Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 104 Suami Siaga


__ADS_3

"Aaahh" Serangan kecupan-kecupan lembut dari arah belakangnya membuatnya tanpa sadar men de sah.


Drrrrt


Drrrrt


Deka berusaha mengabaikan panggilan telpon yang begitu nyaring berbunyi di dalam kamar yang begitu sunyi itu. Ia merutuki dirinya sendiri kenapa tidak me non aktifkan handphone itu sebelumnya. Ia ingin melanjutkan kegiatan yang baru pertama kali dilakukannya itu tetapi suara handphonenya cukup mengganggu konsentrasinya.


Akhirnya ia meninggalkan punggung putih yang terbuka itu dengan sangat enggan. Ia pastikan akan mematikan signal hape itu sekarang juga.


Drrrrrt


Drrrrt


Ia menatap layar handphonenya yang menampilkan nama Gala yang ada di sana. Deka berharap ini hanya prank saja seperti yang biasa dilakukan sepupunya itu ketika ia ingin mengganggu kesenangannya. Ia ingin abaikan tetapi jarinya malah menekan tombol hijau


"Hallo," Sapa Deka pelan, ia menatap istri barunya itu yang sedang duduk di atas ranjang dengan pakaian yang sudah melorot sampai di dada.


"Apa?"


"Oh iya aku segera ke sana."


Tut


Deka segera mengganti piyamanya dengan pakaian kasual yang dipadukan dengan jaket kulit coklat. Dengan berat hati ia menghampiri Risma Yanti yang menatapnya khawatir.


"Maafkan aku Ris, aku harus pergi sekarang," ujar Deka sendu. Ia tak tega meninggalkan istrinya ini sendiri di tengah malam begini.


"Kakak mau kemana?" tanya Risma dengan nada resah. Ia sudah bisa membayangkan dirinya seperti kisah dalam novel onlen, ditinggal pada malam pertama oleh suaminya.


"Nyonya GM, ada di rumah sakit sekarang."


"Hah?"


"Vita akan melahirkan dan Pak GM memintaku ke sana, sekarang juga." jawab Deka sembari mengambil kunci mobil di atas nakas.


cup


Ia mengecup sekilas bibir istrinya. "Kamu istirahat saja , capek kan dari tadi menerima banyak tamu." ujar Deka kemudian berlalu dari hadapan Risma yang masih terbengong-bengong dengan situasi yang terjadi. Ia meraba pelan bibirnya yang baru mendapatkan kecupan singkat.


"Okey, Ris. enjoy your life," ujarnya pelan sembari membuka keseluruhan pakaian pengantin yang sudah dimulai tadi oleh suaminya. Setelah itu ia ingin mandi air hangat kemudian tidur sendiri di ranjang yang sudah di desain untuk Malam Pertama.


🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


Gala Putra Raditya mondar mandir bagai setrikaan di depan ruangan bersalin dimana Vita, istrinya sedang berada di dalam sana berjuang untuk melahirkan keturunan Raditya.


Beberapa jam yang lalu Vita masih baik-baik saja sampai-sampai minta diantar ke sebuah warung tenda di dekat Sekolahnya dulu sewaktu masih SMA. Ia tiba-tiba ingin makan makanan di warung pinggiran. Selama di perjamuan, Vita tidak makan sedikitpun. Perutnya terasa mulas dan kadang merasa kontraksi tetapi ia tak mau membuat semua orang panik.


Mereka yang baru saja menghadiri pesta pernikahan Deka dan Risma itu tidak langsung pulang ke rumah tetapi malah berkeliling kota di malam yang semakin larut itu. Sampai Vita mengeluh sakit yang tak tertahankan dan membuat air ketubannya pun pecah di atas mobil.


Saking paniknya Gala sampai lupa akan pelajaran yang ia dapatkan dulu pada saat mengikuti kelas ibu hamil. Tentang bagaimana memberikan pertolongan pertama ketika ada kontraksi seperti itu. Seketika teori itu hilang dari dalam kepalanya. Ia hanya ingat Deka lah yang akan selalu ia hubungi dan andalkan ketika mendapatkan masalah.


Sekali lagi ia melihat jam tangannya, hampir 2 jam Vita di dalam dan belum ada kabar sedikitpun.


"Pak GM!" ujar Deka dengan nafas terengah-engah karena berlari dari parkiran sampai ke ruang tindakan.


"Syukurlah kamu sudah datang," jawab Gala sembari menarik nafas lega. Ia tidak tahan dengan kegelisahan ini sendiri. Ia ingin teman untuk berbagi ketegangan.


"Bagaimana Bu Vita?"


"Belum, ia masih di dalam. Apa aku coba dobrak aja pintunya Dek," ujar Gala semakin galau.


