
Setelah menginap selama dua hari di Rumah Sakit Sayang Ibu dan Anak. Gala Putra Raditya memboyong pulang istri dan putri mungilnya kembali ke kediaman Raditya.
Mereka bertiga disambut dengan suka cita oleh semua anggota keluarga. Nyonya Mawar berdiri di depan pintu utama menantikan cucu keduanya itu dengan wajah berseri-seri. Wajah cantiknya semakin bersinar karena bahagia.
Deka dan Risma Yanti juga ada di sana menyambut kedatangan anggota keluarga baru cucu kedua Tuan Raditya.
"Kamu segera cetak juga ya Dek,' ujar Nyonya Mawar sambil menatap Deka dan Risma bergantian.
"Sudah pasti bunda, setiap saat kok kami nyetak," jawab Deka dengan senyum samar sembari tangannya ia tautkan ke jari-jari istrinya. Ia berharap usahanya bersama Risma beberapa kali itu sudah membuahkan hasil.
"Gimana Ris? Deka gak terlalu nyiksa kamu kan?" kali ini Nyonya Mawar ingin menggoda istrinya Deka yang ia tahu adalah karyawannya di Perusahaan TGR.
"Eh, tidak Bu." jawab Risma malu.
"Jangan dikasih jatah kalo dia mulai nakal," ujar Nyonya Mawar lagi.
"Eh iya Bu," Risma semakin tidak nyaman dengan percakapan ini apalagi suaminya selalu menatapnya dengan pandangan aneh begitu.
"Mama udah datang..." teriak Rama menjeda percakapan mereka sembari berlari menuruni tangga untuk menjemput mama papanya yang baru saja turun dari mobil.
"Sini deh cucu eyang, ummm," ujar Nyonya Mawar Raditya sembari menciumi pipi gembul nan harum khas bayi itu.
"Eyang, Yama juga mau cium adek." ujar Rama merengek. Matanya seketika berbinar saat melihat sesosok bayi imut yang masih merah itu membuka matanya.
"Eyang, adek liatin Yama..." teriaknya histeris. Semua orang tersenyum melihat tingkah lucu Rama yang kelihatan gemes sekali lihat adek bayi yang sebentar-sebentar membuka mata kemudian tertidur lagi.
🍁🍁🍁🍁🍁
"Ma, emang begitu ya, kalo usianya baru beberapa hari begini tidurnya banyak." ujar Gala sembari mengelus-elus pipi putrinya yang sedang tertidur itu.
"Ada siklusnya sayang. Bayi umur seperti ini lebih banyak tidur daripada terjaga kemudian nanti akan berubah lagi. Dan itu bagus juga supaya mamanya bisa istirahat yang cukup.'
"Kapan tuh ma bisa diajak main?" tanya Gala lagi. Vita hanya tersenyum melihat tingkah suaminya itu yang kini malah tidur berbantalkan paha Nyonya Mawar di sofa yang cukup panjang di dalam kamarnya. Suatu pemandangan yang membuat hatinya menghangat. Keakraban seorang putra dengan mamanya yang sangat manis. Sedang ia sendiri baru saja mengambil baby cantik yang mereka namai Sovia Putri Raditya itu dari dalam boks bayi.
__ADS_1
"Biasanya bayi baru bisa merespon ketika ia diajak bicara ketika usianya sekitar satu bulan saat ia sudah bisa melihat sejauh satu meter. Ia sudah lebih sering membuka matanya dan mulai begadang."jawab Nyonya Mawar sembari mengelus rambut Gala lembut. Gala tiba-tiba bermanja-manja sama mamanya. "Jadi kamu siap-siap saja bantuin istrimu kalo ia mau istirahat ya kamu yang jagain baby Sovia," lanjutnya lagi.
Oeeee Oeeee Oeeee
Tangisan Sovia menghentikan percakapan antara mama dan putranya itu. Gala segera bangun dan melangkah menghampiri istrinya yang sedang menggendong putri mungilnya itu.
"Ada apa sayang?" tanya Gala khawatir. Soalnya tangisan Sovia begitu melengking sampai membuat kulitnya yang putih jadi memerah.
"Kayaknya lapar mas, mau ***** dia," jawab Vita yang panik dengan suara Baby-nya.
"Cup-cup sini mama yang gendong dulu sambil kamu persiapkan nenennya." ujar mama mertuanya dan segera mengambil Sovia kecil dari gendongan Vita. Ia tahu Vita sering kesulitan ketika akan memberi Asi pada putrinya itu.
"Baik ma," ujar Vita dan kemudian membuka kancing depan baju longgarnya dan mulai mengeluarkan sebuah sumber Asi yang sangat indah Dimata suaminya. Gala sangat terpesona dibuatnya. Pasalnya ukurannya kini tambah besar saja tidak seperti kemarin-kemarin.
