Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 223 Obat Tidur Mujarab


__ADS_3

Ucapan syukur dan bahagia memenuhi ruangan perawatan mama muda dan cantik Sovia Putri Gala Raditya.


Perempuan cantik berusia 22 tahun itu berhasil melalui masa-masa kritisnya berkat doa semua orang terkhusus dari keluarga dekat. Ia melahirkan seorang bayi laki-laki tampan dengan berat badan 3,5 kg.


"Alhamdulillah Sovi, mama bersyukur sekali kamu dan juga putramu selamat dan sehat, nak." ujar Vita sembari mengelus lembut rambut putrinya.


"Iyya, ma. Terima kasih banyak. Ini berkat doa kalian semua." jawab Sovia dengan wajah bahagia.


"Dimana kak Rama sama Kak Rara Ma, sedari tadi aku belum melihat mereka ada di sini." ujar Sovia sembari memperhatikan semua anggota keluarga yang sedang ikut merasakan kebahagiaan ini.


"Masih di rumah kali Sov. Mungkin sebentar lagi mereka sampai." jawab Vita dengan senyum di bibirnya untuk menutupi rasa was-was dan khawatir di dalam hatinya.


Rekaman kekecewaan wajah Rama ketika bersitegang dengan Andika dan juga bentakan suaminya pada putranya itu membuat hatinya nyeri dan juga sedih.


Ia takut dan khawatir Rama salah menafsirkan kemarahan papanya waktu itu. Meskipun ia juga sedikit kecewa karena Gala memperlakukan putra kesayangannya itu begitu kasar di depan umum.


"Aku mau mengucapkan terima kasih banyak sama kak Rara Ma." ujar Sovia masih dengan senyum di wajahnya.


"Kenapa kamu mau mengucapkan terima kasih? bukannya dia yang membuat kamu celaka Sov, sampai harus di Caesar segala dan membuat kita jadi panik dan takut." timpal Miska cepat. Ia masih menaruh rasa jengkel dan tidak suka pada perempuan kriwil itu.


"Aku mendengar dokter berbicara Ma di ruang operasi. Untungnya ada kejadian seperti ini. Kalau tidak. Kita semua mungkin akan kehilangan bayi ini Ma. Ternyata baby ku ini terlilit tali pusar dan itu berbahaya kalau tidak cepat diangkat." jelas Sovia dengan pandangan ke arah seorang baby laki-laki tampan yang sedang tidur di dalam sebuah box bayi di sampingnya.


"Lho kok bisa sih sayang?" tanya Vita dengan wajah ingin tahu cerita selanjutnya dari Sovia.


"Aku memang lama tidak memeriksakan kandungan karena aku pikir semuanya baik-baik saja. Aku tidak ada keluhan sama sekali. Hingga dengan kecelakaan ini, dokter bisa memeriksa lebih cepat kondisi bayi dalam kandunganku."

__ADS_1


"MasyaAllah, terkadang yang kita anggap buruk justru sebenarnya mengandung banyak kebaikan." ujar Vita tersenyum penuh syukur. Ia lantas memeluk tubuh putrinya yang masih dalam posisi berbaring itu dengan penuh rasa syukur.


"Aku harus minta maaf sama Kak Rama, ma. Ia pasti kecewa padaku." ujar Andika dengan wajah tertunduk. Suami dari Sovia itu mengingat bagaimana ia menantang kemarahan kakak iparnya itu dan malah sempat bersitegang.


"Sudahlah, kalau mereka gembira dengan kelahiran cucu pertama kita, pasti mereka akan datang membesuk dan memberi ucapan selamat." ujar Miska sembari menggendong tubuh mungil sang cucu.


"Nih, kayaknya udah mau mi*mik nih Sov. Ayo latihan dulu." ujar Miska berusaha mengganti pokok pembicaraan.


"Iyya Ma," ujar Sovia sembari membuka sumber asi untuk si baby yang sangat tampan itu. Vita dan Miska ikut membantu.


