
Destinasi selanjutnya sesuai keinginan Nyonya Gala Putra Raditya adalah berkeliling pulau dengan menggunakan yacht atau perahu. Pulau Sanrobengi adalah tujuan mereka kali ini. Hamparan pasir putih dengan deretan pohon-pohon yang sengaja di tanam untuk memberi efek dingin dan segar dari udara air laut yang biasanya membawa angin panas dan asin.
Deka sebagai panitia bulan madu plus plus ini tidak mengikuti mereka karena begitu padatnya acara lomba yang akan mereka adakan. Selain itu juga Deka pastinya akan menjadi obat nyamuk dari keromantisan pasangan budak cinta yang tak mengenal waktu dan tempat itu.
"Mas,..." panggil Vita kepada Gala yang sedang memeluknya dari belakang. Mereka sekarang ada di atas kapal bertiga dengan sang nahkoda.
"Ada apa, Hem?" Gala berharap istrinya ini bahagia dengan bulan madu ini. Walaupun tidak menggunakan kapal pesiar seperti keinginan orang kaya pada umumnya.
"Kalau anak kita lahir nanti maunya cewek apa cowok, sih"
"Aku yang penting kamu dan dedek bayinya sehat dan selamat itu sudah bikin aku bahagia sayang, cewek atau cowok sama saja."
"Tapi aku maunya cewek, katanya anak pertama itu bagus kalau cewek,"
"Semua yang dikasih Tuhan itu baik sayang...jangan sampai terbebani yah?"
"Hem,"
"Atau aku cek lagi nih, sapa tau udah keliatan jenis kelaminnya," Gala mulai mengeratkan pelukannya dari belakang, ia mulai memikirkan hal-hal yang menyenangkan dari pembicaraan ini.
"Maas, kok suka banget sih cek cek," Vita mulai merajuk manja, ia sudah bisa merasakan sesuatu di belakangnya mulai terbangun.
"Wajarlah sayang, kan aku ayahnya, pasti dia suka kalau dicek setiap waktu,"
Mereka merasakan laju perahu mulai melambat, Tampak di depan mata mereka dermaga kecil sedikit demi sedikit mulai terasa dekat ke ujung kapal.
Gala melompat duluan ke bawah pijakan papan di dermaga itu menanti Vita yang akan turun dengan mengulurkan tangannya. Ia sedikit khawatir karena langkah istrinya itu sedikit oleng karena kapal bergoyang oleh ombak yang menabrak body kapal.
"Hati-hati sayang," ujar Gala yang langsung merengkuh tubuh istrinya saat melompat dari atas kapal.
"Wah amazing," Vita menatap takjub pemandangan indah di depannya. Hamparan pasir putih dengan kilauan air laut begitu cantik di dalam pandangannya.
"Welcome to Sanrobengi Island," suara Vita cukup nyaring membaca tulisan besar di atas gerbang utama pulau itu.
"Sanrobengi, I am coming," teriak Vita sembari melompat kecil dengan riang yang membuat hijab dan baju longgar yang ia kenakan melambai ringan tertiup angin. Gala sampai ngeri dibuatnya, Vita seakan lupa kalau sedang mengandung.
__ADS_1
Ia segera menangkap tubuh istrinya itu agar tidak terlalu banyak bergerak.
"Kayaknya enak ya mas, tinggal di sini," ujar Vita ketika mereka sedang duduk di bibir pantai membuat istana pasir.
"Ada enak dan tidak enaknya juga sih," jawab Gala sembari mengumpulkan pasir-pasir itu untuk dijadikan kastil-kastil kecil.
"Enaknya yah, kita bisa bebas berdua sayang, karena tidak ada gangguan Hem," Gala mengerling ke arah Vita yang langsung disambut dengan rona merah di pipi istrinya itu. Entah kenapa otak mereka selalu bisa terkoneksi dengan cepat jika berhubungan dengan aktivitas menyenangkan di dalam kamar itu.
"Kita ke Villa sana yuk," ajak Gala sembari membantu istrinya untuk berdiri. Ia menepuk-nepuk bokong istrinya yang montok itu dengan tangannya sendiri karena banyaknya pasir yang menempel.
"Mas,..." Vita merajuk karena suaminya meremasnya lembut. Gala hanya tersenyum gemas.
"Coba Rama ikut mas, pasti ia senang banget main di pantai." Tiba-tiba Vita jadi teringat dengan Rama. Sejak ia dinyatakan mengandung ia jadi tidak banyak waktu bersama dengan balita itu. Emosinya yang kadang cepat berubah membuat Rama takut padanya. Ia jadi merasa bersalah pada anak itu.