"Mari ma," ujar Vita kembali meraih baby Sovia dari gendongan mama mertuanya yang masih menangis karena sangat lapar. Setelah itu Sovia langsung terdiam dan menghisap sangat rakus tetapi Vita yang mengernyit sakit karena perih yang ia rasakan setiap Sovia mulai menghisap.
"Mas, " ujarnya sembari memegang tangan Gala yang sedang memperhatikan kegiatan istri dan putrinya itu. Seketika Gala khawatir dan menatap Nyonya Mawar meminta bantuan lewat pandangan matanya.
"Gak papa lama-lama juga gak perih kalau Sovia sudah sering *****." ujar Nyonya Mawar menenangkan.
"Iyya ma," jawab Vita pelan. Ia memperhatikan wajah putrinya yang sudah terlelap tetapi sesekali gerakan mulutnya menunjukkan kalo ia masih menghisap sumber kehidupannya.
"Oke mama tinggal ya, dan kamu Gal, bantu Vita kalau lagi sakit begitu."
"Bantu gimana ma?"
"Buat Vita nyaman nak," Nyonya Mawar pun meninggalkan ketiga orang itu dan menuju ke kamarnya sendiri untuk beristirahat.
Setelah Nyonya Mawar pergi Gala menatap Vita lembut, ia membantu istrinya itu mengembalikan Sovia ke boksnya sendiri agar tidurnya lebih nyaman.
"Sayang itu kok basah sih," tanya Gala dengan pandangan mata ke pakaian bagian depan istrinya yang kelihatan basah.
"Oh yang ini," ujar Vita sambil menunjuk bagian dadanya, "Selalu begini sih mas, kalo Sovia nenennya disamping kiri yang basah samping kanan begitu sebaliknya netes-netes gitu." jawab Vita sembari melangkah ke arah ranjang. Ia ingin berbaring di sana.
__ADS_1
"Kok bisa gitu sih?" tanya Gala lagi.
"Alhamdulillah mas, produksi ASI-nya banyak dan melimpah jadi sering keluar sendiri," jawab Vita yang malah tidak jadi berbaring, ia ingin mengganti pakaiannya karena betul-betul basah dan biasanya akan mengeras saat bekas air Asi itu sudah kering. Gala terus memperhatikan kegiatan istrinya itu dan bahkan mengikutinya ke dalam ruang ganti. Ia melihat Vita mulai mengganti pakaiannya di dalam ruangan dimana hanya mereka berdua di sana.
"Tapi kok bisa sakit sih kalo Sovia yang *****, sedangkan aku kok tidak," ujar Gala yang tiba-tiba sudah berada di belakang Vita yang sedang berganti pakaian.
"Gak tau juga ya," jawab Vita dengan senyum. Ia tahu suaminya sengaja menggodanya.
"Mungkin saja karena mas udah baby besar dan gak kenyang-kenyang kali," ujar Vita yang berusaha menjauh dari rengkuhan suaminya. Ia sengaja ingin menggoda Gala dengan berlama-lama memakai pakaian di depan suaminya itu.
"Masih lama ya sayang?" tanya Gala dengan pandangan frustasi. Sosok di depannya ini bagaikan makanan lezat yang hanya bisa dilihat tetapi tidak bisa dimakan.
"Masih ada 2 bulan mas,"
"Lho bukannya nifas itu cuma 40 hari kok bisa nambah gitu sih. Sovia saja sudah hampir sebulan sayang," netranya sudah tak sanggup dipertontonkan sesuatu yang membuat inti dirinya berkedut. Ia semakin frustasi dan Vita suka itu. Ia tersenyum dalam hati.
"Kalo untuk mas, aku nambah jadi 2 bulan," ujar Vita lagi dengan menyeringai senang.
"Bisa-bisa aku gila sayang," ujar Gala sembari meraih istrinya dalam pelukan. Ia sudah tidak tahan digoda terus seperti itu. Vita berusaha berontak tetapi tenaganya tidak cukup melawan. "Kamu kan bisa kasih yang lain sayang, kayak Sovia misalnya." bisiknya pelan diantar rengkuhannya.
"Ih mas, Sovia nanti marah lho," jawab Vita pura-pura merajuk.
"Akan kusisakan sedikit, janji," jawab Gala yang sudah memulai aksinya. Yang penting dahaganya teratasi saat ini itu sudah cukup meskipun hanya minum saja dulu. Makan besarnya nanti saat sudah lepas masa nifas istrinya.
Othor : "Kita skip aksinya Gala ya gaess biarkan dia menderita hahahhaha."
Gala. : "Serah deh yang penting aku udah minum 🙄"
🍁🍁🍁🍁🍁
Hai readers tersayangnya othor, dukung terus karya receh ini dengan cara like, komen, dan kirim hadiahnya.
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍
__ADS_1
Ada nih karya teman aku bisa menemani para readers tersayang menunggu update berikutnya. Yuks di ramein.