"Awwwww, perih banget ma. Sakit kalau baby-nya menghissap." jerit Sovia karena kesakitan.


Oeee Oeee Oeee


Sang baby malah menangis kencang karena semakin lapar sedangkan Sovia sang mama malah kesulitan dan kesakitan.


"Awwwww, tapi sakit sekali Ma. Sovia tidak kuat. Perih banget." ujar Sovia semakin meringis ketika si baby mulai meminum dengan rakus.


"Andika, cepat cari susu formula dulu sama dotnya sekalian. Biar mamanya gak terlalu kesakitan seperti itu." titah Vita kepada sang menantu.


"Iya Ma, susu formulanya apa namanya Ma?" tanya Andika bingung. Ia sendiri kasihan kepada kedua orang yang disayanginya yang sama-sama menangis. Ada yang menangis karena ingin menghissap dan ada yang menangis karena dihissap.


"Tanya sama dokter Dika, susu apa yang cocok. Kalau punya anak laki-laki ya harus dibantu dengan susu formula. Biasanya ia tidak puas dan suka haus dan cepat lapar terus." jawab Vita lagi.


"Iya Ma," jawab Andika kemudian cepat keluar dari ruangan itu untuk mencari apa yang diperintahkan oleh sang mama mertua.

__ADS_1


🍁


Setelah menginap di Rumah Sakit menjaga Sovia selama semalam. Sore ini Vita Maharani dijemput oleh sang suami untuk pulang ke rumah.


Pria yang masih sangat tampan dan kuat di usianya yang sudah memasuki kepala 5 itu merasa tidak nyaman tidur di kamarnya sendiri. Ia tidak bisa tidur semalaman karena istrinya tidak berada di sampingnya.


Mungkin akan terdengar sangat lebai dan manja, tetapi begitulah kenyataannya ia tidak bisa tidur kalau sang istri tidak berada didekatnya.


"Mas, apa Rama ke Perusahaan hari ini?" tanya Vita saat mereka sudah berada di tempat tidur dan bersiap untuk menjemput mimpi bersama sang suami.


"Aku tidak perhatikan sayang. Soalnya hari ini aku sibuk dengan kolega dari luar negeri itu." jawab Gala sembari memeluk tubuh istrinya dibawah selimut.


"Mas, Rama dan istrinya belum menjenguk Sovia dan bayinya. Padahal semua keluarga dan sahabat Sovi serta Andika sudah pada datang mengucapkan selamat." ujar Vita dengan rasa tidak nyaman di dalam dadanya.


"Udah gak Papa. Mungkin hatinya belum merasa nyaman bertemu keluarga Todler. Kamu tahu kan bagaimana perasaan Rama." jawab Gala sembari tangannya mulai bergerak kemana-mana mencari sebuah atau dua buah obat tidur.


"Kamu harus minta maaf mas, karena sudah membentak putraku. Aku lihat wajahnya kecewa sama kita mas." ujar Vita lagi berusaha menahan rasa nyaman dari gerakan tangan suaminya agar tidak berakhir begadang pada malam itu.


"Hem." jawab Gala singkat. Rupanya ia sudah tertidur setelah mendapatkan benda favorit pengantar tidurnya. Sungguh ia seperti seorang bayi besar yang baru bisa tertidur setelah menyentuh sesuatu dari istrinya.


"Astagfirullah. Kamu sudah tertidur padahal aku mau bicara banyak tentang Rama." gerutu Vita sembari menarik selimutnya untuk menutupi tubuh mereka berdua. Dan juga mengembalikan tangan suaminya ke tempat yang semestinya.


Lama Vita memandang langit-langit kamarnya dengan segala pikiran tentang Rama putranya, hingga akhirnya ia juga jatuh tertidur dan kembali bertemu dengan sang suami di dalam mimpi.


---Bersambung--

__ADS_1


Mana nih dukungannya untuk karya receh ini. Ketik like dan komentar ya gaess.


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍


__ADS_2