
Risma Yanti dan suaminya, Deka Roland datang berkunjung di Rumah kediaman Raditya setelah 3 hari pernikahan putra mereka dengan putri dari Gala dan Vita Maharani itu.
Sekarang hubungan mereka naik satu langkah lebih dekat lagi, yaitu besanan.
"Halo Balqis, tambah cantik aja nih," sapa Vita ketika Mereka bertiga memasuki ruang keluarga, dimana semua anggota keluarga Raditya sedang bersantai.
"Ayo Bilqis Salim sama Om dan tante sayang," bisik Risma Yanti pada putri keduanya itu. Usianya yang baru 7 tahun itu terkadang masih sering malu dan juga sungkan.
"Bilqis sini salam sama kakak juga," ujar Sovia sembari melambaikan tangannya pada sang gadis cilik yang berhijab itu.
Bilqis melangkah kearah Sovia yang sedang memangku Renzy putri keduanya yang berusia hampir 3 tahun itu.
"Bilqis ajak main dong dedek Renzy," ujar Sovia sembari mencolek dagu gadis kecil adek dari Adam itu.
"Iya Tante, eh Kakak," jawab Bilqis sedikit canggung, ia bingung mau memanggil apa pada Sovia, tante atau Kakak.
"Halo kak Bilqis, main yuk," sapa Qiya yang baru saja tiba bersama kedua orang tuanya.
"Ayok," jawab Bilqis dengan wajah langsung ceria, gadis kecil itu memang lebih dekat dengan Qiya daripada Renzy yang suka menangis dan merebut mainan dari mereka.
Tetapi ternyata Renzy mulai berdiri dari pangkuan mamanya, ia mengikuti kedua gadis cilik itu untuk bermain.
"Sarah sama Adam mana Vit?" tanya Risma Yanti sang besan setelah memperhatikan keseluruhan ruangan dan belum melihat kedua pasangan pengantin baru itu.
"Biasalah pengantin baru, suka lama bangunnya. Begadang sih," jawab Deka sang suami sembari menyentuh tangan istrinya.
"Ah iya lupa," ujar Risma tersenyum. "Asal jangan meninggalkan sholat aja," lanjutnya masih dengan senyum diwajahnya.
"Adam, rajin berjamaah kok sama kita, Sarah aja yang tak pernah muncul di Musholah." ujar Gala membela menantu barunya itu.
"Sarah lagi kedatangan tamu mas," jawab Vita dan langsung membuat mereka yang sedang duduk bersama di ruangan itu langsung berpandangan dengan pikiran yang sama di otak mereka.
Kasihan Adam
"Mamaaa, Renzy sama Reza ngambil mainan kita!" teriak Qiya tiba-tiba. Suaranya melengking disertai tangisan melaporkan kalau sepupunya itu suka jahil.
__ADS_1
"Renzy, Reza!" tegur Sovia pada dua putra dan putrinya itu. Ia merasa tak nyaman karena setiap bermain putra putrinya itu selalu membuat kegaduhan, Apalagi kalau bersama Qiya putri kak Rama.
"Huaaaa mamaaa," terdengar lagi suara Qiya menangis bersama dengan Bilqis. Kedua gadis kecil itu langsung berlari mencari mama mereka masing-masing.
"Ini ada apa sih, dari tadi ribut mulu?" tanya Rara dengan suara yang sudah tidak sabar. Kupingnya lelah mendengar keluhan putrinya tentang kelakuan Reza dan Renzy yang suka menganggu.
"Reza Ma, suka ambil mainan kita," lapor Qiya sembari menghapus air matanya.
"Reza sayang, gak baik lho ganggu orang main. Lagian kan Reza cowok jadi mainannya harusnya mainan cowok juga dong," tegur Rara pada Reza putra sulung dari Sovia dan Andika itu.
Reza yang ditegur begitu oleh mamanya Qiya langsung lari dari ruangan itu sembari melemparkan mainan Qiya hingga rusak. Ia pergi dari sana dengan meraung marah.
Vita memandang Sovia dengan tatapan tajam.
"Ada apa dengan Reza, Sov? kok perilakunya seperti itu nak?" Sovia hanya terdiam kemudian menjawab pertanyaan mamanya.
