
Gala Putra Raditya dan Vita Maharani berpamitan kepada daeng Ngintang, Ibu RT yang akan kembali mendapatkan tugas menjaga dan merawat rumah sederhana milik Vita Maharani peninggalan orang tuanya.
Sore ini mereka bertiga memutuskan kembali ke Kota Jakarta dengan menggunakan penerbangan terakhir.
Rama tidak berhenti menanyakan eyang putri yang secara tiba-tiba meninggalkannya. Anak itu jadi manja dan rewel hingga ia harus membujuk dan menggendongnya kemanapun. Vita sampai-sampai heran melihat Rama bisa sampai seperti itu. Akhirnya persiapan pakaian dan hal-hal lain yang dianggap perlu untuk dibawa semuanya dilakukan oleh Gala suaminya. Vita tak menyangka Gala bisa melakukan itu semua. padahal dikehidupan mewah suaminya ia hanya bisa main tunjuk-tunjuk saja.
"Mas Gala bisa gak nih?" tanya Vita saat melihat Gala kesulitan mengatur kebutuhan Rama dalam sebuah tas, seperti bedak, susu, dan perlengkapan lainnya. Gala mendongak memandang Vita yang tampak sedang membuai Rama dalam gendongannya. Ia tersenyum senang dengan panggilan baru itu.
"Bisa lah. Sedangkan mengatur Perusahaan sebesar TGR Global Company saja aku sanggup apalagi cuma ini," jawab Gala sembari mengangkat tas kecil itu yang sedikit tidak rapi. Semua isinya menyembul keluar dan mengakibatkan tas itu tidak bisa tertutup dengan rapat. Vita sampai ingin tertawa melihatnya.
"Iya deh, pak GM yang bisa semuanya." Vita mengalah walaupun ia tidak puas dengan pekerjaan suaminya.
"Gak mau berterima kasih nih, udah aku bantuin." Ujar Gala tersenyum bangga sembari menepuk-nepuk kedua tangannya seolah-olah telah mengerjakan pekerjaan yang sangat berat. Vita jadi merasa lucu dibuatnya. Ia ingin tertawa tetapi takut Rama jadi terbangun.
"Terima kasih banyak Pak General Manager," ujar Vita sembari memutar bola matanya malas sembari memanyunkan bibirnya, terkadang kenarsisan pria ini melebihi rata-rata. Gala jadi gemes melihat tingkah istrinya itu. Ia langsung mengambil alih Rama dan membaringkan anak itu di ranjang.
"Berterima kasihlah dengan benar sayangku," bisik Gala dengan suara beratnya. Ia menarik pinggang ramping Vita ke arahnya hingga menyisakan jarak yang sangat tipis diantara mereka. Bau nafas rasa mint suaminya yang memburu begitu terasa dekat di wajah Vita.
Vita ingin melepaskan diri tetapi tak kuasa. Ia ingat mereka harus segera bersiap untuk menuju ke Bandara dan kalau ia meladeni suami mesumnya ini maka bisa dipastikan mereka akan ketinggalan pesawat.
"Aku menunggu sayang..."bisik Gala dikupingnya yang membuat seluruh tubuh Vita meremang.
Gala tahu dimana letak titik-titik sensitif Vita dan ia bertahan dalam posisi seperti itu tidak melakukan apa-apa hanya berbisik dan meniup kupingnya lembut kemudian menunggu reaksi Vita selanjutnya.
Mati-matian Vita bertahan dan menggigit bibirnya, ia bergerak gelisah dan malah membuat Gala semakin bersemangat menggodanya. Menyelipkan rambut-rambut kecil ke belakang kupingnya dan berbisik lagi dan lagi memohon agar istrinya mengabulkan keinginannya.
Akhirnya Vita pasrah dan mengalah walaupun dengan peringatan waktu yang sangat singkat yang mereka miliki. Gala tersenyum senang dan berjanji akan melakukannya dengan cepat meskipun pada akhirnya janji itu tinggallah janji. Ia tidak ingin berhenti mengayuh sampai ia menggapai puncak tertinggi dari proses penyatuan mereka hingga membuat Vita menyebut namanya berkali-kali.
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁🍁
"Hati-hati mas, jangan ngebut aku takut" ujar Vita berulang-ulang melihat Gala mengemudikan mobil dengan kecepatan sangat tinggi. Mereka sedang memburu waktu. Takut akan ketinggalan pesawat pada penerbangan terakhir malam ini.
Gala tidak menghiraukan peringatan Vita. Ia tetap melajukan mobil itu masih dengan kecepatan di atas rata-rata. Ia merasa bersalah karena gara-gara ia tidak menahan hasratnya jika berdekatan dengan Vita hingga membuat mereka hampir saja terlambat sampai di Bandara.
Kurang 30 menit dari waktu check in yang tertera di dalam tiket elektronik yang mereka pegang akhirnya mereka sampai juga dengan jantung yang berdebar sangat kencang karena takut ketinggalan pesawat.
