
Risma mulai membuka kelopak matanya yang terasa lengket oleh banyaknya air mata yang tumpah tadi. Ia bingung kenapa tiba-tiba suaminya sudah berada sedekat ini dengannya. Ia mulai bangun dan memperbaiki pakainya yang entah kenapa jadi sangat berantakan dan terbuka kancing bagian depannya.
"Kak, kok ada di sini? bukannya lagi pesta ya?"
"Kamu yang aku mau tanya kok ada di sini,"
"Itu, kepalaku pusing, mau tiduran dulu." jawabnya memberi alasan agar suaminya tidak tahu kesedihannya dan kenapa ia bisa meninggalkan acara yang sedang berlangsung.
"Pusingnya sakit banget ya, sampe nangis begitu?" tanya Deka sembari menatap mata istrinya yang membengkak karena habis menangis.
"Ah, iya..."jawab Risma gugup dan mulai menghindari tatapan suaminya.
"Kamu tidak sedang menyembunyikan sesuatu kan?" tanya Deka curiga.
"Tidak," Risma menggelengkan kepalanya cepat.
"Tatap mataku Ris," ujar Deka sembari meraih dagu istrinya agar ia bisa memandang dengan baik wajah istrinya itu. Risma menurut.
Cup
Deka mengecup lembut kedua mata istrinya itu yang sedang tertutup.
"Aku tak mau ada air mata sedih di sini." bisiknya pelan. Risma mengangguk.
"Kalau ada yang mengganjal di hatimu tentang aku, katakan saja. Aku siap berubah yang penting kamu senang sayang."
"Kak,"
"Hem,"
"Kalau aku belum bisa kasih keturunan, apa kakak akan meninggalkan ku?" tanya Risma sedikit berbisik mirip sebuah gumaman.
"Astaga, itu yang kamu pikirkan?"
"Aku akan selalu bersamamu sampai kapanpun."
"Kakak tidak akan membagi cinta dengan yang lain?"
"Yah, tergantung sih." jawab Deka mulai ingin menggoda istrinya itu.
"Tergantung apa kak?" tanya Risma takut-takut.
"Tergantung bagaimana kamu aktifnya di sini." jawab Deka sembari tangannya menunjuk ranjang tempat ia dan istrinya duduk.
"Kakak," wajah Risma berubah merah karena malu. Ia memang selama ini jadi pemain pasif saja di sini, apapun yang diberikan suaminya ia terima dengan baik tanpa berani memimpin atau membuat sensasi baru yang mungkin bisa membuat hubungan mereka jadi lengket.
"Okey, aku akan belajar kak. Yang penting kamu senang." ujar Risma dalam hati. Mungkin suatu waktu ia akan bertanya kepada Vita bagaimana caranya agar hubungan bosnya itu semakin hari semakin lengket saja padahal sudah memilik anak.
__ADS_1
Deka jadi gemas sendiri dengan ekspresi istrinya itu. Ia langsung melabuhkan bibirnya dalam ke bibir merah muda itu. Ia mengu lum dan mengeksplor dengan lidahnya.
"Kak,"
"Hem,"
"Aku akan belajar," bisik Risma disela-sela pa gutan mereka yang semakin memanas.
"Belajar apa?"
"Yah, pokoknya belajar yang baik," jawab Risma tanpa menyebutkan apa yang ia maksud dengan kata belajar itu. Udara diantara mereka semakin berkurang. Deka sangat mengerti maksud ucapan istrinya itu. Ia semakin merapatkan diri. agar jarak mereka tak tersisa.
"Aku ingin lihat hasilnya, okey?" ujar Deka dengan menelusupkan kembali tangannya ke dalam blouse istrinya.
"Kak, kita keluar dulu yah," Risma mulai mengerti keadaan panas saat ini dan akan berujung kemana.
"Kamu mau di luar?"
"Gak,"
"Acaranya belum selesai, nanti kita dicariin para tamu." aksi Deka berhenti seketika. Ia segera melepaskan istrinya itu cepat lalu berdiri, sadar akan tugas yang diberikan Gala padanya.
"Perbaiki riasan mu, aku tunggu di luar." ujar Deka tegas melihat keadaan istrinya yang sudah berantakan akan ulah tangan nakalnya.
"Kakak sih." ujar Risma pura-pura cemberut padahal ia juga cukup ambil andil di sini. Deka hanya tersenyum samar lalu menyugar rambutnya dengan jari-jarinya. Ia juga terlihat sangat kacau sekarang.
Sementara itu di Halaman tempat acara outdoor di adakan.
