
Sarah mematut dirinya di depan sebuah cermin besar di dalam kamarnya. Hari ini adalah hari pertamanya bekerja sebagai sekretaris sang Presiden Direktur TGR Global Company, Gala Putra Raditya. Ia harus tampil paripurna dan menarik.
Rambutnya yang panjang melewati bahu ia ikat tinggi-tinggi membuatnya nampak rapih.
Sebuah blazer berwarna merah maroon ia padukan dengan blouse putih dengan rok pensil di bawah lutut berwarna senada dengan blazernya. Tak lupa ia memakai lip tint berwarna pink untuk memberikan efek fresh dan lembut di wajahnya yang cantik.
"Pa, aku numpang ya." ujar Sarah sambil mendahului papanya masuk ke mobil yang sedang dibukakan oleh Mang Udin sang sopir.
"Kamu sekretaris pribadi Papa tapi tingkahmu melebihi bos besar sayang." tegur Gala dengan wajah datar. Ia berusaha menyembunyikan senyumnya.
"Ih Papa, anak bos berarti bos juga. Ayok Pa naik nanti kita terlambat." timpal Sarah santai.
Ini niru siapa sih batin Gala sembari mengikuti putri bungsunya itu masuk ke mobil.
Gala hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya sembari tersenyum. Ia bersyukur putri keduanya itu mau belajar dengan ikut bekerja di Perusahaan. Dan tidak berleha-leha saja dengan menghabiskan uang orangtuanya.
Sepanjang perjalanan hanya suara Sarah yang memenuhi kotak besi beroda empat itu.
"Kamu udah minta doa restu dari mama belum kalau mau jadi sekretaris Papa?" tanya Gala menghentikan celotehan Sarah yang ribut bertanya ini dan itu tentang dunia kerja.
"Ya pastilah Pa, doa ibu kak sepanjang jalan." jawab Sarah tersenyum lebar.
"Sepanjang jalan apa nih?"
"Sepanjang jalan ke Perusahaan trus balik lagi ke rumah." jawab Sarah santai. Gala hanya tersenyum dengan jawaban putrinya itu.
"Kamu udah minta tips belum sama mama gimana caranya jadi sekretaris yang handal di samping Gala Putra Raditya."
"Belum Pa, mama kan gak pernah jadi sekretaris Papa, konon katanya papa yang maksa mama kerja di ruangan Papa. Benar gak nih?"
"Hush! jangan buka kisah lama. Nanti kita malah tidak jadi ke Perusahaan."
"Lho kenapa Pa?"
"Ya Papa mau kembali ke kamar sama Mama aja." Sarah menepuk jidatnya karena sang Papa masih saja tidak bisa serius kalau membicarakan mamanya.
"Papa cinta banget ya sama mama?"
"Banget tak bisa ditawar."
"Ish, Papa lebay."
__ADS_1
"Nanti kamu akan rasakan sendiri kalau benar-benar panah asmara itu sudah mengenai jantungmu." Sarah terdiam dan tiba-tiba merasakan debaran dihatinya bergeming tatkala mengingat Adam yang jauh disana.
Apakah pria itu merindukan aku ya? batin Sarah sembari memandang keluar jendela mobil. Sejak handphonenya ditemukan yang ternyata adalah prank dari temannya sendiri untuk memberikan efek jera padanya yang suka bermain handphone sambil berjalan. Adam tak pernah lagi menghubunginya.
Tanpa disadari mobil yang mereka tumpangi pun tiba di halaman Perusahaan.
"Bekerjalah profesional dan Jangan bilang kalau kamu putri Papa, okey?"
"Siap Pa!" jawab Sarah bersemangat. Ia sudah tahu aturan itu. Meskipun demikian pasti ada juga yang akan mengenalnya kalau pernah menghadiri acara keluarga besar Raditya.
Yang jelasnya ia tak boleh memperkenalkan dirinya terang-terangan kecuali kalau ia mempunyai prestasi seperti Rama Putra Tama sang kakak, barulah ia boleh mengaku sebagai putri dari seorang Presiden Direktur TGR Global Company.
π
Sarah memasuki ruangan presiden direktur dengan penuh percaya diri. Disana sudah ada seorang pria paruh baya sedang menunggu mereka berdua dengan tersenyum ramah.
"Pak Sam, nona Sarah ini adalah sekretaris baru saya, silahkan diberikan petunjuk apa yang harus ia kerjakan." ujar Gala pada pria berambut putih yang mungkin usianya lebih tua dari Gala Putra Raditya.
"Baik Pak. Mari nona Sarah. Saya akan tunjukkan apa tugas anda sebagai sekretaris Pak Presdir."
"Iya Pak Sam, terima kasih."
"Ini kursi anda nona, tempat saya dulunya."
