Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 205 Hampir Saja


__ADS_3

Meskipun Rara masih merasakan sakit dikakinya ia tetap memaksa untuk pulang ke rumahnya. Dengan alasan ia tak suka bau rumah sakit. Padahal ia paling merasa jengkel jika para suster yang merawatnya suka cari perhatian sama Adam. Mereka seolah-olah sibuk ukur tensi lah, ukur suhu badanlah padahal sedang ingin mencari perhatian sepupunya yang dengan rela menjaganya selama 2 hari ini di Rumah Sakit.


"Ma, aku mau pulang hari ini, boleh ya." ujar Sarah pagi itu. Ia menatap Adam yang lagi sibuk dengan laptopnya mengikuti kuliah online karena sedang menjaganya. Begitu alasannya pada dosen yang sedang mengajar pada hari dan jam itu.


"Tapi kan kamu belum sembuh sayang. Tuh kakimu belum bisa bergerak terlalu sering, nanti malah infeksi. Dokter juga belum mengizinkan." ujar Vita memberi alasan.


"Aku bosan di sini ma, ruangannya bau obat." jawab Sarah dengan nada manja. Vita Maharani sang mama langsung mengendus-endus udara di sekitarnya dengan menggunakan hidungnya. Ia mencoba mencium bau obat yang dimaksud oleh putrinya.


"Gak kok. Baunya harum. Setiap saat para petugas di sini selalu masuk dan membersihkan ruangan ini dan memberi pengharum ruangan yang kamu suka." Vita masih bertahan dengan pendapatnya. Ia belum mau membawa Sarah keluar jika keadaannya belum pulih benar.


"Mama, pokonya aku mau pulang hari ini juga." ujar Sarah kesal saat ekor matanya melihat seorang suster masuk ke ruangannya yang ia perhatikan selama ia dirawat paling rajin mengunjunginya jika Adam ada di sini. Cari perhatian yang bikin hatinya jengkel setengah mati.


"Mba Sarah, waktunya ukur tensi ya." ujar suster yang bernama Ameera itu sesuai papan nama yang tertulis di bagian atas dadanya. Sarah menunjukkan wajah juteknya karena si Ameera mengukur tensinya sembari meladeni pertanyaan-pertanyaan tidak berfaedah dari Adam.


"Sus, sudah lama ya kerja di sini?" tanya Adam berbasa-basi.


"Iya mas, Udah lama juga. Sekitar 2 tahun gitu." jawab Ameera dengan senyum manisnya, menampilkan lesung pipi yang sangat manis di wajahnya.


"Oh, udah professional banget dong."


"Ah tidak juga mas. Masih tahap belajar."


"Suster itu pekerjaan hebat ya."


"Hebat kenapa mas?"


"Bisa merawat dan mengobati banyak orang."


"Yah begitulah mas, namanya kita bekerja di bagian pelayanan. Ya pasti bisa melayani dan merawat orang."

__ADS_1


"Kalau lagi sakit hati boleh gak dirawat sama suster?" tanya Adam bermaksud menggoda dan semakin membuat rona merah di wajah Ameera.


Gerrrr


Hati Sarah semakin mendidih dibuatnya. Ia kesal dengan gombalan receh Adam pada suster yang tidak tahu malu itu.


"Lho mba Sarah, tensinya kok tinggi banget yak?" tanya Ameera saat melihat angka yang tertera pada alat pengukur tensi yang ia bawa menunjukkan 140/ 90. Vita langsung berdiri dari duduknya dan menghampiri suster itu.


"Harus minum obat nih supaya gak terlalu tinggi kayak gini. Umumkan usia muda seperti mba Sarah tensinya paling 110/90. Atau sekitaran itu deh." ujar Ameera dan mulai menyimpan alat yang ia bawa.


"Jadi gimana suster, apa berbahaya ya?" tanya Vita khawatir. Ia menatap putrinya dengan wajah panik sedangkan yang di tatap malah mencibir.


"Itu karena suster bawa alat yang salah atau rusak." jawab Sarah ketus.


"Lho kok bilang begitu sayang." tegur Vita karena putrinya itu terkesan jutek dan tidak sopan.


