Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 116 Belajar Kepada Vita Maharani


__ADS_3

Entah apa yang telah mereka makan hingga dua orang penting di TGR global Company ini merasa mual dan selalu ingin muntah. Kepala mereka terasa pusing dan berkunang-kunang hingga Gala Putra Raditya bersama Deka Roland bolak balik bergantian masuk kamar mandi untuk mengeluarkan isi perut mereka.


Deka yang selama ini selalu tanggap dan cekatan ketika sesuatu terjadi pada pak general Manager kini tak bisa diharapkan. Ia sendiri tumbang disamping Gala putra Raditya.


"Perasaan kita tidak makan yang aneh-aneh ya." ucap Gala dengan wajah pucat.


"Pak, aku bahkan sudah tidak bisa mengambil handphone untuk meminta pertolongan." ujar Deka dengan suara lemah.


"Tidak usah meminta tolong, kita istrirahat saja pasti sebentar lagi akan baikan. uweeeek." jawab Gala yang kembali lari masuk ke kamar mandi untuk mengeluarkan semua isi perutnya.


"Uweeeek." Deka ikut-ikutan mual dan mengikuti Gala ke kamar mandi.


Sementara itu di rumah Kediaman Raditya. Vita Maharani dan Risma Yanti sedang bersuka cita. Mereka sedang asyik mengobrol dengan sekali-kali saling melemparkan canda dan tawa.


"Eh, beneran Bu. Pak GM sampai segitunya kalau lagi mau." ujar Risma sambil memegang perutnya yang keram karena dari tadi tertawa.


"Iyya, emangnya suamimu gak seperti itu ya?" tanya Vita balik.


"Ya sama sih Bu.hahaha. Emang laki-laki diotaknya cuma begituan aja ya isinya, Hem."


"Kalo masih pengantin baru ya isinya 99 persen katanya sih gitu."


"Nah kalau pengantin lama bu?" tanya Risma penasaran.


"Ya, berkuranglah persentasenya. Kan udah punya anak dan masih banyak urusan lain yang harus dipikirkan bukan cuma yang itu aja," jawab Vita mantap tetapi hati kecilnya menolak, soalnya sampai sekarang suaminya itu masih saja Omesh bahkan lebih dari biasanya.


"Bu, gimana ya kalau seandainya aku tidak bisa memberikan keturunan sama kak Deka." ujar Risma tiba-tiba dengan suara pelan dan sedih. Ia sudah lebih dari dua tahun menikah tapi tanda-tanda akan punya anak masih jauh dari harapan.


"Hei, jangan bersedih gitu dong. Yang penting kan sudah berusaha ya sayang." Vita menyentuh bahu Risma yang melorot karena sedih.


"Usahanya tokcer gak?" tanya Vita sambil menarik turunkan alisnya menggoda Risma.


"Iyya Bu, sering dan lama deh Bu, tapi kok belum jadi ya?" pipi Risma memerah karena malu dengan jawabannya sendiri.


"Udah pernah cek ke dokter obgyn?, sapa tahu ada masalah gitu diantara kalian." tanya Vita menyelidik soalnya ia tahu betul gaya kerja dua orang ini. Mereka sering tak punya waktu untuk hal-hal seperti itu demi sebuah tugas dan pekerjaan di Perusahaan. Hari ini saja ia memaksa Risma untuk tidak ikut ke Perusahaan agar istirahat dulu. Ia beralasan meminta bantuan Risma di rumah padahal ia hanya ingin agar Risma lebih rileks menghadapi hidup. Kan para suami sudah bekerja untuk para istri, sekali-kalilah mereka juga menikmati waktu untuk bersantai sejenak.


"Kak Deka tidak pernah mau, Bu.Katanya kita udah usaha maksimal tunggu aja dikasih sama Tuhan."

__ADS_1


"Eh, usaha itu bukan cuma di ranjang kali, Ris." Vita mendelik sedikit kesal.


"Cek kesehatan suami istri setelah usaha di ranjang itu baru maksimal." Risma hanya menunduk pasrah. Ia akan mencoba membujuk lagi suaminya nanti untuk periksakan kondisi mereka.


"Udah ah, jangan sedih kayak gitu. Yuk kita menikmati hari ini tanpa gangguan para suami kita." Vita dengan semangat menuju ruang Gym milik Gala Putra Raditya ketika ingin berolahraga dan membentuk badannya agar semakin berotot. Ruangan itu berada di lantai satu dekat kolam renang. Ia pernah diajak ke ruangan itu untuk melakukan sesuatu diluar nalar Vita. Sebuah kegiatan menyenangkan di ruangan yang ekstrim katanya mempunyai nilai estetika tersendiri apalagi dilanjutkan di kolam renang, wah pasti rasanya seru dan memancing adrenalin yang tinggi. Begitu alasan suaminya setelah berhasil memaksanya dengan segala macam rayuan.


"Mas, kan ada tempat nyaman di kamar." jawab Vita waktu itu.


