
"Mama, hiks." teriak Sovia sembari memeluk Vita Maharani sang mama. Rupanya Arya menghubungi nyonya Raditya itu agar segera ke Restoran D'Sov karena Sovia menangis tiada henti dan ia juga tidak tahu apa masalahnya.
Vita datang bersama Rara sang menantu karena kaget dan khawatir.
"Ada apa sayang? apa kamu sakit?" tanya mamanya lembut. Ia membelai rambut putrinya dengan sayang.
"Andika Ma, aku sudah putus sama dia, hiks." ujar Sovia sesenggukan dan membuat Vita memandang Rara sambil tersenyum. Istri dari Rama itu langsung tergelak.
"Aduh Sovi, kirain kamu kena apa, hahahaha. Putus aja nangis kejer gitu hahaha." ujar Rara tanpa bisa menahan rasa lucunya. Vita langsung mengedipkan matanya memberi kode supaya menantunya itu diam nanti masalah tambah runyam.
"UPS maaf Ma," Rara langsung menutup mulutnya.
"Mungkin emang bagus sayang kalau kamu sama Andika berjauhan aja dulu, kalian bersama kamu tetap nangis putus pun nangis," ujar Vita menenangkan.
"Aku gak mau Ma, Andika itu yang gak ngerti perasaan Sovi, hiks." Vita semakin bingung dengan kemauan putrinya ini.
"Eh, ngomong-ngomong siapa sih yang memutuskan duluan?" tanya Vita yang tidak tahu lagi mau bicara apa.
"Aku Ma," jawab Sovia singkat kemudian mengambil tissue untuk melap sisa air matanya. Vita tahu putrinya ini cuma butuh teman cerita dan sebentar lagi pasti hatinya jadi membaik.
"Ya sudah, itu sudah pas untuk seorang Andika yang seperti Jailangkung kata netizen. Datang tak dijemput pulang tak diantar." ujar Vita gemas sendiri dengan permasalahan Sovia dan Andika yang tiada habisnya ini. Mereka seperti sepasang sepatu yang saling mencari pasangannya tetapi ketika bertemu malah saling meninggalkan.
"Tapi aku gak rela Ma." gadis manja dan keras kepala itu masih mempertahankan pendapatnya yang sangat tidak jelas itu. Vita langsung menghubungi Arya agar menyiapkan minuman dingin yang enak. Ia cukup gerah dan stress dengan urusan sepele ini tapi dibuat begitu dramatis.
"Ayo Ra' diminum supaya kita semua adem." ujar Vita mempersilahkan. Rara pun minum kemudian mulai berbicara.
"Ma, aku mau kembali kerja ah, kayak Sovi. boleh gak ma?" Rara memandang lurus wajah Vita sang mama mertua.
"Kalau mama sih boleh aja agar kamu bisa lebih menghilangkan trauma dan takut mu itu. Tapi kamu sudah bilang sama suamimu kan, sayang?" tanya Vita balik.
"Belum sih ma, Tapi mama dukung aku ya, supaya Rama mengizinkan aku."
"Iya mama akan dukung selama itu baik bagimu dan suamimu."
"Eh, Ra' mama boleh kasih saran gak sayang?"
"Boleh ma, silahkan."
"Kamu panggil suamimu jangan dengan namanya saja. Rasanya gak sopan sayang."
__ADS_1
"Jadi aku manggilnya apa ma?" tanya Rara bingung.
"Tanyakan padanya ia mau dipanggil apa?"
"Oh iya baik ma." Rara paham maksud mama mertuanya, ia kemudian mengirimkan pesan kepada suaminya mau dipanggil apa.
"Eh, kok aku dicuekin sih? bukannya mama dan kakak ipar kemari untuk menghiburku?" ujar Sovia kesal.
"Kami kesini mau menghibur orang yang mau dihibur dan tidak keras kepala sepertimu. putus ya putus aja gak usah dipikirin," jawab Vita sembari menyeruput minuman dinginnya dengan dramatis.
Di seberang sana, Andika meremas rambutnya kasar. Ia tak menyangka Sovia akan menyambutnya dengan kata PUTUS. Terlalu menyakitkan untuk diingat.
Ia kembali ke kantor dan memasuki ruangan kerja Papanya.
