
Semua keluarga menyambut kepulangan Nyonya Mawar dari rumah sakit dengan hati penuh syukur dan rasa gembira. Deka dan Risma yang baru pulang dari Luar Negeri untuk urusan bisnis juga sangat senang karena masih bisa menyaksikan perempuan tangguh Raditya itu kembali bertemu dengan anak, keponakan dan cucu-cucunya.
Miska kali ini datang bersama mamanya, Kapsari Prayanti. Setelah berbasa-basi sama Vita sang nyonya rumah. Ia segera mencari Sovia yang sedang sibuk di dapur memberi instruksi kepada para pelayan agar menyiapkan banyak menu untuk acara syukuran kembalinya eyang putri ke rumah kediaman Raditya dalam keadaan sehat.
"Sovi, tante bisa bicara gak sayang?" tanya Miska meminta izin terlebih dahulu pada keponakannya itu karena kelihatan sibuk sekali.
"Hum, Tante Miska. Bisa kok gak usah sungkan gitu deh, Sovi kan jadi malu." ujar Sovia sembari membuka celemeknya dan mengajak Miska untuk duduk di kursi makan.
"Sovi maafin Andika ya," ujar Miska langsung ke inti permasalahan kedua muda mudi ini. Ia meraih tangan gadis muda itu dan menggenggamnya. Sovia menatap mata Miska dalam.
"Aku tidak tahu mau ngomong apa tante." ujar Sovia kemudian menunduk. Hatinya masih sakit akan pengakuan Elsa. Ia membenci Andika dan tak mau melihatnya lagi.
"Andika cuma titip salam, katanya mau kesini tapi takut kamu belum mau melihatnya." ujar Miska lagi. Sovia mengangguk.
"Iya, Tante. Makasih lho udah sempatin datang lihat eyang putri." ujar Sovia berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Gak usah terima kasih lah, Tante kan keponakannya jadi wajarlah kalau tante datang. Eh, ngomong-ngomong mama mertua nanyain kabar kamu terus, kapan nih main ke rumah lagi."
"Aku lagi sibuk banget Tante, maklum pengusaha baru hehehe." ujar Sovia sambil tertawa. "Dan juga beberapa hari ini kan eyang putri dirawat di Rumah Sakit jadi yah waktu untuk keluar jalan-jalan udah gak ada."
"Iyya sih, tapi kalau kamu ada waktu usahakan ke rumah ya sayang. Mama mertua pengen sekali masak-masak bersama kamu."
"Oh iya deh tante, aku usahakan weekend ini ke rumah eyang Ninick."
"Okey, silahkan lanjutkan kegiatanmu." ujar Miska bermaksud mengundurkan diri dan kembali bergabung bersama anggota keluarga lainnya yang ada di ruang tamu.
"Bawa oleh-oleh apa nih orang yang baru datang dari luar negeri." tegur Miska saat bertemu dengan Risma di sana.
"Oleh-oleh bernyawa." jawab Deka singkat yang langsung mendapat cubitan panas dari istrinya itu.
"Maksudnya apa nih, penasaran." timpal Vita ikut nimbrung. Ia langsung meletakkan nampan berisi minuman di atas meja dan menghampiri para tamunya.
__ADS_1
"Bentar lagi Adam akan punya adek." jawab Deka lagi santai. Semua orang saling bertatapan dalam diam kemudian mereka semua berteriak.
"Alhamdulillah."
Suasana di rumah itu langsung ramai dan riuh, pasalnya Adam yang tahu kabar itu auto melompat senang karena gembira.
"Hore Adam mau punya adek." teriaknya ribut dan langsung dapat lemparan bantalan kursi di kepalanya oleh Sarah.
"Napa sih kok dilempar." gerutunya kesal dan memandang sepupunya itu dengan dua tanduk di kepalanya, siap menyeruduk.
"Gak usah lebai gitu dong. Biasa aja kali." Mereka akhirnya saling melempar bantal kursi dan membuat ruangan itu semakin ramai. Sedangkan Risma sendiri tersenyum malu karena para orang dewasa menatapnya dengan pandangan tak terbaca. Adam yang baru masuk jadi mahasiswa dan sekarang baru mau punya adik. Sungguh jarak yang cukup jauh.