"Nanti kita akan berlibur bersama, mama juga pasti senang." ujar Gala menenangkan istrinya yang sudah menampakkan wajah sedih.
Langkah mereka sudah sampai di atas Villa yang sangat indah karena posisinya yang menjorok ke tengah laut. Seorang pelayan membawakan dua macam minuman. Es kelapa dan juga juice jeruk. Gala menyodorkannya kearah Vita.
"Minum dulu kamu pasti haus," Vita meraih es kelapa saja. Konon katanya kalau ibu hamil minum air kelapa bisa membuat kulit bayi jadi putih bersih saat lahir. Gala meminum habis sisanya yaitu juice jeruk.
"Mas aku jalan ke sana dulu ya, penasaran sama keramaian di tempat itu," izin Vita pada suaminya yang sudah tertidur nyenyak.
Vita kemudian melangkah ke arah sebuah tempat outbound yang diramaikan oleh para muda mudi yang Vita tebak adalah para mahasiswa dari sebuah universitas.
"Hai, Nyonya Gala Putra Raditya," sapa seorang perempuan seksih yang ia ingat bertemu Dengannya di restoran tadi pagi.
"Hai, " jawab Vita singkat.
"Aku Gisel Singkilaya," ujar Gisel ramah. Ia menampakkan senyum termanis yang ia punya.
"Aku Vita Maharani," Vita membalas senyum itu dengan anggukan.
"Bisa kita duduk di sana?" ujar Gisel dengan menunjuk sebuah dermaga tua yang menjorok ke tengah laut. Indah tetapi sudah tidak terawat. Kayu dan papannya sudah banyak yang lapuk begitupun pagar pengamanannya sudah hampir hilang semua.
"Ada apa yang mba?" tanya Vita setelah mengambil tempat duduk di papan pijakan. Gisel baru saja ingin menjawab, Vita malah mengambil handphonenya dan berselfi untuk mengambil gambar mereka berdua dengan caption, BERTEMU TEMAN BARU setelah itu ia mengirimkannya ke status WhatsAppnya yang hanya bisa dilihat oleh orang-orang tertentu saja, Gala, Deka, dan mama mertuanya.
__ADS_1
"Aku adalah mantan sekretaris Gala Putra Raditya," ujar Gisel setelah melihat Vita sudah tidak sibuk lagi dengan handphonenya.
"Aku dipecat dengan sangat menyedihkan tanpa pesangon dan bonus,"
"Sejak dipecat tidak ada perusahaan yang mau menerimaku," ada nada marah dalam suaranya. Vita sudah merasa ada gelagat tidak benar dari perempuan yang baru dikenalnya ini. Segera jarinya menekan tombol panggil pada nomor darurat di Handphonenya.
"Aku sekarang menjadi simpanan pria kaya agar bisa bertahan hidup." Gisel menatapnya dengan pandangan berkilat benci.
"Aku ingin tahu bagaimana perasaan Ge Pe Er jika aku melengapkanmu di sini." Gisel menyeringai kejam.
"Apalagi kamu sedang hamil anaknya, pasti itu akan. Sangat menyenangkan," Vita bergidik ngeri membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Plis mba kita bisa membicarakan ini baik-baik. Aku akan memberikan apapun yang kamu mau," gemetar takut Vita berusaha meraih tangan Gisel tetapi ia hanya mengibaskannya dengan keras hingga membuat Vita terdorong dan terjatuh ke bawah.
Byur
Tubuh Vita jatuh ke bawah dengan teriakan minta tolong yang menyayat hati. Gisel menulikan telinganya. Sebenarnya bukan seperti ini yang ia rencanakan tetapi sepertinya alam berpihak padanya.
"Tolong, mba!" teriak Vita dibawah sana yang berusaha berenang menggapai tiang dermaga.
Ia segera melangkah dengan cepat menjauh dari tempat itu, berharap tidak ada yang melihat perbuatannya.
"Aku ingin tahu, apakah Gala masih ingin hidup jika orang tersayangnya meninggalkannya seperti itu." Dengan tertawa jahat ia segera naik ke speed boat nya menuju resort.
🍁🍁🍁🍁🍁
Hai readers tersayangnya othor, jumpa lagi dengan aku nih di akhir pekan ini.
Tetap dukung karya ini yah dengan cara klik like ketik komentar, dan kirim hadiahnya yang banyak supaya othor tetap semangat update nya.
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍
sambil menunggu update berikutnya, mampir ke karya teman othor nih. Pacarku Seorang Merman Tampan oleh Syacan.
__ADS_1