusahaan itu.


"Iya, sayang. Papa sebenarnya ingin menjadikanmu sebagai sekretaris papa saja tetapi menurut Info dari dewan direksi. Akan ada mutasi besar-besaran di perusahaan ini karena seorang presiden direktur baru akan menggantikan pejabat yang lama yang lagi dimutasi keluar negri.


"Oh, begitu ya Pa. Kalau begitu aku ke tempatku dulu ya." ujar Rara pada papanya kemudian meninggalkan Ilhamsyah yang tiba-tiba merasa tidak nyaman dengan aturan baru perusahaan.


Ia tak pernah mau menceritakan masalah ini kepada siapapun termasuk istrinya karena tak mau membuat orang-orang menjadi khawatir. Dan sekarang Dewan Direksi akan mengirim orang baru untuk memimpin Perusahaan ini, ia sebagai karyawan haruslah patuh dan taat pada keputusan penentu kebijakan.


"Semua karyawan diminta ke aula pertemuan untuk menyambut presiden direktur yang baru!" terdengar pengumuman di setiap ruang-ruang kerja setiap departemen.


"Ayo Ra' kita ke aula, kita sambut bos baru kita. Katanya sih ia tampan dan masih muda." ujar seorang karyawan yang bernama Tina.


"Aku sudah punya pria tampan di hatiku Tin. Jadi setampan apapun dia aku tak akan tergoda." Jawab Rara sembari membayangkan wajah suaminya yang akhir-akhir ini selalu membuatnya tersenyum-senyum sendiri.


Ia sekarang mengikuti langkah Tina menuju aula dan kemudian duduk dengan tenang menunggu siapakah gerangan yang akan memimpin perusahaan ini setelah Papanya.

__ADS_1


Dadanya seakan berhenti berdetak ketika melihat yang muncul di podium untuk memberikan pidato singkat adalah Alif Reksadana. Tiba-tiba ia merasa menyesal karena mau kembali bekerja.


"Atas nama Az-Zahra Aisyah, ada surat dari pak presiden direktur." ujar salah seorang karyawan yang sedang memasuki ruang kerja Rara.


Deg


Tubuh Rara tiba-tiba merasa gemetar hebat. Ia tahu pasti orang yang memanggilnya adalah Alif Reksadana mantan tunangan yang memiliki masa lalu yang buruk dengannya.


Dengan menarik nafas panjang ia memenuhi undangan dari sang Presdir.


"Anda memanggil saya Pak?" tanya Rara saat masuk ke ruangan Alif Reksadana. Pria muda itu tidak menatapnya. Ia hanya sibuk membuka dan membaca berkas yang sedang menumpuk di hadapannya.


"Silahkan duduk nona Az-Zahra Aisyah." ujarnya dengan suara dingin. Rara pun duduk dengan hati menciut karena takut. Sifat bar-barnya menguap entah kemana.


"Kamu saya pilih menjadi sekretaris pribadi saya. Dan mulai sekarang tempatmu ada di ruangan ini bersama sekretaris yang lain." ujar Alif dengan ekspresi tak terbaca.


"Tapi pak. Saya sebenarnya kesini bukan untuk bekerja. Saya hanya menengok papa saya." jawab Rara dengan suara bergetar takut. Ia sudah memutuskan untuk mundur dari pekerjaan ini. Ia lebih memilih jadi sekretaris pribadi suaminya daripada harus bekerja bersama dengan seorang psikopat seperti Alif Reksadana.


"Oh, begitu ya, sayang sekali kalau begitu." ujar Alif sembari menatap tajam pada mata Rara.


"Kalau begitu saya minta maaf, karena telah mengambil waktumu. Anda bisa keluar dari ruangan ini." ujar Alif dengan wajah tenang, setenang telaga. Rara jadi merasa aneh sendiri, karena ia tahu sifat Alif yang pemaksa.


"Baik pak, saya permisi." ujar Rara dan segera melangkah keluar dari ruangan itu. Alif memandang punggung Rara yang menjauh sembari menyeringai.


---Bersambung--

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor, mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya.


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍 😍😍😍


__ADS_2