"Kamu belum merasakan sensasinya sayang, pokoknya kita harus coba." ujar Gala dengan segala rencana diotaknya.


"Malu mas, nanti dilihat orang."


"Ini ruang pribadiku sayang, kolam renangnya saja bisa ditutup kayak gini." Gala berusaha terus bernegosiasi demi melancarkan rencananya.


"Okey deh."ujar Vita akhirnya. Karena ia tahu tak kan bisa menolak kalau suaminya sudah dalam mode on-fire begitu.


"Bu, kok senyum-senyum sendiri sih." suara Risma membuyarkan lamunan Vita.


"Ah, gak cuma ingat aja tempat ini sangat berkesan sama aku dan papanya anak-anak."


"Hem, curiga aku Bu."


"Sini deh Ris, coba pake ini." Vita menunjuk treadmill yang biasa ia gunakan ketika berat badannya mulai naik. Risma menggeleng tidak berani.


"Maaf Bu, takut nanti gak kuat ngimbangin speednya."


"Eh, kan bisa diatur sayang, pelan-pelan kayak gini." Vita mulai mempraktekkan dengan kecepatan lambat.


"Nah, gini kan, enak. ini tuh bisa melatih pernafasan kita. Supaya gak cepat loyo kalo ngandepin para pemangsa itu." ujar Vita sambil mengedipkan satu matanya. Risma langsung merasakan pipinya memanas. Ternyata bukan cuma pak GM yang katanya omesh ternyata istrinya juga 11 12 dengannya, pantas saja mereka semakin hari semakin lengket.


Vita sekali lagi memaksa Risma untuk naik ke treadmill itu dengan iming-iming bisa memperkuat otot kaki dan paha. Ia yang sudah berniat belajar pada Vita itu akhirnya menurut. Ia menaiki alat itu pelan dengan kecepatan pelan pula. Vita tersenyum senang.


"Nah, gitu dong. Kalo otot kaki dan paha kuat, dijamin deh kita juga kuat itu." sekali lagi Risma memerah pipinya. Lama-lama ia ngobrol dengan nyonya GM, ia yakin ilmu tentang itu sudah pasti ia kuasai dengan baik.


"Aku tambah speednya ya," ujar Vita sambil menekan tombol speed agar lebih cepat. Awalnya Risma masih bisa mengimbangi gerakan kakinya tetapi lama-lama ia jadi kewalahan. Ia yang memang tidak biasa berolah raga atau mengerjakan hal-hal berat berbau fisik ternyata tak mampu kecepatan laju treadmill itu dan malah terjatuh dari landasan. Kepalanya pening dan pandangannya kabur. Ia sudah tidak merasakan hal lain lagi dan akhirnya tidak sadarkan diri.


"Risma, hei..." teriak Vita panik.

__ADS_1


"Jangan bercanda dong, Ris." Vita makin panik saat menggoyang badan Risma yang masih belum bergerak.


"Bik, tolong..." Ia lari ke luar ruangan dan meminta pertolongan. Meminta seorang pelayan agar menelpon dokter keluarga Raditya, yaitu dr. Sukmawati. Tak berapa lama menunggu dokter itupun datang dan memeriksa keadaan Risma yang sudah mulai siuman setelah diberi minyak kayu putih di hidungnya.


"Ibu Risma gak papa kan?" tanya dokter kepada Risma.


"Iya dok, tadi cuma pusing aja, sekarang udah baikan kok." senyum Risma lembut.


"Lancar datang bulannya Bu?" Risma mengangguk.


"Sudah tes peck?" Risma mengenyit bingung dengan pertanyaan dokter itu.


"Minta tolong sama pelayan dibelikan tes peck ya Bu, sekarang." Vita yang mendengar itu segera menuju kamarnya sendiri untuk mengambil beberapa persediaannya. Ia dulu pernah membelinya tetapi belum sempat dipakai eh udah positif duluan.


"Ini dokter." ujar Vita sambil menyerahkan alat uji hamil instan itu kepada dokter Sukmawati.


"Gak sekalian nyonya juga pakai?" tanya dokter dengan tersenyum sambil menunggu Risma dari kamar mandi.


"Untuk apa dokter?" tanya Vita merasa lucu. Ia kan baik-baik saja.


"Coba deh, kasihan udah beli banyak tapi belum pernah coba sendiri kan?" Vita mengangguk. Ia juga ingin mencoba seperti ibu-ibu pejuang garis dua lainnya di luar sana. Meskipun ia merasa belum mau menambah momongan dulu.


Tok


Tok


Tok


"Ris, kok lama banget di dalam, tahu caranya kan?" teriak Vita dari luar pintu kamar mandi. Tak ada suara sampai mereka yang ada di ruangan itu panik.


----Bersambung----


🍁🍁🍁🍁🍁


Hai readers tersayangnya othor, Semangat menyambut pagi...


Dukung terus karya receh ini ya gaess. Like, komen, dan kirim hadiah yang banyak agar aku senang dan semangat updatenya.

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍


__ADS_2