Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 36 Dokter Cinta


__ADS_3

Setelah diberikan obat anti nyeri, Gala perlahan menutup matanya. Ia begitu lelah dan ingin mengistirahatkan tubuhnya. ia berbaring di dalam ruang pribadinya yang terdapat dalam ruang kerjanya.


Ia merasa tangannya disentuh oleh seseorang. membuka matanya perlahan ia menemukan Vita sedang memandangnya khawatir. Bola mata indah itu tampak berkaca-kaca, sedikit saja ia berkedip maka Gala yakin bulir bening akan meluncur dengan bebas.


Gala mengangkat tangannya pelan kemudian menyentuh pipi Vita dengan lembut,


"Kenapa, Hem?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangannya dari mata Vita. Vita akhirnya tak bisa lagi menahan isakannya. Bendungan yang sedari tadi ditahannya akhirnya tumpah ruah juga menganak sungai di pipinya.


"Hey, jangan menangis" Gala menyapu air mata itu dengan ibu jarinya. Ia tak tahan melihat gadisnya menangis seperti itu.


"Kamu bikin aku khawatir" ujar Vita disela isak tangisnya. kini gantian Vita yang meraba bibir dan pelipis Gala yang nampak kebiruan. Gala hanya mengernyit menahan rasa perih yang masih tersisa.


Walaupun sudah diberi obat anti nyeri tapi luka itu masih sangat perih ketika disentuh. bahkan untuk tersenyum pun rasanya masih sangat sakit. Entah bagaimana keadaan Pandu yang mendapatkan Bogeman yang lebih banyak darinya.


"Apa masih terasa sakit?" tanya Vita lembut. Hati Gala menghangat, perhatian seperti ini yang selalu ia tunggu-tunggu. Ia merasa dicintai dan disayangi.


Hatinya bahagia luar biasa. Perasaan cintanya kini berbalas.


"Gak sakit kalau kamu kasih penawarnya" Gala menatap mata indah itu yang berkedip lucu.


"Kan sudah di kasih obat tadi" jawab Vita polos.


"Obatnya gak mempan" ujar Gala sembari pura-pura meringis. Menampilkan ekspresi kesakitan secara tiba-tiba.


"ish, kamu bercanda kan?" ujar Vita merasa dikerjain oleh Gala sembari memukul dadanya pelan. Dengan cepat Gala menangkap tangan lembut itu. Ia menggenggamnya erat.


"Aku mau itu" ujar Gala dengan pandangan berkabut penuh hasrat. netra nya tak ingin beralih dari daging kenyal berwarna pink itu yang sudah menjadi candu baginya.


"Dikit aja yah, sebagai obat" bujuk Gala dengan suara berat. Ia menatap Vita dengan penuh damba.


"Gak, ah. Malu" jawab Vita sembari menutup wajahnya yang memanas karena malu.


"Plis, dikit aja ya" Gala masih membujuk dengan muka dibuat sok imut. Vita semakin gelisah dibuatnya. Menerima ia takut malah kebablasan. Menolak ia takut Gala tersinggung.


Vita menyerah, ia pun mendekatkan wajahnya dengan perlahan yang langsung ditangkap dengan tak sabar oleh Gala.


Peraduan dua buah benda lunak tak bertulang itupun terjadi. Janji Gala yang hanya meminta sedikit tak ditepatinya. Ia terlalu lapar hingga di lu mate nya habis bibir Vita. Ia seakan tak per nah pu as me nye sap dan me ngu lumnya hingga mereka berdua kehabisan nafas.


"Sayang..."

__ADS_1


"Gala..." bahunya disentuh dan digoyang pelan oleh seseorang. Dengan pelan ia membuka matanya dan mendapati mamanya dan Deka serta satu orang berjas putih menatapnya khawatir.


Mata Gala menatap semua orang bergantian dalam beberapa detik, seolah memastikan sesuatu.


"Mana gadis itu?" tanya nya masih dalam keadaan bingung.


"Gadis yang mana sayang?" tanya Nyonya Mawar mencari dengan pandangan nya ke sekeliling ruangan pribadi Gala, putranya.


"Oooh" Ujar Gala sembari bangun dari tidurnya.


"Mungkin kamu bermimpi sayang" ujar Nyonya Mawar sembari tersenyum samar. Gala berjalan menuju toilet tanpa memperdulikan tatapan aneh semua orang padanya.


"Apa mungkin itu tadi hanya mimpi?" gumamnya dalam hati sembari terus melangkah menuju toilet untuk menyegarkan dan menenangkan inti dirinya yang sudah dalam kondisi on siap berperang.


"Tapi, Vita begitu nyata ada di sini dan ia bahkan berani membalas permintaan ku, kenapa bayang-bayang nya bahkan mengejarku ke dunia mimpi" Ia membasuh wajahnya yang memanas dengan air dingin.


