Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 257 Bukti Cinta Adam


__ADS_3

Eci Karin melempar undangan pernikahan berwarna merah itu ke tubuh Adam. Tepatnya ke dada bidang pria yang selama ini ingin ia persuamikan.


"Untuk apa kamu mengundangku Dam?! mau melihat aku sakit hati gitu?" cibirnya dengan mata tajam. Adam hanya diam dan berniat untuk meninggalkan perempuan itu. Yang penting ia sudah datang untuk menyerahkan undangan. Ia tak mau mendengar drama dari seorang Eci temannya.


"Ih hebat ya? apa Sarah itu sudah menyerahkan dirinya padamu sampai secepat ini kamu langsung melamarnya?" tanya Eci dengan emosi didadanya.


"Jangan ngomong seperti itu tentang Sarah, ia gadis suci yang bisa menjaga dirinya. Aku tidak suka."


"Lalu? Aku harus ngomong apa tentang dia, Oh Sarah yang sangat cantik bagai malaikat. Selamat ya, begitu?' ujar Eci sembari tersenyum miris, hatinya sangat sakit diperlakukan seperti ini oleh Adam.


"Kamu tega Dam, kamu selalu memberiku harapan yang ternyata palsu, hiks." lanjut Eci sembari menutup wajahnya, ia menangis. Adam langsung berdiri dari duduknya.


"Maaf Ci' aku sungguh tak pernah memberimu harapan, kamu yang tidak pintar membaca situasi." Adam menarik nafas panjang kemudian melanjutkan,


"Dari dulu sejak kami kecil, kami sudah sangat dekat yang mungkin kami tidak sadari bahwa kami saling mencintai, sampai aku berpisah lama darinya aku baru benar-benar yakin kalau aku sangat menginginkan Sarah menjadi istriku," jelas Adam mencoba tersenyum di depan Eci Karin.


"Aku tak ingin menyakitimu dengan memaksakan perasaan yang sebenarnya bukan untukmu, maafkan aku. Suatu saat engkau pasti menemukan laki-laki yang mencintaimu dengan tulus." lanjut Adam kemudian melangkahkan kakinya keluar dari rumah perempuan itu.


Ia meninggalkan Eci Karin yang sibuk menangis sendiri tanpa perlu berpamitan lagi, tetapi di ambang pintu ia bertemu dengan Om Wawan dan juga Tante Suriya orang tua Eci Karin.


"Adam? kok sudah pulang nak, apa Eci tidak menjamu mu ya?" tanya Suriya sembari melongokkan kepalanya ke dalam ruang tamunya itu. Mencari sosok sang putri.


"Aku cuma sebentar Om, tante, maaf aku permisi, Assalamualaikum." ujar Adam dan segera melangkahkan kakinya cepat ke arah mobilnya. Ia tak ingin berlama-lama disana dan menyaksikan sebuah drama baru.


"Pa! apa ini? Huaaaa kita gagal menjadikan Adam menantu kita Pa..." teriak Suriya histeris saat melihat sebuah undangan cantik di atas meja di ruang tamunya sedangkan Eci Karin sang putri hanya bisa menangis.


🍁


Adam memandang wallpaper di handphonenya yang berisi fotonya dengan Sarah sewaktu masih kecil.


"Sarah, gak nyangka sebentar lagi kamu jadi istriku," ujarnya sembari mengelus foto itu dengan senyum diwajahnya. Ada debaran lembut di dalam dadanya menyatakan begitu ia bahagia dengan semua ini.

__ADS_1


Ingatannya berjalan mundur ke saat-saat ia berpisah jauh dengan gadis itu, dimana rasa rindu begitu menyiksanya. Ia harus bertahan untuk tidak menghubungi Sarah atas perintah papa dari gadis itu. Bertahun-tahun ia menahan rindu yang menggunung.


"Dam? kamu ada di dalam sayang?" panggil Risma Yanti sang mama dari arah pintu kamarnya.


Adam tersentak dari lamunannya,


"Iya Ma, aku di sini." jawab Adam kemudian segera membuka pintu kamarnya.


"Sisa dua hari lho hari pernikahanmu tapi kok mama belum pernah lihat cincin kawinmu sih, udah sampai belum?" tanya Risma dengan wajah sedikit kesal. Pasalnya putranya itu yang akan menikah tetapi sepertinya sangat santai dan kurang perhatian.


