Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 174 Rahasia Besar Mawar Raditya


__ADS_3

Gala dan Rama meminta izin kepada suster jaga agar bisa masuk ke ruangan Nyonya Mawar Raditya berdua. Setelah mendapatkan izin mereka pun masuk dengan tak lupa melaksanakan prosedur yang berlaku. Yakni menggunakan pakaian khusus dan juga masker.


Ternyata alat bantu pernapasan yang tadi terpasang di hidung Nyonya Mawar sudah terlepas. Ia sekarang nampak lebih baik dari beberapa jam yang lalu. Mungkin karena doa semua orang.


"Mama, gimana perasaannya?" tanya Gala dengan wajah senang penuh syukur.


"Alhamdulillah, sekarang lebih baik." jawab Nyonya Mawar dengan suara lemah.


"Eyang putri." sapa Rama kemudian mencium tangan perempuan tua itu takzim.


"Duduk sayang." ujar Nyonya Mawar mempersilahkan.


Mereka berdua menarik kursi kemudian duduk dan mulai mendengarkan apa yang akan perempuan itu katakan.


"Mama, jangan paksakan diri, gak usah diceritain kalau itu berat." ujar Gala berusaha menahan apa yang ingin mamanya sampaikan.


"Kamu sudah buka micro chip itu nak?" tanya Nyonya Mawar kepada Gala yang ia tugaskan untuk membawa benda yang dimaksudkan.


"Sudah ma." jawab Gala singkat ia rasanya tak mau mengulang memori mengingat bagaimana kejamnya Reksadana melakukan pembunuhan pada seorang pria muda di dalam video itu.


Nyonya Mawar menarik nafas panjang dan mulai menceritakan siapa orang yang ada di dalam video itu.


Flash back on


Raditya adalah seorang pria muda yang sangat jenius. Pada usianya yang ke 20 tahun ia sudah berhasil menyelesaikan studinya di Luar negeri mengambil jurusan Informasi dan Teknologi.


Sesuai cita-cita keluarganya ia disiapkan menjadi pemegang tampuk pimpinan pada perusahaan keluarganya yang bergerak di bidang Teknologi dan Informasi.

__ADS_1


Untuk membuktikan kemampuannya ia mulai merakit sebuah Chip atau semacam memori yang bisa menyimpan banyak informasi dan file berupa foto dan video. Chip ini di partisi dan dibagi-bagi penggunaannya. Ada yang menyimpan cache, ada yang menyimpan sistem file serta aplikasi. Chip ini biasanya berukuran 1 sampai 2 GB.


Ketika ia sedang tenggelam dalam kesibukannya menemukan dan menciptakan maha karya seperti ini, ia malah tidak dapat pengakuan. Karena belum ada seorang pun di negara ini yang menemukan hal yang sejenis sehingga banyak pihak yang tidak yakin akan penemuannya itu. Apalagi waktu itu masa dimana negara masih kurang dalam hal teknologi dan informasi. Semua hal masih dikerjakan manual. Komputer waktu itu masih sangat bisa dihitung dengan jari.


Akhirnya ia memutuskan untuk menyimpan hasil karyanya itu di suatu tempat yang sangat aman yaitu bersama istrinya Mawar untuk sementara waktu. Ia mulai tertarik dengan bisnis batu akik atau batu mulia yang ditawarkan oleh sahabat lamanya Reksadana.


Berhari-hari mereka bertiga, Raditya, Reksadana, dan juga Rahardian mengunjungi daerah-daerah di seluruh Indonesia yang mempunyai kekayaan berupa batu akik atau batu alam yang bisa diperjual belikan dengan harga yang sangat mahal.


"Mas, gak usah ikut mereka lagi cari batu-batu gitu. Tama juga mau dekat sama papanya." ujar Mawar suatu waktu ketika sang suami jarang tinggal di rumah. Ia lebih sering kumpul-kumpul dengan sahabat yang punya bisnis tidak jelas itu. Apalagi Reksadana yang suka dengan hal-hal yang berhubungan dengan klenik. Ia sering mengajak suaminya itu naik gunung turun gunung untuk mencari ilmu memperkaya diri.


"Iya, aku akan lebih banyak tinggal di rumah sekarang. Apalagi papa sekarang meminta aku mengurusi perusahaan." ujar Raditya ketika Mawar mulai komplain. Beberapa tahun itu Raditya kembali fokus pada perusahaan dan kembali dekat dengan putra-putranya. Tama dan Gala. Hingga akhirnya Perusahaan menjadi maju pesat dan berkembang dengan informasi dan Teknologinya. Kemampuannya mulai bisa diperhitungkan di dunia usaha di negara ini. TGR Global Company adalah nama perusahaannnya singkatan dari nama-nama putranya TAMA GALA RADITYA.


