Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 92 Bulan Madu Part 2


__ADS_3

Deka Roland memandang kesal ke arah gedung hotel tempat mereka menginap berada. Sedari tadi ia menghubungi pak GM agar segera ke lokasi untuk membuka acara Meet and Gathering karyawan TGR Global Company secara resmi tetapi sampai detik ini panggilannya selalu diabaikan.


Deka meremas handphonenya kesal. Ia sudah bisa menduga alasan Pak GM tidak mau diganggu di pagi buta begini. Otaknya yang polos dipaksa untuk memikirkan alasan apa yang akan ia katakan pada para karyawan lainnya.


"Lima menit lagi." bisiknya dalam hati sembari melirik kembali jam tangannya. Kehadiran Gala Putra Raditya pada saat ini sangat ia harapkan karena General Manager itu juga akan membuka sekaligus lomba Volly pantai antar Divisi yang akan diadakan sebentar lagi.


"Jadi, bagaimana ini pak?" tanya Risma dengan tampilan wajah khawatir. Deka menarik nafas berat. Ia juga resah sebenarnya tapi ia berusaha ia menyembunyikanya.


Gala tak pernah seperti ini sebelumnya. Ia adalah orang yang sangat disiplin dan bertanggung jawab apalagi semalam mereka berdua sudah membicarakan dengan penuh perencanaan yang matang akan keseluruhan acara selama dua hari ini yang penting jangan membuat waktunya bersama Vita terganggu.


"Tidak apa, Pak GM pasti datang kok, mungkin masih cari yang anget-anget dulu," jawab Deka sekenanya. Ia tak ingin Risma bertambah khawatir dan merasa kurang berhasil menjadi panitia.


"Kayak susu atau teh anget gitu ya pak?" tanya Risma polos. Ia juga butuh yang seperti itu soalnya bangun tidur tadi ia langsung sholat kemudian saat melihat panggilan dari Deka, ia bersegera ke tempat ini. Dan disinilah ia sekarang tanpa sarapan atau apapun yang bisa mengganjal perutnya.


"Pak GM sukanya susu putih, aku juga," jawab Deka lagi sekenanya.


"Aku juga mau minum susu anget," lanjutnya dengan ekspresi tak terbaca yang langsung membuat Risma mengernyit bingung. Ia mencoba memahami arah pembicaraan pria yang sudah menyatakan cinta itu padanya tetapi sampai sekarang belum bisa ia jawab.Ia masih belum bisa mengerti perasaanya sendiri. Selama ini ia menyukai Deka sebagai pribadi pekerja keras, ramah, dan kadang kocak yang sayangnya tampan. Apakah ia juga menyukai dalam tanda kutip asisten pribadi pak GM ini. Ia belum bisa meraba perasaannya, yang ia tahu ada rasa nyaman ketika bersama pria ini.


"Ris?" tegur Deka ketika melihat Risma diam dan sepertinya larut dalam pikiran yang dalam.


"Eh, iya pak, kenapa?"


"Jangan suka ngelamun, nanti cantik kamu berkurang," ujar Deka dengan senyum menggoda. Risma langsung menutup wajahnya yang tiba-tiba menghangat.


"Tuh pak GM sudah ada, ayok..."lanjut Deka dengan menunjuk Gala dengan sorot matanya. Mereka berdua pun melangkah ke arah tempat dimana Gala berada.


"Darimana sama Risma?" tanya Gala dengan pandangan menyelidik.


"Panitia kok sibuk berduaan sampai gak lihat aku sudah jamuran di sini." tambah Gala sembari menyugar rambutnya yang masih basah dengan jari-jarinya. Ia memperbaiki letak kaca mata hitamnya yang bertengger manis di hidungnya yang mancung kemudian tersenyum samar kepada Deka. Deka mendengus dan memutar bola matanya jengah dengan tingkah bosnya ini.


"Kita mulai pak ya pembukaannya," ujar Deka cepat. Ia tak mau kena sindiran lagi dari bos narsisnya ini.


"Tapi eh, Risma kamu tidak diapa-apain sama asisten aku ini kan?" Gala mengalihkan pandangannya ke arah Risma.


"Alhamdulillah belum pak," jawab Risma Yanti sembari tersenyum.


Eh


"Baiklah kalau begitu, minta semua orang berkumpul di lapangan volly itu. Kita segera mulai acaranya. Dan menit berikutnya acara Meet dan Gathering TGR Global Company dimulai dengan lomba perdana adalah volly pantai. Gala memohon maaf sebesar-besarnya karena istrinya tidak bisa ikut pada pembukaan ini karena masih kelelahan dalam perjalanan yang cukup jauh melintasi lautan ini.

__ADS_1


"Ih mas Gala bikin sebel," gerutu Vita di dalam kamarnya. Ia terkurung di sini setelah menyelesaikan misi pengecekan dedek bayi oleh suaminya yang super mesum itu. Ia cukup lelah dengan kegiatan menyenangkan itu hingga akhirnya ia hanya bisa berbaring saja mengumpulkan tenaga untuk selanjutnya mereka berdua berencana naik perahu berkeliling dan mengunjungi sebuah pulau kecil di kota kecil itu.


Vita meraih handphonenya yang berada di atas nakas samping ranjangnya. Ia ingin menghubungi suaminya agar segera kembali ke kamar.