"Hey apa saja yang kamu lakukan selama ini, Hah?" tanya Gala pada Deka yang sibuk memperhatikan wajah istrinya yang memerah karena malu jadi pusat perhatian.
"Maksudnya?" tanya Deka tak paham akan pertanyaan Gala.
"Iyya kok baru nyetak adeknya Adam. Kemana aja selama ini?" Gala melotot sebal.
Plak
Gala menepuk bahunya keras. Ia jadi cemburu dan ingin keluar Negeri juga siapa tahu Sarah juga nyusul punya adik.
"Kok senang banget sih mukul aku." gerutu Deka sedikit kesal karena Gala terus-terusan memukul bahunya meskipun tidak keras tetapi kan gerah juga.
"Aku juga mau bawa Vita keluar untuk nyetak juga. Kali aja jadi mirip bule hasilnya." ujar Gala di depan umum dengan rasa percaya diri yang sangat tinggi. Ia tak mau kalah sama Deka sepupunya itu.
"Astagfirullah mas." ujar Vita dengan wajah memerah karena malu. Suaminya betul-betul tidak tahu tempat. Ia langsung menghampiri suaminya itu dan berbisik,
"Disini ada anak dibawah umur mas." Gala hanya tersenyum penuh arti. Ia sengaja ngomong seperti itu karena istrinya sudah lama tidak memanjakannya gara-gara permasalahan dengan Reksadana akhir-akhir ini. Ia ingin sekali meleburkan diri dulu dengan istrinya ini.
"Sebelum acara makan-makannya dimulai, aku mau makan kamu dulu bolehkan?" tanya Gala dengan mengedipkan matanya sebelah.
__ADS_1
"Astagfirullah mas, disini banyak orang." balas Vita berbisik.
"Gak papa cuma sebentar kok. Boleh ya?" Vita akhirnya mengangguk. Ia tahu suaminya beberapa hari ini cukup lelah dan stress bolak-balik ke rumah sakit dan kantor polisi mengurusi penangkapan Reksadana itu. Dan akhirnya orang itu betul-betul mengakui kalau ia juga yang melenyapkan nyawa Raditya secara tidak langsung.
Gala melangkah ke kamarnya terlebih dahulu agar para tamu tidak mencurigai gelagat kedua pasangan bucin itu yang mulai nampak aneh.
"Risma sayang. Jaga kandunganmu yah. Apalagi di usia kepala 4 gini." ujar Vita sembari mengelus lembut perut Risma yang masih rata itu.
"Iya nyonya Presdir. Gak mau nyusul nih?" Risma berucap sembari memberi kode lewat kerlingan matanya. Vita langsung tertawa. Pikirannya sekarang sudah berada di kamar membayangkan hal yang menyenangkan bersama suaminya itu.
"Maunya sih supaya rumah tambah ramai. Tapi kayaknya aku tunggu cucu dari Rama aja deh, hahaha." jawab Vita sembari tertawa. Apalagi kebetulan Rama sedang berjalan ke arah mereka semua.
"Lho ma, aku baru datang kok mama malah pergi sih." ujar Rama berniat menggoda mamanya. Ia tahu mamanya akan kemana karena tadi papa Gala sudah nitip pesan padanya untuk memanggil namanya itu ke kamar.
"Hush, kamu ya. Temani om dan tantemu sini, mama mau melakukan tugas negara dulu." ujar Vita kemudian segera berlalu dari hadapan mereka semua.
"Siap Ma." jawab Rama dengan senyumnya.
Sementara itu Gala sudah tidak sabar menunggu istrinya, ia sempat menelepon Rama tadi agar memanggilkan mamanya di bawah sana karena ia sudah tidak sabar.
"Mas, kok manggilnya lewat Rama sih kan jadi malu." ujar Vita saat sampai di dalam kamar.
"Gak papa, Rama udah dewasa pasti mengerti. Sini deh sayang peluk aku." ujar Gala manja. Ia bagai seorang bayi besar yang ingin mendapatkan perhatian lebih.
Dan Akhirnya mereka berdua betul-betul saling meleburkan diri dalam gairah yang tak berujung.
---Bersambung--
Haloooo ada bungakah????
Like dan komen dong biar ramai...
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