Biasanya kan sekretaris di dunia novel yang pernah aku baca, kalau bukan gadis Seksih ya cowok tampan sekelas sekretaris Han. Ah ini pasti karena papa takut sama mama nih, hihihi.
"Iya nona, sekarang ini usia saya sudah masuk purna bakti. Tetapi karena pak Presdir masih membutuhkan tenaga saya sampai beliau menemukan pengganti yang katanya cocok, makanya saya masih berada di sini." jelas Pak Sam sembari tersenyum.
"Oh begitu ya Pak Sam. Sekarang aku paham." Sarah manggut-manggut mengerti.
"Well, tugas-tugas sekretaris tidak lepas dari kerahasiaan perusahaan." ujar Pak Sam kembali berwajah serius.
"Ini disebabkan kebijakan awal yang akan dikeluarkan oleh pimpinan atau perusahaan sedikit banyak akan diketahui oleh sekretaris, karena tugas sekretaris ialah membantu pimpinan dalam meringankan tugas-tugasnya."
"Oh iya pak, aku mengerti, trus tugas ku apa pak Sam?"
"Ada tiga tugas anda nona, yang pertama tugas khusus, Tugas khusus pada umumnya diberikan oleh Pak Presdir kepada anda selaku kepercayaan dari beliau yang bisa menyelesaikan tugas yang diberikan."
"Yang kedua adalah Tugas Kreatif, yaitu anda harus melakukan tugas kreatif atas kehendak diri sendiri tanpa adanya perintah dari pimpinan. Maksud dari tugas ini, mempunyai lingkungan tak terbatas dan seorang sekretaris handal wajib mengerjakan dengan baik."
"Misalnya apa tuh pak Sam?" tanya Sarah masih bingung.
__ADS_1
"Misalnya, ada seseorang yang ingin mengganggu pekerjaan pak Presdir anda harus punya ide kreatif untuk membuatnya pergi dan tidak lagi datang mengganggu."
"Pernah ya Pak, ada yang seperti itu di ruangan ini?"
"Oh, itu sering sekali terjadi nona."
"Apa seperti seorang perempuan genit yang datang untuk mengganggu konsentrasi Pak Presdir Pak Sam?"
"Yah, salah satunya yang seperti nona katakan. Pokoknya anda harus jeli dan tak boleh lengah."
"Baik Pak Sam, aku siap. Trus apa lagi Pak?"
"Yang ketiga adakah tugas rutin yaitu tugas yang harus anda kerjakan setiap hari tanpa adanya perintah dari pimpinan."
"Contohnya seperti, mengumpulkan surat, dokumen, menerima telpon, menerima surat masuk, mengecek surat keluar dan membuat surat untuk klien dan sebagainya."
"Oh kalau itu saya tahu Pak Sam. Aku sudah pernah pelajari itu. Ada lagi pak tambahannya?"
"Ada nona Sarah, dan tak kalah pentingnya daripada semua tugas yang saya beritahu tadi."
"Apa ya pak?"
"Kalau nyonya besar, istri Pak Presdir datang berkunjung pastikan ruangan ini steril tanpa ada gangguan sampai mereka selesai dengan urusannya di ruangan ini."
"Nona Sarah harus memasang tanda dipintu, tidak boleh diganggu!" jelas Pak Sam dengan wajah serius. Sarah tanpa sadar langsung meledakkan tawanya, pasalnya aturan itu juga terjadi di Rumahnya. Papanya terlalu bucin sama mamanya meskipun usia mereka sudah tidak muda lagi.
"Ada yang lucu nona?" tanya pria berambut putih itu dengan wajah bingung.
"Mohon maaf Pak Sam, aku cuma teringat sesuatu yang sangat lucu di rumah. Maaf Pak jangan tersinggung ya, plis." ujar Sarah sembari melipat tangannya di depan dadanya.
"Tidak apa nona, kalau begitu silahkan bekerja dengan baik. Dan pastikan pak Presdir senang dengan hasil kerja anda. Saya permisi nona Sarah."'
"Iya Pak Sam, Terima kasih banyak atas bantuannya..Kalau aku tidak mengerti sesuatu boleh aku menghubungi bapak?"'
"Boleh nona, ini kartu nama saya." jawab mantan sekretaris Presiden Direktur itu sembari memberikan selembar kartu nama pada Sarah. Kemudian pergi dari hadapan Sarah dan mulai mengemas barang-barangnya.
Sarah memperhatikan suasana kantor papanya dengan senyum bangga.
"Semoga aku bisa sukses seperti Papa, Aaamiin." ujarnya kemudian mulai membuka buku agenda besar di hadapannya dimana terdapat riwayat pekerjaan dari Pak Presiden Direktur serta jadwal kerja kedepannya. Ia akan mempelajarinya dengan sangat baik agar papanya tidak kecewa padanya nanti.
---Bersambung--
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya, eh vote juga boleh dongπ
Nikmati alurnya dan happy reading πππππ