Di luar sana, ketiga orang itu masih saling berpandangan bingung. Nyonya Mawar tiba bersama seorang dokter keluarga setelah mendapatkan laporan dari Deka kalau Gala sedang sakit dan butuh perawatan.


"Sepertinya Gala betul-betul sedang sakit parah, dokter" Ujar Nyonya Mawar sembari mempersilakan dokter Sukma untuk duduk.


"Dokter sendiri lihat kan ia menceracau tidak jelas dalam tidurnya tadi, mungkin efek terlalu kesakitan" Lanjut Nyonya Mawar dengan nada khawatir. Dokter Sukma hanya tersenyum maklum akan kekhawatiran seorang ibu seperti Nyonya Mawar Raditya.


"Kita tunggu sampai Pak Gala keluar dari sana, apakah suhu tubuhnya tinggi dan saya akan memeriksa luka-lukanya" Ujar dokter itu ramah.


🍁🍁🍁🍁🍁


"Vit, kamu dipanggil ke ruangan ibu Ira Zerni, sekarang" bisik Hany ke telinga Vita yang sedang sibuk mengetik sesuatu di laptopnya.


"Harus sekarang yah?" tanya Vita tanpa menoleh dari layar di depannya.


"Gak! besok!" jawab Hany dengan mata melotot.


"Okey, okey, jangan marah dong sayang" Ujar Vita sambil mengangkat kedua tangannya tanda kalau pekerjaannya telah selesai. Ia pun berdiri dan melangkahkan kan kakinya ke ruangan Ibu Ira Zerni sang manager.


"Permisi Bu!" ujar Vita dan langsung duduk di hadapan Ira Zerni.


"Oh ya, kamu sudah datang ya" jawab Ira yang baru menyadari kalau Vita sudah duduk di depannya entah berapa lama karena ia sendiri sibuk membaca laporan keuangan di divisinya.


"Hany bilang, Ibu memanggil saya?" tanya Vita.

__ADS_1


"Eh, iya itu .." jawab Ira sedikit gagap. Ia sebenarnya memanggil Vita ke sini bukan karena urusan pekerjaan. Ia tiba-tiba saja ingin mencari tahu perasaan Vita Maharani sebenarnya.


"Aih, ko' aku jadi ikut-ikutan kepo sih" bisiknya dalam hati.


"Kamu sudah tahu kan kalau Pak GM tadi kecelakaan?" tanya Ira tanpa melepaskan pandangannya kepada Vita Maharani.


Seketika tubuh Vita merespon dengan cepat. Ia langsung berdiri dari duduknya kemudian duduk kembali dengan wajah khawatir. Ira berhasil merekam ekspresi yang disuguhkan Vita walaupun itu sangat singkat.


"Eh, kecelakaan nya dimana Bu?" tanya nya sembari me re mas pegangan kursi yang ia duduki.


"Kamu mau jengukin?" bukannya menjawab Ira malah menanyakan pertanyaan lain. Vita langsung tersenyum cengengesan.


"Gak lah Bu, saya cuma karyawan biasa dan tidak begitu dekat sama beliau"


"Saya malu" Vita menjawab dengan senyum samar. Ia memang sangat malu bertemu GM mesum dan dominan itu, setiap mereka bertemu ia selalu jadi obyek penderita dan jadi korban perasaan.


Dadanya juga selalu berdegup lebih kencang ketika bertemu pria tampan itu. Tatapannya selalu membuat Vita gelisah. Aaaaaa ia tidak kuat kalau bertemu dengannya lagi.


Ira melambaikan tangannya ke depan wajah Vita yang tampak sedang melamun.


"Vit, kamu masih di sini kan?" tanya Ira khawatir karena melihat Vita diam saja.


"Eh, iya Bu, maaf" Vita membekap mulutnya malu karena ketahuan menghayal di depan bosnya.


"Jadi, beneran nih gak mau jengukin Pak GM?" pancing Ira lagi dengan bibir berkedut menahan senyum.


"Kasih kabar aja Bu, semoga keadaannya baik-baik saja" jawab Vita pelan. Ya, ia berharap luka atau sakit Gala segera sembuh.


"Baiklah, kamu bisa kembali ke tempat mu"


Eh


"Maaf, Bu apa ada pekerjaan yang harus saya kerjakan?" Vita merasa bingung masak sih ia dipanggil ke sini hanya untuk memberitahu kabar pak GM saja. Memangnya sepenting apa dirinya.


"Untuk sementara tidak ada" jawab Ira sembari melanjutkan kegiatannya tadi yang tertunda. Ia kembali membuka laporan keuangan yang menumpuk di atas mejanya. Setelah Vita keluar, Ira tersenyum puas.


"Ck ck ck, ternyata kalian berdua main rahasia-rahasiaan yah"


🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


Hai, readers tersayang nya othor. cuma mau mengingatkan, jangan lupa like, komen dan kasih hadiah yah gaess.


Happy reading 😍😍😍😍😍


__ADS_2