"Coba deh periksa ulang. Kan kalau periksa pasien itu harus perhatikan pasiennya bukannya memperhatikan yang lain." sindir Sarah sambil mengirim tatapan membunuh pada Adam yang sedang tersenyum samar.


"Iya, Bu ini sudah normal kok." ujar suster berlesung pipi itu tersenyum dan merasa tak enak hati.


"Nah kan aku bilang juga apa." ujar Sarah tersenyum menang. Ameera langsung minta maaf atas kesalahannya dan segera pamit dari ruangan itu.


"Untunglah disuruh ulang sayang. Takutnya kamu malah dikasih obat lagi padahal kan udah normal." Vita kembali duduk di sofa tempatnya duduk tadi.


"Ini sekedar saran ya bagi orang yang suka tebar pesona dan cari perhatian, jangan lakukan itu lagi saat orang lain sedang bekerja, karena bisa mengakibatkan kesalahan fatal dan berakibat gatal." sindir Sarah pada Adam dengan kalimat yang cukup panjang dan juga lebar. Adam tak bisa menahan tawanya ia langsung berdiri dan menghampiri ranjang Sarah.


"Ini putrinya Tante Vita kok kalau ngomong suka benar ya."


"Ya, siapa dulu dong mamanya hahaha." Jawab Vita sambil ikut tertawa juga.

__ADS_1


"Udah ah, mama aku mau pulang. Malas dijagain sama Adam." ujar Sarah merajuk. Adam tersenyum dan menatapnya lembut.


"Aku pulang kalo gitu. Aku kangen udah 2 hari gak ketemu dedekku yang lucu." ujar Adam kemudian membereskan laptop dan juga semua barang-barangnya di depan Sarah. Gadis itu langsung cemberut dan semakin kesal. Ia lantas melempari Adam dengan kotak tissue yang ada di tangannya.


Pletak


"Awww," teriak Adam dan membuat Vita terlonjak kaget. Rupanya perempuan cantik itu sedang tertidur.


"Ada apa Dam. Kamu mengagetkan tante." ujar Vita sembari mengelus dadanya karena kaget.


"Maaf tante Vit, Sarah tuh yang lemparin aku ini." ujar Adam sambil memperlihatkan kotak tissue yang selalu jadi korban dilempar sana sini.


"Sarah!" mata Vita melotot tak suka.


"Kalian kenapa sih, kayak kucing dan tikus. Selalu saja ribut." lanjut Vita mendengus kesal kemudian melanjutkan tidurnya.


"Habisnya kamu gak peka banget jadi cowok. Bikin jengkel terus." ujar Sarah pelan bagai gumaman. Ia menurunkan volume suaranya agar mamanya tidak terganggu. Adam jadi gemes melihat Sarah seperti itu. Ia lantas menghentikan acara ngepak-ngepak barangnya kemudian menghampiri Sarah dan menggenggam tangan gadis itu lembut.


"Kalau suka marah-marah kamu jadinya gak cantik lagi. Senyum dong." ujar Adam sembari tangannya bergerak ingin menyentuh bibir Sarah yang mulai ingin tersenyum.


"Ekhem." ujar Vita dengan suara keras. "Mama bisa melihat kalian ya, meskipun mata mama tertutup." lanjut Vita masih dengan posisi yang sama. Kedua matanya terpejam sementara punggungnya sedang bersandar santai pada sandaran sofa itu.


Adam langsung salah tingkah. Ia langsung mundur dan menjaga jarak pada putri kedua Gala Putra Raditya itu. Sarah tersenyum lebar dengan ekspresi Adam yang cukup lucu baginya.


"Okey, Sar. Aku ke kantin dulu mau cari minuman dingin." ujar Adam kemudian segera melangkah cepat keluar dari ruangan itu. Ia begitu malu sama Tante Vita yang hampir saja melihatnya melakukan suatu hal yang tidak sopan pada putrinya itu.


---Bersambung--


Mana nih dukungannya untuk karya receh ini. Like dan komen dong biar aku semakin semangat update nya.

__ADS_1


Ada hadiah bungakah??? atau Vote mungkin hehehe maksa.


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍


__ADS_2