Suatu hari Reksadana muncul lagi di keluarga mereka. Ia datang bersama Rahardian pada saat Raditya tidak berada di rumah. Dua orang itu saling berdebat di sebuah taman di belakang rumah Raditya. Sampai Mawar yang punya hobi fotografi sempat merekam pertengkaran mereka berdua dan berakhir Reksadana membunuh Rahardian di depan mata Mawar yang sempat terekam dalam kamera yang berisi chip atau memori yang sempat ia simpan dalam kamera itu.


Sejak saat itu ia menyimpan bukti itu di dalam sebuah tempat yang sangat rahasia dan takut melaporkan kejadian itu pada suaminya sendiri apalagi polisi. Penampilan Reksadana yang sangat menyeramkan itu cukup mempengaruhi kejiwaannya. Berhari-hari ia berada dalam ketakutan hingga juga mempengaruhi jantungnya.


"Menikahlah denganku Mawar!" paksa Reksadana suatu hari.


"Aku tidak mau. Aku sudah punya suami." jawab Mawar tegas. Ia harus berani menolak laki-laki bajingan itu.


"Kamu harus mau kalau tidak suamimu tidak akan panjang umur. Menurut orang pintar di gunung Sindoro. Aku harus menikahi istri dari sahabatku sendiri agar aku panjang umur dan kekayaan ku tidak berkurang." ujarnya percaya diri dan tak tahu malu. Mawar seketika merasa takut. Jangan-jangan Rahardian yang dilenyapkan oleh tangan dingin pria bajingan ini juga atas perintah orang pintar dari gunung Sindoro.


Tanpa memberi lagi kesempatan pada Reksadana atas kemauannya yang aneh dan rada gila itu, Mawar langsung meminta kepada suaminya agar pindah rumah dan merahasiakan alamat mereka agar orang itu tidak datang lagi.


Tetapi ternyata orang itu tidak mati akal, ia malah menjadi penguntit bagi Mawar. Hingga ia menjadi sering kaget, tertekan, dan ketakutan sendiri. Akhirnya ia memutuskan untuk ikut bekerja bersama suaminya di perusahaan agar ia merasa lebih aman. Ikut belajar dan mulai mengerti tentang Perusahaan.


Kematian suaminya yang tiba-tiba menambah kecurigaannya pada Reksadana. Tetapi ia hanya seorang perempuan biasa yang takut menuntut dan akhirnya ia diamkan saja dan malah menggerogoti jantungnya karena sering mendapatkan ancaman dan teror. Ia berusaha menjadi perempuan kuat untuk putra-putranya. Menggantikan suaminya di Perusahaan sebagai Presiden Direktur. Menjadi perempuan yang dingin dan terkesan kejam bagi semua orang padahal sebenarnya ia adalah perempuan rapuh dan lemah yang menyimpan banyak hal yang menyedihkan. Ia berpura-pura jadi perempuan tangguh agar Reksadana menjauh darinya dan mulai mencari mangsa baru.

__ADS_1


Flashback off


Gala memeluk mamanya dengan berlinang air mata. Ia baru menyadari bagaimana kerasnya kehidupan mamanya selama ini.


"Kalau benar bajingan itu yang membunuh papa, aku pastikan ia akan menderita Ma." janji Gala geram. Nyonya Mawar mengelus punggung Gala lembut. "Biarkan hukum yang membuktikannya nak. Dan juga yakinlah bahwasanya semua yang kita lakukan pasti ada balasannya." ujar Mawar lembut.


---Bersambung---


Hai readers tersayangnya othor, gimana? udah jelas kan duduk masalahnya.


Kalo ada yang masih bingung dengan usia mereka sini othor kasih tahu.


Raditya dan Mawar menikah pada usia 20 tahun. Trus lahiriah anak pertama mereka yaitu Tama Putra Raditya 1 tahun kemudian. (Tama itu papa kandung Rama ya bukannya Gala) Tiga tahun berikutnya lahirlah Gala putra Raditya (anak kedua Mawar)


Mawar : 70 thn


Tama. : 49 thn


Gala. : 46 thn


Rama. : 24 thn


Raditya meninggal saat usia Tama sekitar 21 tahun dan Gala 19 tahun.


Sedangkan Tama sendiri meninggal saat Rama berusia 6 bulan.


Bagi like, komentar dan bunganya dong.

__ADS_1


__ADS_2