
Deka bernafas lega saat melihat pasangan pengantin baru itu sudah melangkah turun dari kamar mereka di lantai 2. Ternyata mereka berdua betul-betul sudah kenyang karena sama sekali tidak ada yang mampir di meja makan untuk sarapan.
Gala menautkan jari-jarinya ke jari tangan Vita dan membawanya langsung ke dalam mobil dimana seorang sopir menunggunya di sana sembari membuka pintu mobil.
Didalam mobil Deka sempat merasa risih sendiri akan suara-suara yang ia dengar di belakangnya.
"Mas, udah dong...geli ah," ujar Vita dengan suara renyah menahan geli. Rupanya kupingnya sedang ditiup pelan oleh Gala suaminya karena sedari tadi diam saja. Deka sempat mengintip dari kaca kecil di atas kepalanya. Ia sampai menarik nafas jengah, jiwa jomblonya meronta-ronta.
"Mas..." ujar Vita lagi dengan suara yang sudah hampir hilang. Deka semakin resah, berusaha menebak apa saja yang mereka lakukan di belakang sana. Ia tak mau konsentrasinya buyar gara-gara kegiatan dua orang di belakangnya yang tak tahu situasi dan tempat.
"Mas, aku malu..."
"Aku bilang diam saja," Kali ini suara Gala yang terdengar berat dan parau.
"Apa tadi belum cukup ya sampai kita hampir terlambat seperti ini" gumam Deka membatin.
"Ekhem" tanpa sadar Deka berdehem untuk melonggarkan pernafasannya. Sehingga justru membuat dua tokoh utama di belakangnya langsung terdiam dalam beberapa detik.
krik
krik
sepi
"Yang jomblo diam saja!" ujar Gala tiba-tiba dengan suara bak petir menyambar hati Deka, perih. Setelah itu hanya suara Vita saja yang terdengar kembali merajuk manja dengan kelakuan suaminya yang selalu menggodanya.
Mereka tiba di Perusahaan dengan tepat waktu. Rupanya walaupun sempat membuat Deka ketar-ketir ternyata pak GM tetap bekerja secara profesional ia meninggalkan sarapan dirumah agar bisa datang tepat waktu dan menjadi contoh di depan semua karyawannya.
Di depan pintu, tak sengaja mereka bertemu dengan pasangan Reno dan Miska. Reno yang saat itu mengantar Miska untuk bekerja dan akan kembali ke kantornya lagi setelah mamastikab istirinya yang sedang mengandung itu sampai dengan selamat. Ini pertama kalinya dua pasangan itu bertemu setelah acara resepsi pernikahan Gala dan Vita.
"Selamat pagi pak GM, Vita..." sapa Reno ramah seraya menganggukkan kepalanya sedikit tetapi entah kenapa matanya tidak ingin lepas dari wajah Vita yang sangat cantik dan cerah pagi itu. Ada binar bahagia dan sedih secara bersamaan menyelusup ke dalam hatinya.
"Kamu cantik sekali, Vit," ujarnya membatin
"Pagi Ren, "jawab Gala singkat ia bisa melihat ada yang aneh dari sorot mata Reno pada istrinya.
"Vit,..." ujar Reno seperti ingin menyampaikan sesuatu tetapi terjeda karena Miska ikut bersuara.
__ADS_1
"Kakak, katanya buru-buru," ujar Miska resah. Ia mendorong tubuh Reno agar segera berangkat ke Kantornya sendiri. Hatinya masih belum rela jika melihat suaminya bertegur sapa dengan Vita.
"Eh, iya..., baiklah, aku berangkat." ujar Reno seketika merasa canggung dengan tatapan ketiga orang di hadapannya. Miska menarik nafas lega kemudian berlalu dari hadapan Gala dan Vita tanpa berbasa-basi.
Mereka berduapun akhirnya memasuki gedung TGR dengan diam. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Gala sama sekali tidak bersuara, ia hanya sibuk memikirkan ada hubungan apa antara Vita dan Reno sebelum ini. Pandangan mata Reno pada istrinya cukup membuatnya terganggu.
Vita juga terdiam dan tak berniat untuk mengobrol dengan suaminya. Ia sibuk memikirkan ekspresi Miska padanya yang tetap judes dan tak ramah padahal keinginannya memiliki Reno sudah tercapai.
"Hem, semoga keluarga mereka bahagia," ujar Vita dalam hati.
Selama seharian di ruangan yang sama, Gala tidak lagi mengganggu Vita bekerja. Bahkan sarapan dan makan siangpun mereka lewatkan. Vita yang punya kebiasaan teratur dalam hal makan langsung menghampiri meja sang General Manager itu yang sedari tadi sibuk dan tidak pernah menegurnya.
"Mas, makan yuk. Aku lapar," ujar Vita dengan suara dibuat selembut mungkin. Ia heran dengan perubahan suaminya yang tiba-tiba jadi sangat pendiam. Deka saja merasa aneh.
"Makan saja sendiri, aku masih banyak pekerjaan." jawab Gala dingin. Ia terlihat sibuk dengan layar laptop di depannya. Vita tersenyum keki, ia kecewa tetapi berusaha memasang wajah santai.
"Aku makan di kantin ya, lama tidak pernah kesana, " ujar Vita lagi berharap ada respon dari suaminya.
"Hem," hanya itu yang keluar dari mulut suaminya. Akhirnya Vita keluar dari ruangan itu sendiri karena merasa sudah sangat lapar. Sarapan nikmat dan bergizi tadi pagi yang mereka lakukan bersama justru mengakibatkan ia semakin lapar dan juga loyo. Kaki Vita bahkan gemetar karena aktivitas yang menguras tenaga tadi tidak diimbangi dengan asupan makanan yang cukup.
