
Deka tanpa sengaja membuka handphonenya dan melihat pembaruan status terbaru dari Nyonya GM, ia menyebutnya begitu di kontaknya. Matanya memicing melihat gambar Vita dan Gisel sedang bersama di sebuah dermaga tua. Ya, ia tahu kondisi dermaga tua itu karena ia pernah kesana mengecek kondisi pulau itu sebelum merekomendasikannya kepada Gala sang GM bersama istrinya.
"Ada panggilan juga," bisiknya dalam hati. Entah kenapa firasatnya langsung tidak enak. Instingnya membawa langkahnya ke arah speed boat yang sedang terparkir di bibir pantai. Ia langsung menghidupkan mesinnya kemudian dengan kecepatan tinggi menuju pulau Sanrobengi sambil terus menghubungi nomor Gala yang berdering tetapi tidak diangkat.
"Oh, Shiiit!" umpatnya ketika dalam perjalanan kesana ia bertemu dengan Speedboat lain yang dikendarai sendiri oleh Gisel Singkilaya, gadis itu sempat mengirim seringaian jahat yang membuatnya semakin menambah kecepatan. Ia rasanya terbang di atas air, "Semoga tidak terjadi hal buruk." rapalnya terus dalam hati.
Gala mengucek matanya dan merasakan sakit pada perutnya, rasanya sangat mulas dan perih. Setelah keluar masuk WC beberapa kali ia baru menyadari kalau Vita tidak sedang bersamanya di Villa itu.
"Pak GM!" teriak Deka dari arah pintu yang terbuka. Suaranya bergetar dan panik. Gala segera bangun dari tidurnya menuju sumber suara.
"Cepat kemari!" teriak Deka lagi lantang. Gala segera mengikuti langkah Deka menuju sebuah pondok kecil yang bertuliskan klinik. Sebelumnya Deka menanyai beberapa orang yang ia temui ketika ia tak lagi menemukan Nyonya GM di dermaga tua itu. Dan semuanya menjawab kalau seorang penjaga pulau itu menolong seorang perempuan hamil yang jatuh ke dalam laut.
"Vita...," panggil Gala setelah masuk ke dalam ruangan itu.
"Mas...hiks," Vita menjawab dengan tangisan, nampak sekali kalau ia sedang sangat takut dan tertekan. Ia sudah berganti pakaian dengan sebuah baju longgar atau daster yang kemungkinannya merupakan milik salah satu warga karena berbeda dari pakaian Vita beberapa waktu yang lalu. Gala segera memberikan pelukan dan berharap ketakutan istrinya berkurang.
"Apa yang terjadi sayang?" tanya Gala disela pelukannya dan merasai bahwa rambut istrinya masih basah. Vita menggeleng ia belum mau membicarakan kejadian buruk yang baru saja menimpanya. Gala terus mengelus punggung istrinya agar lebih tenang dan akhirnya menghentikan tangisnya.
"Mas,"
"Hem,"
"Mas harus berterima kasih sama Cindy yang telah menolong aku, untung dia cepat datang mas, kalau tidak...hiks," Vita kembali terguncang. Tangisannya membuat tubuhnya bergetar dalam pelukan Gala.
"Iyya, sayang apapun akan kuberikan sebagai balas jasa kita,"
Sementara itu di luar sana di depan pondok klinik itu.
"Kamu Deka kan?" tanya Cindy yang kata orang-orang adalah orang yang pertama kali menemukan Vita di bawah dermaga.
__ADS_1
"Cindy?" jawab Deka yang juga ternyata mengenali gadis itu.
"Astaga, sudah lama sekali," ujar Cindy sembari menutup mulutnya bahagia. Ternyata Cindy dan Deka pernah berteman di kampus dulu, cuma mereka mengambil jurusan yang berbeda. Nampak sekali kalau ia sangat bahagia dengan pertemuan ini. Ia sudah lama menyukai Deka dan sempat tak tahu malu menyatakan cinta pada pria cuek ini.
"Ceritakan bagaimana kronologisnya," Deka penasaran apa sebenarnya yang terjadi di sini. Saat pertama melihat keadaan Nyonya GM seperti itu, ia langsung menghubungi Risma Yanti agar segera datang ke pulau itu dengan seorang dokter dan juga pihak kepolisian untuk segera mengusut peristiwa ini. Pasti ada sesuatu yang janggal di sini.
"Tugas saya adalah patroli keliling di sekitar pantai setiap 2 kali sehari. Nah kebetulan pas saya melewati daerah itu saya melihat seseorang terjatuh ke bawah laut dan meminta tolong makanya saya langsung turun dari speed boat dan langsung menolongnya. Untung Nyonya muda itu punya nafas yang kuat hingga ia masih bertahan di bawah sana. Walaupun saya takut juga dengan kondisi kandungannya." jelas Cindy dengan gamblang.