Pandu menghampiri gadis centil berlagak ala-ala Korean Style itu yang sepertinya sedang bingung mau kemana setelah menaiki bianglala tadi bersama Deka Roland. Ia merasa tertarik dan tanpa terasa langkahnya semakin mendekati gadis itu. Ia bahkan melupakan kakaknya dan ponakannya, Ira Zerni dan Zahwa.
Entah kenapa ia merasa tertarik pada gadis ini yang berani tampil beda karena semua orang memakai gaun pada pesta ini dan ia malah tampil dengan dandanan yang cukup santai. Rambutnya yang lurus dan agak pirang ia biarkan begitu saja tanpa hiasan sama sekali. Ia menggunakan Hem berwarna putih sebagai atasan yang dipadukan dengan rok mini berwarna gelap atau motif kotak-kotak. Dengan menggunakan sepatu sneakers.Ia betul-betul tampil lebih muda dari umurnya.
"Hai, Lagi nungguin siapa?" tanya Pandu berbasa-basi.
gadis yang tak lain dan tak bukan adalah Hany itu langsung menoleh dan memandang Pandu dari atas ke bawah. "Lagi nungguin pangeran nih," jawab Hany sekenanya. Ia sebenarnya tidak nyaman juga sendiri seperti ini padahal tadi ia sudah cukup lama bercanda tawa dengan Vita sahabatnya, sang tuan rumah. Rama juga sudah ia sapa, begitupun makanan dan minuman sudah ia cicipi.
"Memangnya ada pangeran yang akan datang?" tanya Pandu pura-pura polos dengan senyum samar.
"Mmm, bisa saja sih, Kalo Tuhan udah bosan lihat aku nunggu gini. Mungkin pangerannya dikirim lewat paket express Kilat." Hany menjawab sembari memilih ujung tali tas selempang kecil yang ia gunakan. Pandu semakin tersenyum dibuangnya.
"Boleh aku temenin nunggu pangerannya sampai?"
"Silahkan kalo tidak merepotkan."
"Nama kamu siapa?"
"Aku Hany dan kamu?"
__ADS_1
"Pandu Gemilang."
"Oh, diundang juga sama Pak GM?"
"Gak cuma nemenin ponakan, temannya Rama."
"Oh, kirain temanin anaknya, hahahah."
"Memangnya aku sudah bertampang bapak-bapak ya?"
"Mmm, kayaknya sih sudah cocok jadi bapak, hahaha," Sekali lagi Hany menutup mulutnya karena tertawa dengan ucapannya sendiri. Dan Pandu sangat menikmati tawa gadis ini. Semuanya serba natural tanpa ada yang dilebih-lebihkan atau ditutupi.
"Kalo aku cocok jadi bapak, mau gak kamu jadi calon ibu dari anakku?"
"Eh," Hany langsung menegakkan badannya dengan serius. Tidak menyangka sosok yang baru ia kenal langsung ngomong blak-blakan seperti ini. Matanya langsung melotot indah dengan ekspresi kaget.
"Aku serius," ujar Pandu lagi. Entahlah, ia tidak mengerti kenapa bisa segampang itu mengucapkan kata-kata yang dimaksud sebagai candaan tetapi ia sendiri dan gadis itu mempunyai pikiran yang sama.
"Kamu pasti suka gombal ya setiap ketemu cewek?" ujar Hany berusaha menahan debaran di dadanya karena ditatap begitu intens oleh Pandu.
"Gak pernah, baru sama kamu aja." jawaban Pandu betul-betul membuat Hany semakin memerah pipinya.
"Astaga, kamu mau bikin aku gagal nafas ya," Hany berusaha melucu tetapi Pandu tetap menatapnya dengan pandangan tak biasa.
" Boleh juga, kalo kamu gak bisa nafas aku bisa bantuin kasih pernapasan."
Jedar
"Ini siapa sih blak-blakan banget kalo ngomong," uja Hany dalam hati.
"Kamu udah makan?" tanya Pandu lagi berusaha menahan gadis itu berlama-lama.
"Belum,"
"Kita makan sama-sama." ujar Pandu dan langsung meraih jemari Hany dan mengaitkannya di jemarinya yang besar.
"Ayok," ajaknya kepada Hany.
"Eh, iya...." Hany sampai gugup dibuatnya. Apakah ini pangeran yang dikirimkan Tuhan padanya yang selama ini cukup bersabar menjomblokan diri?
Hanya othor yang tahu maksud semua ini.
🍁🍁🍁🍁🍁
Hai readers tersayangnya othor, mohon dukungannya untuk karya receh ku ini ya gaess.
Like, komentar, dan kirim hadiahnya yang super banyak agar aku semakin semangat update nya.
__ADS_1
Nikmati Alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