"Iya dong Ma, semuanya sudah siap," jawab Adam dan menarik tangan Mamanya untuk memasuki kamarnya. Ia membawa perempuan berhijab itu kedalam walk in closet miliknya.


"Wah, ini semua sudah kamu siapkan ya Dam? kok gak pernah bilang sama mama sih?" Risma terpukau melihat hampir semua isi dari rak dan lemari itu semuanya berisi barang-barang mewah untuk perempuan yang pastinya adalah untuk Sarah si calon pengantin perempuan.


"Sejak kapan kamu mempersiapkan ini Dam? padahal mama juga sudah menyiapkannya untuk calon menantuku itu." Risma mulai melihat-lihat barang-barang mewah itu yang pastinya sangat mahal. Padahal yang ia tahu putranya itu belum bekerja dan hanya menempuh pendidikan di Luar Negeri.


Dari mana Adam mendapatkan uang sebanyak ini untuk membeli barang-barang mahal seperti ini?


"Selama aku belajar di Cambridge, aku juga kerja paruh waktu Ma, Aku tidak pernah menyentuh uang jajan dari Papa, karena Aku juga mendapatkan beasiswa."


"Adam? kamu?" Risma Yanti menatap putranya dengan wajah tak percaya.


"Iya Ma, Aku baru memakai uang dari Papa untuk membeli saham di bursa saham, dan ternyata saat aku jual kembali hasilnya sangat banyak Ma, sekarang aku yakin bisa menghidupi istriku. Aku menyiapkan ini semua sejak di Cambridge Ma, dengan uang itu." ujar Adam sembari menunjuk seserahan untuk Sarah, calon istri idamannya.


"Kamu kok sweet banget sih, dan pintar menyembunyikan hal besar ini dari Mama dan Papa,"


ujar Risma Yanti sembari mencubit pipi putranya karena gemas.


"Aku harus Ma, kalau aku ingin jadi menantu Om Gala dan mengambil putrinya itu jadi milikku." ujar Adam dengan senyum di wajahnya.


"Padahal mama kemarin ketemu sama Sarah lho di Rumah kediaman Raditya waktu kami membicarakan konsep pesta pernikahan kalian. Calon istrimu itu kesal setengah mati sama kamu Dam."

__ADS_1


"Kesal kenapa Ma?" tanya Adam penasaran.


"Sarah mengadu sama mama, katanya kamu tuh gak perhatian padanya, bahkan untuk cincin atau seserahan apa yang ia inginkan kamu tidak pernah bertanya, pokoknya hati-hati saja Sarah ngambek padamu nak." Adam langsung tertawa.


"Untuk apa aku tanya Ma, semua yang dia suka sudah aku hafal diluar kepalaku, begitupun yang ia tidak suka,"


"Ya ampun Adam, pantas banyak cewek yang sakit hati kalau kamu menikah, kamu cowok limited edition sayang."


"Ih Mama, ini hanya untuk Sarah seorang Ma," ujar Adam sembari meremas tengkuknya karena malu disanjung seperti itu oleh mamanya sendiri.


"Mama yakin, saat kamu menikah nanti akan jadi hari patah hati nasional." ujar Risma Yanti kemudian keluar dari walk in closet itu.


"Mama sekarang sudah tenang. Doa mama semoga keluarga kalian bahagia dunia dan akhirat. Dan kamu bisa jadi pemimpin di keluargamu."


"Iya Ma, makasih doanya. Mama dan Papa juga semoga bahagia selamanya, dan sehat menantikan cucu Mama."


"Adam?!" kamu sudah mau kasih mama cucu?" tanya Risma pura-pura tidak percaya dengan pendengarannya.


"Lah, untuk apa aku menikahi Sarah kalau bukan untuk bikinkan Mama cucu "


Plak


Risma Yanti langsung memukul bahu putranya itu keras.


"Kenapa Ma, apakah salah?" tanya Adam bingung dengan reaksi Mamanya.


"Tidak, lanjutkan niatmu, mama senang." ujar Risma Yanti kemudian meninggalkan Adam yang melongo dengan gaya cool mamanya.


---Bersambung--


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya okey?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍


__ADS_2