"Pak, " suara Risma Yanti yang baru tiba dengan seorang dokter dan beberapa polisi menginterupsi perbincangan mereka. Deka segera berdiri setelah memberi kode pada Cindy untuk menunggunya. Ia akan memeriksa dulu ke dalam sebelum dokter masuk untuk memeriksa.
Gala baru keluar dari WC ketika Deka masuk ke ruangan itu sedangkan Vita berbaring di sebuah ranjang kecil dengan wajah pucat.
"Pak GM, di luar sudah ada dokter." ujar Deka yang menatap Gala yang juga kelihatan lemas dan pucat. Gala mengangguk dan menyuruh dokter itu masuk. Seorang dokter laki-laki masuk untuk memeriksa keadaan Vita terlebih dahulu baru kemudian Gala. Deka yakin ada sesuatu yang terjadi pada sepupunya itu. Ketika dokter ingin memeriksa denyut nadi Vita segera Gala melarangnya.
"Jangan sentuh istriku dokter. Biar saya yang jadi asisten anda," ujar Gala posesif. Ia rela sebagai tangan dokter itu. Apapun yang ingin dokter laki-laki itu sentuh harus diwakili oleh Gala sendiri apalagi sekarang Vita sedang tidak memakai hijabnya. Dokter sampai tidak bisa berkata-kata melihat seorang suami yang sangat posesif seperti ini pada istrinya.
"Apakah perut ibu, baik-baik saja?" tanya dokter itu hati-hati. Karena tatapan Gala seperti mengulitinya jika pandangannya kembali ke perut istrinya. Vita mengangguk.
"Apakah ada gerakan di dalam sana?" tanya dokter lagi yang merasa tidak nyaman karena suami pasien hanya memperbolehkannya bertanya tanpa melihat ataupun menyentuh.
"Iya dokter, baru saja dedeknya menendang," ujar Vita sembari meraba perutnya.
"Alhamdulillah, tapi tetap harus di USG untuk memastikan kondisi janinnya Bu, jadi setelah ini kita akan ke Rumah Sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut." ujar Dokter kemudian mengarahkan pandangannya kepada Gala yang kelihatan lemas,
"Apa yang anda rasakan, pak?"
"Perut saya serasa melilit, sakit sekali dokter dan juga sudah berkali-kali saya keluar masuk WC." dokter menyentuh perut Gala dan memberikan ketukan-ketukan. "Apakah bapak meminum atau memakan sesuatu sebelum kejadian ini?" tanya dokter itu karena mencurigai sesuatu.
"Iya, dokter. Saya minum juice jeruk dan istri saya.."
__ADS_1
Gala menatap khawatir pada Vita ketika mengingat minuman apa yang disuguhkan pelayan di pulau ini.
"Saya belum sempat minum mas," jawab Vita cepat.
"Kalau begitu kami akan mengambil sampel minuman yang bapak minum. Sepertinya ada obat yang telah dicampur dalam minuman itu yang berdosis tinggi."
Di luar sana Deka, Cindy, Risma, beberapa anggota polisi mendatangi TKP dimana Vita ditemukan pertama kali oleh Cindy.
"Cindy ceritakan apa yang kamu lihat," ujar Deka kepada Cindy yang sedari tadi tidak mau berjauhan dengan pria itu. Ia selalu mencari perhatian Deka dengan menceritakan semua hal tentang pekerjaannya di pulau itu. Dan itu tertangkap penglihatan Risma. Ada rasa kesal ketika Cindy bahkan berani memegang tangan Deka dihadapannya.
Cindy mulai menceritakan reka ulang kejadian saat menolong Nyonya GM kepada pihak kepolisian yang ditambahkan oleh keterangan Deka akan story WhatsApp yang dikirim oleh Vita untuk memperkuat dugaan siapa pelaku atas kejadian ini. Mereka saling menambahkan keterangan yang dibutuhkan pihak berwajib, Risma sampai merasa keriting karena diabaikan.
Ia tanpa sadar menghentakkan kakinya karena kesal dicuekin dan juga perasaan cemburu yang semakin memenuhi hatinya. Ia cepat berlalu dari tempat itu dan berniat kembali ke klinik saja tetapi langkahnya belum jauh Deka sudah menarik tangannya.
"Mau kemana, Hem?" tanya Deka dengan senyum samar. Ia sengaja mengakrabkan dirinya dengan Cindy untuk mengetahui reaksi Risma Yanti.
"Lepas, pergi saja sana sama Cindy." Risma mengibaskan tangannya dengan kesal dan berlari meninggalkan Deka yang sedang menahan dirinya untuk tersenyum lebar.
🍁🍁🍁🍁🍁
Selamat memulai awal pekan ini,
Hai readers tersayangnya othor jumpa lagi kite pagi ini, Tetap beri dukungan untuk karya receh ini ya gaess. Dengan cara tap Favorit bagi yang belum, klik like, ketik komentar, dan kirim hadiah bunga dan kopi agar akoh makin semangat, okey?
Nikmati alurnya dan Happy reading 😍😍😍😍😍
Kenalkan nih karya teman othor, mampir yah,
__ADS_1