"Mas, Alhamdulillah..." ujar Vita sembari menyentuh lengan Gala pelan. Ia tahu suaminya merasa tidak enak hati karena Ia lah penyebab utama insiden sport jantung ini. Sekarang mereka sudah duduk di dalam kabin pesawat khusus first Class.
"Hem" jawab Gala singkat. Kali ini ia akan menerima tawaran seorang koleganya yang telah lama membujuk dan menawarinya agar memiliki jet pribadi sehingga kejadian seperti ini tidak terulang lagi.
"Apa kita perlu pakai jet pribadi aja ya Vit,"ujar Gala setelah lama terdiam.
"Mmm Apa?" Vita tersentak karena tidak fokus.
"Jet pribadi Vita sayang, kita bahkan bisa melakukannya di sana," ujar Gala mengerlingkan matanya.
"Aku akan beli jet pribadi untukmu sayang agar kamu bebas kemana saja dan tentu saja hanya bersamaku," Lagi-lagi Gala berucap seringan kapas. Seolah membeli jet pribadi seperti membeli kacang goreng di pinggir jalan.
"Gak percaya kamu?" ujar Gala lagi melihat Vita tidak antusias dengan ucapannya. Vita diam saja takut kalau ia jawab tidak percaya suami narsisnya itu akan tersinggung. Ia tak tahu saja berapa jumlah kekayaan Gala sebenarnya.
Gala tidak ingin memaksa Vita untuk percaya Tetapi ia bertekad akan membuktikan perkataannya. Mereka berdua terdiam cukup lama hingga suara pengumuman menggema dalam pesawat itu.
"Ladies and Gentlemen, as we start our descent, please make sure your seat backs and tray tables are in their full upright position. Also make sure your seat belt is securely fastened and all carry-on Luggage ia stored underneath the seat in front of you or in the overhead. Thank you."
"Ibu-ibu dan Bapak-bapak, sembari kita mulai mendarat. Mohon pastikan punggung kursi anda dan meja anda berada dalam posisi tegak. Dan pastikan juga Anda terkait dengan baik dan seluruh barang bawaan tersimpan di bawah kursi di depan anda atau penyimpanan atas. Terima kasih."
__ADS_1
"On behalf of the Airlines and the entire crew. I'd like to thank you for joining ia on this trip. We are looking forward to seeing you on board again in the near future. Have a nice day!"
" Atas nama Airlines dan seluruh kru, saya ingin berterimakasih kepada anda atas ikut sertanya dalam perjalanan ini. Kami berharap bisa berjumpa dengan anda dalam perjalanan pada kesempatan yang akan datang. Semoga hari anda menyenangkan!"
Suara pengumuman dari seorang pramugari tadi menandakan Perjalanan mereka dari kota Makassar menuju kota Jakarta akhirnya sampai pada pukul 17-45 WIB dengan selamat.
Dari jauh tampaklah Deka dengan penampilan yang sama dengan beberapa jam yang lalu. Rupanya ia belum sempat berganti pakaian saat Gala menghubunginya agar menjemputnya di bandara saat ini.
Walaupun dengan wajah yang tampak lelah dan kusut Deka tetap tersenyum cerah saat bertemu kembali dengan sepupunya yang baru berpisah sekitar 5 jam lamanya.
Ia memeluk tubuh Gala dengan sangat erat sampai membuat Gala jadi heran akan perubahan sikap sepupu sekaligus asistennya ini. Ia jadi bergidik ngeri sendiri jangan-jangan perubahan udara Makassar dan Jakarta bisa merubah Deka menjadi sangat aneh seperti ini.
"Lain kali kalau mau membuatku repot seperti ini pilihlah waktu yang tepat," bisik Deka menggeram kesal disela-sela pelukannya. Gala tidak menjawab malah menepuk pundak Deka.
"Berikan aku juga cuti walau sehari" ujar Deka lagi ngenes. Gala semakin menahan senyumnya. Ia tahu sepupunya ini sangat jengkel padanya.
"Aku mutasi saja ke bagian HRD, bagaimana?' tanya Gala memberi penawaran sembari menarik turunkan alisnya. Wajah Deka langsung berubah cerah secerah mentari.
Gala tertawa dalam hati, " Gotcha!" ujarnya senang melihat Deka kembali bersemangat.
"Tapi cuma sehari!" Lanjut Gala sembari mengajak Vita dan Rama menuju mobil yang akan mereka tumpangi pulang. Wajah Deka kembali kusut bak kertas lecet.
Kasihan kamu Deka, ckckck sepupu macam apa itu
🍁🍁🍁🍁🍁
Hai, hai, readers tersayang nya othor, Jangan lupa like, komen, and kirim hadiahnya ya...
__ADS_1
Nikmati alurnya
And happy reading 😍😍😍😍😍