"Pa, bisa mengganggu waktu papa sebentar? ada yang mau aku bicarakan." ujarnya kemudian duduk di depan Reno Sebastian sang papa sekaligus bosnya.
"Bicara saja," jawab Reno singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop di depannya.
"Aku mau menikahi Sovia Pa," ujar Andika dengan debaran di dadanya. Reno langsung menatapnya. Ia memang sudah tahu dari istrinya kalau Andika mau menikahi Sovia justru disaat hubungan mereka sedang tidak sehat, makanya ia tidak menggubris perkataan istrinya itu.
"Kamu yakin? pastikan perasaanmu dulu nak, jangan mengambil keputusan terburu-buru hanya karena emosi sesaat. Pernikahan itu sakral. Bukan lagi masa berpacaran yang bisa putus sambung putus sambung."
Tadi setelah Sovia mengusirnya dan mengucapkan kata putus, disitulah ia sadar kalau mereka berdua sebenarnya saling membutuhkan dan merindukan.
"Bagus itu. Perjuangkan seseorang yang kamu cintai. karena sedikit saja kamu lengah maka orang ketiga akan memasuki hubungan kalian, entah dari pihak mu maupun dari pihaknya. Dan akhirnya penyesalan lah yang menghantui kalian." ujar Reno sembari menatap putra pertamanya itu lama.
"Iyya Pa." jawab Andika singkat. Membayangkan Sovia bersama orang lain hatinya seketika mendidih. Ia tak rela.
"Jadi kapan kamu ingin melaksanakan niat baik ini?" tanya Reno serius. Ia harus membantu putranya ini untuk segera menjemput bahagianya.
"Kalau Papa tidak keberatan, kita bisa melamarnya hari ini juga, sepulang kerja."
"Astagfirullah, kamu tahu kan siapa Om Gala. Jangan sampai ia mencekik lehermu kalau kamu membuat kejutan seperti itu." Reno tersenyum dengan semangat putranya.
Ia bangga karena Andika lebih berani daripada dirinya dulu. Hingga Vita terlepas dari tangannya. Tapi ia juga bersyukur sudah memperistri Miska, ibu dari anak-anaknya sekarang.
"Kalau bukan hari ini, aku takut pa." ujar Andika merajuk seperti anak kecil yang sedang minta permen.
"Takut kenapa?" tanya Reno penasaran sekaligus merasa lucu.
__ADS_1
"Sovia akan berpindah ke lain hati karena ia tadi memutuskan aku Pa."
"Astagfirullah." sekali lagi Reno beristighfar dengan tingkah putranya ini.
"Kalau kamu diputuskan kenapa malah datang melamar, bukankah itu malah akan mempermalukan kita nantinya?" Reno meraup wajahnya kasar. Ia bingung.
"Pokoknya harus Pa." putus Andika kemudian keluar dari ruangan Papanya.
"Ya ampun, mimpi apa aku semalam?" ujar Reno sembari menarik nafas dalam.
🍁
Di Gedung TGR Global Company di ruangan manager divisi Riset dan Pengembangan.
Rama tersenyum samar saat membuka handphonenya dan mendapati sebuah pesan dari istrinya tercinta. Ia membukanya dengan perasaan bahagia karena baru kali ini Rara mengirimkannya pesan terlebih dahulu.
Wajahnya terlihat bingung dan membaca ulang-ulang pesan itu sampai paham.
Ram? kamu mau dipanggil apa?
"Apa maksudnya ini?" tanyanya dalam hati. Lama ia membaca kemudian ia menjawab dengan pesan pula.
Kamu sukanya apa?
Lama ia menunggu balasannya, Kemudian handphonenya berbunyi lagi menandakan Rara menjawab pesannya.
Aku suka kamu
Ia mengetik lagi pesan balasan,
Aku juga suka, sangat suka kamu.
Rama tersenyum samar karena hatinya berbunga-bunga dengan hanya berbalas pesan dengan istrinya. Berkas-berkas yang harus ia tanda tangani kini terbengkalai dengan sibuknya ia tersenyum-senyum sendiri. Ia merasa jatuh cinta lagi dan lagi pada istri kriwilnya itu.
---Bersambung--
Mana nih dukungannya untuk othor, like dan komen dong biar aku tambah semangat updatenya.
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍
__ADS_1