"Gak tahu Ma, sejak suka main handphone dan main game anaknya jadi suka emosi tak terkontrol seperti itu, Renzy pun suka diganggu dan dibikin nangis." Semua yang ada di dalam ruangan itu saling berpandangan. Reza akhir-akhir ini memang tampak berbeda.
Meskipun tidak semua game online memberikan dampak negatif, penggunaan yang berlebihan akan menimbulkan beberapa dampak negatif yang dapat merusak masyarakat.
Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa pemain game kekerasan lebih mengadopsi pandangan sosial berdasarkan game yang dimainkan.
Pemain game cenderung mengembangkan pikiran dan perilaku agresif.
Anak yang cenderung melakukan kekerasan, seperti memukul adik atau teman sebayanya, biasa disebut agresif. Perilaku agresif bisa berbentuk fisik maupun verbal yang bertujuan menyakiti orang lain.
Pada dasarnya, perilaku ini dikategorikan normal pada anak-anak sebagai persiapan untuk melakukan perlindungan diri.
Namun hal ini tidak normal manakala berkembang tidak terkendali.
"Ada baiknya kamu menjauhkan dulu Reza dengan game-gamenya itu sayang," ujar Vita pada sang putri.
"Iya Ma," jawab Sovia menunduk. Ia sadar selama ini demi untuk membuat Reza tenang, ia jadi sering memberinya handphone untuk bermain game.
"Berikan dia pilihan untuk aktif mengolah fisik, seperti, olahraga senam, sepak bola, dan beladiri untuk menyalurkan ketegangan dan energi yang ada pada Reza. Usianya sekarang sedang aktif-aktifnya Sov,"
__ADS_1
"Iya Ma,"
"Dika, luangkan waktumu nak untuk bermain dengan putramu,"
"Iya Ma, Insyaallah, aku akan menyediakan banyak waktu untuk Reza, putraku itu."
"Selain itu aku juga sudah punya rencana untuk mendaftarkannya di Club football di sekolahnya." jawab Andika dengan senyum di bibirnya.
"Bagus itu, " jawab Gala ikut nimbrung. "Anakmu bisa jadi sehat dan kuat. Karena di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat pula." lanjut Gala menyetujui ide dari Andika, sang menantu.
"Qiya juga mau main bola Pa, boleh ya?" ujar Qiya sembari menarik ujung kemeja Rama, papanya.
"Qiya, kita kan cewek, kita main mainan untuk anak perempuan aja, ayok," ujar Bilqis kemudian menarik Qiya, si gadis kecil putri Kak Rama agar meninggalkan percakapan orang dewasa itu dan kembali melanjutkan permainan mereka yang sempat terganggu oleh keisengan Reza dan juga Renzy.
"Ajak Reza juga untuk mulai mengaji seperti Bilqis," ujar Deka ikut berpendapat.
"Iya, betul banget tuh Om, aku juga mau daftarin Qiya ditempat belajarnya Bilqis," ujar Rara antusias. Rama mengangguk setuju.
"Lihat Bilqis sudah banyak belajar membaca doa sehari-hari dan juga sudah pintar baca Qur'an." lanjut Deka memuji sang putri bungsu.
"Nah, gitu begitu yang bagus, masukkan semua anak-anak kalian di tempat belajar seperti itu." tambah Gala sembari meraih Renzy yang sedang bejalan ke arahnya.
"Mama punya kenalan nih, ibu guru Paud namanya jeung Susi, kalian bisa daftarkan juga anak-anak kalian di sana, sudah terbukti bagus." ujar Vita memberi ide.
"Ah iya Ma, Qiya udah cocok tuh, usianya udah 4 tahun kan, "
"Iya, nanti mama minta brosur PAUDnya, dan sore hari bisa ikut ngaji sama Bilqis, gimana Ris?"
"Aku sih setuju aja Vit, yang penting anak-anak sudah punya bekal sejak dini, kita sudah bisa tenang." jawab Risma tersenyum.
"Tapi eh, ngomong-ngomong itu pengantin baru betah amat di kamarnya ya? kita udah makan dan minum banyak di sini tapi mereka kok belum turun-turun juga?" lanjut Risma dengan wajah penasaran, pasalnya ia datang kemari ingin berjumpa putranya dan juga menantunya.
Author: Mau tahu apa yang mereka lakukan di atas sana? cuss pantengin terus Gadis Pemimpi menjelang Tamat, hehehehe
---Bersambung--
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍, eh jangan lupa like dan komentarnya ya gaesss