"Halo...mas, kembali ke sini ya," pintanya dengan suara manja. Ia tahu suaminya akan senang hati jika ia bermanja-manja dan merasa dibutuhkan.


"Hmm, ada apa sayang? masih mau ya?" tanya Gala di seberang sana yang Vita pastikan suaminya itu sedang tersenyum-senyum sendiri.


"Iyya mas, tentu saja masih mau, sini deh cepetan jangan pakai lama," ujar Vita dengan sejuta rencana di kepalanya.


"Okey, tunggu bentar, siapkan dirimu ya?" ujar Gala dengan seringaian senang.


Tut


Vita mematikan sambungan telepon itu dengan senyum puas.


"Dek, aku ke kamar dulu ya, Vita lagi butuh sama aku..." ujar Gala sembari bersiap-siap meninggalkan arena lomba yang sedang berlangsung.


"Okey, tapi ingat sebelum makan siang bapak akan berangkat ke pulau Sanro Bengi ya," ujar Deka mengingatkan rangkaian bulan madu sang bos.


"Hem," jawab Gala singkat. Ia pun berlalu dari hadapan Deka dan setelah berbasa-basi sedikit dengan karyawan lainnya ia kembali ke kamar menemui istrinya yang katanya masih ingin itu.


Sepeninggal Gala Putra Raditya sang General Manager, para karyawan yang sedang menikmati matahari terbit sekaligus menjadi penonton dan penyemangat lomba dikejutkan oleh kedatangan seseorang yang pernah mereka kenal.


"Siapa sih?" tanya yang lain.


"Masak lupa sih ex karyawan TGR yang itu..." timpal yang lain yang ternyata sudah bisa mengenali siapa gadis yang hanya mengenakan pakaian renang itu.


"Oh iya ingat, si semangka jumbo itu kan?"


"Gisel Singkilaya?"


"He eh, siapa lagi coba? yang berani tampil seperti itu."


"Ya ampun pagi-pagi kok bahas semangka jumbo sih, enak banget kayaknya ya,..." Berbagai macam ucapan-ucapan yang ditujukan kepada Gisel keluar dari mulut para pria tak berakhlak itu.


"Hush!" Deka akhirnya menjeda percakapan mereka yang sudah menggibahi orang lain. Sebuah percakapan biasa para laki-laki dewasa yang tidak pernah lepas dari pembicaraan seputar perempuan seksi saja dan segala daya tariknya.


"Aku dengar ia sekarang jadi simpanan orang kaya , ya?" ternyata di sudut sana terjadi juga bisik-bisik dari para karyawan perempuan.

__ADS_1


"Iya, pantas penampilannya semakin oke," jawab yang lainnya dengan pandangan tak lepas dari sosok Gisel dari kejauhan.


"Kita sapa yuk," yang lain mengajak mereka untuk menghampiri Gisel.


"Boleh, sekalian kita reunian, hahaha,"


"Yup betul banget,"


Merekapun melangkahkan kaki mereka ke arah Gisel yang sedang duduk di bibir pantai dengan berselonjor santai.


"Hai, Gisel," sapa Hany ramah. Gisel tidak menjawab pandangannya tetap ke arah hamparan air laut dengan deburan ombak yang cukup besar pagi itu.


"Sombongnya," bisik salah satu dari mereka. Gisel menatap mereka satu persatu dengan tatapan angkuh. "Masih kenal aku ya?" jawab Gisel mencibir.


"Tentu sajalah, kita kan pernah bekerja bersama masak kamu lupa sih,"


"Hem, permisi ya, aku mau istirahat." jawab Gisel bermaksud mengabaikan mantan temannya itu.


"Yuks Honey, kita kembali ke kamar..." ujar Gisel dan mengajak pria yang sejak tadi menemaninya di pantai itu. Mereka berdua pun pergi tanpa menoleh atau membalas basa-basi karyawan TGR.


"Ih, sombong banget," Hany mengepalkan tangannya kesal.


Di restoran hotel, Vita sedang menyantap sarapan pagi itu dengan ditemani oleh Gala suaminya. Gala tersenyum kecut sedari tadi.


"Mas, kok gak seneng sih temanin aku," ujar Vita sembari mengelus pelan lengan suaminya.


"Tadi katanya masih pingin itu, tapi nyatanya?" ujar Gala sedikit kesal karena dikerjain oleh istrinya itu.


"Ih, mas gak kasian sama dedeknya? kan lapar juga..."


"Iyya deh, kamu makan yang banyak supaya kuat, sayang." Gala mengecup tangan Vita lembut. Ia hanya berpura-pura kesal padahal ia senang sekali kalau istrinya itu mau bermanja-manja seperti itu. Mereka saling menatap penuh cinta yang membuat seseorang di pojok sana sedang menahan gemuruh di dadanya.


"Tunggu pembalasanku Ge Pe ER..." ujarnya pelan dengan pandangan benci kearah pasangan bahagia itu.


🍁🍁🍁🍁🍁


Hai para readers tersayangnya othor, tetap dukung karya ini dengan cara tap Favorit, klik like, ketik komentar, trus kirim hadiahnya yang banyak...


Nimati alurnya dan Happy reading 😍😍😍😍😍.

__ADS_1


Ini nih ada karya teman aku, silahkan mampir ya sayang,



__ADS_2