Dengan tak sabar ia menuju kantin dengan langkah terburu-buru. Sembari menunggu pesanan Hany menghampirinya dengan senyum bahagia.
"Apaan sih," jawab Vita dengan senyum ditahan. Ia merasa lucu dengan tingkah Hany sahabatnya.
"Akhirnya Nyonya GM keluar juga dari istananya,"
"Istana apa coba," Vita merasa malu akan sindiran Hany. sejak menikah ia memang tak pernah bertemu dengan gadis ini. Itu karena Gala tidak membiarkannya ke mana-mana bahkan keluar ruangan pun ia tak boleh kecuali waktu pulang tiba.
"Tumben bisa keluar dan makan bersama rakyat jelata kayak kami ini," sekali lagi sindiran Hany membuatnya merasa malu.
"Sang raja lagi baik hati hari ini, jadi paduka mengizinkan permaisuri ini keluar jalan-jalan mencari gadis manis yang suka nyinyir," ujar Vita membalas sindiran Hany dengan candaan. Mereka pun tertawa bahagia bersama kemudian melanjutkan makan siang dengan nikmat.
"Pelan-pelan makannya Vit, " tegur Hany saat melihat Vita makan dengan sangat lahap.
"Kamu bahagia kan, sama pak GM?"
"Heh, maksud kamu apa?" tanya Vita tidak paham akan pertanyaan Hany sahabatnya. Ia meminum tandas satu gelas juz buah mangga setelah menghabiskan sepiring besar nasi rendang kemudian menatap Hany lekat.
__ADS_1
"Lihat, kamu seperti tidak diberi makan sama suamimu," ujar Hany berbisik takut ada karyawan lain yang mendengar percakapan mereka dan berakhir menjadi gosip kurang sedap tentang keluarga petinggi perusahaan ini.
Vita tersenyum akan ucapan Hany. Ia selama menikah dengan Gala merasa sangat berkecukupan lahir dan batin. Semua keperluannya disiapkan oleh sang suami. Apalagi soal makanan bahkan sangat berlebih.
"Aku sudah lapar sekali Han, dan beliau lagi sibuk bekerja ya aku cari makan lah masak nungguin orang yang belum mau makan," ujar Vita mencoba mereset pikiran Hany yang suka curigaan.
"Syukurlah kalau begitu, tetapi biasanya pengantin baru kayak kamu ini pasti lagi mesra-mesranya, mandi dan makan pun selalu bersama apalagi yang namanya itu, itu tuh," Hany menaik turunkan alisnya menggoda Vita.
"Ish" Vita melemparinya dengan tisu karena malu tetapi Hany kok tidak ada malu-malunya berbicara seperti itu padahal ia bahkan belum menikah dan merasakannya.
"Udah ah, aku balik nanti dicariin paduka raja," ujar Vita akhirnya setelah lama mereka mengobrol membahas apa saja yang menarik untuk diketawain.
Vita memasuki ruangan GM yang sudah menjadi ruang kerjanya sejak beberapa bulan yang lalu ini. Ia mendorong pintu itu dengan wajah ceria. Perutnya sudah terisi dan tenaganya pun sudah sangat pulih.
Di dalam ruangan ia mendapati Gala sang GM masih di posisi yang sama sebelum ia tinggalkan makan siang. Perlahan ia mendekati suaminya itu,
"Mas, belum makan?" tanya Vita dengan suara pelan. Ia takut mengganggu suaminya yang sedang sibuk bekerja.
"Hem," jawab Gala singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop. Vita tahu sepertinya Gala tidak ingin menemaninya mengobrol jadi ia meninggalkan suaminya dan menuju meja kerjanya sendiri untuk melanjutkan pekerjaannya. Gala hanya melirik dari ujung matanya.
Pria itu menarik nafas panjang, ia bahkan lupa kalau belum sarapan dan makan siang. Hatinya galau karena beberapa saat yang lalu ia mendapat pesan WhatsApp dari Miska yang memintanya agar menjaga istrinya itu dengan baik dan tidak berani mengganggu hubungannya dengan Reno.
Sampai waktu menunjukkan waktu pulang, Gala dan Vita masih menunjukkan aura dingin karena tidak saling bercanda seperti biasanya. Vita heran dengan perubahan Gala yang begitu drastis tetapi ia berusaha menepis pikiran-pikiran buruk yang mampir di hatinya.
"Vit, ada salam dari mama." ujar Reno tiba-tiba saat mereka sudah sampai di loby Perusahaan dan bersiap keluar menuju mobil yang sudah terparkir di depan pintu utama.
"Oh, iya Ren, sampaikan salam ku juga sama Tante Ninick," jawab Vita seraya menampilkan senyum manisnya. Miska yang melihat pemandangan itu langsung menatap Gala dengan tajam seolah-olah memberikan peringatan akan bunyi pesan yang ia kirimkan untuknya beberapa saat yang lalu.
"Maaf, Ren kami duluan," Ujar Gala kemudian menarik tangan Vita ke arah mobil. Miska menghentakkan kakinya kesal dan meninggalkan Reno yang terbengong sendiri.
Deka lagi-lagi merasa ada yang aneh diantara kedua pasangan ini. Ia hanya bisa menarik nafas. Baru kali ini ia bersyukur akan status jomblonya.
🍁🍁🍁🍁🍁
Hai, hai readers tersayang nya Bhebz. Jangan lupa like, komentar, and kirim hadiah juga Votenya ya...
Semangat!!! nikmati alurnya.
__ADS_1
Happy reading 😍😍😍😍😍