"Aku ingin melihat Vita melahirkan anak kami,"


"Sabar, pak. Pasti semuanya baik-baik saja."


"Hhh, kamu kan tidak berada di posisi ku, jadi kamu tidak tahu rasanya," gerutu Gala semakin sewot.


"Aku juga baru mau membuat istriku hamil, tapi bapak mengganggu kami," jawab Deka santai. Ia tahu betul sifat Gala yang suka asal kalo lagi panik begini.


"Hahahaha," Gala tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Ia merasa dapat hiburan dalam kepanikannya.


"Setelah Vita melahirkan kamu bisa tancap gas, aku tidak akan ganggu lagi,"


"Hem, serah deh,"


Uweeek Uweek


Gala dan Deka segera menghampiri pintu ruang tindakan ketika mendengar lengkingan tangisan bayi baru lahir. Mereka yakin bayi itu pasti anak yang mereka tungu-tunggu.


"Keluarga pasien!" teriak seorang bidan dari depan pintu.


"Saya suster!" jawab Gala cepat. Langkahnya bagaikan hembusan angin saking cepatnya.


"Selamat pak, bayi anda sudah lahir,"


"Alhamdulillah ya Allah." Gala mengusap wajahnya bersyukur. "Bagaimana ibunya sus?" lanjut Gala dengan rasa gembira dan cemas secara bersamaan.

__ADS_1


"Silahkan bapak bisa masuk," ujar Suster itu mempersilahkan.


Dengan langkah ringan Gala meninggalkan Deka di depan pintu dan langsung masuk ke ruangan untuk melihat kondisi Vita Maharani, istrinya tercinta.


"Vit," ujar Gala saat melihat istrinya masih terbaring lemah di atas ranjang.


"Mas,"


"Gimana sayang?"


"Alhamdulillah mas, luar biasa... sakitnya," jawab Vita tersenyum bahagia. Semua ibu merasakan nikmatnya sakit saat melahirkan tetapi setelah bayi itu lahir dengan selamat, rasa sakit itu menguap entah kemana. Hilang tak berbekas.


"Makasih sayang, sudah mau berjuang melahirkan anak kita, " Gala mencium kening istrinya lembut. Bayangan kesakitan istrinya tadi saat kontraksi membuat Gala berjanji akan menjadi suami siaga, siap berada di samping istrinya setiap saat.


"Permisi pak, dedek bayinya belum diazanin," ujar seorang bidan yang cukup mengganggu ke uwuan mereka berdua. Gala menimang dan mencium bayinya yang berjenis kelamin perempuan itu dengan rasa bahagia luar biasa. Ia mengazani putrinya dengan khusyuk sembari berdoa agar kelak putrinya jadi anak yang Solehah.


"Cantik kayak kamu, sayang," ujar Gala sembari mengelus pipi sang putri yang masih menutup matanya. Vita tersenyum bahagia.


Uweekk Uweeek


"Wah, suster kenapa bayinya nangis?" tanya Gala panik dan segera memanggil seorang perawat di sana.


"Dedek bayinya udah haus nih pak, kita coba perkenalkan dengan sumber ASInya ya," Sang suster membawa bayi itu ke arah Vita yang masih berbaring.


"Maaf, ya ibu, dedek udah mau mimik nih, kita kasih perkenalan dulu ya, semoga sudah pintar mengisap," Suster meminta izin kepada Vita untuk membuka kancing bagian depan agar si dedek bayi bisa langsung menemukan sumber ASinya sendiri.


"Wah, papanya hebat nih."


"Hebat kenapa sus?" Gala mengernyit bingung dengan perkataan sang suster. Ia memperhatikan apa yang dilakukan suster itu pada istrinya.


"Lihat Pu Ting nya bagus banget jadi si dedek gak kesulitan menemukannya. Ini pasti ulah papanya nih," suster itu tersenyum menggoda sedangkan Vita malah jadi sangat malu. Gala hanya tersenyum samar akan pujian sang suster padanya. Otaknya tiba-tiba egois karena tidak ingin berbagi dengan putrinya sendiri.


Sedangkan di luar sana, Deka merasa gelisah. Ia berulang kali melihat jam di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Ia ingin segera kembali ke hotel itu tempat istrinya menunggunya sendirian.


🍁🍁🍁🍁🍁


Hai readers tersayangnya othor, jumpe lagi kite, tetap dukung karya receh ini ya gaess, dengan cara klik like, komentar, dan kirim hadiah atau Vote.


Nikmati alurnya dan Happy reading 😍😍😍😍😍


Sambil menunggu update berikutnya, kuy mampir di karya teman othor, dijamin asyikkk


__ADS_1


__ADS_2